My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 11


__ADS_3

..."Sebenarnya cinta itu tidaklah buta, tapi itu hanyalah sebuah alibi bagi orang yang tidak tau apa arti cinta yang sebenarnya."...


...By: Rosemarry...


...*******...


Cklak!


Marisa membuka pintu apartemen Gea dan masuk ke dalam, dia mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan mencari Gea, namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Marisa pun memutuskan mencari Gea di kamarnya, dan benar saja, saat ini Gea tengah asik menonton drakor di layar laptopnya.


"Woy!" kejut Marisa sambil menepuk punggung Gea yang sedang tengkurap, sambil memeluk guling.


"Kampret lo!" latahnya saat mendapatkan tepukan di bahu yang membuatnya lantas menolehkan kepalanya, "Woy Marjan! Suka banget sih lo bikin orang jantungan!" serunya menabok balik paha Marisa.


"Shh!" Marisa mengelus pahanya yang terasa panas, "Lagian lo serius amat sih nonton tuh drakor." Marisa pun ikut merebahkan dirinya di samping Gea.


"Ya kan lagi seru Marjan! Makanya lu jangan main game mulu napa? Sekali-kali lo nonton drakor juga, seru tahu!" Gea pun meraih persediaan cemilannya yang ada di atas nakas, di samping tempat tidurnya.


"No! Game is my life, lagian gue gak suka nonton begituan. Ntar gue jadi kayak lo lagi! Tiba-tiba nangis bombay, terus tiba-tiba senyum-senyum sendiri kaya ODGJ. Udah gitu ketawa cekikin kayak mbak kuns yang hobinya nongki di atas pohon beringin! Dih ogah!"


Marisa pun merampas camilan yang ada di tangan Gea, dan langsung memakannya begitu saja.


"Ish! ambil sendiri napa? Main rebut aja punya orang!" Gea pun merebut kembali snacknya dari Marisa dan memakannya.


"Lo jadi dengerin cerita gue nggak nih? Kalo nggak gue mau tidur, capek gue!" ucap Marisa sambil menutup matanya.


"Ya udah lo tidur aja dulu, gue kelarin dulu drakor gue yang lagi seru-serunya ini. Ntar aja lo baru cerita kalo gue udah selesai nonton." Gea pun kembali fokus pada drakornya.


Drtt... Drtt... Drtt...


"Woy Marjan! Hp lo bunyi tuh!" Gea mengguncang tubuh Marisa yang baru saja hampir terlelap dan tenggelam ke alam mimpinya.


"Apaan sih Ge?" tanya Marisa dengan malas.

__ADS_1


"Itu! Hp lo bunyi, angkat gih siapa tau penting." Gea menunjuk ke arah ponsel Marisa, yang tepat berada di sebelahnya.


"Ehm... Halo?" sapa Marisa tanpa membuka matanya dan melihat siapa yang meneleponnya.


"Eh iya pak maaf, ada apa ya pak?" tanya Marisa yang tiba-tiba saja membuka lebar-lebar kedua mata besarnya itu, dan mengubah posisi rebahannya menjadi duduk.


Gea yang melihat perubahan sikap Marisa pun, ikutan duduk dan mempause drakor yang dia tonton di layar laptopnya.


Gea dengan seksama mendengar obrolan Marisa dengan seseorang di sambungan telefon.


"Baik pak, saya akan kesana nanti malam. Iya pak, bapak kirimkan saja alamatnya lewat aplikasi ya pak."


"Baik pak, baik." Marisa pun meletakkan ponselnya dan Gea terlihat bingung menunggu penjelasan Marisa.


"Siapa?" tanya Gea.


"Bagian personalia tempat kerja baru gue."


"Ngapain dia nelpon lo? Tunggu dulu! Maksudnya lo udah dapet kerja?!" Gea auto menatap lekat pada Marisa.


"Ya, gue udah dapet kerjaan baru. Tadi dia nelpon gue karena ada tugas dadakan dari bos gue, katanya gue di kasih tugas khusus malam ini."


"Terus?"


