
\=Chapter 145. KELUARGA BAO MUSNAH\=
\=
\=
Dua tetua yang masih berdiri tegak, kini melihat empat tetua yang lainnya sudah mati, hanya melawan anak muda yang menurutnya masih ingusan, sangat terkaget.
Meskipun Li Yian menggunakan pakaian yang sangat tertutup di tambah tudung pakaian yang menutupi parasnya, tapi itu hanya melindungi penglihatan dari kejauhan.
Jika di lihat dengan dekat seperti ini, paras Li Yian yang masih sangat muda dapat di lihat.
"Siapa kalian sebenarnya?" ucap tetua itu lalu mendur cukup jauh dari Li Yian dan Baba Yaga.
"Siapa kami, kenapa kau selalu bertanya seperti itu. Apa tidak ada pertanyaan lain?" ucap Baba Yaga.
Dia sudah sangat bosan dengan pertanyaan yang sama saat dirinya baru memasuki kediaman keluarga Bao, mereka bertanya hanya itu-itu saja.
"Kami adalah untusan dari dewa, untuk kematian kalian!" ucap Li Yian.
Dia langsung bergerak dengan cepat, dia menggunakan pergerakan tanpa suara dan aura.
"Tebasan Kilat!" gumam Li Yian.
Wooss..!
Setelah kata-kata itu selesai, Li Yian benar-benar seperti menghilang! Kini dia muncul di belakang dari tetua yang tadi bertanya siapa Li Yian dan Baba Yaga itu.
Slaazz..!
"Aaakkkhh..!"
Baammm..!
Suara teriakan yang terputus karena dia sudah mati, tubuh tetua itu langsung jatuh ke depan karena dorongan tebasan Li Yian dari belakang, bahkan yang membunuh dirinya saja dia tidak tahu.
"Sial kau masih saja membunuh lawan ku!" bentak Baba Yaga dengan marah.
"Kau lambat, cepat selesaikan jika tidak aku yang akan bertindak kembali!" jawab Li Yian.
Li Yian langsung mengembalikan kata-kata Baba Yaga saat dirinya baru masuk ke dalam kediaman.
Setelah berkata demikian, Li Yian bergerak maju untuk masuk lebih dalam ke dalam kediaman inti Keluarga Bao.
Dia meninggalkan Baba Yaga untuk membunuh sisa dua lainnya, dia bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain.
Lalu di jalan ada beberapa pasukan kecil, Li Yian langsung membasmi mereka dengan cepat! Kini dia sampai ke depan ruangan perawatan.
Li Yian membuka ruangan itu dengan cepat, setelah masuk Li Yian berdiri di ambang pintu.
"Hemm, serengan kelompok Sabit Tunggal cukup lumayan! Terbukti di sini banyak yang terluka parah!" gumam Li Yian.
Karena di dalam sana Li Yian melihat ada puluhan orang sedang dalam perawatan, mereka terbaring dengan mengenaskan di tempat tidur.
__ADS_1
Di sana ada tabib yang sedang bekerja, dua tabib itu adalah tabib keluarga Bao.
"Siapa kau?" ucap tabib tabib itu dengan sedikit mundur, karena kaget.
Karena aura Li Yian kali ini sangat mengintimidasi menurut tabib itu, di karenakan hidung dan perasaan mereka sangat tajam.
Karena biasa merasakan aura dari herbal yang langka, maupun biasa! Sehingga saat melihat Li Yian insting mereka langsung menangkap bahwa Li Yian orang yang berbahaya.
"Aku yah?" tanya Li Yian.
"Apa kau yang melakukan keributan di luar itu?" salah satu dari tabib bertanya kembali.
"Ya..!" jawab Li Yian.
Tabib itu langsung mengambil tongkat miliknya yang sedari tadi di taruh di dekat pembaringan orang yang sakit.
"Kau berani menyerang keluarga Bao, hanya cari mati anak muda!" ucap mereka kembali.
"Keluarga Bao Hancur, apa yang perlu di takuti?" tanya Li Yian.
"Apa keluarga Bao hancur?" keduanya berucap hampir bersamaan.
"Ya benar, keluarga Bao sudah hancur! Saat kami masuk ke dalam kediaman keluarga Bao ini!" jawab Li Yian.
Dari luar Baba Yaga datang, dia langsung masuk ke dalam ruangan itu dan berdiri di samping Li Yian.
"Kau meninggalkan ku seenaknya saudara Li" ucap Baba Yaga dengan tiba-tiba.
"Karena kau terlalu lambat!" ucap Li Yian.
