Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
'Mantan masa lalu, bukan masa depan'


__ADS_3

Aryo mengangguk, "Tenang saja, semua sudah diatur oleh Pak Kasan yang mengurus mediasi. Ini hanya formalitas. Dua hari lagi, kamu resmi jadi janda, dan aku akan mengantarkan suratnya ke kantor mu."


Kedua bola mata Lyra membulat, "Apa...??? Dua hari lagi!? Ngapain aku ada disini kalau kamu bisa ngurusin masalah ini, Yo...!!" kesal Lyra.


Aryo tertawa terbahak-bahak, "Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu. Tapi kita selesaikan dulu mediasi nya!"


Lyra menautkan kedua alisnya, kembali bertanya, "Siapa...!?"


Aryo hanya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putih bersih bak kuda poni.


Lyra mengangguk setuju, kembali dia merasakan getaran dari handphone yang berada di dalam tas. Sekali lagi matanya melihat pesan yang dia terima melalui whatsApp, membuat dia kembali teringat akan Zul.


Pemuda tampan yang sangat baik, bahkan berkali-kali dia mengirimkan Lyra pesan dengan perasaan khawatir yang berlebihan. Dia hanya membalas sangat singkat.


["Aku masih di Pengadilan Agama, maaf Zul. Jangan ganggu aku lagi. Karena kita sangat jauh berbeda, bye."]


Lyra kembali meletakkan handphone miliknya didalam tas yang ada di pangkuan, menoleh kearah Aryo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik calon janda matang beranak satu tersebut.


Aryo sangat mengetahui bagaimana sahabatnya, dia hanya tersenyum tipis mendengar suara yang mengumumkan nama sahabatnya Dony dan Lyra.


"Udah dipanggil, yuuk! Biar cepat pergi dari sini!" bisik Aryo ketelinga Lyra.


Lyra melangkahkan kakinya, masuk ke dalam ruangan mediasi, memilih duduk di samping Aryo selaku sahabat dan orang kepercayaan. Dia melirik kearah Dony yang memilih duduk sedikit menjauh dari sang mantan istri.


Mata mereka saling menatap penuh dendam, bahkan Lyra tidak sanggup menahan rasa sakit hati atas perlakuan Dony padanya selama ini.


Persidangan untuk menjalani mediasi berlangsung sangat alot. Beberapa permintaan Dony yang tidak masuk akal di kepala Lyra, membuat darahnya seperti kembali mendidih.


Lyra tidak mampu menahan rasa sakit hatinya, dia menumpahkan semua, dari awal perselisihan mereka hanya karena keluarga Dony, perselingkuhan Dony dengan Nela sang nenek lampir yang merupakan tetangganya, hingga yang terakhir dia menceritakan dengan secara gamblang, selama dua tahun dia tidak mendapatkan nafkah batin.

__ADS_1


"Jangankan lahir, nafkah batin saja dia tidak sanggup memberikan pada saya. Apa kesalahan saya?" Mata Lyra tertuju pada Dony yang melihatnya dengan tatapan penuh kemarahan dan kebencian.


Dengan sangat lantang Lyra membuka bagaimana perlakuan Dony dan keluarganya, sehingga dia menyatakan tidak pernah akan kembali ke pelukan Dony. Dia juga menegaskan, bahwa tidak akan pernah menyesal dan memberikan hak asuh Kesy pada pria seperti Dony, karena tidak memiliki rasa tanggung jawab atas dirinya dan keluarga kecil mereka.


Dony membuka hal yang tidak masuk akal, saat tim mediasi bertanya padanya untuk pembelaan diri, karena menginginkan Kesy dalam asuhannya. Dia juga mengajukan tempat tinggal yang selama ini mereka tempati, tidak dapat di kuasai sepenuhnya oleh Lyra dengan alasan mereka memiliki buah hati. Beberapa permintaan yang paling menyebalkan diajukan Dony untuk memberangkatkan sang mantan istri.


Mendengar permintaan Dony yang tidak masuk akal, membuat Lyra semakin menggeram kesal. Wajah cantik itu semakin merah padam, setelah pihak mediasi akan mempertimbangkan permintaan Dony sepenuhnya.


Undang-undang dari mana ini? Suami tidak bekerja dan menghasilkan apapun, bisa mendapatkan rumah beserta mobil karena mengingat putri kesayangan mereka berdua, Kesy? Apa yang terjadi?


Tidak-tidak-tidak, berkali-kali Lyra memijat pelipisnya, enggan berkomentar saat mediasi akan berakhir, karena Lyra meminta Aryo mengurus semua permasalahan yang sangat menjijikkan di gendang telinganya.


