
\=Chapter 136. KEKALAHAN KELOMPOK SABIT TUNGGAL\=
\=
\=
Baba Yaga tersenyum di benaknya, karena mendapatkan ide cemerlang, setelah melihat tindakan lawannya itu.
"Hai, apa yang kau lakukan? Aku hampir saja merubah keadaan, kau malah mengacaukannya!" keluh Baba Yaga dengan membentak.
"Sial, di mana kau merubah keadaan, jelas-jelas kau sudah terpojok hampir kalah!" ucap laki-laki paruh baya itu.
Akhirnya Baba Yaga dan laki-laki paruh baya itu saling adu pandangan mata, Baba Yaga tersenyum karena akan menjalankan siasat itu.
"Kita sudah bertanding catur semalaman, hingga menjelang pagi! Bagaimana kalu nona manis saja yang memilih siapa yang menjadi teman tidur hari ini!" ucap Baba Yaga.
"Ok, siapa takut! Aku sudah sering tidur bersamanya, dia pasti memilih aku!" jawab laki-laki paruh baya itu dengan pasti.
Wanita yang sejak tadi menonton catur itu akhirnya tersenyum, dia lalu berucap.
"Baiklah, aku memilih tuan ini!" ucap wanita paling cantik itu memilih Baba Yaga.
"Ha-ha-ha..!" Baba Yaga langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kau kalah, paman ahli strategi militer!" ejek Baba Yaga.
Dia langsung merangkul wanita tercantik itu lalu mencium di depan laki-laki paruh baya itu, melihat tingkah laku Baba Yaga dia langsung menahan emosi.
"Ke-kenapa kau memilih dia dewi ku?" ucap laki-laki paruh baya itu mencoba menahan marah sebisanya.
Wanita paling cantik melangkah mendekati panglima perang Kekaisaran Tang, dia langsung berbisik.
"Tuan anda mengalah lah hari ini, dia pelanggan baru! Pasti hanya untuk hari ini, seterusnya aku milik tuan" ucap wanita paling cantik di tempat hiburan itu dengan sangat manja.
Setelah ucapan itu, panglima perang Kekaisaran Tang langsung mereda amarahnya! Dia langsung tenang kembali.
Setelah itu Baba Yaga langsung menarik wanita itu bersama dengan dua wanita lainnya ke dalam kamar yang sudah di sediakan.
Selanjutnya apa yang terjadi, entah hanya mereka yang tahu.
*
*
*
Amukan tetua pertama sangat ganas, Jin Fei yang sudah terkena pukulan tongkat besi hitam milik tetua pertama hingga tulang rusuknya patah, kini sudah tidak sanggup lagi bertahan setelah terkena amukan dari tetua pertama.
Pukulkan demi pukulan sangat banyak dia terima.
"Sial, sebenarnya dia monster macam apa?" ucap Jin Fei yang kini mundur sangat jauh.
Dirinya, sudah sangat mengenaskan darah bercucuran di mulut dan hidungnya! Badan dan tangan dirinya sudah memar karena sudah cukup banyak menerima pukulan tongkat tetua pertama.
Wooooosss..!
__ADS_1
Tetua pertama langsung menghilang dari pandangan Jin Fei, dia langsung muncul di hadapan Jin Fei dengan tusukan tongkat yang mengarah ke dadanya.
Baammm..!
Jin Fei tidak bisa menghindar lagi, sehingga dia langsung terkena tusukan tongkat itu! Tubuh Jin Fei tidak bisa bergerak sedikitpun, karena di dorong menempel ke tanah.
Tangan dirinya untuk di gerakkan sudah begitu sakit, bahkan sabit besar dirinya sudah hampir terlepas.
"Serahkan penawar racunnya kepada ku?" ucap tetua pertama.
"Uhukk..!"
Tetua pertama langsung batuk dan darah menyembur keluar dari mulutnya, namun dia tetap berdiri tegak.
"Ha-ha-ha, sayang sekali orang tua! Aku tidak membawa penawar racunnya." Jin Fei tertawa senang, karena meskipun dia mati akhirnya bisa mati bersama.
Sehingga jika kakanya tahu maka dia tidak akan malu, karena dirinya sudah berjuang sampai akhir.
"Bedebah, mampus saja kau! Uhukk, Uhukk." bentak tetua pertama lalu batuk kembali.
Dia langsung mendorong tongkatnya dengan sangat kuat.
Kretak..!
"Aaakkkhh..!" Jin Fei langsung berteriak kencang, karena tekanan tongkat tetua pertama langsung mematahkan tulang rusuknya kembali.
Namun tekanan itu tidak berkurang, hingga menekan bagian jantungnya, itu membuat dia sangat kesakitan setengah mati.
