
...Jangan pernah merasa paling tinggi...
...Tapi jangan pernah juga merasa rendah...
...Karena seberapa tinggi derajat kita tidak ukur dari harta maupun tahta...
...Tapi dari seberapa besar amal ibadah kita....
...By Rosemarry...
...*****...
"Mar..." Johan berjalan menghampiri Maria yang baru saja selesai dengan pekerjaannya yang begitu banyak dan melelahkan hari ini.
"Kerjaan lo udah kelar Jo?"
"Udah kok, gue baru aja kelar beres-beres. Lo juga udah kelar kan? Balik yuk."
"Kuy lah." Maria pun menyambar ponsel dan tasnya kemudian pergi bersama Johan setelah berpamitan pada Monica dan Lia. "Gue balik duluan ya Mon, Lia... bye!"
"Bye beb, hati-hati ya." Monica pun melambaikan tangannya pada Maria.
"E... ya udah Mon gue juga pulang duluan ya, bye Mon." Ali alias Lia pun ingin segera pergi dari sana, lebih tepatnya menjauh dari Monica. Terlebih setelah Maria pergi dan hanya ada mereka berdua di tempat duduk itu.
Namun baru beberapa langkah Ali berjalan, Monica pun memanggilnya dan membuat Ali terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Lia tunggu!"
Deg!
"I-iya Mon, ada apa?"
"Lo pulang naik apa?"
"Gu-gue pulang naik ojek." Jawab Ali tergagap.
__ADS_1
"Lo kenapa gugup gitu sih? Masalah tadi yang gue denger suara asli lo? Gak apa-apa lagi... kan semua orang juga tau kalo lo itu aslinya cowok, jadi ya gak masalah."
"Hm." Jawab Ali yang hanya sebatas gumaman sambil mengangguk kecil ada Gea.
"Lo ikut gue aja pulangnya, kebetulan hari ini gue bawa motor. Gue mau pergi belanja dulu nanti, lo temenin gue ya... please..." Mohon Monica sembari mengeluarkan jurus andalannya, mata puppy.
"Aduh Mon... lo tau nggak sih, sikap lo yang kayak gini bisa bikin gue khilaf Monica!" seru Ali sekeras-kerasnya dalam hati, namun dia tetap berusaha untuk bersikap normal di depan Monica.
"Ehm, kayaknya gue nggak bisa deh Mon. Soalnya gue udah capek bang—"
"Please, Li..."
"Huft! Ya udah deh gue temenin lo." Pasrahnya.
"Yeay! Makasih Lia... lo emang paling the best deh!" Mon pun dengan senangnya memeluk erat Lia, bahkan mencium pipi Lia.
Deg!
Deg!
Deg!
Monica yang tersadar pun auto melepaskan pelukannya, "Hehe... sory Li, gue seneng aja akhirnya belanja ada yang nemenin jadi gue nggak sendirian. Ya udah yuk berangkat."
Monica pun berjalan lebih dulu meninggalkan Ali yang masih mematung di tempatnya, "Lia? Lo kenapa malah bengong sih? Ayo buruan." Monica pun akhirnya kembali dan menarik tangan Lia.
Monica tidak merasa hal yang dirinya lakukan tadi salah pun, bersikap biasa saja. Pasalnya dalam otak mini Monica, dia menganggap Lia alias Ali adalah seorang wanita dan bukan pria.
"Huft bisa gila gue kalo kelakuan Monica sebar-bar tadi, dia sih fine-fine aja nha gue?!" batin Ali yang tengah menahan sejuta rasa yang bercampur aduk di dalam hatinya. "Gue itu cowok tulen Monica...! Please jangan uji kesabaran gue lagi...!" jeritnya.
Saat ini di mobil Johan...
"Mar, lo laper nggak?"
"Hm... laper sih, hehe..." Jawab Marisa sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Mau nyari makan nggak?"
"Boleh, tapi gue lagi pengen makan sate."
"Sate? Lo punya rekomendasi tempat jual sate yang enak enggak?"
"Ada dong... sate kelinci mang Udin. Di perempatan deket rumah gue itu loh..."
"Siap bos! Kita caw ke sana."
sesaat setelah Johan yang melirik ke arah spion mobilnya pun mengerutkan kening.
"Jo? Lo kenapa?" tanya Maria yang bingung kala melihat kerutan di kening Johan.
"Nggak ada apa-apa kok."
Maria pun mengangkat bahunya acuh.
"Mobil itu kenapa kayaknya dari tadi ngikutin mobil gue ya?" pikir Johan yang menatap pada mobil berwarna hitam yang sedari tadi tampak mengikutinya dari belakangnya.
"Agatha, akhirnya kita bertemu lagi. Aku penasaran bagaimana reaksimu nanti saat bertemu lagi denganku, Agatha." Gumam seseorang yang berada dalam mobil hitam itu, dengan seringai mengerikan menghiasi wajahnya yang tertutup dengan tudung Hoodie hitamnya.
Mobil Johan pun berhenti tepat di perempatan jalan dekat tempat tinggal Maria.
"Ayo Jo, gue udah laper nih." Maria menarik lengan Johan dan membawanya menghampiri gerobak sate tempat yang mereka tuju.
"Mang, satenya dua porsi ya."
"Ok, neng kembar." Jawab si penjual yang sudah hafal dengan dua bersaudara itu, namun karena sulit membedakan mama Maria dan mana Marisa dia pun memanggil keduanya dengan sebutan si Kembar.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, mobil yang sedari tadi mengikuti mereka pun juga ikut menghentikan mobilnya.
"Fix! Itu orang emang ngikutin gue sama Maria, mau apa dia?" batin Johan.
"Jo? Lo mau kemana?"
__ADS_1