Dony tersenyum sumringah, melirik kearah Lyra dengan tatapan kemenangan. Baginya, perselingkuhan atau apapun itu tidak penting di bicarakan, namun dengan memelas di hadapan para panitera semua permintaanya seperti dipenuhi dengan sangat mudah.


Tentu ini menjadi sesuatu yang aneh bagi Lyra. Wajahnya terlihat semakin tidak nyaman saat masih berada di ruang mediasi. Dia ingin segera meninggalkan kantor pengadilan tersebut, enggan untuk menjelaskan bagaimana perasaannya saat itu.


Lyra menepuk pundak Aryo, sedikit berbisik, "Aku pergi saja, enggak mau disini. Jangan sampailah Kesy berada ditangan tua bangka itu. Aku nggak terima, mau dikasih makan apa anak ku? Kerja juga enggak. Pasti dia akan memeras aku, Yo!"


"Ya....! Tenang saja." Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Aryo memberi ruang pada Lyra agar segera berlalu.


Saat Lyra akan keluar dari pintu ruangan mediasi, ternyata pintu ruangan terbuka lebih dulu dengan sangat lebar.


Tatapan kedua insan yang pernah memiliki kisah cinta tersebut saling terlonjak kaget. Dua mata beradu pandang. Sudah sembilan tahun tidak pernah bertemu, kini keduanya mesti berada dikantor yang sama, Pengadilan Agama.


Lyra tetap meninggalkan ruangan mediasi, berlari dengan langkah tergesa-gesa, mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Namun, langkah kaki pria yang mengejarnya lebih cepat mendapatkan lengan kiri Lyra kemudian menarik tubuh wanita yang tengah dirundung kesedihan tersebut masuk kedalam pelukannya.


Lyra tak melihat sosok siapa yang memeluknya, saat ini dia tidak peduli didada siapa dia menangis sehingga bahunya bergetar hebat.

__ADS_1


Kecewa, hanya itu yang ada dalam benak mereka masing-masing. Kekecewaan yang mendalam, bahkan sangat menyakitkan. Kenapa keadilan tidak pernah berpihak padanya? Pada wanita yang bersusah payah untuk menjadi tulang punggung, namun harus di jadikan mesin ATM otomatis oleh mantan suaminya sendiri.


Dada Bara yang bidang, saat ini ada untuk Lyra dalam menghadapi polemik perceraiannya yang rumit.


Namun, saat semua tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, Lince dan Boy menghampiri putrinya yang berdiri tidak jauh dari ruang mediasi.


Boy sedikit menurunkan kaca mata bulatnya, memastikan siapa yang tengah memeluk putrinya dengan nafas tertahan, tak mampu mengusap apalagi berkata-kata.


Boy bertanya seraya mengambil tubuh putrinya dari tangan pria yang memeluk agar tidak menimbulkan fitnah, "Bara!?"


Lyra yang masih menangis, sedikit penasaran melirik kearah pria yang mendekapnya barusan. Sedikit berbisik tidak menyangka pria yang seumuran dengannya sudah berdiri tegap sambil tersenyum.


"Bara!? Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah kamu berada di Manado?" tanya Lyra menautkan kedua alisnya merasa tidak percaya.


Bara tersenyum sumringah, "Ya, aku ada disini. Kebetulan aku hakim ketua saat ini. Panjang ceritanya Lyra, lebih baik kamu pulang dulu. Nanti aku akan menghubungi mu."


Tentu saja Lyra menggelengkan kepalanya, menganggap ini hanya kebetulan saja, dia kembali bertanya, "Hmm.... apakah kamu mengetahui nomor telepon ku?"


Bara mengangguk, "Percuma sahabat mu jadi pengacara handal. Dia nggak bisa dipercaya, karena dengan mudah memberikan informasi kliennya," bisiknya sedikit menghibur.


Lyra menepis tangannya, memohon pamit untuk segera meninggalkan kantor pengadilan karena dia tidak ingin berlama-lama berada disana.


Mereka berpisah.


Lyra sama sekali tidak merasakan apa-apa saat bertemu dengan Bara, walau pria tampan tersebut merupakan mantan kekasihnya.


Prinsip Lyra sejak dulu, 'namanya mantan hanya masa lalu yang harus di lupakan, bukan masa depan untuk di perjuangkan'.


Lyra tersenyum, saat melihat beberapa pesan yang masuk melalui whatsApp. Tertulis nomor tidak dikenal dan nama Zul yang masuk bersamaan, ketika sudah berada didalam mobil segera berlalu menuju kediaman mereka.

__ADS_1


Lyra menautkan kedua alisnya, mengusap dadanya pelan, "Hmm.... maafkan aku, Zul!!" Hanya kalimat itu yang ada didalam hatinya untuk pria muda di seberang sana.


__ADS_2