
Keluarga Zul, kini sudah berada di bandara internasional Hawaii dengan rute penerbangan menuju Jakarta.
Penerbangan yang diatur oleh team Adi, menggunakan pesawat komersil Lutfhansa, menuju Singapura kemudian transit menuju Jakarta.
Adi yang sengaja mengambil cuti tahunannya selama dua bulan, hanya untuk menghabiskan waktu berbulan madu sekaligus resepsi, kini kembali di hadapkan pada pria yang menjadi rivalnya beberapa waktu lalu, Zidan.
Saat akan memasuki kabin pesawat, mereka yang berada di kelas bisnis, tentu mendapatkan pelayanan yang sangat baik. Ditambah, Adi masih bekerja pada perusahaan penerbangan tersebut.
Zidan enggan untuk melayani pria yang pernah menghajarnya habis-habisan saat berada di hotel tempat mereka menginap. Namun, tuntutan pekerjaan tak mampu ia tolak karena pria itu yang melayani penumpang kelas bisnis.
Kesy merangkul lengan Adi, yang duduk disampingnya, sembari melambaikan tangan pada sang Mama yang berada di samping kanannya.
"Ma ... Mama tadi jadi beli oleh-oleh? Kesy minta, yah? Buat temen-temen sekolah dulu. Kami mau reuni!" jelasnya.
Adi yang mendengar kata-kata reuni sedikit berbisik ketelinga Kesy, "Enggak ada reunian. Ayang harus sama Abang terus!"
Kesy mengkerut jengkel, melepaskan tangannya dari lengan sang suami.
"Cuma sebentar Bang. Kan Abang baca sendiri di group whatsApp, bahkan semua Abang baca, dan enggak ada yang aneh," rungutnya.
Adi menggerakkan jari telunjuknya di hadapan wajah Kesy mengisyaratkan 'tidak'.
Lyra menaikkan kedua bahunya, meringkuk di bahu Zul, yang masih sibuk dengan handphone pintarnya.
Zul bertanya sambil mengecup kepala sang istri, "Kenapa hmm?"
Lyra hanya menjawab singkat, "Kesy enggak di izinin reuni sama Adi."
Zul hanya tersenyum tipis, "Hmm ... Mulai posesif. Namanya juga trauma di selingkuhi. Jadi yah begitu ..."
Lyra menautkan kedua alisnya ... "Biarin deh, yang penting sekarang mereka sudah baikan. Tapi aku enggak nyesel kita terbang ke Hawaii, bulan madu yang sangat menyenangkan. Walau usia tidak muda lagi, tapi sangat indah ..."
Zul yang mendengar penuturan Lyra, memperbaiki posisi duduknya, "Indah di bagian pantai atau kamar mandi?"
Lyra mengerenyitkan keningnya, "Udah aaagh mau tidur ...!" sesalnya menutup wajah dengan selimut.
Zul tertawa terbahak-bahak, semakin gencar menggoda sang istri.
"Hun ... Ini di pesawat!"
"Terus kalau di pesawat kenapa? Enggak boleh godain istri sendiri?"
__ADS_1
Lyra menggeram, menghela nafas panjang, mengarahkan tangan suaminya pada bagian kenyalnya, agar Zul tidak menggodanya lagi.
"Tidurlah, nanti begitu tiba di Jakarta pasti kita akan di sibukkan dengan rengekan anak-anak," jelasnya.
Lyra membuka selimutnya, menatap wajah Zul, "Kita nginap di Jakarta, baru berangkat bareng-bareng pulang kampung, kan hun?"
Zul mengangguk.
Kembali Lyra menutup wajahnya, tanpa melepaskan tangan Zul dari tubuh indahnya.
Lima jam penerbangan suasana sangat kondusif. Ditambah Kesy dan Lyra tengah terlelap kerena kelelahan selama berbulan madu ...
Akan tetapi kondisi semakin panas, saat Adi berpapasan dengan Zidan, ketika ia berjalan menuju kabin pilot bagian depan.
Zidan menatap Adi lekat, menyiratkan bahwa permusuhan antara mereka berdua tidak pernah akan berakhir sampai kapanpun.
"How nice of you, approaching Laura, but marrying a little girl who is her own niece. Shame on you!" sindirnya.
(Enak sekali kamu, menghindari Laura, tapi menikahi gadis kecil yang merupakan keponakan sendiri. Buat malu saja!)
Adi yang tengah malas untuk melayani pecundang seperti Zidan, tak mengindahkan ucapan pria tersebut.
Namun, saat Adi akan melewati Zidan, dengan sengaja pria yang berprofesi sebagai pramugara sekaligus pendamping pilot tersebut, menyilangkan kakinya, membuat Adi terjerembab di lantai pesawat.
