
\= Chapter 164. GELISAH\=
\=
\=
Dua orang berlari dengan sangat kencang melewati hutan belantara di bagian utara wilayah Kekaisaran Tang, salah satu dari mereka memanggul sesosok tubuh manusia. Yang entah mati atau tidak belum di ketahui, karena hanya bergerak akibat guncangan lari dari seseorang yang memanggulnya.
Mereka adalah Li Yian dan Baba Yaga, sudah seharian penuh mereka berlari seperti itu dengan kecepatan tidak menurun sama sekali, membuat orang yang berlari di belakang yang tidak memanggul orang hanya bisa mengutuk serapah di benaknya.
"Sial, kenapa kekuatan saudara Li Yian seperti meningkatkan begtu pesat, apa yang dia lakukan semalam? Berlari seharian seperti ini dengan memanggul orang tapi tidak terlihat kelelahan!" Baba Yaga berucap di benaknya, dengan sangat kesal.
Keadaan Baba Yaga saat ini lidah menjulur keluar, seperti hendak kehabisan nafas namun dia enggan untuk kalah dengan Li Yian bagaimanapun caranya.
Semakin mereka jauh berlari memasuki hutan. Semakin sulit untuk di lalui, semak belukar menghadang gerakan mereka di tambah tanaman rambat dan akar gantung yang melilit pohon yang cukup besar manambah kesulitan bagi keduanya, apa lagi pohon di sana besar dan tinggi di tambah sudah memiliki banyak lumut sehingga untuk pijakan sangat licin.
Namun Li Yian berlari dan meloncati pohon demi pohon seperti cukup mudah, sedangkan Baba Yaga sangat kesulitan dan beberapa kali hampir terpeleset jatuh.
"Saudara Li Yian, berhentilah sejenak! Aku sungguh sudah tidak kuat lagi untuk berlari!" keluh Baba Yaga akhirnya dia menurunkan egonya, daripada ambruk.
Li Yian di depan mendengar itu hanya tertawa kecil, lalu memperlambat larinya. " Apa kau sudah tidak kuat lagi untuk berlari teman?" ejek Li Yian pada Baba Yaga.
Lalu dia mengehentikan larinya, dia berbalik memandang Baba Yaga yang kini langsung ambruk ke bawah dengan posisi sedang berlutut dan tangan dirinya memang pohon di depannya.
"Sial, apa yang kau perbuat saudara Li? Bagaimana tenaga kau masih begitu banyak dan tidak terlihat kelelahan?" ucap Baba Yaga di sela-sela dirinya menahan nafas yang setengah-setengah.
"Ha-ha-ha..! Makanya banyak berlatih lah jangan kau pikirkan makam terus, ya seperti inilah jadinya." ucap Li Yian.
Ucapnya itu seperti batu besar yang menimpa kepala Baba Yaga saja, dia seperti di hantam palu besi yang sangat besar sampai tidak bisa membalas ucapan Li Yian.
"Baiklah, istirahatlah beberapa lama di sini! Aku perlu menanyakan lagi kepada si keparat ini!" ucap Li Yian lalu dengan seenaknya membanting tubuh pria yang ada di pundaknya.
Braaak..!
Namun, meskipun di banting seperti itu tidak ada suara yang keluar sama sekali dari mulutnya, hanya mengeluarkan cairan yang sedikit membusa.
Karena guncangan yang cukup besar di bawa lari seperti itu, membaut dia hampir mati karena pusing! Bahkan alam ini seperti hendak terbalik di tambah dirinya masih terkena teknik pelumpuh darah.
"Hai kau, bangun!" ucap Li Yian.
Sambil menembakkan Energi Qi pemulihan dari ujung jarinya telunjuknya ke arah dahi anggota kelompok Sabit Tunggal yang terkapar di tanah.
__ADS_1
"Eenggghhh.." erangan dari mulut laki-laki itu keluar, dia baru kali ini mengalami siksaan yang begitu keras selama menjadi pendekar.
Setelah Energi Qi pemulihan itu di serap oleh tubuh anggota kelompok Sabit Tunggal, dia mulai sadar dan rasa lemas mulai berkurang.
"Apa kita sudah dekat dengan tujuan, coba kau lihat sekeliling!" ucap Li Yian.
"Ya, aku ingat hutan ini seharusnya sudah sangat dekat dengan perkemahan pemimpin!" jawab anggota kelompok Sabit Tunggal.
