My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 127


__ADS_3

"Mana orang jahatnya, nona?" tanya mereka setelah sampai, dan tidak mendapati apa-apa.


"Di sini!" Kara tersenyum dengan tatapan mematikan pada ketiga orang bodoh yang baru saja berhasil dia tipu itu.


Brugh!


Satu tendangan dari Kara berhasil membuat salah satu antek-antek Ando itu rubuh dan tersungkur.


"Shitt! Rok ini menyusahkan saja!"


Krak!


Kara menyobek roknya hingga membuat rok itu memiliki belahan yang mencapai pahanya.


Dan hal itu auto membuat kedua pria hidung belang itu, menatap Kara tanpa berkedip.


"Kalian adalah orang kesekian yang mati, karena memberikan tatapan mesum menjijikkan seperti itu padaku! Akan ku congkel keluar bola mata kalian!"


Bugh!


Bagh!


Bugh!


Krak!


Suara tulang patah yang terdengar begitu menyakitkan.


"Aaarrrghh!" jeritnya, saat tangan kanannya, kini sudah patah oleh putaran maut dari Kara.


Kedua orang lainnya pun tanpa sadar, bergerak mundur beberapa langkah.


"Hey hey hey, aku bahkan belum membunuhmu. Kenapa teriakanmu sudah seperti orang yang di cabut nyawanya?!" ujar Kara sambil mendekati pria itu.


Kara duduk di atas punggung pria itu, lalu dia memegang kening dan dagunya. Hanya dengan satu gerakan...

__ADS_1


Krak!


Tak ada lagi suara yang terdengar dari pria itu, dia mati.


"I-iblis wanita dari mana dia?" gumam teman pria yang sudah tewas.


Kara berjalan mendekati kedua pria itu, dengan langkah yang begitu terasa mengintimidasi.


Bahkan tanpa sadar, kedua pria itu kini sudah mengeluarkan keringat dingin karena ketakutan. Rasanya mereka seperti sedang berhadapan dengan binatang buas yang siap menerkam mereka.


Di tambah dengan senyum manis Kara yang saat ini justru terlihat begitu mengerikan di mata mereka. Bahkan tubuh mereka bergetar, seperti saat mereka berhadapan dengan bos mereka, Ando.


"Sekarang giliran kalian,"


Dengan gerakan cepat, Kara menghabisi dua pria berbadan besar itu. Terlihat benar-benar begitu mudahnya, dan tanpa merasakan kesulitan sama sekali.


Kedua pria itu pun menyusul temannya, ke alam baka. Setelah itu, Kara kembali ke tempat dua pria lainnya yang tadi masih berjaga.


Kara berlari dengan akting ketakutan.


"Me-mereka di kalahkan oleh orang jahat itu, cepat bantu mereka, hiks! hiks!" Melihat baju Kara yang robek, mereka pun kembali percaya dengan air mata buaya betina yang keluar dari manik mata Kara.


Sesampainya di sana, mereka begitu terkejut saat melihat ketiga teman mereka mati. Namun belum usai keterkejutan mereka, Kara sudah menyeranh mereka dari belakang dan mengalahkan keduanya.


Dengan perlahan tapi pasti, Kara mengalahkan kelompok lainnya. Dia menggunakan berbagai cara yang berbeda, untuk mengelabuhi dan mengalahkan orang-orang itu.


Tapi ternyata tanpa dia sadari, ada seseorang yang memantaunya dari dalam sebuah Kontainer.


"Ternyata dia benar-benar lebih menarik darimu, Marisa. Menurutmu, bagaimana jika dia menggantikam posisimu?" tanyanya.


"Kau bajing*an biadab! Jangan harap kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan! Wanita itu hanya orang suruhan Kenzo, dia tak ada hubungannya denganku! Dia tak akan mungkin dengan bodohnya menukar diri sendiri denganku!" seru Marisa dengan marah.


"Ternyata kau tidak tau apapun, Marisa. Asal kau tau saja, dia itu anak dari si pak tua sialan itu. Dia keponakan Kenzo, Karamel Delvia Shaenette."


"Shaenette? Maksudnya dia anak paman Cleric?" Marisa melongo tidak percaya, mendengar ucapan Ando.

__ADS_1


"Benar sekali. Awalnya aku tertarik padamu, karena kau berbeda dari wanita lain. Tapi setelah melihat semua bekas di tubuhmu, aku tau kau bukan lagi milikku. Jadi sepertinya menukarmu dengan Kara, akan lebih menguntungkan."


"Kau!? Aku memang tidak pernah menjadi milikmu, dan tidak akam pernah! Dan kau juga tidak akan mendapatkan Kara!" serunya.


Awalnya Ando ingin menikahi Marisa secara paksa, tapi Marisa mengungkapkan bahwa dia sudah menikah. Dia bahkan memperlihatkan bekas percintaannya bersama Kenzo di area leher, yang tadinya dia tutupi dengan foundation pada Ando.


Mungkin Ando memang bejat, tapi dia juga tak ingin memiliki wanita yang sudah menjadi milik orang lain. Atau lebih tepatnya, wanita yang sudah di sentuh oleh orang lain.


Dan entah kenapa dia sangat yakin, jika Kara akan datang menyelamatkan Marisa.


Beberapa puluh menit kemudian, Kara sudah berhasil melumpuhkan semua anak buah Ando yang berjaga di sana.


"Bajing*an mesum! Keluar kau! Aku tau kau mengawasiku bukan? Keluarlah jika kau bukan pengecut!" seru Kara, yang saat pertarungan tadu sempat melihat sebuah drone yang tampak mengikutinya.


Ando pun keluar dari sana, dengan Marisa yang berada dalam genggamannya. Dia menempelkan sebilah pisau di leher Marisa, dan menatap Kara dengan senyum devilnya.


"Kita bertemu lagi, Karamel."


"Jangan banyak ba*cot! Cepat lepaskan Marisa, atau aku kan membunuhmu!" serunya.


"Mari lakukan, kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu. Aku atau dia," ujarnya sambil melirik pada Marisa.


"Kau!?"


"Bagaimana jika kita melakukan pertukaran?" tawar Ando.


"Apa maksudmu?!"


"Kau menggantikan posisi Maris, bagaimana?" tanyanya.


"Jangan berharap!" serunya.


"Apa kau yakin?" Ando sedikit menekan bilah pisau itu, hingga sedikit menggores kulit Marisa. Darah segar pun mengalir dan Marisa terlihat sedikit meringis menahan rasa perih itu.


"Jangan sakiti dia! Aku akan menggantikannya!" Kara baru saja akan melangkah maju ke arah Ando, namun suara deru helikopter mengakihkan atensi mereka.

__ADS_1


"Lepaskan dia, Ando! Katakan, apa yang kau inginkan! Aku akan memberikannya, tapi tolong lepaskan istriku!" ujarnya menggunakan pengeras suara.


__ADS_2