Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
102 = INFORMASI RAHASIA DARI RUMAH PELELANGAN


__ADS_3

\=Chapter 102. INFORMASI RAHASIA DARI RUMAH PELELANGAN\=


\=


\=


Tidak butuh lama Li Yian menunggu di ruang tamu rumah pelelangan, setelah itu dari arah pintu datang seseorang paruh baya.


Dia adalah Shu Yang He, pengurus rumah pelelangan!.


Shu Yang He sebenarnya sedang sibuk mengerjakan sesuatu, dirinya sedang mengatur barang untuk pelelangan yang akan di lakukan minggu dengan, di tambah sedang beres-beres barang yang harus di siapkan di toko obatnya.


Mendapatkan berita bahwa yang menemui kali ini adalah Li Yian, Shu Yang He langsung dengan cepat berlari ke ruang tunggu tamu.


Saat masuk Shu Yang He cukup terpana, melihat dua anak muda! Yang satu masih cukup belia yang satunya terlihat cukup dewasa.


"Maaf, apa ini benar tuan Li Yian?" Shu Yang He langsung memandang Li Yian dengan lekat.


Dia merasakan aura yang di pancarkan sangat mirip dengan Li Yian kala itu, tapi kali ini Li Yian tidak menggunakan cadar penutup wajah! Di tambah paras Li Yian terlihat paras pemuda yang begitu belia, ini membuat Shu Yang He tidak terlalu percaya dengan penglihatan dirinya.


"Lama tidak jumpa tuan Shu Yang He!" sapa Li Yian dengan ramah, secara tiba-tiba.


Saat di sapa Shu Yang He sangat kaget, karena suaranya juga mirip! Sehingga dia masih saja terbengong.


"Ahhhh, maaf tuan Li Yian aku begitu terpukau, ternyata anda masih sangat muda!" ucap Shu Yang He.


Lalu dia duduk dengan tenang, dengan senyum di wajahnya.


"Apa ada keperluan yang bisa kami bantu tuan Li Yian?" lanjut Shu Yang He.


"Ada tuan He, tapi apa pelelangan ini memilikinya atau tidak?" Li Yian masih belum yakin.


"Apa itu, katakan saja!"


"Ah, sebelum ke intinya! Aku perkenalkan dulu terhadap tuan He, ini adalah Baba Yaga teman seperjalanan ku!" Li Yian mengenalkan Baba Yaga dengan Shu Yang He.


"Salam kenal tuan Baba Yaga!" ucap Shu Yang He, lalu menjabat tangan Baba Yaga.


"Salam kenal tuan Shu Yang He!" jawab Baba Yaga.


Shu Yang He duduk kembali lalu langsung menengok ke arah Li Yian, dia langsung membatin.

__ADS_1


"Anak ini benar-benar mempunyai kemampuan, jika paman Shu Yao mendapatkan menantu seperti Li Yian akan sangat luar biasa!"


Setelah sadar dari lamunannya, Shu Yang He langsung bertanya pada Li Yian.


"Apa yang tuan Li Yian inginkan dari kami?" Shu Yang He berharap Li Yian meminta sesuatu yang besar, lalu ini dia jadikan kesempatan untuk mengenal Li Yian lebih dalam.


"Ahh, seperti ini! Aku hanya butuh informasi tentang kelompok Sabit Tunggal, aku dengar mereka membentuk aliansi dengan keluarga Bao, saat dulu aku kemari tuan He pernah menceritakan keluar Bao sedikit! Sehingga aku berpikir di sini masih memiliki informasi itu!"


Li Yian akhirnya mengungkapkan maksud ke kedatangan dirinya ke rumah pelelangan, dirinya ingin mendapatkan informasi rahasia dari rumah pelelangan.


Shu Yang He nampak seperti sedang berpikir, tangan kanan dirinya memegang dagu miliknya!.


"Sepertinya ada, tapi yang memiliki informasi itu hanya paman Shu Yao! Aku hanya memiliki sedikit informasi keluarga Bao saja!" jawab Shu Yang He.


"Harus bertemu dengan paman tua waktu itu?" Li Yian cukup kaget dengan usul Shu Yang He.


Setelah itu dia terbayang wajah kecil yang cantik, yaitu Shu siie. Dirinya tidak melihat sama sekali saat dia sakit, sehingga dia hanya membayangkan rupanya secara asal saja.