"Nanti malam gue di suruh dateng ke tempat bos gue, dia bilang alamatnya bakalan dikirim sama asistennya nanti." Sambungnya.


"Ooo... Ya udah sekarang lo ceritain dulu ke gue, apa yang terjadi sama lo kemarin." Gea pun melipat tangannya di depan dada, menunggu Marisa mulai bercerita.


Marisa pun memulai sesi dongengnya.


"What! Jadi lo dateng ke apartemen gue cuma pakai kaos tweety sama celana kolor pendek?! Haha..." Gea pun auto terpingkal-pingkal mendengar cerita Marisa barusan.


"Sialan lo! Lo sama Maria tuh sama saja, bukannya khawatirin gue malah ketawain gue." Gerutu Marisa dengan bibir manyunnya.


"Lagi pula menurut gue itu tuh namanya bukan sial tapi ketiban durian runtuh, Marjan! Udah lo di beliin baju baru, ponsel baru, terus ketemu sama 3 cogan sekaligus dalam sehari. Mungkin aja habis ini keberuntungan lo selama setahun ke depan udah habis!"

__ADS_1


"Ya... Ya... Ya... terserah lo aja, gue mau tidur dulu. Gue kan harus kerja ntar malem." Marisa pun kembali berbaring dan menutup matanya.


Dengan pellor alias tempel molornya Marisa, tidak butuh waktu lama baginya kembali tertidur dan berkelana ke alam mimpi.


"Pellor banget sih ni anak! Baru juga merem, udah ngorok aja!" Gea pun lanjut dengan kegiatan nontonnya dan membiarkan Marisa tidur dengan nyenyak.


Beralih pada Maria, saat ini...


"Loh, kemana si Marjan? Bukanya tadi dia habis mandi, tapi kenapa udah ngilang aja tuh bocah?" Maria celingukan mencari Marisa kesana kemari, namun tak kunjung melihat batang hidung adik kembarnya itu.


"Biarin deh, paling juga ke tempat si Gea." Maria pun masuk ke kamar mandi untuk bersiap berangkat kerja, ada jadwal pemotretan hari ini dan mungkin akan berlangsung sampai malam.


Setengah jam sudah Maria berkutat dengan sabun, shampo, dan berbagai macam alat perawatan dirinya di kamar mandi.


Sebagai seorang model, penampilan memanglah hal utama baginya dan tentu saja itu aset terpenting untuknya.


"Halo Jo, lo jemput gue nggak hari ini?" tanya Maria pada seseorang di seberang telefon sana.


"Oke gue tunggu ya, bye." Maria pun mematikan teleponnya dan berjalan menuju lemari pakaian miliknya, untuk memilih baju yang akan dia kenakan hari ini.


Pilihan Maria pun jatuh pada sebuah dress berwarna maroon, dengan tali di kedua pundaknya sebagai penyangga dress itu agar tetap pada tempatnya, lalu dia memilih aksesoris yang serasi dengan bajunya hari ini.


"Perfect! Tinggal make up biar lebih cucok." Gumamnya saat menatap tampilan dirinya di depan cermin besar di hadapannya itu.


Maria pun mulai merias dirinya, riasan yang tidak tebal namun terlihat elegan dan sangat cantik. Di padu lipstik berwarna senada dengan gaun yang di pakainya, membuatnya terlihat sempurna.


10 menit sudah Maria menunggu kedatangan orang yang menjemputnya, namun yang di tunggu tak kunjung datang.


"Udah jam segini, kok si Johan belum sampe sih?" Maria melirik jam dinding di kamarnya lalu berjalan ke luar rumah, untuk menunggu johan di teras rumahnya.


Tak lama setelah itu, sebuah mobil tua datang menghampirinya dan berhenti di pekarangan rumahnya.


Kemudian seorang pria tampan yang duduk di belakang kursi pengemudi itu pun, melambaikan tangannya pada Maria.


Maria pun beranjak dari duduknya dan berjalan untuk menghampiri Johan.

__ADS_1


"Pagi Maria..." Johan menyapa Maria dengan senyum manisnya.


"Lama banget sih lo!"


__ADS_2