Pendekar Dewa Terkutuk

Pendekar Dewa Terkutuk
172 = BERITA BENCANA


__ADS_3

\=Chapter 172. BERITA BENCANA\=


\=


\=


Mereka berdua masih terus berlari, kini hari sudah menjelang pagi tapi Li Yian tidak memilih untuk beristirahat. Padahal Baba Yaga sudah banyak menyindir minta untuk istirahat barang sebentar di kedai minum pada saat mereka melewati desa.


Namun Li Yian menolak, menurutnya waktu satu tahun sangat berharga sebelum ada kultivator dari alam langit yang mengaku dewa turun dan membasmi semuanya, sehingga sebelum terlambat Li Yian ingin melindungi para manusia di alam Daulu ini.


"Saudara Li, apa kau mendadak tuli tidak mendengarkan keluh kesah ku ini, aku sudah cukup lelah." ucap Baba Yaga sangat melas.


Dia sudah sangat lelah, karena jika menggunakan tubuh manusia seperti itu Baba Yaga tidak bisa menggunakan energi siluman miliknya, jika saja menggunakan bentuk siluman hendak berlari 7 hari, 7 malam Baba Yaga sanggupi.


"Apa kau selemah itu teman?" ucap Li Yian kembali menyindir Baba Yaga.


"Sial kau, saudara Li Yian! Aku menggunakan tubuh manusia ini tidak sekuat tubuh asli ku!" jawab Baba Yaga kesal.


Lalu Li Yian melirik ke pada Baba Yaga, dia menjadi kasihan akhirnya dia tersenyum dan langsung menjawab ucapan Baba Yaga.


"Ya baiklah, kita akan istirahat jika kita menemui desa maupun kota kecil!"


Mendengar ucapan itu Baba Yaga langsung sumringah, dia langsung semangat kelas tinggi.


"Aku yakin kau tidak seburuk yang aku bayangkan tadi, tapi kau baik!" jawab Baba Yaga.


Li Yian tidak menanggapi pujian yang di lontarkan Baba Yaga, mereka terus saja berlari. Setelah matahari memunculkan dirinya di ufuk timur, Baba Yaga langsung bisa melihat di kejauhan ada kota kecil.


Dia langsung berlari sangat kencang karena sudah ingin makan dan minum arak yang wangi, karena sudah kelelahan sejak malam yang lalu.


Baba Yaga berniat meninggalkan Li Yian di belakangnya, namun Li Yian terus saja mengimbangi Baba Yaga di sampingnya.


"Sial, sebenarnya tenaga apa yang di pakai oleh saudara Li? Aku semakin curiga bahwa dia bukan manusia!" ucap Baba Yaga di benaknya.


Namun untuk menebak bahwa Li Yian adalah siluman, dia tidak merasakan energi siluman sama sekali di tubuh Li Yian.


Akhirnya dia lebih memilih tidak perduli, yang penting dia tetap Li Yian yang di kenalnya sejak berada di hutan kabut ilusi.


*


*


*

__ADS_1


Kini hutan belantara yang terbakar hebat saat malam tadi, sudah mulai padam! Namun di tengah hutan masih banyak bara api yang cukup panas.


Masyarakat dari kota kecil dan desa di sekitar hutan belantara, melihat kebakaran hebat itu langsung heboh, karena saking besarnya api yang melahap hutan belantara itu.


Orang-orang yang tidak jauh dari sana langsung menyebarkan berita bencana, ke kota-kota lain. Karena banyak sekali hewan buas yang keluar dari hutan masuk ke pemukiman warga dan kota kecil untuk mencari perlindungan dari api yang mengamuk hebat.


Banyak pasukan Kekaisaran Tang yang tersebar di kota kecil di wilayah utara berkumpul di pinggiran hutan belantara, karena di area itu tidak sampai terbakar.


"Apa kau sudah mengirimkan surat kepada Kaisar Kekaisaran Tang, tentang kejadian ini?" ucap orang yang bertugas sebagai pemimpin pasukan.


"Sudah pemimpin, kami sudah mengirim pesan tentang bencana ini menggunakan burung pembawa pesan!" jawab orang yang di tanya.


"Bagus, sebaiknya bantu warga yang sedang kesusahan akibat serangan hewan buas!" perintah pemimpin itu kepada anak buahnya.


"Baik..!" jawab beberapa dari mereka.


Mereka langsung bergegas membatu warga yang sedang terluka karena terkena serangan hewan buas yang menggila di pedesaan mereka kala malam tadi.


Kini keadaan sudah mulai terkendali setelah matahari mulai meninggi dan bersinar terang dari ufuk timur.