"Ya, jika ingin informasi yang lengkap!"


"Aku butuh secepatnya! Apa tuan He tahu, meskipun sekilas saja? Jika tahu, Itu sudah cukup! Ini bayaran untuk informasi itu!" ucap Li Yian dia langsung mengeluarkan sekantong besar koin emas.


Dari suara berdering di dalam kantong itu, Shu Yang He tahu. Bahwa itu koin emas yang sangat banyak.


"Tapi kami tidak membutuhkan itu tuan Li Yian!" jawab Shu Yang He.


Karena yang di harapkan Shu Yang He ingin menjodohkan Li Yian dengan Shu siie! Tapi yang di pikirkan Li Yian berlainan arah.


"Lalu?" tanya Li Yian cukup bingung.


"Ahh, sudahlah! Dengarkan tuan Li Yian, keluar Bao di Kekaisaran Ming ini baru berkembang. Tapi mereka sudah mendirikan markas di hutan larangan! Hutan belantara yang di antara kota provinsi Cao dan kota Kekaisaran Ming!" Shu Yang He mencoba mengatakan yang dia tahu.


"Markas? Baiklah ku mulai dari sana!" ucap Li Yian setelah berpikir sejenak.


"Terimakasih informasinya tuan Shu Yang He, itu bayaran untuk informasi yang anda berikan!" ucap Li Yian lalu langsung berdiri dan memberikan hormat.


Baba Yaga juga melakukan itu, dia mengikuti saja! Meskipun dia tidak mengenal Shu Yang He.


"Tidak tuan Li, bawa saja ini kembali koin anda!" tawar Shu Yang He.


"Tidak tuan itu untuk tukar informasi saja!" Li Yian menolak kembali koin emas itu.

__ADS_1


"Tidak-tidak, anda tamu terhormat kami! Jika hanya informasi itu kami berikan geratis!" Shu Yang He menolah dengan cara halus.


Melihat keduanya ribut dengan koin emas Baba Yaga langsung beraksi.


"Ya sudah jika kalian berdua tidak membutuhkan, berikan saja padaku!" Baba Yaga langsung menengahinya.


Lalu mengambil koin di kantong penyimpanan koin itu dengan cepat.


Li Yian hanya bisa melongo, sedang Shu Yang He langsung tersenyum, karena dia tidak tahu harus bagaimana lagi caranya menolak.


"Ya sudah kami pamit dulu tuan He, karena kami ingin memastikan kabar yang anda informasikan. Terimakasih!" ucap Li Yian setelah itu.


Lalu Shu Yang He juga memberikan hormat meskipun Li Yian cukup muda, Baba Yaga mengikuti di belakang Li Yian dengan membopong kantong penyimpanan koin emas, lalu mereka pergi dari sana dengan cepat.


Setelah jauh, Li Yian langsung memelototi Baba Yaga dengan garang.


"Teman kenapa kau ambil koin emas itu, aku tidak ingin memiliki hutang budi sedikit pun terhadap mereka!" keluh Li Yian.


"Kenapa tidak, kalian berdua tidak membutuhkan ya sudah aku ambil saja, lumayan buat menghibur diri!" ucap Baba Yaga sambil cengengesan.


Dia langsung membayangkan kembali momen bersama para wanita muda dan cantik yang banyak.


Tok..!


"Apa yang kau bayangkan, dasar otak mesum!" ucap Li Yian setelah menggetok kepala Baba Yaga dengan jarinya, sampai Baba Yaga sadar.


"Ah, tidak-tidak!" elak Baba Yaga.


Tapi cuping hidungnya langsung mekar seakan perkataan tadi sangat berlawanan.


"Sudahlah cepat, kita harus bergegas!" ucap Li Yian.


Setelah itu mereka berdua langsung berlari dengan kencang menuju ka arah hutan larangan, hutan yang cukup luas dan sangat rimbun, orang-orang lebih sering menyebutnya hutan belantara.


Padahal suasana kota cukup ramai, tapi mereka berdua tidak peduli! Lebih tepatnya Li Yian yang tidak peduli. Karena Baba Yaga setiap ada wanita cantik pasti menengok hingga muka itu berbalik ke arah belakang.


\=


\=


..

__ADS_1


__ADS_2