Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Menikahi Kesy


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang, Zul keluar dari mobil, menghampiri Adi yang tengah berdiri di resepsionis, sementara Kesy tengah duduk manis di kursi loby hotel ...


Sontak kehadiran Zul membuat Kesy takut, apalagi dia langsung menghampiri adiknya tanpa mau menoleh kearah putri tirinya, seketika ...


BHUUUUG ...!


BHUUUUG ...!


BHUUUUG ...!


BRAAAK ...!


Adi terjungkal ke lantai dengan hidung bercucuran darah segar.


Sementara Kesy berteriak agar Zul menghentikan pukulannya.


"Bang ..."


"Papi ... Stophh ... Please ...?!!" teriak Kesy ketakutan.


Zul menoleh kearah Kesy, emosinya tak mampu di redam, sakit hatinya teramat sangat melihat kelakuan Adi sangat memalukan.


"Minggir kamu Kesy!" bentak Zul menyingkirkan tubuh putrinya yang menghalanginya untuk memberi pelajaran pada Adi.


Dengan wajah garang dia meraih kerah baju Adi, kembali menghajarnya habis-habisan ...


BHUUUUG ...!


BHUUUUG ...!


BHUUUUG ...!


"Apa yang kau lakukan pada putriku laki-laki brengsek! Pantas saja istriku kesal padamu, ternyata kau yang melarikan Kesy dua minggu lalu! Jawab aku, Adi!" bentak Zul.


Adi tak sanggup lagi untuk melawan, dia tahu, kali ini dia yang salah, dia telah merusak masa depan Kesy.


"Bang! Aku-aku-aku ... Aku minta maaf!"


Nafas Adi tersekat kepalanya terasa sangat berat karena menerima pukulan yang bertubi-tubi dari Zul.


"Maaf ... Maaf kata mu! Kau hancurkan masa depan keponakan mu! Walau dia bukan darah daging ku! Tapi kau hancurkan masa depan Kesy! Apa masalahmu pada keluarga ku!!!" teriaknya kembali akan memukul Adi, namun di tahan oleh petugas hotel.


Mereka melerai dua tamu yang membuat keributan di tempat mereka.


"Tut mir leid Sir, wenn es ein Problem gibt, lösen Sie es bitte draußen. Weil wir nicht wollen, dass die Polizei zu uns kommt!" jelas salah satu petugas hotel.

__ADS_1


(Maaf Tuan, jika ada masalah silahkan selesaikan di luar. Karena kami tidak ingin pihak kepolisian datang ketempat kami ...)


Zul mengangguk, menunduk hormat. Kembali menarik tubuh Adi agar membawanya begitu juga Kesy. Dia tidak ingin semua masalah tidak terselesaikan saat ini. Tugasnya hanya untuk menyelamatkan rumah tangganya dengan Lyra.


"Ikut aku! Aku akan menyelesaikan masalah ini!" tegasnya tanpa ingin di bantah.


Zul menoleh kearah Kesy yang tak tahu akan berlindung pada siapa. Saat ini gadis itu hanya mengalami shock karena telah di ketahui oleh sang Papi.


Air mata terus membasahi pipi mulus Kesy. Seperti pasangan yang tengah berselingkuh, Zul membawa kedua-nya kembali ke apartemen mereka.


Entah apa yang akan dia katakan saat ini pada Lyra, tapi kali ini dia siap akan semua konsekuensinya. Demi melindungi Kesy dari Adi yang dia anggap sebagai adik kandungnya selama ini. 


Mobil terhenti di apartemen, Zul menoleh kearah Kesy, "Jangan takut ... Papi akan selalu melindungi kamu. Naiklah dulu, masuk ke kamar, dan jangan keluar kamar sebelum Papi memanggil mu. Papi mau ngobrol dengan Bang Adi ..."


Kesy yang tak mampu berkata-kata, hanya bisa memeluk Zul karena takut akan di marahi sang Mama.


Adi masih menunduk tak mampu melihat sosok gadis kecil yang sangat menggemaskan, namun harus di hadapkan dengan kondisi ini.


Zul turun sebentar, mengantarkan Kesy masuk kedalam lift, sedikit berpesan, "Papi yang akan memanggil mu! Jangan bicara pada siapapun begitu sampai di atas, kamu mengerti?"


Kesy mengangguk pelan.


Zul melihat gadis cantik itu, menggigil karena takut, karena takut akan di hukum atau di hakimi oleh Lyra atau siapapun saat ini.


Begitu pintu lift tertutup, Zul kembali ke mobilnya. Dia meminta Adi agar pindah ke jok depan.


Zul melemparkan satu tisu basah, agar Adi membersihkan lukanya. Dia berusaha untuk tetap waras menghadapi kenyataan pahit ini.


"Apa yang kau lakukan pada Kesy? Jujur pada ku! Kenapa kau tega melakukan hal itu pada putri kesayangan Lyra? Kau tahu dia tidak sehat. Tapi kau hancurkan masa depannya di usia belia! Apa maksud mu?"


"Bang ... Aku minta maaf."


