Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Jangan kecewakan


__ADS_3

Suasana semakin dingin ... Cuaca di bandara internasional Frankfurt semakin terasa sangat sejuk, membuat tubuh Hani dan Hana merasakan sedikit sesak pada saluran pernafasannya.


Kedua buah hati Lyra dan Zul, memiliki riwayat hipotermia yang tidak mampu bertahan jika mengalami perubahan cuaca hingga minus sepuluh derajat celcius.


Bibir kedua putri kesayangan mereka bergetar juga membiru. Untung Zul dengan sigap menyalakan pemanas suhu ruangan didalam mobil, saat menunggu orang tua serta mertuanya.


"Papi ... Kann ich bitte eine sehr dicke Decke haben? Mein Körper ist knochenlos, weil die Kälte alle meine Gelenke steif macht ..."


(Papi ... Bisakah aku meminta selimut yang sangat tebal? Tubuhku seperti tak bertulang karena dingin membuat seluruh persendian ku kaku ...")


Mendengar permintaan kedua putri kesayangannya, Lyra bergegas menuju bagasi belakang, mencari selimut yang biasa mereka bawa jika berpergian jarak jauh, agar kedua putri kembar mereka kembali merasakan kehangatan.


Zul mendekap tubuh mungil Hani juga Hana, agar kehangatan dari seorang Ayah dapat dirasakan bagi kedua putri kesayangan mereka.


Lyra sengaja menunggu mertua juga orangtuanya di pintu kedatangan, dengan balutan jaket tebal, di temani Haris sang putra kesayangan.


Tak menunggu lama, mereka bertemu dengan kedua orangtuanya yang tampak semakin tua, namun masih kuat untuk melakukan perjalanan selama 16 jam dalam penerbangan.


Lince memeluk cucu kesayangannya, mengusap lembut kepala Haris dengan penuh kerinduan yang teramat sangat.


Semenjak ketiganya lahir ke dunia, hanya dua kali mereka di pertemukan di negara panser tersebut. Kerinduan seorang Oma terlihat jelas saat Eni menyentuh puncak kepala cucunya.


Eni bertanya, karena tak melihat kedua buah hati perempuan putranya, "Mana Hani dan Hana Lyra?"


Lyra menunjuk ke arah mobil, "Mereka lagi kedinginan Ma, Zul sedang mendekap Hani dan Hana."


Eni memeluk tubuh menantunya dengan penuh kasih sayang. Baginya Lyra merupakan menantu yang baik, walau pernah melakukan kesalahan fatal bagi keluarga mereka.


Begitu juga Ahmad, sangat bahagia memeluk menantu kesayangannya, "Bagaimana? Sudah siap untuk menjadi Oma muda?" godanya saat memeluk sang menantu terbaiknya.


Lyra hanya bisa tersenyum tipis, mata indah itu seketika berkaca-kaca menahan tangis.

__ADS_1


Ahmad mencoba untuk menenangkan sang menantu, sedikit menghibur, "Kita akan berlibur ... Jadi Papa minta cepat nikahkan Kesy dan Adi, karena kita akan membawa mereka berlibur bersama ..."


Lyra mengangguk patuh, namun Lince dan Boy hanya menatap wajah putrinya dengan penuh perasaan kesal yang bercampur aduk.


Bagaimana mungkin menikahkan anak yang masih berusia 17 tahun. Hanya itu yang ada dalam benak pikiran Lince serta Boy selaku Oma juga Opa dari Kesy. 


Lyra membawa orangtuanya, agar memasuki mobil yang cukup besar, untuk segera kembali ke Berlin. Tentu dengan pemandangan yang sangat aneh, melihat Hana dan Hani telah terlelap dalam tempat yang telah mereka sediakan. Tentu saja dengan pemanas ruangan mobil yang menyala.


Ahmad memeluk tubuh Zul, mengusap lembut punggung putranya, tak ingin membahas masalah Adi dan Kesy dihadapan Haris.


Haris tampak kebingungan dan asing, karena tidak memahami bahasa Indonesia.


Wajah kecil itu hanya bisa meringkuk di pangkuan sang Mama, sedikit merengek meminta susu coklat yang ada di bagasi belakang.


"Mama, ich möchte Schokoladenmilch trinken ..."


