My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 162


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen dan amunisinya ya bestieku tersayang 😘😘😘😘...


...********...


"Ken, Mar, makasih buat bantuan kalian. Aku tidak tu harus bilang apa lagi, jadi kalau kalian butuh bantuan apapun bilang saja. Kalau aku sanggup maka akan ku lakukan," ujar Johan.


"Ok, gue punya satu tugas buat lo," ucap Marisa sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Johan, membuat Johan menunggu Marisa mengatakan tugas apa yang dia ingin Johan lakukan. "Jagain kakak gue. Kalo sampe lo berani nyakitin kakak gue yang cantik ini, gue pastiin lo bakal hilang dari muka bumi ini saat itu juga!" sambung Marisa dengan penuh penekanan.


"Jiaaah... lo muji diri sendiri nih ceritanya?" Johan malah tertawa mendengar ucapan Marisa, "Kalau masalah Maria, tanpa lo minta juga bakal gue jagain kalo perlu 24 jam gue kantongin dah."


Maria tersenyum geli mendengar Johan yang berbicara seperti cara bicara Johan yang dulu, bukan bicara dengan formal seperti saat bekerja.


"Gue bukan muji diri sendiri, ya kakak gue kam emang cantik. So, karena muka kita sama, jadi ya... mau nggak mau gue harus bilang kalo gue lebih cantik dari dia, biar ada bedanya." Marisa kemudian tertawa lepas setelah mengatakannya.


Semuanya tergelak, bahkan Kenzo yang masih sakit pun ikut tertawa melihat tingkah istri dan adik iparnya itu.


Saat mereka tengah asik mengobrol, pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka dan beberapa orang tampak berdiri di ambang pintu. Ada Gio, Stella, Riana, bahkan Cleric dan Samudera juga ada di sini sekarang.


"Ken, bagaimana keadaanmu. Tadi Marisa kabarin mama, katanya kamu sakit," ucap Stella dengan menggenggam tangan Kenzo.


"Ken udah baikan kok ma."


"Tadi siapa yang bantuin kamu bawa Ken ke rumah sakit?" kini giliran Gio yang bertanya pada Marisa.

__ADS_1


"Ehm... itu..." Marisa tampak sedikit bingung bagaimana cara menjelaskannya pada ayah mertuanya itu.


"Marisa sendiri, pa. Dia gendong Ken dan nyetir sendiri bawa Ken ke sini."


"What!?" semua orang tercengang.


Gendong? Tidak pernah terbayangkan oleh mereka, jika mereka di gendong oleh istri mereka sendiri. Dan hal itu juga membuat Kenzo sedikit malu, terlihat dari raut wajahnya yang merona. Gio dan Stella saling menatap, begitu pula dengan Maria dan Johan. Sedangkan Riana dan Cleric hanya bisa menahan tawa mereka.


"Maria, nenek dengar kau dan Johan sudah menikah?" tanya Riana yang sudah duduk di samping ranjang Kenzo.


"Ehm... ituβ€”"


"Maaf nek, itu salahku. Aku memang tidak mengundang banyak orang, karena kemarin aku masih harus menyembunyikan pernikahan kami. Tapi semua hal yang harus aku selesaikan, kini sudah selesai. Jadi aku akan segera menggelar resepsi pernikahan." Sahut Johan yang melihat sang istri tak bisa menjawab pertanyaan Riana.


Kedua pasutri itu tampak menyunggingkan senyumnya pada satu sama lain, begitu pula dengan Gio, Stella, Cleric dan juga Samudera yang juga ikut senang mendengarnya.


Namun tiba-tiba saja, Cleric tampak mendesah pelan, "Hhh... andai saja Karamel juga mengadakan pesta semacam itu, aku pasti sangat bahagia. Tapi kenapa kalian semua menikah secara sembunyi-sembunyi, bahkan Kara juga!" Cleric mendengus pelan.


"Sudahlah Cleric, lagipula putrimu juga baik-baik saja bukan? Bahkan dia sangat baik sekarang, menurut laporan anak buahku."


"Ya ya ya, paling tidak Kara tidak lagi ngeyel untuk menjadi perawan tua seumur hidupnya."


Mereka tampak seperti keluarga besar bahagia, saat ini. Benar-benar tidak bisa di bayangkan, jika belum lama ini mereka masihlah seperti kucing dan tikus yang saling bermusuhan satu sama lainnya.

__ADS_1


Mal hari pun tiba, dan kini hanya tersisa Marisa dan Kenzo di ruangan itu. Karena tadi Marisa meminta semua orang untuk pulang dan beristirahat, meskipun awalnya Stella tak mau menuruti Marisa, tapi karena Gio membujuknya akhirnya ibu mertuanya itu pun bersedia untuk pulang.


"Hari yang melelahkan..." ucap Marisa sembari menguap.


Kenzo tersenyum kecil melihat istri kecilnya yang sangat dia sayangi, "Naiklah, kau juga butuh istirahat." Kenzo menepuk-nepuk ranjang pasiennya, dan menyuruh Marisa untuk berbaring di sebelahnya.


"Aku ini bukan pasien, tuan Kenzo yang terhormat. Bisa-bisa nanti jika dokter datang, aku lah yang di suntik dan bukan kau!" guraunya yang mendapat hadiah cubitan dari Kenzo di hidungnya.


"Kai mau naik, atau aku yang akan melakukannya secara paksa?"


Marisa mendengus dan mengumpat, "Baiklah baiklah, dasar tuan pemaksa!" Akhirnya Marisa pun ikut naik ke atas ranjang pasien, dan tidur berpelukan dengan Kenzo.


Untungnya Kenzo menempati kamar VVIP, jadi ukuran ranjang pasiennya juga lebih besar dan lebih nyaman.


Kenzo mengecup puncak kepala Marisa dan mengucapkan, "Selamat malam, istriku."


...********...


...Weddingnya double dong🀣...


...Mom Rose bisikin alasannya, kenapa weddingnya mau di gabung sama oma Riana.πŸ™Š...


...Biar irit biaya, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui 🀣🀣🀣🀣🀣...

__ADS_1


__ADS_2