Dia mulai senang, karena sebentar lagi akan bebas menurutnya, karena mau bagaimana hebatnya dua orang ini. Tidak akan bisa mengalahkan ratusan orang sekaligus.
"Baguslah, jika sudah dekat!" jawab Li Yian lalu dia duduk dengan tenang tidak jauh dari mereka berdua.
Baba Yaga kini ganti posisi, dia langsung duduk bersandar di pohon yang besar, udara di sana sangat sejuk membuat Baba Yaga merasa nyaman.
*
*
*
Di tengah hutan belantara, bagian utara wilayah Kekaisaran Tang.
Sehingga ini membuat gelisah pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal.
Pemimpin pertama sedang rebahan di kursi panjang sambil meminum arak yang mereka miliki, di tambah malam ke lima sudah hampir tiba karena matahari sudah hampir bertemu dengan peraduannya. Membuat kegelisahan dirinya semakin besar.
Praanng..!
Pemimpin pertama membanting kendi porselin yang halus dan bagus berisi arak itu ke tanah yang sedikit berbatu.
Karena adanya suara pecahan porselin itu dari dalam tenda besar, membuat orang kepercayaan pemimpin pertama masuk ke dalam tenda dengan cepat.
"Tuan, apa yang terjadi?" ucap orang kepercayaan itu.
"Apa adik kedua belum kembali?" ucap pemimpin pertama, dia masih sangat pusing akibat arak yang di minum.
Di tambah adik seperguruannya belum juga datang, membuat dia tidak bisa fokus seperti biasa.
"Belum pemimpin! Mungkin sedang perjalanan kembali ke mari." jawab orang yang datang itu.
Hari sudah mulai gelap, di tambah hutan belantara itu sangat luas dan memiliki banyak pohon yang besar. Membuat gelapnya malam lebih cepat datang.
__ADS_1
Orang-orang di sana langsung menyalakan beberapa api unggun kecil, namun cukup untuk menjaga beberapa tempat perkemahan.
Saat mereka mulai mengobrol dan menikmati arak untuk menghangatkan tubuh, mereka di kagetkan dengan sesuatu yang menimpa api unggun mereka.
Baammm..!
"Apa itu?" ucap seseorang yang paling dekat dengan api unggun.
Setelah mereka sadar dan si dekati ternya itu adalah tubuh manusia, api unggun kecil mati seketika akibat tertimpa tubuh itu tapi masih ada sisa-sisa api yang menyala.
Setelah wajah itu terpampang jelas, mereka langsung kaget buka main karena yang mereka lihat adalah orang yang mereka kenal.
"Hay itu rekan kita yang ikut bersama pemimpin kedua, bagaimana bisa jadi seperti ini?" ucap salah satu anggota kelompok Sabit Tunggal.
"Cepat bawa ke tenda pemimpin agar dia dapat di selamatkan!" ada yang mengusulkan seperti itu, akhirnya mereka langsung membawanya.
Di tenda pemimpin pertama, pemimpin yang sedang berbicara dengan orang kepercayaannya di kejutkan oleh keributan itu.
"Pemimpin pertama, salah satu anggota pemimpin kedua sudah kembali! Tapi dalam keadaan mengerikan, dia entah datang dari mana hanya sendirian." ucap orang yang membawa tubuh yang jatuh dari atas.
"Apa, dia mana dia?" jawab pemimpin pertama.
Dia langsung bangkit meskipun kepala dirinya cukup pusing, dia melihat anggota milik adik keduanya yang begitu mengenaskan.
"Apa yang terjadi dengannya, di mana adik kedua berada?" ucap pemimpin pertama tidak mengerti dengan yang sedang terjadi.
"Entahlah pemimpin!" jawab mereka yang membawa tubuh yang jatuh.
"Cepat bangunkan dia!" pemimpin pertama semakin gelisah.
"Dia sudah mati baru saja, pemimpin pertama!" ucap orang kepercayaan pemimpin pertama kelompok Sabit Tunggal.
"Sial..! Cari pelakunya, aku yakin mereka ada di dekat hutan ini." bentak pemimpin kelompok Sabit Tunggal.
Akhirnya orang-orang di sana langsung bergerak karena perintah pemimpin sudah di jatuhkan.
\=
\=
...
__ADS_1