
\=Chapter 166. MENCOBA TEKNIK LAMA\=
\=
\=
Baba Yaga masih terus tersenyum, dia memandang ke atas melihat langit malam yang sangat gelap, setelah itu mata Baba Yaga berubah menjadi merah.
"Heerrr..!"
Suara Baba Yaga semakin mengerikan, terdengar menggema di hutan belantara itu!.
Orang-orang yang sudah dekat dengan tempat Baba Yaga bersembunyi kini berhenti bergerak, karena mereka merasakan tekanan yang amat sangat mengerikan di tubuh dan jiwanya.
"Apa kau tahu suara apa itu?" ucap salah satu anggota kelompok Sabit Tunggal.
"Entahlah, apa itu suara monster?" ucap temannya bertanya balik, dia langsung mundur selangkah demi selangkah.
"Hai, apa kau mau kabur?" tanya yang lainya.
"Lalu kau sendiri ngapain ikut mundur jika bukan ingin kabur juga!" jawab orang yang di tegur.
"Sial, kaki ku gemetaran!" keluh salah satu dari mereka.
Sebenarnya mereka adalah pendekar yang hebat, jika sudah berkumpul seperti itu mereka tidak akan takut sama sekali terhadap serangan. Karena orang yang menyerang tidak akan lolos dari kematian.
Namun entah mengapa untuk sekarang mereka semua merasakan ketakutan hingga ke dasar jiwanya.
Di cabang pohon yang besar Baba Yaga masih menghadap ke langit, kini tubuhnya mulai membesar hampir 5 kali lipat daei sebelumnya.
Wajah dirinya kini sudah membentuk wajah babi buas dengan taring besar menonjol keluar, bulu hitam kecoklatan tumbuh di sekujur badannya seperti duri yang siap menusuk apa saja.
Matanya membesar dan berwarna merah, dari mulutnya mengeluarkan cair yang berwarna kemerahan, namun tangan Baba Yaga masih berbentuk tangan manusia hanya saja sangat besar.
Tangan kanan Baba Yaga memegang senjata garukan cukup panjang dengan berwarna hitam.
Ekor yang tumbuh terus bergoyang ke kanan dan ke kiri, erangan semakin keras, saat Baba Yaga memutar senjata di tangan kanannya.
Kraakk..!
Braaakk..!
Cabang besar dan ujung pohon yang sangat besar langsung tumbang kebawah, menimbulkan suara yang bergemuruh.
Begitu juga dengan Baba Yaga, dia langsung melompat turun, saat menginjakkan kakinya ke tanah hutan bersamaan dengan jatuhnya cabang pohon yang besar, mengakibatkan getaran halus di tanah sekitar.
*
*
*
__ADS_1
Orang-orang yang sudah ketakutan sebelumnya dan ada di sana langsung melihat kejadian mengerikan itu.
Melihat ada makhluk yang tinggi besar membawa senjata aneh membuat salah satu dari mereka mundur dan terjatuh seperti bocah yang tersandung tanah.
"Apa itu mons-monster..!" bentak beberapa dari mereka berbarengan.
"Hookkk..! Suara dengkuran hidung Baba Yaga begitu menggema hampir menyamai suara petir yang terdengar di kejauhan.
Wooooosss..!
Wuutt..!
"Ahhhkk..!" Suara empat orang sekaligus yang mati terhangat senjata Baba Yaga dan cakar dirinya yang setajam milik serigala.
Gerakan Baba Yaga sangat cepat, kegelapan malam membuat gerakan itu sempurna! Mata merah Baba Yaga sangat di untungkan di malam hari dia bisa melihat dengan jelas.
"Monster..!" dua dari meraka langsung berlari ke sisi berlawanan, saking ketakutannya mereka.
Bahkan untuk melawan dengan kekuatannya pun tidak terpikirkan sama sekali, mereka seperti terintimidasi oleh sesuatu yang sungguh menakutkan.
"Tak akan ku biarkan kalian lolos!" gumam Baba Yaga.
Wooss..!
Baba Yaga bergerak ke kanan, lalu menyerang dengan satu ayunan garukan miliknya tubuh itu langsung hancur berantakan.
Lalu dia langsung berbalik ke arah belakang dirinya dan mengejar yang satunya lagi, hanya dengan dua gerakan langkah kaki Baba Yaga dia sudah menyusul orang itu.
Wuutt..!
Crash..!
Tubuh bagian atasnya orang itu langsung tercabik dan berhamburan kemana saja.