Tangan dan kakinya yang tadinya tidak kuat lagi bergerak kini mencoba menggapai tongkat itu bahkan mencoba menendang tetua pertama.
"Pemimpin, bertahanlah!" ucap salah satu rekannya.
"Jangan melihat ke arah lain, saat sedang bertarung dengan ku!" ucap Bao Lung geram.
Dia langsung menebas dengan ganas, tapi masih bisa di tangkis dengan sabit oleh lawannya.
"Kau mampus lah!" ucap orang itu.
Baammm..!
Bao Lung di tendang dengan cukup keras, karena sudah cukup kelelahan dia pun jatuh lalu nafasnya langsung memburu, dia terengah-engah.
Setelah berhasil menusuk jantungnya hingga pecah, tetua pertama langsung menginjak kepala Jin Fei dengan begitu kuat.
Baammm..!
Kepala itu langsung masuk ke dalam tanah, hingga kini Jin Fei seperti tidak memiliki kepala saja.
Tetua pertama menengok, melihat yang lainya! Dia dengan cepat bergerak mengejar yang lain.
Wooss..
Gerakan tetua pertama cepat, namun sudah melambat cukup banyak! Karena efek racun, dari racun tanpa warna dan aroma, membuat kekuatan dan kesadaran dirinya mulai memudar.
Tongkat dirinya langsung di gunakan begitu kuat.
__ADS_1
Baammm..!
Baammm..!
Satu persatu anggota kelompok Sabit Tunggal di bunuh, karena serangan itu begitu mematikan. Membuat mereka yang sudah kehabisan tenaga akhirnya hanya bisa pasrah di bunuh.
Setelah sudah membunuh lebih dari lima orang anggota kelompok Sabit Tunggal, tetua pertama langsung ambruk ke tanah.
Braaakk..!
"Ternyata, hanya sampai di sini saja perjalanan ku!" ucap tetua pertama.
"Sepertinya sudah tidak ada rumah yang dapat lagi menampung tubuh tua ini! Jaman memang sangat cepat berubah!" lanjutnya, lalu tetua pertama langsung memejamkan matanya.
Dia kini berbaring di tanah, dengan darah terus keluar dari mulutnya! Dia langsung menahan sakit di bagian dadanya yang sudah di serang oleh racun.
Jika saja tetua pertama tidak kuat, maka dia tidak akan bertahan cukup lama! Mungkin baru beberapa menit terkena racun langsung mati.
Karena racun itu begitu ganas, sehingga seseorang tidak akan bisa bertahan! Meskipun dia menghentikan darah yang tercampur racun tetap saja racun itu akan menyebar.
Karena usaha seperti itu hanya memperlambat kematian, bukan menghentikan efek racun! Di tambah tetua pertama mengamuk hebat membuat racun itu berkembang lebih cepat.
Jika saja, tetua pertama langsung tenang dan lebih memilih bermeditasi langsung! Makan akan bisa bertahan dua hingga tiga hari.
Jika ada tabib yang hebat dan ahli racun maka hidupnya bisa di selamatkan! Namun tetua pertama sudah menyerah, menurutnya sudah tidak ada lagi keluarga yang bisa menampung dirinya.
Kini tetua pertama akhirnya berhenti bernafas, dia mati dengan ketenangan! Karena sudah menyelamatkan anggota Keluarga Bao yang lain.
Bao Lung langsung merangkak, dia dengan sisa tenaga miliknya mencoba mendekati tetua pertama.
"Tetua, bertahanlah!" ucap Bao Lung.
Namun setelah dia menyentuh tubuh tetua pertama dia akhirnya tahu bahwa tetua pertama sudah mati.
Dia langsung ambruk kembali, karena tidak bisa menolong tetua pertama! Bao Lung akhirnya tidak sadarkan diri.
Sedangkan yang lain terus mengeroyok sisa dari anggota kelompok Sabit Tunggal, yang kini hanya tersisa beberapa orang.
Setelah di keroyok akhirnya mereka semuanya mati di tangan orang-orang keluarga Bao yang lain.
"Cepat, lihat kondisi tetua pertama dan tetua kedua!" ucap salah satu dari keluarga Bao yang masih sanggup berdiri.
Mereka semua bergegas, untuk memeriksa! Namun setelah tetua pertama di ketahui sudah mati mereka terduduk lemas.
Kini matahari, mulai terbit di ufuk timur! Keluarga Bao mengalami duka kembali, karena serangan berdarah itu begitu membuat rugi mereka.
Kekuatan mereka kini merosot tajam, setelah kematian dari kepala keluarga, tetua pertama dan yang lainya.
Entah akan sanggup menahan kekuatan dari empat keluarganya besar lainnya atau tidak.
\=
\=
..
__ADS_1