
Pesawat Airbus A380 mendarat di bandara internasional Changi Singapura tepat pukul 16.00 waktu setempat.
Membuat Kesy berteriak bahagia, saat menginjakkan kaki di Asia setelah lebih sepuluh tahun tidak kembali ke negara kelahirannya.
Kesy masih enggan beranjak dari tempat duduknya, karena menunggu perintah Adi tengah menurunkan barang-barang bawaan mereka dari bagasi yang terdapat di atas tempat duduk mereka di dalam pesawat.
Adi yang melihat istrinya tersenyum bahagia, hanya menggeleng dengan senyuman manis. Dia mendekatkan wajahnya, saat barang-barang bawaannya telah turun semua ...
"Ayang terlihat senang. Kenapa hmm?" kecupnya lembut pada bibir Kesy.
Kesy mengalungkan tangannya keleher tegap Adi, "Senang bisa ziarah ke kuburan Papa, bisa menikmati makanan apa saja. Lempuk durian, nasi Padang yang ada di depan rumah sakit, hmm ... Rindu banget ..."
Adi mengangguk-anggukkan kepalanya, ia melepaskan tangan Kesy, dan menoleh kearah Zul.
Namun karena gerakan tubuh sang Abang mengisyaratkan ketidaksukaannya, Adi mengurungkan niatnya untuk stay di Singapura karena tidak ingin melihat keluarga besarnya murka akan keputusannya.
Mereka keluar dari pesawat, tentu dengan suasana hati senang, bahagia bagi Kesy ...
Namun tidak untuk Adi yang gundah gulana nelangsa. Pikirannya seketika berkecamuk mengingat Laura.
"Aaagh ... Apa yang harus aku lakukan? Sementara aku ingin sekali bertemu Laura. Hanya untuk menanyakan keadaannya saat ini. Pasti dia semakin terpuruk setelah kehilangan laki-laki brengsek itu ..." geramnya dalam hati.
Kesy dengan bangganya menggandeng manja lengan Adi, sangat berbeda dengan sang Mama, yang lebih memilih jalan masing-masing, karena mendapatkan panggilan telepon dari tempat kedua orangtuanya bekerja.
Mereka tiba di ruang tunggu untuk transit, setelah menikmati makanan di restoran bandara, untuk mengisi lambung tengah keluarga tersebut.
Adi tampak semakin gelisah, semakin lama semakin tak kuasa menahan kekhawatiran nya.
Bergegas Adi beranjak dari ruang tunggu, meminta izin pada Kesy hanya untuk ke toilet.
__ADS_1
Namun, Adi secara diam-diam menghubungi Laura di sebuah sudut area yang dekat dengan toilet ruang tunggu tersebut.
Cukup lama Adi menunggu jawaban dari gadis itu ... Wajahnya tak kuasa menahan kerinduan yang teramat sangat, bercampur aduk dalam benaknya.
Tiba-tiba ...
["Ya halo ..."]
["Honey ... Apa kabar kamu? Kenapa lama sekali menjawab panggilan telepon dari ku?"]
Laura mengeluarkan suara batuk kecil, dan menjawab dengan suara serak ...
["Ya sayang ... Aku baik-baik saja. Hanya kondisi ku kurang sehat semenjak keguguran mencari mu di apartemen keluarga Bang Zul sebelum pernikahan mu! Betris tak memberikan ruang pada ku, untuk memasuki lift, dan aku stress. Tapi saat ini kondisi ku sudah mulai membaik. Bagaimana dengan mu? Apakah kamu sudah kembali dari Hawaii? Aku dengar dari awak kabin, kamu akan aktif lagi bulan depan. Aku hanya ingin beristirahat selama dua bulan. Setelah ini melanjutkan penerbangan kembali ..."]
Adi yang mendengar cerita Laura panjang lebar di seberang sana, semakin bahagia ... Entahlah, perasaannya masih mengharapkan gadis itu kali ini.
["Honey, bagaimana jika kita menikah? Aku akan memberikan yang terbaik untuk mu! Aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas dirimu ...! Jujur aku masih mencintaimu ..."]
["Are you serius? Bagaimana dengan Kesy? Apakah kamu akan menceraikannya? Bagaimana jika keluarga mu mengetahui nya? Ooogh Adi, jangan gila kamu! Ini tidak akan mudah. Dan gadis kecil itu akan membunuh kita jika mendengar permintaan gila mu ini!"]
Adi tak kuasa menahan rasa rindunya selama tiga bulan jauh dari Laura, hanya bisa berkata jujur ...
