
Zul memasuki lift apartemen, membawa Adi bersamanya setelah mendengarkan kejujuran adik laki-lakinya selama perjalanan.
Bagi Zul, dia hanya bisa mengerti dan berfikir logis selaku pria normal, dan Kesy sebagai wanita normal.
Jatuh cinta bagi gadis muda belia seperti Kesy, sangat berbeda dengan gadis belia yang berada di kota kecil tempat kelahiran mereka endonesa.
First kiss yang pertama kali Kesy lakukan bersama Adi, timbul hanya karena perasaan nyaman yang selalu bersama sejak kecil, dan sangat baik kepada sosok gadis yang tidak pernah mendapatkan perhatian lebih, dari Papa kandung selama proses perceraian kedua orang tuanya.
Pintu lift terbuka lebar, Lyra dan ketiga buah hati kembar nya tengah duduk di kursi meja makan, menunggu kehadiran Zul juga Kesy.
Namun lagi-lagi kehadiran Adi yang pertama kali terlihat oleh Lyra, membuat dadanya kembali bergemuruh dan ingin sekali membunuh adik iparnya yang berlindung di belakang suami tercinta.
Lyra harus menahan emosinya, agar tidak terlihat bagi ketiga buah hatinya yang berlari menyambut kedatangan Papi juga Om yang di sapa Abang sesuai perintah Kesy saat ketiga-nya berusia tiga tahun.
"Hallo hun, wie ist deine arbeit heute? Ich vermisse dich, wirklich ..." bisik Lyra menyambut kehadiran Zul di tengah-tengah makan malam mereka.
(Hai hun, bagaimana pekerjaan mu hari ini? aku sangat merindukan mu ...)
Zul mengusap lembut punggung istrinya, "Ok Schatz, wie sieht es bei dir aus ...?" kecupnya lembut di kening Lyra.
(Baik sayang, bagaimana dengan kamu ...?)
Lyra menggerak-gerakkan tangan dan kepalanya, tanpa mau menyapa Adi yang menunduk hormat padanya.
"Essen wir jetzt?" tanya Lyra berusaha ramah selayaknya istri yang tenang, dalam tekanan yang luar biasa karena perlakuan adik iparnya, pada putri kesayangan.
(Kita makan sekarang?)
Zul mengusap lembut perutnya, menepuk pundak Adi, yang menggendong Hana dan Hani depan belakang hingga membuat adik Zul sulit untuk bergerak.
Mereka menuju meja makan bersama.
Namun, Zul menepuk bokong Haris yang berada di pangkuannya, agar segera memanggil Kesy untuk makan bersama.
"Sagte Schwester Kesy, Adis Bruder ist da, um ihn zum Essen einzuladen ...!" bisik Zul ketelinga putra kesayangannya, sambil melirik sang istri yang tengah memandangnya dengan gelengan kepala.
__ADS_1
(Bilang Kak Kesy, ada Bang Adi untuk mengajak makan malam ...!)
Zul berdiri menghampiri Lyra, dia sama sekali tidak ingin melihat istrinya tersiksa seperti saat ini. Perlahan dia memeluk tubuh yang masih terlihat ramping dan terawat, walau sudah melahirkan bayi kembar.
"Jaga sikap mu di depan anak-anak. Aku tahu ini sangat berat bagi kamu! Tapi semua bisa kita bicarakan baik-baik setelah makan malam, oke sayang ...?" bisiknya lembut dan mampu menenangkan.
Betris yang terbiasa melihat majikannya seperti Romeo dan Juliet setiap harinya, melirik Adi dan membawa ketiga anak kembar Lyra dan Zul untuk duduk di meja makan khusus mereka, agar tidak berantem saat saat makan bersama.
Namun kali ini Betris sudah lebih peka, karena sempat mendengar pertengkaran antara Lyra dan Adi karena Kesy tadi siang, namun tidak mengerti yang di bicarakan, karena asisten rumah tangga keluarga itu hanya mengerti bahasa Jerman.
Sementara Kesy yang baru terjaga dari tidurnya, membuka pintu untuk Haris yang tengah menggedor pelan ...
"Hmm ..."
"Papi sagt, isst zusammen zu Abend, Adi's Bruder wartet auf dich! Beeil dich, bleib nicht lange!"
(Papi bilang makan malam bersama, Abang Adi sudah menunggu mu! Cepat jangan lama!)
"Ja ..." (Ya)
"Schwesterchen, das sage ich nur, mehr nicht ..."
