My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 73


__ADS_3

Tidak jauh dari gerbang masuk rumah Kenzo, terparkir sebuah mobil sport warna biru dengan seseorang yang tampak sedang memperhatikan ke arah pintu gerbang.


Dan tak lama kemudian, Marisa yang mengendarai Tama terlihat keluar dari gerbang itu dengan kecepatan sedang.


"Dasar wanita busuk! Aku akan membuatmu tidak bisa lagi menggoda pria! Atau lebih tepatnya membuatmu tidak bisa lagi melihat matahari besok pagi!" seringai licik tampak menghiasi bibirnya.


Mobil itu pun segera mengikuti kemana motor Marisa melaju.


Setelah beberapa menit, Marisa merasa ada sesuatu yang aneh. Dengan pengalamannya sebagai seorang bodyguard yang sudah lumayan lama, dia sangat yakin jika mobil di belakang itu memang mengikutinya.


Karena dia sempat mengetes mobil itu. Saat dia menaikkan kecepatan motornya, mobil itu akan ikut menaikkan kecepatan dan begitu juga sebaliknya. Meskipun jika di lihat dari segi manapun, mobil sport itu tidak akan kesulitan jika ingin menyalip motor Marisa.


"Sial! Itu mobil siapa sih? Ngapain itu orang ngintilin gue dari tadi." Gumam Marisa, "Ok, Tama. Kayaknya lo harus kembali jadi raja jalanan. Karena kalau enggak, gue bisa jadi almarhumah setelah ini dan lo bakalan jadi rongsokan di tempat pembuangan."


Marisa pun dengan sengaja, berbelok ke jalanan yang sepi dan merencanakan sesuatu untuk keluar dari bahaya itu.


Ckiiiit...


Tidak terduga, Marisa melakukan drift untuk memutar arah motornya dan hal itu membuat si pengemudi mobil terkejut tapi sekaligus juga senang.


"Kenapa tu cewek tiba-tiba berhenti di tengah jalan, apa dia udah siap mati? Tapi apapun rencana lo, mari kita akhiri semua ini di sini jal*ng!" dia pun juga menghentikan mobilnya.


Namun sesuatu yang tidak dia duga, Marisa tiba-tiba saja kembali melajukan motornya dan menerjang ke arahnya.


"Cih! Apa dia gila? Dia pikir motor bututnya itu bisa menang kalau adu banteng sama mobil sport gue?! Benar-benar konyol!" pikirnya.


Dengan gilanya, dia pun ikut melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengarah pada Marisa.

__ADS_1


"Tama, let's do this!"


Tiba-tiba saja, Marisa mengubah arah lajunya.


Dan kebetulan di sana ada sebuah papan iklan rusak yang sudah ambruk, Marisa melajukan motornya melewati papan iklan itu dan membuat motornya melayang dan melewati mobil sport itu.


"A-apa!? G-gimana bisa dia?" kejutnya kala motor Marisa melewatinya, namun karena keterkejutannya itu dia melupakan sesuatu.


Mobilnya melaju tidak terkendali.


"Aaaaah...!" jeritnya.


Brak!


"Lo masih bau kencur kalau mau lawan gue, si raja jalanan! Bye!" gumam Marisa yang kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Ada apa Agatha, apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Gue belum tau pasti, makannya gue minta lo periksa siapa pemilik mobil itu dan kasih gue hasilnya secepat mungkin. Satu lagi Sam, bantu gue singkirin rekaman Cctv di jalan Xx. Terus kirim ke gue copyannya, Ok."


"Ok, lo tenang aja. Tapi Ta gue ada kabar buruk buat lo."


"Kabar buruk apa lagi?"


"Orang itu, dia ada di kota ini sekarang. Gue khawatir dia bakal nyari lo, jadi lo harus hati-hati."


"Dia? Mau apa dia dateng ke sini?! Sial! Jangan sampai dia ketemu Maria." Batinnya, "Ok Sam, makasih buat infonya. Gue harus buru-buru cabut nih, Bye Sam."

__ADS_1


Setelah mematikan telepon, dia pun kembali melajukan motornya untuk segera kembali ke rumahnya.


Di tempat lain...


"Apa?! Bagaimana bisa? Gimana keadaan dia sekarang? Ok, dok saya segera ke sana sekarang." Dia pun berjalan keluar dari ruangannya dan menghampiri ajudannya, "Kamu, cari tau apa yang terjadi. Dan berikan hasilnya padaku secepatnya! Aku harus ke rumah sakit sekarang."


"Baik tuan."


Singkat cerita, kini Marisa sudah sampai di rumahnya dan masuk dengan terburu-buru.


"Mar! Mar!" serunya memanggil Maria.


Maria yang mendengar teriakan tarzan wati kembarannya itu pun keluar dari kamarnya dengan wajah geram. "Lo itu apa-apaan sih Mar!? Ngapain lo—"


"Maria, lo baik-baik aja? Syukurlah!" lega Marisa setelah dia memutar-mutar tubuh kembarannya itu dan memastikan Maria baik-baik saja.


"Berhenti Mar, lo mau bikin gue mabok? Sampai kapan lo mau muter-muter badan gue? Pusing tau...!"


"Hehe... ya maaf." Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hah? Bentar deh." Maria menempelkan punggung tangannya di kening Marisa, "Lo nggak lagi demam kan?"


"Apaan sih lo? Gue nggak lagi demam ogeb."


"Lagian lo aneh banget, baru pulang udah teriak-teriak kayak tukang tagih kredit panci! Dah gitu tiba-tiba lo nanya gue baik-baik aja, ya kan aneh tau!" Maria menatap lekat pada Marisa, "Ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue kan?"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2