Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Asing


__ADS_3

Adi menarik tangan Kesy, menuju kamar mereka. Beberapa pasang mata tersenyum sumringah melihat kedua pasang pengantin yang tampak tidak sabar untuk segera menikmati keindahan di peraduan mereka berdua sebagai pasangan halal.


Bima mendekati Lyra, mengusap lembut punggung adik perempuannya.


"Siap-siap jadi Oma muda ..."


Lyra bergidik ngeri, mengerenyitkan keningnya, mencubit perut sang Abang.


"Biarin deh. Yang penting aku sudah menghalalkan mereka berdua. Walau sebenarnya aku masih menginginkan Kesy menyelesaikan kuliahnya, dan melanjutkan karirnya. Tapi dia menginginkan Adi, yaah ... Beginilah!"


Bima mendekap tubuh Lyra, menghela nafas berat, ingin menyampaikan niatnya untuk mengambil salah satu anak dari adiknya tersebut.


"Hmm ... Abang bawa Haris yah ke Bali, untuk menjadi teman kami dirumah. Tenang saja, kamu enggak perlu pikirin biaya sekolahnya. Karena Abang akan memberikan yang terbaik buat keponakan Abang."


Lyra mengerjabkan matanya, sedikit kaget mendengar permintaan sang Abang.


"Abang pikir anak kembar bisa di pisahin gitu? Enggak aaagh ... Nanti dia enggak dekat dengan Hana dan Hani. Kan kasihan anak perempuan ku!" rungutnya mencubit perut Bima yang masih merangkulnya.


"Aaauugh ... Sakit Lyra! Aku serius. Kak Kenny belum hamil juga, masak Abang mau kawin lagi ..."


Lyra semakin tidak mengerti saat mendengar candaan Bima yang sangat meresahkan kaum hawa.


Lyra menyunggingkan senyumannya, "Coba saja kalau berani selingkuh dari Kak Ken ... Pasti karir Abang jatuh ke dasar lautan," sesalnya.


Bima tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Lyra yang sejak dulu kurang bisa di bawa bercanda, "Ya enggaklah ... Toh Kenny tidak akan tergantikan walau kami tidak memiliki keturunan. Dia wanita yang sabar dan penyayang."


Lyra mengangguk membenarkan ucapan Bima, "Bagaimana kabar Bara, Bang? Apakah dia sudah kembali ke Manado?"


Bima meletakkan jarinya di dagu, berfikir sejenak. Karena selama ini dia tidak pernah mendengar kabar adik iparnya tersebut.


"Hmm ... Abang enggak tahu Bara dimana. Terakhir yang Abang dengar dia balik sama Luna, tapi akhirnya Luna meninggalkan dia menikahi pria muda. Tapi kami enggak tahu siapa. Luna itu mantan kekasih Zul, kan?"

__ADS_1


Lyra mengangguk, dia tersenyum tipis, saat mendengar nama wanita yang memberinya mobil sport ketika menikah dengan Zul.


"Tadi aku dengar dari Kesy, Luna menikahi Rey. Tapi aku juga enggak begitu ngikutin, karena urusan ku sudah sangat banyak," jelasnya.


Bima membawa Lyra agar duduk di ruang makan, untuk bicara lebih serius tentang rencana membawa Haris ikut bersama dengannya ...


Lyra masih membulatkan kedua bola matanya tanda tidak setuju, "Haris anak aku Bang! Dan aku enggak mau menjadi bulan-bulanan sama keluarga Zul! Please ... Abang bisa mengambil anak di panti asuhan, atau dimana gitu ... Bisa juga mengambil anak Bara yang sama Luna, kan? Jangan anak aku ...! Zul pasti tidak setuju!" tegasnya.


Bima menundukkan kepala, rasa hatinya ingin sekali dia membawa Haris yang ternyata memiliki otak sangat pintar dan jenius. Seorang anak dokter yang terlahir dari ibu yang memiliki ego melebihi kapasitas standar seorang wanita biasa.


"Tapi aku menyayangi Haris, dia pintar sekali Lyra. Sama seperti Zul dan kamu. Aku yakin, dia akan menjadi orang hebat nantinya."


"Amin ..."


Lyra hanya tersenyum dan mengamini semua doa yang baik untuk Haris juga kedua buah hati wanitanya.