Adi menundukkan kepalanya, sambil mengusap wajahnya yang terasa sangat sakit.


Zul mengalihkan pandangannya, memperbaiki posisi duduknya agar bisa menatap lekat wajah Adi.


"Darah siapa yang ada di tubuh mu? Apa kau benar putra dari Ahmad Maeta? Aku rasa kau bukan adik kandung ku! Karena sama sekali Papa dan Mama tidak pernah mengajarkan kita seperti ini! Aku kecewa dengan mu! Kau akan menikah dengan Laura, kau tiduri anak tiri ku! Kau lihat aku membelamu di hadapan istri ku! Tapi kau mengecewakan aku, Adi! Apa salahku padamu?"


Zul menangis sejadi-jadinya, dia tak sanggup untuk berkata-kata di hadapan istrinya. Kini masa depan Kesy yang menjadi taruhannya.


Adi yang tak kuasa melihat Zul seperti ini, hanya bisa berkata, "Aku akan menikahi Kesy. Aku janji tidak akan menyakiti nya. Aku akan belajar mencintai nya, seperti dia mencintai aku, Bang!"


Zul menggeram, bahkan wajahnya merah padam menahan amarah yang membuncah di kepalanya.


Dadanya terasa sangat sesak. Bahkan ingin sekali dia menghancurkan Adi saat ini.

__ADS_1


"Katakan semua itu pada Mama juga Papa. Saat ini kita naik ke atas! Bicarakan pada Lyra bahwa kau akan menikahi Kesy secepatnya. Aku tidak mau melihat mu, main kucing-kucingan seperti pria pengecut! Dari dulu Mama selalu berpesan dengan mu, jangan pernah kau ikutkan cara hidup mu yang ke barat-baratan. Ingat Di, kita ini orang Timur, masih tahu siapa yang akan menjadi partner tidur! Bukan seperti ini!" tegasnya.


Adi hanya bisa terdiam. Jujur di hatinya masih tersimpan nama Laura. Butuh waktu baginya untuk move on dari gadis oriental itu. Tujuh tahun menjalin hubungan, hingga akan melanjutkan ke pernikahan, tapi hanya pengkhianatan yang iya dapatkan.


Tanpa pikir panjang, Adi mengikuti langkah Zul, untuk naik ke apartemen keluarganya.


Entah apa yang ada di benak Zul saat ini, yang pasti dia ingin semua masalah selesai, dan keluarganya kembali harmonis demi anak-anak pasangan ini.


Lyra yang tengah mempersiapkan makan siang untuk dirinya juga Kesy, mendengar lift menyala di kediamannya. Matanya menoleh kearah lift, melihat Zul dan Adi keluar dari sana. 


Keningnya mengerenyit, memandangi wajah Zul dan Adi bergantian ...


Lyra sebagai istri Zul mendekati suaminya, memandang kearah Adi.


"Hun ... Apa yang terjadi? Barusan Kesy masuk ke kamar, aku tanya dia diam saja. Sekarang kamu masuk membawa Adi dengan wajah babak belur gini. Kalian baik-baik saja, kan? Atau hmm ... Ada yang kamu sembunyikan dari aku?"


Lyra menatap penuh selidik, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Zul yang hanya diam saat dirinya bertanya.


"Jawab aku, Zul! Ada apa!" kesalnya.


Zul membawa istrinya agar duduk di kursi dekat meja makan, mengusap lembut punggung Lyra. Menoleh kearah Adi agar duduk dihadapan kakak iparnya ...


Lyra yang tidak suka dengan kejadian ini, seketika menggeram ...


"Jawab aku, Zul. Ada apa!" sesalnya.


Adi menatap lekat wajah Lyra, dadanya bergemuruh bahkan terasa sangat berat untuk mengatakan kesalahan nya.


"Ka-ka-kak, A-a-adi ak-akan menikahi Kesy. Karena-- hmm--- ..."


Lyra menutup kedua matanya, dia tidak ingin mendengar kan hal yang sangat menyakitkan siang itu.


"Katakan cepat, kenapa kamu ingin menikahi putri ku? Apa yang telah kamu lakukan pada nya? Jawab aku!! Jawab!!!"


Perasaan Lyra semakin tak tenang, dia semakin penasaran, menoleh kearah Zul meminta jawaban yang pasti.


"Hun, kamu sayang sama aku! Jawab aku ... Apa yang di lakukan Adi sama anak ku! Sama Kesy, hun! Jawab aku! Jawab hun ...!" tangisnya pecah seketika.


Kali ini dada Lyra terasa sangat sesak, bahkan dia tidak suka Zul dan Adi hanya diam tak mampu bicara.


"Kak, Adi minta maaf telah melakukan nya sama Kesy!" ucap Adi tanpa mau mengulang kembali ucapannya.


Lyra terdiam. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan tulang-tulangnya terasa lemah seketika.


Perut yang terasa sangat lapar seketika membuat pandangannya membayang, bibirnya tak mampu berkata-kata, tubuhnya ambruk dalam dekapan Zul.

__ADS_1


"Lyra, Lyra, Lyra ...!"


__ADS_2