Baba Yaga berdiri setelah membunuh orang terakhir, lalu dia berteriak dengan kencang.
Suara pekikan babi buas terdengar seantero hutan belantara itu, orang-orang dari kelompok Sabit Tunggal yang sedang mencari penyerang tersembunyi langsung terkaget.
Baba Yaga langsung memandang lurus ke depan.
"Aku mencoba teknik lama ternyata berhasil, dengan tubuh seperti ini saudara Li Yian tidak akan bisa menandingi ku! He-he-he." gumam Baba Yaga lalu terkekeh dengan suara yang mengerikan.
*
*
*
Di tempat Li Yian berada.
Dia masih mengintai beberapa orang di dekatnya, namun mendengar pekikan keras seperti suar babi buas dan aura siluman yang semakin pekat Li Yian langsung mengerti.
__ADS_1
"Ternyata dia ingin menyaingi ku dengan cara berubah ke bentuk silumannya!" ucap Li Yian di benaknya.
Li Yian sudah memegang enam pisau terbang milik kelompok Sabit Tunggal yang tadi dirinya ambil dari dua anggota yang sudah di bunuhnya.
Saat ada beberapa orang melintas di jangkauan jarak pandang dirinya, Li Yian langsung melemparkan pisau terbang itu ke arah mereka.
Wooooosss..!
Tiga pisau terbang melesat begitu cepat di kegelapan malam, tiga orang itu tidak bisa bereaksi sama sekali atas serangan diam-diam Li Yian.
Suut..Suut..!
"Aaakkkhh..!"
Bruuukk..
Ketiganya langsung jatuh terkapar, karena dada mereka tertembus pisau terbang, salah satu dari mereka melotot tidak percaya di saat menjelang ajalnya.
"Apa, apakah ada penyusup di kelompok kita?" ucap salah satu dari mereka, yang sadar bahwa pisau yang menancap berasal dari kelompoknya berada.
Sehingga dia berpikir bahwa yang menyerang dirinya adalah orang dalam kelompok Sabit Tunggal.
Sedangkan dua lainnya langsung mati seketika, mereka terkena langsung di jantung miliknya.
Setelah itu Li Yian langsung keluar dan mengambil pisau yang mereka miliki, masing-masing dari mereka memiliki tiga pisau terbang.
Setelah mengambilnya Li Yian langsung keluar dari sana dan maju lebih dalam lagi dan berniat menuju ke perkemahan pusat.
Saat melihat banyak yang datang Li Yian dengan cepat langsung menyerang dengan pisau terbang, serangan Li Yian langsung membunuh tiga orang sekaligus.
Di tempat lain api sudah berkobar cukup besar dan membumbung tinggi, salah satu tenda besar mereka di bakar oleh Baba Yaga.
"Baba Yaga sangat brutal, saatnya aku keluar secara terang-terangan juga!" ucap Li Yian.
Setelah pisau terakhir di gunakan, Li Yian langsung mengambil pedang hitam miliknya.
"Aku rasa, setelah ada Energi Qi di sini! Menggunakan pedang ini sangat mudah." ucap Li Yian setelah memegang pedang hitam miliknya di tangan kanan.
Saat ini pedang itu terasa begitu enteng, sehingga Li Yian langsung berkomentar demikian.
"Baiklah, aku juga akan mencoba teknik lama! Sudah sangat lama aku meninggalkan ini!" gumam Li Yian.
Lalu dia langsung teringat masa lalu dirinya saat sedang menjalankan tugas sebagai prajurit dewa di alam langit, lalu saat-saat latih tanding dengan prajurit dewa lain agar memiliki kedudukan yang lebih tinggi di Istana Kekaisaran Dewa.
*
Keadaan di perkemahan kelompok Sabit Tunggal semakin kacau, Li Yian mengalirkan Energi Qi ke dalam pedang hitam itu.
Warna hitam pedang itu semakin pekat, lalu seperti mengeluarkan aura hitam dan asap hitam di badan pedang itu.
"Apa ini, reaksi yang sangat aneh! Harusnya pedang ini berubah berwarna merah menyala dengan suhu panas yang tinggi di selimuti kobaran api. Kenapa seperti ini?" keluh Li Yian.
__ADS_1
Karena Li Yian baru saja mengalirkan Energi Qi dan elemen api miliknya dahulu, meskipun Energi Qi di sini masih sangat sedikit setidaknya warna pedang itu sedikit berwarna merah, akan tetapi kali ini yang keluar seperti aura hitam dan asap hitam saja.
..