BHUUG ...!
BHUUG ...!
BHUUG ...!
Tangan kekar Adi menarik keras kerah bahu Zidan berkata dengan wajah garang, "If you impregnate a woman, please take responsibility! Don't ask her to find another man! Remember, I'll report you to the boss when I get back to Munich. Cowardly man!"
(Jika kau menghamili wanita, tolong tanggung jawab! Jangan memintanya agar mencari pria lain! Ingat, aku akan melaporkan mu pada atasan jika aku telah kembali ke Munich. Laki-laki pengecut!)
"Aaagh!!" teriak salah satu pramugari, yang tak mampu untuk melerai kedua pria tersebut ...
Sontak keributan tersebut didalam pesawat Airbus A380, membuat suasana sedikit panik.
Bagaimana mungkin, Adi yang berstatuskan penumpang harus beradu jotos dengan salah seorang pramugara saat pesawat berada di ketinggian 30.000 kaki dari permukaan laut.
Zul yang mendengar keributan dari arah depan, sedikit menoleh karena mendengar suara Adi adik tirinya.
__ADS_1
Bergegas Zul melepas safety belt nya, melangkah cepat, mendekati awak pesawat yang tengah melerai kedua pria tersebut ...
"Adi, what are you doing here? Please don't argue here. Because I don't want my daughter, to hear what you guys are arguing!"
(Adi, apa yang kamu lakukan di sini? Tolong jangan berdebat disini. karena aku tidak ingin putri ku, mendengar apa yang kalian perdebatkan!)
Zidan menelan ludahnya sendiri, menahan rasa sakit di bagian sudut bibirnya, membuat darah segar masuk kedalam mulut pria itu.
Adi menggeram kesal, bahkan dia ingin sekali meremas wajah pria yang dianggap nya sebagai seorang pecundang.
Zul menarik tangan Adi, agar tidak membuat malu pada penumpang lainnya.
Tentu dengan wajah menekuk pria itu berlalu meninggalkan Zidan yang sudah babak belur.
Lagi-lagi Zul menoleh kearah Adi, "Jangan sampai Kesy mengetahui tentang kehamilan Laura! Aku tidak ingin putri ku kembali meninggalkan mu, atau hal terburuk terjadi kembali! Are you understand!" geramnya menatap nanar mata adik tirinya.
Dengan berat hati Adi hanya mengangguk mengerti ...
Akhirnya Adi memilih kembali ke kursi penumpang, melihat Kesy masih terlelap dengan pulas.
Salah seorang pramugari menghampiri Adi, hanya berbicara dengan nada berbisik, "Master is called the captain in the front cabin. We have secured Zidane. For this area, I take over."
(Tuan di panggil kapten di kabin depan. Zidan sudah kami amankan. Untuk wilayah ini, saya yang ambil alih ...)
Adi mengangguk. Memberi kode pada Zul, hanya untuk menyelesaikan semua masalahnya saat ini.
Bergegas Adi berjalan menuju kabin pilot, yang berada di depan, dengan pintu terkunci dari dalam kabin, agar leluasa untuk berbicara mengenai kejadian tadi.
"What happened captain?" tanya Kapten pilot yang bernama Edward.
(Apa yang terjadi kapten?)
Adi menghela nafas panjang, dia mengusap tangannya yang sakit, karena telah menghajar Zidan.
"Only Laura's problem. Zidan doesn't want to be responsible for what he did to my ex-fiancé! Laura is pregnant, and at the moment I don't know where she is. I'm a little worried for his safety," jelasnya.
(Hanya masalah Laura. Zidan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan pada mantan tunangan ku! Laura hamil, dan saat ini aku tidak tahu dimana keberadaannya. Aku sedikit khawatir akan keselamatannya.)
Edward mengangguk mengerti, dia mencoba mengingat terakhir bertemu dengan Laura ...
"As I recall, Laura was on leave for two months. Now she is in Singapore, just to rest, after suffering a miscarriage, but I don't know exactly who she is pregnant with. Intentionally or not, that's what makes me not know."
__ADS_1
(Seingat saya, Laura cuti selama dua bulan. Kini dia berada di Singapura, hanya untuk beristirahat, setelah mengalami keguguran, tapi saya tidak tahu persis dia hamil dengan siapa. Sengaja atau tidak, itu yang membuat saya tidak mengetahuinya.)
Adi terdiam mendengar penjelasan dari Edward, bergumam dalam hati karena semakin geram, "Sial Zidan. Benar-benar tidak mau bertanggung jawab ...! Aaaagh ... Damn it!"