"Apa kau bilang?" Baba Yaga cukup kesal dengan ucapan Li Yian kali ini.
Dia lalu mengalihkan pandangan dirinya saat ini, setelah sudah berbicara dengan Li Yian.
"Ha, ada dua kakek tua di sini dan beberapa orang sekarat!" ucap Baba Yaga.
Dia memandang ke dua tabib itu lalu memandang ke sekeliling, setelah itu dia kembali memandang Li Yian.
"Kau juga lambat, membunuh dua kakek tua saja sangat lama! Aku sudah membunuh semuanya yang di luar." lanjut Baba Yaga, berlaga sombong karena dia berhasil membunuh sisa dari keluarga Bao.
Mendengar itu dua laki-laki tua, tabib keluar Bao langsung tercengang setelah mendengar ucapan Baba Yaga dengan kata-kata. Membunuh kakek tua saja sangat lama, aku sudah membunuh semuanya yang di luar.
Mendengar Keluarga Bao hancur saja dia cukup kaget, apalagi mendengar dia sudah membunuh semuanya.
"Tunggu dulu, kalian siapa? Berani sekali menerobos keluar Bao dan asal membunuh saja! Kalian akan menyesal." Bentak tabib itu cukup marah.
Wosss..!
Baammm..!
Baammm..!
Baba Yaga langsung bergerak cepat, dia langsung memukul dua kakek tua itu dengan sangat keras.
__ADS_1
Dengan satu pukulan, dua tabib itu langsung tumbang dan mati! Karena mereka tidak sering berlatih ilmu beladiri sehingga di serang mendadak seperti itu oleh Baba Yaga langsung mati seketika.
"Kau membunuhnya begitu saja!" ucap Li Yian.
Dia hanya bisa menutup mukanya, karena temannya selalu seperti itu! Jika bertekad untuk membunuh, maka tanpa memandang siapa mereka.
"Eehh?" Baba Yaga sedikit kebingungan.
"Ya sudah itu terserah kau saja teman!" jawab Li Yian, lalu dia melangkah keluar meninggalkan Baba Yaga kembali.
"Hei, lalu bagaimana dengan mereka yang di sini?" tanya Baba Yaga cukup bingung.
"Terserah kau saja!" jawab Li Yian di kejauhan.
Mendengar ini Baba Yaga tersenyum! "Sudah tanggung membantai kalau di sisakan, itu tidak baik!" ucap Baba Yaga.
Lalu dia menghantam semau orang yang sedang sakit dengan kecepatan kilat, dia menghantam dengan tombak miliknya dan menusuk.
Setelah sudah selesai, Baba langsung kembali menelusuri tiap-tiap ruangan di sana! Akan tetapi sudah tidak menemukan lawan lainnya di sana.
"Saatnya, mengambil apa yang berharga di kediaman ini!"
Baba Yaga berpikir seperti itu karena terinspirasi dari Li Yian saat sedang melakukan penyerbuan ke pelelangan bulan sabit.
Sehingga dia langsung melakukan aksinya, yang menurutnya bagus Baba Yaga ambil! Dia menggunakan ruang dimensi siluman miliknya untuk menyimpan itu semua.
Saat Baba Yaga hendak mau mengambil guci besar di ruangan tengah kediaman keluarga Bao, Li Yian mendatangi Baba Yaga.
"Teman untuk apa kau mengambil arang seperti itu?" ucap Li Yian sambil menepuk pundak Baba Yaga.
Prang..!
Baba Yaga langsung menjatuhkan guci besar itu karena terkejut oleh Li Yian.
"Sial kau, saudara Li! Aku mengambil itu untuk ku serahkan terhadap wanita cantik, kau mengacaukan semuanya!" keluh Baba Yaga.
"Ahh, sudahlah tidak perlu di pikirkan! Ayo kita pergi, untuk apa terus di sini! Sudah tidak ada yang menarik." ajak Li Yian pada Baba Yaga.
"Aahh, baiklah!" Jawab Baba Yaga.
Lalu dia melangkah mengikuti langkah Li Yian menuju ke belakang kediaman keluarga Bao kembali, setelah keluar dari kediaman Keluarga Bao. Li Yian dan Baba Yaga langsung melompat ke atap dan pergi dengan cepat.
Di atap gedung pertokoan yang cukup jauh dari keluarga Bao, ada dua kepala yang terlihat sedang mengintai di sana.
"Hai Sepertinya mereka sudah selesai, mari kita laporkan segera kepada ketua!" ucap salah satu orang itu.
Lalu temannya mengangguk setuju, mereka berdua bergegas pergi dari sana.
\=
\=
...
__ADS_1