*


*


*


"Bicaranya nanti saja, kita makan dulu!" Li Yian langsung menegur Baba Yaga, karena mulut penuh dengan makan namun masih saja ingin berbicara.


Mereka akhirnya sampai juga di kota kecil, kota itu meskipun masih pagi namun sangat ramai! Karena adanya pasar dadakan, yang menjual apa saja dari banyaknya pedagang.


Maka dari itu kedai makan yang sedang di singgahi Li Yian dan Baba Yaga saat ini menyediakan banyak menu makanan dan cukup ramai.


Tapi tetap saja, pelayan di sana cukup heran karena dua orang yang datang namun memesan makanan sangat banyak bahkan bisa untuk 15 orang.


Tapi mereka tak ambil pusing, asalkan mereka bayar maka kedai makan itu tidaklah memiliki masalah.


"Ya baiklah, aku diam sekarang!" Baba Yaga langsung fokus makan setelah di tegur oleh Li Yian.


Mereka melanjutkan makannya dengan diam tanpa berbicara sedikitpun namun suara jiplakan mulut Baba Yaga saat makan membuat orang-orang di sana sangat geram.


Terutama sekelompok bandit gunung, yang sedang berada di kedai itu.


Salah satu orang yang berkepala botak langsung bangun dari mejanya, dia menghampiri meja Li Yian dan Baba Yaga yang kebetulan ada di pojok ruangan.

__ADS_1


Li Yian dan Baba Yaga tahu bahwa ada satu orang yang mendekati mereka lalu berdiri di samping meja makan mereka dengan arogan.


Namun Li Yian dan Baba Yaga masih saja fokus makan, setelah itu Li Yian menyelesaikan makanya dan dia langsung menenggak minuman di gelas dengan cepat.


Orang berkepala plontos itu berpikir bahwa Li Yian akan merespon dirinya yang berdiri di samping mejanya dengan begitu arogan, namun dia salah besar.


Li Yian malah mengambil sapu tangan yang ada di meja dan mengelap mulutnya karena habis makan lalu duduk dengan tenang memandang ke arah jendela.


Sedangkan Baba Yaga masih sibuk saja makan, karena makanan di meja itu masih sangat banyak.


"Bedebah!" seru orang Yeng memiliki kepala plontos kepada Li Yian maupun Baba Yaga, karena di abaikan.


Dia melangkah dua langsung ke arah meja makan, dia langsung memegangi kayu meja yang besar itu dan hendak membalikkan agar makanan yang ada di sana tumpah semuanya.


"Heekk..!" dia langsung menahan nafasnya.


Karena niat dirinya membalikkan meja itu tidak terlaksana melainkan meja itu terasa seperti bongkahan batu yang sangat berat, tidak bisa di balikkan jangankan di jungkir balikan menggeser meja itu saja dia tidak mampu sama sekali.


"Sial, apa ini. Apakah mungkin meja seberat ini? Aku seperti sedang mengangkat gunung!" keluh dia di dalam benaknya.


Baba Yaga tidak melakukan apapun, dia sibuk makan, bahkan tidak peduli terhadap orang yang sedang mencak-mencak seperti monyet bodoh yang sedang memegangi meja besar itu.


Sedangkan Li Yian di benaknya hanya tertawa, karena dia yang sedang melakukan pekerjaan itu.


Dia menyalurkan Energi Qi ke dalam meja untuk mengeraskan dan memberikan beban berat pada meja itu, sehingga orang yang sedang ingin berbuat buruk kesulitan.


Rekannya dari orang yang memiliki kepala peleton sangat kaget, karena dia yang sedang membuat masalah adalah orang yang kuat ketiga di kelompoknya.


Li Yian akhirnya melirik dan merespon orang itu, karena tidak ingin lebih lama di ganggu lagi.


"Apa yang kau lakukan. Oh kau ingin arak ini kah? Dari tadi berusaha mengambil tapi tidak bisa karena kau cukup cebol!" ucap Li Yian lalu mengambilkan arak yang ada di seloki di dekatnya.


Li Yian langsung mengambil dan ingin memberikan seloki arak itu, tapi setelah dalam jangkauan si kepala plontos dia langsung menampar seloki yang ada di tangan Li Yian.


Duaarr..!


Namun arak dan pecahan seloki itu tidak mengarah pada Li Yian, malah ke arah si kepala plontos.


Dia langsung basah dan ada pecahan yang menancap di tubuhnya, lalu mundur terhuyung-huyung dan jatuh terduduk di lantai.


Teman-temannya langsung kaget dengan kejadian itu, mereka tidak percaya apa yang di lihatnya kali ini.


\=

__ADS_1


\=


..


__ADS_2