
"Mar, lo ada musuh nggak sih? Atau lo ada bikin masalah gitu sama seseorang akhir-akhir ini?" tanya Johan pada Maria.
"Musuh? Ya cuman si tuti konde doang sih, tapi kalau bikin masalah ya lo tau gue lah ya... " jawab Maria dengan santuy plus kekehan khasnya.
"Dih! Gue itu nanya serius sama lo, tapi lo malah jawabnya bercanda."
"Ya gue juga serius Jojo... lo kan tau prinsip gue itu lebih baik nambah temen dari pada nambah musuh. Tapi kalo soal bikin rusuh kan itu emang udah bawaan orok," ujar Maria, "Lagian lo ngapain sih, tiba-tiba nanya gitu?"
"Nggak! Gue nggak boleh bikin Maria panik, mending gue nggak usah kasih tau dia dulu deh," batinnya, "Nggak ada apa-apa sih..."
"Dih! Aneh banget sih lo."
"Aneh? Enggak ya... kalo ganteng mah iya," Johan tertawa geli mendengar ucapannya sendiri.
Plak!
Maria menggeplak lengan Johan dan membuat si empunya meringis kesakitan, "Kepedean banget sih lo!"
"Sakit Maria... kebiasaan ya lo, suka nabokin orang. Gue kam lagi nyetir, bahaya tau!" Johan memanyunkan bibirnya.
"Eiittss...! Ini bibir nantangin ya? Mau minta di kuncir? Apa mau gue krimbath atau smooting dulu bibir lo, biar nggak keriting?" goda Maria.
"Wah wah wah sadis bener cara lo, bisa-bisa jadi krispi bibir gue kalo lo smooting ege!"
"Siapa suruh pake manyun-manyun segala."
Mereka pun bercanda tawa dengan bahagia dan belum menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus mengamati mereka.
Johan yang akhirnya merasakan hal itu pun, tampak menengok ke belakang melalui kaca spion. Dan benar saja, mobil yang sempat mengikuti mereka sebelumnya kini kembali mengikuti mereka.
"Sial! Siapa sih sebenernya yang ngikitin gue sama Maria? Apa jangan-jangan—" pikirnya, "Nggak! Kayaknya nggak mungkin dia, kalau dia pasti nggak akan pakai cara diem-diem begini," batin Johan.
"Agatha... aku sudah tidak sabar untuk bertemu lagi denganmu setelah sekian lama kau menghilang begitu saja," gumamnya sambil terus memperhatikan mobil yang melaju di depannya.
"Jo..."
Johan yang fokus menyetir sambil mengamati mobil si penguntit pun tidak mendengar panggilan Maria.
__ADS_1
"Woy! Johan!" seru Marisa sekali lagi dan tepat di sebelah telinganya.
"Astaga, Maria... bisa nggak sih lo nggak usah ngagetin? Gue itu lagi nyetir, Maria... emang lo mai jadi almarhum berjamaah sama gue?" canda Johan.
"Enak aja lo! Gue belum nikah, belum punya anak, cucu, cicit, dan seterusnya."
"Yaelah, canda kali. Serius amat lo, kaku! Kaya kanebo kering!"
"Lagian, lo canda pake nyawa. Ntar malaikat pencabut nyawa datang buat bercanda sama nyawa lo, emangnya lo mau?" candanya balik.
"Ya ampun... canda doang ini, kok lo malah nakut-nakutin sih?" Johan kembali melirik ke arah spion, namun sialnya mobil itu sudah tidak ada di belakangnya. Entah kapan dia berbelok hingga Johan tak mengetahuinya.
"Sial! Kemana tuh orang? Apa jangan-jangan gue aja yang terlalu parno, sampe ngira kalau dia itu penguntit?" pikirnya.
Cklak!
"Kenzo? Kau sudah datang," sapanya pada Kenzo dengan ramah, namun saat dia melihat Marisa juga berada di sana wajah ramah tadi berubah seketika. Perubahan raut wajah yang sangat cepat, secepat membalikkan telapak tangan.
"Maaf tuan Wilson, tadi aku memang sedang bersama dengan pacarku. Jadi sekalian saja aku mengajaknya kemari."
"Tidak masalah," ujarnya.