.


Sementara di dalam kamar pengantin yang cukup luas, yang dihiasi layaknya kamar indah dari keluarga untuk Kesy, sebagai kamar peraduan mereka berdua membuat pengantin baru itu tampak gugup.


"Untuk mencium gadis ini saja, aku tidak kuasa ... Ada apa dengan ku ...?"


Kesy hanya duduk terdiam di pinggir ranjang, dia memikirkan hal yang sama.


"Kenapa perasaanku jadi berubah sama Bang Adi setelah halal menjadi seorang istri ...?"


Mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing, tanpa ada yang mau berucap sepatah katapun sedari awal masuk kedalam kamar.


Adi mendekati Kesy yang duduk di pinggir ranjang, dia memilih merangkul bahu gadis itu selayaknya pasangan yang sudah menikah.


Memberanikan diri untuk bertanya, apakah perasaan Kesy masih sama setelah menikah ...

__ADS_1


"Apakah kamu bahagia setelah menjadi seorang istri Adi yang berprofesi sebagai pilot?"


Kesy terdiam, bibirnya seketika tak mampu berkata-kata. Perasaan itu bercampur aduk, sehingga membuat dia tampak kebingungan untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


Perlahan Kesy menoleh kearah Adi, menatap pria yang duduk disampingnya, dengan pikiran yang entah kemana ...


"Kenapa Abang bertanya hal itu pada Kesy? Bukankah kita baru beberapa jam menjadi pasangan suami istri yang sah? Kesy rasa Abang juga merasakan hal yang sama dengan yang aku rasa ..."


Tanpa sengaja Adi berucap, "Asing ...?"


Kesy tersenyum, mengangguk dengan ucapan 'asing' yang keluar dari bibir suaminya.


Kesy meletakkan kepalanya di bahu Adi, tak ingin membahas tentang perasaan mereka. Kali ini mereka telah menikah, dan hanya ingin menikmati indahnya pernikahan yang direstui kedua orang tua.


Adi menghela nafas berat, sejujurnya dia memikirkan Laura saat ini, sehingga membuat pikirannya bercabang entah kemana. Apalagi setelah mendengarkan bahwa Laura sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Kesy menatap wajah tampan yang juga menatapnya. Hanya bisa berbicara melalui mata, tanpa mengeluarkan suara.


Namun, Adi mengalihkan pandangannya ... Dia memeluk tubuh Kesy, mengecup puncak kepala gadis yang ada dalam dekapannya.


"Hmm ... Lusa kita langsung berangkat ke Hawaii, yah? Abang ingin berlibur kesana. Menikmati makan malam romantis, agar kita semakin dekat dan saling mengerti satu sama lainnya ..."


Kesy mengangguk setuju, hanya bisa bertanya pelan, "Terus kuliah aku bagaimana? Apa harus cuti selama satu semester? Atau bagaimana?"


Pertanyaan dengan suara yang manja keluar dari bibir mungil istrinya itu membuat Adi tertawa kecil, dan menjawab dengan singkat ...


"Enggak usah kuliah. Ikut Abang saja kerja. Biar ada temannya kalau di hotel. Enggak perlu curiga atau apapun. Karena kalau kamu ngambek nanti siapa yang nemanin kamu di sini? Apalagi kalau Abang jauh," jelasnya tanpa pikir panjang.


Kesy mencubit perut sispack Adi dengan geram, "Enak saja enggak kuliah! Bisa di marahin Mama ... Kuliah masih tanggung jawab Kesy sama Mama dan Papi, tapi kalau mau cuti dulu selama enam bulan enggak apa-apa. Nemanin Abang keliling dunia, dan mengenal banyak tempat wisata di negara-negara lain."


Tawanya manja di pelukan Adi.

__ADS_1


Adi hanya bisa tersenyum lirih, menghibur gadis kecil ini sangatlah mudah. Tapi apakah harus memaksakan diri untuk mencintai wanita yang telah dianggap adik selama ini ...


Hanya pikiran itu yang menerawang di benak Adi setelah menikahi Kesy. Tapi dia tidak mampu melepaskan Laura dari pikirannya, sehingga dia benar-benar mendapatkan kabar tentang wanita itu, yang mengatakan bahwa sang mantan baik-baik saja.


__ADS_2