Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Sebagai nahkoda


__ADS_3

Malam semakin hangat, di kota kecil yang menjadi saksi bagi dua insan dewasa saling mendecaap mesra, mencapai nikmat keindahan surga dunia. Keringat mengucur deras, pada tubuh yang tengah menggeliat hebat saat keduanya saling memburu nikmat. Tidak ada kata yang keluar dari bibir indah itu, hanya mampu menyapa melalui dessahan indah yang sangat bergairah.


Pria tampan bertubuh atletis, dengan aroma maskulin, masih enggan melepas dekapannya pada wanita selembut Lyra yang masih berada diatas tubuh kekar nya. Nafas panjang mengusap lembut bagian kenyal yang dirindukan. Jemari saling menyatu dalam genggaman, menanti sang fajar menembus nirwana sang pujangga malam.


Wanita lembut bak penari saling menggenggam, bahkan tak kuasa menahan yang seketika akan mendapatkan keindahan sejati yang disatukan dalam janji pernikahan. Saat pertama saling menyapa, tanpa mau mendengar rintihan yang seketika terdengar indah dan merdu.


Pria itu penuh kelembutan melepaskan genggaman, menatap sendu mata teduh yang berada diatasnya, seketika mellumat bibir tipis nan ranum dengan aroma wangi mawar menjadi candu pertama.


"Terimakasih sayang," pria itu mengecup punggung telanjang Lyra.


Wanita itu kembali mendekap, sesuatu yang tak biasa dia rasakan, hanya mampu menikmati keindahan tiada tara dari tubuh pria muda nan tampan, Zulmaeta.


"Terimakasih untuk apa hmmm ...?" Lyra tersenyum mengecup bibir basah Zul.


Zul mendekap tubuh Lyra, menciumi cerug leher yang sangat khas baginya.


"Apa kamu menyukai ini?" Zul kembali mengecup wajah cantik dihadapannya.


Lyra tersipu malu, "Ini yang terindah Zul. Aku sangat mencintai mu, jadilah pria terhebat ku, jangan pernah berhenti berjuang untuk ku juga Kesy."


Zul mengangguk, membawa wanita itu dalam pelukan, membuat keduanya semakin terlelap. Pertemuan singkat memberikan sinyal yang luar biasa bagi mereka berdua, menghabiskan malam panjang bersama di apartemen Keluarga Ahmad Maeta.


.


Pagi menyapa, tubuh kedua insan yang tak mengenakan sehelai benangpun masih terlelap dalam pelukan yang saling mendekap.


Seketika Lyra terdengar suara bel berbunyi, dia teringat akan Kesy putri kesayangannya.


"Kesy ...!!" ucap Lyra mengambil piyama yang terletak dilantai setelah pertempuran indahnya tadi malam.


Bergegas Lyra mencuci wajahnya, menuju pintu utama melihat dari balik pintu siapa gerangan yang menyalakan bel. Dia mengintip dari lubang kecil yang tersedia di pintu apartemen seperti layaknya sebuah hotel.


Lyra melihat Kesy juga Kenny sudah berdiri didepan pintu apartemen mereka.

__ADS_1


"Honey ... Cepat pasang baju kamu. Kesy dan Kak Kenny ada di sini," ucap Lyra sudah mendekati suami tercintanya.


Zul kembali mendekap tubuh ramping itu, "Ngapain mereka kesini? Kan kita sedang berbulan madu," jelasnya malas.


Lyra mencubit perut sispack pria tampan yang sudah berhasil mendapatkan seluruh dunianya dengan manja dan geram, "Pakai dulu baju kamu, nanti kita sambung lagi. Takutnya Kesy membutuhkan aku," jelasnya.


Zul mengangguk, menuruti semua permintaan sang istri tercinta.


Lyra kembali menuju pintu, membuka pelan, karena sudah lebih dari tiga kali bel ruang apartemen yang hanya dijadikan kamar khusus oleh Zulmaeta, kala merasa jengah saat berada di rumah sakit jika berada dikota kecil itu sebelumnya.


Saat membuka pintu kamar, Kesy memeluk tubuh sang Mama penuh kerinduan, "Kesy mau minta izin sama Mama untuk ikut sama Paman Bima jalan-jalan. Semua pada pergi, Mama disini saja, buat adik yang banyak untuk Kesy."


Lyra bergidik ngeri mendengar celotehan putri kesayangannya. Baru beberapa kali mereguk keindahan malam, kemungkinan untuk menjadi seorang baby itu sangat tipis. Apalagi dia sudah lama tidak merasakan indahnya bercinta seperti itu, dia hanya tersenyum menoleh kearah Kenny sang kakak ipar.


"Ma ... Apakah Papi masih tidur?" tanya Kesy enggan untuk mendekat.


Lyra menautkan kedua alisnya, "Enggak ... sana! Bilang dulu sama Papi, kamu hati-hati jangan sampai buat Opa dan Oma kewalahan," pesannya.


Kesy mengangguk, mendekati Zul yang masih pura-pura menutup matanya, agar putri cantik itu mendekatinya.


