My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 121


__ADS_3

Anak-anak di bawah umur, harap skip.🤣🥳


Siapkan kipas angin atau hidupkan ac di kamar kalian dan jangan lupa kencangkan sabuk pengaman, karena kita akan segera memasuki zona bersuhu tinggi. 🤣🤣💋💋


...******...


"Baiklah, aku akan membuatmu melupakan semua pikiran buruk itu dari kepalamu," ujar Kenzo, kemudian dia berbisik, "Ini sudah waktunya untukku berbuka puasa, kan, sayang?" bisik Kenzo tepat di telinga Marisa.


Blush!


Wajah dan telinga Marisa pun langsung memerah seketika, di tambah dengan suara sexy dan maskulin dari suaminya itu. Dan hembusan nafas Kenzo yang menerpa leher jenjangnya, membuat Marisa merinding dengan sensasi yang wow.


Suasana pun mendadak berubah. Detak jantung keduanya berpacu, apalagi saat Kenzo menurunkan selimut yang tengah menutupi tubuh mereka saat ini.


"Jadilah milikku seutuhnya, Marisa. Aku tidak akan pernah mengecewakan atau menyakitimu, meskipun banyak ujian yang harus kita lewati. Dan aku mohon, jangan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi," bisiknya dengan lembut di telinga Marisa dengan nafas yang sudah mulai memburu.


Kenzo mulai menciumi leher jenjang Marisa, membuat Marisa terjebak dalam permainannya. Marisa merasa setiap sentuhan dan kecupan yang Kenzo berikan padanya, bagaikan keinginan yang tidak terlihat di mana titik kepuasannya.


Marisa benar-benar di buat mabuk oleh semua perlakuan Kenzo padanya yang begitu memabukkan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Marisa."


Kenzo mencium bibir Marisa dan membuat Marisa semakin lupa dunia.


Marisa tak kuasa menjawab, karena dirinya kini sudah benar-benar masuk dalam permainan panas Kenzo. Terbukti dengan tubuhnya yang kini sudah tak lagi tertutup, bahkan sehelai benangpun tanpa dia sadari. Semuanya sudah berhasil Kenzo tanggalkan.


Dengan nafas terengah-engah, Kenzo melepaskan ciumannya dan menatap Marisa. Tatapan mata mereka pun bertemu dan saling menatap penuh cinta.


Membuat kata-kata cinta tak perlu lagi mereka ucapkan saat ini, karena tatapan mereka sudah menjawab semuanya. Begitu pula dengan bibir basah mereka yang sudah merah merona, karena luma*tan dan sesa*pan penuh naf*su yang tiada hentinya sejak tadi.


Begitu pula dengan detak jantung mereka yang mengalahkan detik jam dinding, sudah mampu membuktikan seberapa besar cinta di antara kedua insan ini.


Kenzo pun dengan lincah memainkan tangannya dan menyentuh setiap inci tubuh Marisa, membuat desa*han dari bibir Marisa akhirnya lolos begitu saja.


"Sentuhanmu, membuatku melayang... aaah!" racau Marisa saat tangan Kenzo kini sudah nangkring cantik di dadanya sambil mere*mas dan memainkan pucuk merah muda yang sudah mengeras itu.


Kenzo pun kembali menyatukan bibir mereka, dan menikmati bibir merah muda Marisa.


Dan kini tangannya mulai meraba tubuh Marisa, hingga sampai ke pangkal pahanya. Menyentuh lembut permukaan yang sudah mulai basah akibat permainan yang dia berikan pada Marisa sedari tadi.

__ADS_1


Baik sentuhan, ciuman, maupun kata-kata mesra.


"Aaaaah! Emmhh...!" desah Marisa sambil terus menikmati ciuman Kenzo padanya.


Kenzo sengaja membuat Marisa aktif melu*mat dan menghi*sap bibirnya. Sehingga dia bisa memberikan kenikmatan pada Marisa dengan sesuatu yang sudah mulai mengeras dan basah di bawah sana.


Tubuh Marisa menegang kala jari-jari lincah Kenzo semakin gencar bermain dengan daging sebesar biji kacang yang sudah mengeras di bawah sana.


Marisa pun di buat semakin melayang dengan permainan Kenzo padanya. Dan akhirnya sesuatu yang mendesak keluar itu lolos juga, Marisa pun mencapai puncak untuk pertama kalinya di malam panas ini.


Saat Marisa masih merasa lemas dengan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia rasakan, Kenzo tiba-tiba saja memposisikan dirinya yang kini juga sudah polos bagai bayi baru lahir di tengah-tengah pahanya.


Marisa pun membuka kembali matanya dan menatap Kenzo yang tersenyum padanya, Kemudian perlahan membenamkan wajahnya di antara pahanya. Kemudian menciumi lembut area itu yang perlahan membuat Marisa kembali terlena. Membuat api gai*rah yang tadinya baru saja mulai mereda, kini kembali bergelora saat lidah Kenzo menyapu intinya yang masih dalam keadaan basah itu.


Andaikan otak Marisa masih bisa berkompromi saat ini, dia pasti akan langsung meminta Kenzo melakukan intinya. Tapi sayangnya, otak Marisa kini sudah tertupi dengan kabut gai*rah yang begitu tebal. Sehingga Marisa yang masih merasa lemas pun, tak berpikir untuk mengakhiri permainan ini.


Hingga akhirnya sebuah teriakan kecil kembali lolos dari mulut Marisa, saat dia kembali merasakan cairan hangat mengalir dari intinya untuk kedua kalinya.


Kenzo pun menyapu bersih cairan itu, tanpa rasa jijik sama sekali. Kemudian dia memposisikan senjatanya yang sudah siap tempur itu, di depan sarangnya. Dan bersiap untuk menyerang. Marisa sempat terkejut melihat ukuran benda itu.

__ADS_1


"Apa itu benar-benar akan muat!?" pekik Marisa dalam hati.


__ADS_2