
...Sesuatu yang menurut orang lain baik belum tentu baik menurut kita...
...Begitu juga sebaliknya...
...Karena pada dasarnya, semua itu tergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan menilainya....
...By : Rosemarry...
...*****...
"Mas, ini ada uang buat ganti biaya berobat. Maaf ya mas, udah bikin masnya jatuh." Kevin memberikan sejumlah uang pada pria itu.
Seketika raut wajah pria itu pun berubah, seolah melupakan rasa sakitnya. "Makasih mas, lain kali nonjoknya jangan sekali doang ya. Agak banyakan gitu, jadi saya bisa cepet beli asus rog." Canda pria itu sambil terteawa senang.
"Wah bener-bener nih orang, gak jadi kasian gue sama lo! Di kasih hati minta jantung." Celetuk Marisa.
"Udah Mar, kita keluar aja yuk." Ajak Kevin, "Kalo kelamaan di sini, yang ada semua hantu di sini lo bikin babak belur!" batinnya.
#Flashback off
"Btw lo laper nggak?" tanya Marisa pada Kevin.
"Laper sih, yak udah yuk cari makan."
"Ya ayok, kan emang janji gue mau traktir lo makan. Mau nyari makan dimana?"
"Ehm... di mana ya?" Kevin tampak celingukan mencari sesuatu. "Nah itu dia!" tunjuknya pada sebuah tempat makan dengan tenda biru khasnya.
"Yakin lo mau makan di pinggir jalan?" tanya Marisa yang setengah tidak percaya.
"Kenapa? Nggak boleh?"
"Bukan nggak boleh juga sih... cuma... orang sekelas lo mau makan di pinggir jalan ya agak wow aja gitu."
"Udah yuk, keburu laper."
Kevin menarik tangan Marisa menyeberangi jalan raya dan menuju tempat makan bertuliskan "Lesehan Cak Nur."
__ADS_1
"Lo mau pesen apa Mar?"
"Gue mau ayam bakar sama es teh manis."
"Ok." Kevin menghampiri si penjual, "Ayam bakar 1, bebek goreng 1, sama es tehnya 2 pak."
"Iya mas, silahkan duduk dulu."
Marisa dan Kevin pun duduk di sebuah tikar yang sudah di sediakan di sana.
"Nggak nyangka gue, ada anak orang kaya yang mau makan di warung lesehan pinggir jalan kayak gini." Kekeh Marisa.
"Makanya lo harus coba kenal gue lebih baik lagi, masih banyak hal yang lo belum tau tentang gue."
"Ya... ya... ya..." sambil menunggu pesanan mereka siap, Kevin dan Marisa pun mengobrol kesana-kemari dan tertawa bahagia.
Di sisi lain...
"Kenapa dia belum bales chat in game gue?" Kenzo menatap lekat layar ponselnya. "Apa dia masih asik-asikan jalan sama Kevin?"
"Kenapa aku harus mikirin Marisa? Pasti ada yang salah dengan otakku gara-gara kejadian tadi. Haish! Lebih baik dia tidak tau kalau aku ingat persis semua yang terjadi tadi." Batin Kenzo.
Ya, Kenzo bukannya lupa atau tidak ingat kejadian antara dirinya dan Marisa. Karena dia masih memiliki sedikit kesadaran yang tersisa, dan dia ingat semuanya termasuk adegan setengah panasnya dengan Marisa.
Namun untuk membuatnya tidak kehilangan wibawanya di depan Marisa, dia pun memilih untuk pura-pura tidak ingat akan kejadian itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Ken..."
"Mama?" gumam Kenzo lirih, "Masuk aja ma, nggak di kunci kok."
Cklak!
__ADS_1
"Kami lagi apa ken? Mama nggak ganggu kamu kan?"
"Enggak kok ma, ada apa?"
"Itu papa kamu baru pulang, dia suruh kamu ke ruang kerja. Buruan gih kesana, nanti papa kamu keburu marah kalo kelamaan nunggu."
"Ooh... iya ma." Kenzo beranjak dari ranjangnya untuk segera menemui papanya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk."
Cklak!
"Duduk." Kenzo pun menurut dan duduk di hadapannya.
"Ada apa papa manggil Kenzo kesini?" tanya Kenzo dengan setengah hati karena 90% dia yakin papanya pasti akan menanyakan hal yang sama.
Pertanyaan yang sudah sangat sering Kenzo dengar, baik secara langsung dari mulut papanya atau pun melalui perantara yang tidak lain adalah mamanya.
"Kapan kamu bawa pacar kamu pulang?" tanya Giovano Alexander, papa Kenzo.
"Haish...! Sudah kuduga, lagi-lagi pertanyaan keramat ini yang pria tua ini tanyakan!" batinnya, "Pa, kenapa harus buru-buru? Aku ini masih muda pa, menikah 4 atau 5 tahun lagi juga belum terlambat. Lagi pula aku sedang sibuk dengan urusan perusahaan, mana ada waktu untuk urusan rumit seperti wanita." Jawab Kenzo pada papanya.
"Dasar kau ini! Kau itu sudah saatnya menikah, dan papa juga ingin keluarga kita segera memiliki penerus untuk generasi selanjutnya." Gio menghela nafas panjang sebelum melanjutkan sesi khotbahnya, "Papa itu malu Kenzo... saat kolega papa membicarakan menantu dan cucu mereka, papa hanya bisa gigit jari!" sambungnya.
"Mudah saja, papa tidak usah dengarkan mereka. Atau papa bisa anggap pembicaraan unfaedah mereka sebagai angin lalu."
"Papa tidak mau dengar alasan darimu lagi! Dalam satu bulam ini, jika kau tidak membawa pacarmu menemuiku maka aku yang akan mencarikannya untukmu."
"Tapi pa—"
"Shut up! Keluar!"
__ADS_1