Zul membuka matanya perlahan, mendekap tubuh mungil yang sudah berdiri di sampingnya, membawa putri kecil itu masuk kedalam selimut tebal untuk menggelitik tubuh mungil Kesy karena geram.


"Papi ... Papi ... Geli ...!" tawa Kesy pecah dicampur teriakan manja dari bibir mungil itu.


Zul menghentikan candaannya, "Kamu mau kemana sayang ... hmm," kecup Zul pada pipi Kesy.


Kesy berpikir, meletakkan tangan dibawah dagu, berbisik ketelinga Zul, "Mau jalan-jalan ... Papi disini saja sama Mama. Jangan nakal!" tawa Kesy mencubit pipi Zul dengan penuh perasaan bahagia.


"Ya ... Ya! Tapi nanti beliin Papi makanan yah?" pinta Zul pelan.


Kesy mengangguk, "Papi mau apa? Biar Kesy bilang sama Tante Ken ...!" tunjuknya pada Kenny yang duduk disebelah Lyra.


Zul meraih satu paper bag, berisikan perhiasan unik yang akan dia sematkan dileher gadis kecil itu, "Hmm ... Ini Papi beli buat Mama satu, buat Kesy satu. Jadi tolong dijaga, jangan sampai hilang."

__ADS_1


Zul juga memberikan beberapa lembar uang pada Kesy, untuk membeli makanan kesukaannya.


Sontak pemberian Zul membuat Kesy berteriak riang sebagai anak kecil yang mendapatkan perhatian lebih dari seorang pria yang baru dia kenal. Cinta yang tumbuh karena perasaan nyaman, sehingga dengan mudah gadis kecil itu berteriak riang gembira.


Kenny yang melihat kebahagiaan adik ipar dan keponakannya merasa senang. Bagaimanapun Lyra berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang belum pernah didapat olehnya selama ini.


"Lyra ... Kakak mau konsultasi sama suami kamu boleh?" tanya Kenny sedikit berbisik.


Lyra menautkan kedua alisnya, sedikit tersenyum tipis, karena berfikir Kenny sulit untuk mendapatkan keturunan.


Lyra memanggil Zul yang masih sibuk dengan Kesy, "Honey ... Kak Ken mau konsultasi sama kamu," ucapnya lembut.


Zul mendekap tubuh mungil Kesy yang masih berada diranjang, menoleh kearah Kenny, bertanya pelan, "Ada apa Kak?"


"Hmm ... Kakak sama Bang Bima sudah berobat kemana-mana untuk mendapatkan momongan lagi, tapi sampai saat ini masih belum menunjukkan tanda-tanda. Apa ada obat khusus untuk mendapatkan momongan, Zul?" tanya Kenny sedikit sungkan.


Zul mengerti maksud pembicaraan Kenny, dia mendekati wanita dewasa itu agar tidak didengar oleh Kesy, "Begini saja Kak, sebelum Kakak kembali ke Denpasar, saran saya lebih baik Kakak konsultasi sama Papa. Karena Papa lebih berpengalaman dan sudah banyak berhasil. Biasanya ada trik khusus yang akan diberikan Papa pada pasien. Tentu saja, dengan obat juga makanan sehat. Jangan terlalu lelah, apalagi kalian bekerja. Jadi kemungkinan kelelahan menjadi faktor utama dalam mendapatkan keturunan."


Kenny mengangguk mengerti, "Yah ... Apalagi stress mikirin Bara, Lyra. Dia terlalu banyak bohong sama Rusti. Membuat Mama dan Papa sering sakit-sakitan karena kelakuannya," sesalnya.


Lyra hanya mendehem, tidak ingin melanjutkan obrolan mereka tentang Bara.


Kesy yang mengetahui bagaimana Mamanya jika mendengar nama Bara, memilih meninggalkan ruang apartemen, "Kesy jalan dulu yah? Tante Kenny masih mau disini? Kesy mau sarapan sama Opa dilantai atas. Opa mau main gitar lagi," tawanya.


Zul mengusap lembut punggung istrinya, memeluk Kesy sekali lagi, kemudian membisikkan sesuatu untuk selalu menjadi gadis kecil yang ceria.


Kenny menggandeng tangan Kesy keluar dari ruang apartemen milik Zul, meninggalkan Mamanya untuk bertemu keluarga Ahmad Maeta yang sudah menunggu di lantai atas.


Setelah menutup pintu apartemen mereka, Lyra menoleh kearah Zul, sedikit bertanya dengan mata berbinar-binar bahagia, "Kita enggak sarapan honey?"


Zul justru menggendong tubuh Lyra, membawa istrinya ke ranjang peraduan mereka.


"Aaaagh, Zul ...!" pekik Lyra dengan suara manjanya.

__ADS_1


"Aku ingin sarapan kamu dulu, sayang! Buat seperti tadi malam. Kamu sebagai nahkoda yang mampu membius ku hingga melayang terbang ..." kecup Zul dileher putih Lyra.


Lyra mengalungkan tangannya keleher tegap Zul yang mengungkung tubuhnya, menjawab dengan suara manja, "Mau seperti apa? Aku siap untuk mu, honeyhh ..."


__ADS_2