"Dokter bilang dia hanya luka ringan, tapi emosinya sedikit tidak stabil. Dan dokter memintaku untuk jangan membuatnya marah, maka dari itu saat dia bersikeras memintamu datang aku harus menurutinya."
"Cih! Ratu drama!" batin Marisa.
"Dia lagi...! Untuk apa dia ke sini?!" geram hati Raisa yang melihat Marisa tengah tersenyum sinis padanya.
Kenzo pun berjalan mendekat ke arah Raisa.
"Kenzo... akhirnya kami datang," Raisa langsung memeluk lengan Kenzo seperti seekor koala.
"Wadaw! Gesit juga kayak belut sawah!" cibir Marisa dalam hati.
Kenzo dengan cepat segera melepaskan pelukan Raisa di lengannya, "Maaf Raisa, ada pacarku di sini. Jadi tolong jangan melakukan hal yang berlebihan."
"Dia! Ayah, dia yang sudah membuatku seperti ini!" seru Raisa karena rasa kesalnya, Kenzo menepis tangannya karena Marisa ada di sana.
__ADS_1
"Apa?!" seru Kenzo dan Wilson bersamaan, mereka menatap Marisa yang terlihat tidak terkejut sama sekali. Bahkan wajah Marisa tampak sangat datar, se datar dompet author.
"Ya, dialah yang sudah membuatku kecelakaan semalam!" Raisa tersenyum dalam hati, karena dia pikir setelah dia mengatakan itu dia bisa memenjarakan Marisa atau setidaknya membuat nama Marisa jelek di depan Kenzo.
"Marisa? Apa itu benar?"
"Kau tidak perlu bertanya padanya, Kenzo. Mana ada orang yang bersalah yang berani mengakui kesalahannya?" Raisa menatap sinis pada Marisa.
"Nona, apa benar yang anakku katakan tadi? Kau benar-benar adalah penyebab dari kecelakaan yang Raisa alami semalam?" tanyanya berpura-pura sopan, "Jika benar itu kau, maka aku akan melenyapkanmu!" sambungnya dalam hati.
Kenzo dan Wilson menatap pada Marisa untuk menunggu jawaban darinya.
"Ayo Marisa... katakan jika kau tidak bersalah. Jika kau mengatakannya, aku akan membelamu," batin Kenzo.
Namun yang mereka dengar di detik berikutnya sangat mengagetkan.
"Benar, itu aku."
Mata Kenzo membelalak seketika, ada rasa tidak percaya dan kekhawatiran dalam hatinya. Marisa yang melihat hal itu dari sorot mata Kenzo, menepuk bahu Kenzo untuk menyuruhnya tenang lebih dulu.
"Kau percaya padaku kan, sayang?" tanya Marisa yang tidak lupa di bumbui dengan akting kelas kakapnya.
"Tentu saja aku percaya padamu."
"Baiklah, itu sudah cukup untukku."
"Apa maksudmu, nona? Kau sudah membuat anakku celaka, dan kau masih mengakuinya sendiri. Tapi kau terlihat begitu santai dan tidak merasa bersalah sedikitpun?" tanya Wilson yang sebisa mungkin menahan amarahnya di depan Kenzo.
"Aku tenang karena aku tidak bersalah, tuan Wilson," ucap Marisa dengan gaya santai bak di pantainya itu.
"Sial! Apa maksud perkataan wanita sialan ini! Dia tidak mungkin bisa membuktikan kalau aku yang memulainya kan? Dia hanya rakyat jelata, dia tidak akan punya koneksi untuk menyelidiki hal itu. Apalagi aku sudah punya orang dalam untuk membantuku," batin Raisa dengan senyum licik yang samar di bibirnya.
"Apa maksudmu, Marisa? Kau bilang kecelakaan itu memang ada hubungannya denganmu, tapi sekarang kau bilang kau tidak bersalah. Meskipun aku percaya kau tidak akan melakukan hal bodoh, tapi bisakah kau jelaskan?" tanya Kenzo yang juga belum mengerti apa yang terjadi.
"Kurasa bukan aku yang berhak menjelaskannya. Bukankah begitu, nona Raisa?" Marisa tersenyum penuh arti pada Raisa.
Deg!
__ADS_1
"Sialan!" batin Raisa.