
Sudah lebih dari dua hari dua insan itu menghabiskan masa cuti, seperti tidak ingin terlepas bahkan menjauh. Hotel yang hanya bisa rapih dalam hitungan menit kembali di pacu dengan wajah memohon seraya mendessah tanpa ada kata lelah.
Seperti hari ini, Lyra yang masih ingin bermain-main di bawa milik Zul, yang sudah sejak tadi minta terpuaskan.
"Please sayanghh ... Aku sudah tidak tahan ..." Errang Zul saat menikmati pijatan dan emmutan bibir indah istrinya.
Lyra justru merubah posisinya, dengan memberikan bibirnya yang lain agar Zul menikmati keindahan lembah surga miliknya.
Mendapatkan hidangan lezat seperti ini, membuat Zul enggan berpikir panjang, untuk menikmati hidangan yang ada di depan matanya.
Zul mellumat, menggigit kecil daging tersembunyi agar sang pujangga kembali mellenguh pasrah.
Benar saja, Lyra juga tak kuasa untuk berucap, dia membalikkan tubuhnya kembali menatap sang suami tercinta.
Zul meremas kuat bahu Lyra, karena sangat pintar membuatnya sulit berkata-kata.
"Kamu buat gemeshh aku, sayang. Kamu nakal, sudah berani mempermainkan aku. Aku akan menghukum mu kali ini ..."
"Aaaagh hunhh ..."
Lenguhan Lyra kembali terdengar saat milik Zul menyelusup masuk ke lembah surga milik istrinya, dan kembali memompa demi membahagiakan sang istri yang terus menerus meminta padanya ...
Entah yang ke berapa kali kedua insan itu melakukannya untuk menyalurkan hasrat liar mereka. Tanpa mengenal kata lelah, bahkan seperti haus akan hal itu, karena sama-sama mendapatkan perhatian baru dari seorang yang mereka cintai.
Cinta datang di waktu yang tepat, bahkan di saat Lyra kehilangan mantan suami, Dony. Membuat dia enggan bermanja-manja dengan suami brondong barunya.
Akan tetapi, ini kali pertama Lyra merasa kecanduan seperti wanita liar saat berada di dalam kamar berduaan dengan Zul.
Milik Zul yang panjang, dan besar, mampu memberikan kepuasan batin yang berbeda bagi wanita janda yang di nikahin nya beberapa bulan lalu, dan kini tengah mengandung buah hati mereka.
"Aaaagh hunhh ... Ak-ak-aku sam ..."
"Barengan sayanghh ..."
Sekali lagi terdengar suara rintihan panjang kedua-nya secara bersamaan dan sangat panjang.
Lagi dan lagi Zul menghentakkan pinggulnya dengan sangat cepat, saat mencapai pelepasan surganya di dalam lembah yang meremas kuat miliknya di bawah sana.
__ADS_1
"AAAAGH ... HMMFH ... OOOOGH ..."
Bibir keduanya kembali bersatu dalam lummatan panjang dan nafas yang masih memburu.
Sudah lebih dari dua kali Lyra terus meminta, karena selesai menyantap makanan sesuai permintaan istrinya dan merasakan kebahagiaan yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.
Zul memejamkan matanya, setelah melepaskan penyatuan mereka, menutup tubuh istrinya menggunakan selimut tebal yang sejak tadi berada di bawah kaki dua insan yang tengah memadu cinta.
Lyra meringkuk di pelukan Zul yang hangat, tanpa ada perasaan sungkan, karena pria itulah yang menjadi belahan jiwanya saat ini, nanti, hingga akhir menutup mata.
.
Sementara di sisi lain, Kesy tengah sibuk berenang dengan Adi adik kandung Zul. Wajah gadis kecil yang murung beberapa waktu lalu, kini kembali ceria semenjak pria yang berstatus Paman itu hadir di tengah-tengah mereka.
"Bang, tolong Kesy!" pinta Kesy manja, saat mengulurkan tangannya agar keluar dari kolam renang hotel tempat mereka menginap.
Dengan senang hati, Adi yang menyukai adik kecil perempuan itu membantunya tanpa ada perasaan apa-apa, membantu Kesy agar keluar dari kolam, dan memberi handuk kepada gadis kecil itu.