["Sungguh, aku masih menginginkan mu, Laura! Tujuh tahun kita bersama, membuat aku sulit untuk melupakan mu!! Pikirkan lah lagi ... Aku masih mencintaimu Laura ...!"]
Adi menutup telfonnya, dia mengepal kuat handphone yang masih berada dalam genggaman.
Ketika ia berbalik, Kesy telah berdiri di belakangnya ...
"Ke-s-sy ..."
__ADS_1
PLAAAK ...!
"Aaaagh ..."
Tangan mungil itu mendarat tepat di wajah Adi. Dadanya naik turun, bahkan kini nafasnya terasa sangat sesak. Setelah mendengarkan pengakuan suaminya sendiri masih mencintai mantan kekasih yang dengan sadar mengkhianati nya, namun masih meminta untuk kembali dan menikah.
Kesy menyunggingkan bibir tipisnya, menatap jijik kearah Adi. Tanpa mengeluarkan air mata ataupun memohon pada pria yang kini telah menjadi suaminya.
Dengan bibir bergetar Kesy hanya bisa tertawa kecil, sambil berkata, "Hmm ... Menikah dengan Laura? Menduakan Kesy? Itu maksud Abang? Ooogh ... Hebat sekali ide Bang Adi. Baiklah, Kesy akan memikirkan langkah apa yang harus kita ambil untuk pernikahan kita! Kesy rasa, ini menjadi hal yang menarik untuk rumah tangga kita. Benar kata Mama, ternyata jika terlahir dari keluarga miskin, selamanya akan terlihat miskin! Miskin otak bahkan moral!"
Adi tampak semakin serba salah, tangan kanannya berusaha meraih tangan istrinya yang telah mendengar niat nya dengan Laura, "Bu-bu-bukan begitu maksudnya, Ayang! Please ... Jangan marah. Kita bisa bicarakan semua dengan baik-baik. Abang janji, tidak akan jahat sama Kesy, Abang akan adil!"
Air mata Kesy yang sejak tadi memanas terbendung, akhirnya jatuh mengalir deras dikelopak mata indahnya, membasahi wajah cantik itu.
Bersusah payah Kesy mengatur nafasnya, kali ini dia benar-benar jijik mendengar kejujuran sang suami, yang ingin menduakan nya.
Kesy menantang Adi, menatap sinis kearah pria yang ia cintai sejak kecil ...
"Adil, baiklah! Jika itu menjadi keputusan Abang, kita lihat, sehebat apa Abang memainkan peran memiliki istri dua! Temukan Kesy dengan wanita itu! Kesy tidak akan pernah melarang keputusan Abang! Tapi dengan satu syarat, lengkapi semua kebutuhan Kesy, dari tempat tinggal, hingga kendaraan, dan semua kebutuhan Kesy, tanpa ada kekurangan satu apapun, dengan uang tabungan yang cukup tanpa meminta pada Oma dan Opa, Kesy izinkan Abang untuk menikahi Laura! Kalau masih meminta uang bulanan pada Opa dengan alasan pembagian rumah sakit, jangan sombong! Karena itu hanya cukup untuk kehidupan Kesy dua minggu!" sesalnya.
Kesy sangat mengetahui keuangan Adi. Gaji yang cukup untuk menghidupi seorang istri pilot, dengan tunjangan yang cukup jika hidup bersama Lyra dan Zul, karena biaya hidup yang tinggi jika stay di Berlin.
Harga rumah biasa mencapai empat milyar. Membuat kedua orangtuanya memutuskan untuk tinggal di apartemen Keluarga Ahmad, sejak 12 tahun yang lalu.
Apartemen yang Adi miliki, itu merupakan pemberian Eni sang Mama, agar putra tirinya itu tidak memikirkan tempat tinggal jika berada di Munich.
Mendengarkan penuturan Kesy, membuat Adi hanya bisa menelan ludah. Gadis kecil itu memang mengetahui siapa Adi sejak dulu, sangat berbeda dengan Laura, yang hanya mengetahui Adi sebagai pilot, serta anak dari pemilik rumah sakit ibu dan anak di kota kecil tersebut.
Adi menarik tubuh Kesy agar tidak meninggalkan nya masuk dalam pelukannya, "Please ... Jagan lakukan ini pada Abang. Abang hanya tidak bisa melupakan Laura, karena dia merupakan cinta pertama Ab--."
__ADS_1
Kesy menepuk-nepuk dada Adi, agar tidak melanjutkan ucapannya ...
"Terserah! Lakukan apa yang ingin Abang lakukan!"