(Kak Kesy hanya mengatakan ya, tidak lebih ...)
Zul mengangguk, mengajak anak-anaknya agar duduk dengan baik, sambil menunggu kehadiran Kesy yang tampak kusut mendekati mereka semua.
Ketiga buah hati Zul dan Lyra, memang terbiasa menggunakan bahasa Jerman, karena salah pengasuhan kala itu.
Betris yang memang asli bule Jerman berasal dari kota kecil Buhl3 yang terletak empat jam dari Berlin, hanya bisa menggunakan bahasa Jerman dengan baik, tanpa mencampur adukkan bahasanya dengan Inggris ataupun Indo.
Hingga mereka berdua mengalami kesulitan dalam mendidik ketiga anak kembar mereka untuk berbahasa Indonesia, karena satu kendala kesibukan mereka kala itu.
Sehingga Lyra memutuskan untuk bekerja berdasarkan jam yang di tentukan perusahaan swasta, sebagai ahli accounting menjadi team audit yang di gaji berdasarkan jam kerja.
Mata Kesy yang sembab, beradu tatap dengan Zul. Dia meringkuk dalam pelukan Zul yang membuka tangan lebar saat melihat kehadiran gadis kecil yang tengah patah hati tersebut.
__ADS_1
"Kamu enggak kuliah hari ini, sayang?" tanyanya lembut.
Kesy menggelengkan kepalanya, "Bagaimana mau kuliah, enggak boleh keluar kamar sama Mama ..." sungutnya melirik Lyra yang pura-pura tidak melihat dan mendengar.
Zul tersenyum sumringah, "Kita makan yah? Selesai makan kita bicarakan semuanya, oke sayang ..." hiburnya.
Kesy mengangguk setuju, dia melirik Adi yang duduk di hadapannya, tersenyum tipis sambil mengigit bibir bawahnya yang sengaja iya basah kan.
Adi sebagai laki-laki normal, hanya bisa tersenyum tipis, menatap Kesy dengan tatapan yang sangat berbeda. Membuat mereka dapat bicara melalui mata yang mampu mengisyaratkan sebuah rasa.
Mereka menikmati makan malam, masakan khas Indo, sesuai kesukaan keempat kesayangan Zul dan Lyra.
Dengan keributan seperti biasa saat makan yang di lakukan Hani dan Hana, yang suka merebut makanan Haris sang pria yang cengeng.
"Aaaagh Mama! Hani hat meinen gegrillten Fisch geklaut, der von Tante Betris geputzt wurde ..." isaknya meremas tangan Hani.
(Aaagh Mama! Hani mencuri ikan bakar ku yang sudah di bersihkan bibi Betris ...)
Jeritan seperti itu hal biasa yang mereka dengar, karena tidak ada satupun yang mau mengalah, untuk memperjuangkan hak mereka masing-masing.
Zul hanya lebih memilih meninggalkan Kesy dan Adi untuk menenangkan ketiga buah hatinya, begitu juga Lyra.
Mereka akan tenang, jika Papa dan Mama mereka duduk di meja warna warni bak taman kanak-kanak, di bandingkan duduk di meja makan yang tinggi dan sulit untuk saling menggoda satu dan yang lainnya.
Sementara Adi dan Kesy saling memberi kode untuk mengatur pertemuan mereka besok siang berdua, selesai Kesy pulang kuliah, sesuai tulisannya melalui pesan yang dia ketik di handphone Adi yang tertinggal dalam kamar nya.
Wajah keduanya hanya tersipu-sipu malu, saat melihat respon yang sangat berbeda dari tatapan mata yang mengundang untuk menyelesaikan sebuah rasa.
Zul menoleh kearah Adi, "Kamu habis ini mau kemana, Di?" tanyanya.
Adi yang masih terpesona dengan sosok Kesy, hanya bisa menjawab, "Hotel Bang!"
Zul mengangguk, karena memahami pekerjaan adiknya, yang akan terbang beberapa hari lagi sesuai yang Adi ceritakan selama masa perjalanan pulang ke rumah.
Namun bagi istri Zul, kedua bola matanya membulat besar, saat mendengar kata 'hotel'. Bagi Lyra dia kurang bergaul saat berada di Berlin hanya untuk mengurus pekerjaannya, dan keempat buah hatinya, sehingga berkutat hanya di ruang lingkup itu-itu saja ...
__ADS_1
"Hmm pasti anak ini berniat untuk menyakiti putri ku! Atau melakukan hal yang tidak senonoh pada Kesy ...!"