Namun, sangat berbeda dengan perlakuan Kesy terhadap Adi. Gadis kecil berusia hampir delapan tahun itu sangat berbeda dengan gadis lainnya.
Setelah kematian Dony sang Papa, dia enggan berbasa-basi dengan siapapun selain Zul, ataupun Lyra yang terus berusaha membujuknya.
Ketampanan Adi mampu membius mata hati Kesy sebagai seorang wanita, walau dia masih belum pantas untuk mengagumi seorang pria yang jauh di atasnya.
Kesy tengah asyik menikmati semangkuk ice cream, yang mereka pesan di restoran, dan semangkuk sup asparagus hangat, di selingi potongan sosis bakar di piring yang berbeda.
Adi memilih duduk di sebelah Kesy, meminta tangan mungil itu menyuapkannya.
Tentu dengan senang hati Kesy memberikannya pada Adi, dengan rona wajah memerah.
Adi mengusap lembut kepala Kesy, hanya bisa mengucapkan kata indah itu sembari berbisik, "I love you, girl ..."
Kesy merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Dia terdiam, tersipu-sipu malu sambil menjawab, "I love you too ..." dalam hatinya.
Adi mengambil handuk untuk menutupi punggungnya dari sengatan matahari yang semakin terik menyinari resort tersebut.
Kesy memulai pembicaraan mereka untuk menutupi rasa gugup saat Adi terus memandangi wajah cantiknya, "Bang, kita berangkat kapan?"
__ADS_1
"Hmm, mungkin minggu depan. Tapi kayaknya Opa enggak bisa berangkat bareng sama kita, karena ada pasien yang sudah buat janji untuk proses persalinan," jelas Adi.
Kesy mengangguk, kembali melirik kearah Adi, sambil menikmati sup yang ada di hadapannya.
Dengan sangat hati-hati, Zul dan Lyra yang sudah dua hari penuh tidak bertemu dengan putri kesayangan, memeluk Kesy dari belakang.
"Baaaghh ...!"
"Mama ... Papa ...! Kok enggak pake keluar kamar siih? Aku kan jadi kesel, bingung mau ngapain. Untung ada Bang Adi sama Tante Kenny dan Om Bima. Tapi mereka entah kemana. Sepertinya orang dewasa lebih suka di dalam kamar dari pada menemani aku!" sungut Kesy dengan wajah cemberut.
Zul memeluk tubuh mungil putri kesayangan, menggendong Kesy agar kembali ke kolam renang.
"Aaaagh, Papi!!!"
Byuuur ...!
Zul sudah membawa putri kesayangannya, untuk berenang bersama tentu dengan persetujuan sang istri Lyra yang masih enggan menyentuh air kolam, setelah berendam di dalam bathtub bersama suami tercinta.
Mereka tertawa bahagia, bermain bersama, dengan Adi menyusul Kesy dan Zul, yang kembali ke dalam kolam.
Beberapa kali Lyra menatap Zul penuh cinta, mengisyaratkan sesuatu yang berbeda. Kali ini wanita dewasa itu benar-benar tampak cantik dan semakin tak kuasa menyembunyikan perasaannya.
Adi yang menyadari kedua pengantin baru itu semakin aneh, kembali menarik perhatian Kesy, agar tidak rewel sesaat Zul naik dan duduk di bibir kolam, untuk menikmati segelas minuman yang suguhan kan Lyra.
"Makasih yah sayang ..."
Lyra menautkan kedua alisnya, "Makasih untuk apa? Bukankah kamu suami ku, pahlawan ku yang harus di jaga, dari mata wanita muda itu hun ... Aku cemburu, dari tadi mereka lihatin badan kamu ..." rengeknya meringkuk di dada Zul, tanpa berpikir enggak mau basah-basahan lagi, seperti awal akan menghampiri putri kesayangan mereka.
Zul yang mendengar penuturan istrinya tertawa geli, karena seorang Lyra yang selalu menutupi perasaannya kini jauh lebih manja dan posesif semenjak mengetahui tentang kehamilan nya, membuat iya tidak malu-malu lagi di hadapannya.
Di tambah lagi, Zul berurusan dengan semua wanita dari berbagai macam jenis usia.
"Kamu senang aku cemburu ..."
"Ya, iyalah! Mereka enggak tahu aja, istri aku kayak apa liarnya di ranjang ..."
"Hunhh ... Nakal ih ..."
__ADS_1