
Hari yang panjang pun akhirnya terlewati. Meski Marisa sempat merasa was-was, karena takut jika Ando akan datang lagi untuk membawanya secara paksa seperti apa yang dulu pernah dia lakukan.
"Apa yang kau pikirkan? Dari semalam kau terlihat sangat gelisah," tanya Kenzo yang baru saja selesai dengan ritual mandi paginya .
"Aku hanya sedang khawatir, jika si sendal Ando itu akan mengincar Maria untuk mengancamku," jelasnya sambil mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk lesu, "Omo! Kenapa kau telanjang?! Pakai bajumu!" seru Marisa sambil menutup kedua matanya dengan satu telapak tangan.
"Telanjang? Aku kan masih pakai celana, apanya yang telanjang?" ucap Kenzo yang sengaja menggoda Marisa, "Buka matamu dan lihatlah!"
"Tidak! Aku tidak menodai mataku dengan roti sobekmu!" seru Marisa.
"Roti sobek?" gumam Kenzo, "Apa maksudmu, ini?" tanyanya sambil memegang tangan Marisa yang menutupi matanya dan membawanya ke perut sixpacknya.
"A-apa yang kau lakukan?! lepaskan tanganku! Tanganku jadi ternodai, tau!"
"Cih! Dasar lain di mulut lain di hati," ejeknya, "Buka matamu dan lihatlah, apa tanganmu ini masih ku pegang atau memang dia sendiri yang masih betah menempel di perutku?" bisik Kenzo tepat di Telinga Marisa.
Marisa pun membuka matanya, dan...
Blar!
Bagaikan petir di siang bolong dan cuaca yang panas, wajah Marisa pun memerah seketika. Karena memang benar, kalau tangan durjananya lah yang dengan nyamannya nangkring di roti sobek itu.
"Astaga...! Apa gue benar-benar semesum itu?!" batin Marisa.
"Jadi kau bary sadar kalau otak minimu ini terlalu banyak berisi hal-hal mesum?" bisik Kenzo yang sengaja menggoda Marisa, "Mau sampai kapan tanganmu terus berada di sana? Jangan salahkan aku jika aku kehilangan kendali karena ulahmu!" ucapnya.
"Astaga, maaf khilaf hehe..." ucap Marisa sambil tersenyum kaku ala kanebo kering.
"Dasar Bebek Kuning...!" Kenzo mengacak pelan rambut Marisa, "Cepatlah mandi, aku mau mengajakmu jalan-jalan."
"Jalan-jalan? Jadi hari ini kita libur?" tanya Marisa dengan antusias.
Kenzo hanya mengangguk kecil, "Aaa! Terimakasih..." saking senangnya, Marisa langsung melompat ke pelukan Kenzo dan membuat Kenzo terperangah.
__ADS_1
"Astaga...! Godaan di pagi hari?" batin Kenzo yang merasakan dua buah benda kenyal yang menempel di dadanya, "Apa kau mencoba menggodaku?" bisiknya di telinga Marisa, dan membuat si empunya sadar.
"Ah! Aku akan segera mandi!" dengan langkah seribu, Marisa pun masuk ke kamar mandi dan dengan cepat mengunci pintu itu.
"Dasar gadis nakal!" gumam Kenzo dengan senyum kecil terbit di bibirnya.
Setelah itu, Kenzo pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan mengetikkan pesan yang entah dia kirim ke siapa.
"Segar sekali... akhirnya gue punya waktu santai juga? Gue mau beli oleh-oleh buat si Markonah sekalian aja deh," pikirnya sambil berendam di bathup.
Sedangkan Kenzo kini sudah berada di depan pintu kamar Arka, "Arka...!" panggilnya.
Tidak lama, pintu pun terbuka.
Cklek!
"Ada apa? Apa kita sudah mau berangkat meeting?"
"Justru karena itu aku mencarimu," ucap Kenzo dengan senyum di wajahnya. Senyum yang justru membawa firasat buruk bagi Arka.
"Kai pergi sendiri saja untuk meetingnya. Jika klien bertanya, katakan saja aku sedang ada urusan penting. Terimakasih!" tanpa menunggu jawaban Arka, Kenzo sudah melenggang kembali menuju kamarnya.
Cklak!
"Marisa... apa kau belum selesai?" seru Kenzo.
"Sebentar lagi!" jawab Marisa.
"Astaga aku lupa meminta Arka menyiapkan gaun. Aku yakin bocah itu pasti hanya membawa piama dan seragam kerja," gumamnya.
Dengan cepat, Kenzo kembali ke bawah dan mencari Arka.
"Mencariku?" tanya Arka yang sudah berada di belakang Kenzo.
__ADS_1
"Ya,"
"Tugas apa lagi?" tanya Arka dengan wajah malas.
"Carikan beberapa gaun untuk Marisa."
"Ok," jawabnya dengan tidak bersemangat.
"Thanks!" Kenzo menepuk pundak Arka dan kembali melenggang ke kamarnya.
Cklak!
"Kau dari mana? Kenapa ngos-ngosan begitu?"
"Dari bawah," jawab Kenzo sambil mendekat ke arah Marisa.
"Oh, kita jadi pergi?" tanyanya. Marisa hanya memakai hoodie dan celana jeansnya. Dia memang hanya membawa beberapa piama, dan seragam kerja serta satu set baju santai itu.
"Tunggu sebentar, Arka sedang mencari baju untukmu."
"Baju? Bukankah yang aku pakai ini juga baju dan bukan karung goni?!" tanya Marisa yang tidak habis pikir.
"Setelan itu tidak cocok dengan setelanku," jawab Kenzo acuh.
"Lah? Kan aku yang pakai bajunya, kenapa jadi harus cocok dengan bajumu?"
"Diamlah, dan turuti saja."
"Apalah dayaku, kau kan memang bosku," gumam Marisa dengan bibir mengerucut.
"Bos sekaligus calon suami, jangan lupakan itu!" tekannya.
"Memangnya aku sudah setuju untuk menikah denganmu?"
__ADS_1
"Setuju atau tidak, kau tetap akan menjadi nyonya Kenzo Alexander."