(Mama, Aku mau minum susu coklat ...)


Boy yang tampak bingung, karena tidak memahami bahasa Jerman, membuat dia mengomeli Lyra.


"Seharusnya kamu mengajarkan ketiga buah hatimu untuk bicara bahasa Indonesia. Kalian itu orang Indo, bukan Jerman!" sesalnya.


Lince yang mendengar penuturan suaminya mengangguk setuju.


Namun tidak untuk Eni, mertuanya sangat memahami bagaimana anak-anak diusia Haris yang terbiasa berinteraksi dengan teman seumurannya, tanpa menggunakan bahasa Inggris.


Sekolah dasar yang hanya di isi warga Jerman, tidak membiasakan mereka untuk berbicara bahasa Inggris apalagi Indo.


Kelahiran ketiga buah hati cucunya di negara panser tersebut, membuat mereka lebih mudah mendapatkan kewarganegaraan di sana. Namun, Zul lebih memilih ketiga anak mereka yang memiliki dua warga negara, sementara dia dan Lyra masih menjadi warga negara Indonesia, karena status pekerjaan mereka.


Kemudahan-kemudahan itulah yang membuat mereka mengurungkan niat untuk kembali ke Indonesia, di tambah Lyra lebih tenang berada di Berlin, di bandingkan harus kembali ke kota kecil itu.

__ADS_1


Kini mobil telah terparkir di basemen apartemen. Zul mempersilahkan Boy dan Lince untuk turun lebih dulu. Karena dia harus menghubungi Adi agar menyusul mereka ke bawah untuk menggendong Hani.


Bergegas Adi mengikuti semua perintah Zul, meninggalkan Kesy yang berjibaku di dapur menemani Betris yang tengah mempersiapkan makan sore untuk menyambut Keluarga Ahmad.


Saat tiba di basemen, Adi memeluk erat tubuh Ahmad penuh kerinduan. Begitu juga Eni yang mengusap lembut punggung putra yang telah ia besarkan tanpa ada perbedaan antara Zul dan dirinya.


Ahmad menepuk pipi Adi, bertanya seakan-akan kesal, dengan tatapan penuh kerinduan, "Kenapa kamu tidak mampir saat kembali ke Jakarta hmm?"


Adi tersenyum, "Enggak bisa mampir Pa. Mudah-mudahan setelah menikah aku akan mampir ..."


Dengan penuh rasa hormat, Adi memeluk tubuh Lince juga Boy secara bergantian. Wajah tampan itu tidak terlihat bahwa dirinya merupakan anak angkat dari keluarga terpandang Ahmad Maeta.


Mereka bergegas menuju lantai atas, membawa Hani juga Hana dalam gendongan Zul juga Adi.


Saat ini, Adi belum mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Tujuan Eni dan Ahmad tiba ke Berlin hanya untuk menyampaikan semua kebenaran tentang siapa Adi sebenarnya, dan memberi restu pada pria itu untuk menikah dengan Kesy walau berat menerima kenyataan atas cemoohan kerabat dekat mereka nantinya.


Namun, Ahmad dan Eni telah bertekad semua demi kebahagiaan anak-anak mereka.


Sama halnya, saat Zul memantapkan hati untuk mempersunting seorang janda atas izin Eni. Namun semua itu menjadi pertimbangan yang matang bagi Ahmad. Karena menutup mulut kerabatnya cukup dengan prestasi, bukan menjawab cemoohan mereka dengan amarah.


Kini Zul telah meletakkan kedua buah hatinya, di kamar putri kesayangannya, melihat kondisi kamar Kesy untuk memastikan apakah adik dan putrinya dapat di percaya ...


Zul tersenyum tipis, "Hmm ... Ternyata Kesy benar-benar takut sama Betris! Ternyata istri ku ada baiknya menjadi monster ..." tawanya menyeringai kecil, saat melihat kamar putrinya tidak berantakan layaknya orang tengah bermadu kasih.


Perlahan Zul menghampiri Lyra, sedikit berbisik, "Aku di ruang kerja yah? Mau ngobrol dengan Adi. Mama dan Papa juga ikut ngobrol, kamu temani orang tua kamu dulu. Nanti aku panggil, selesai ngobrol, baru kita makan bersama ..."


Lyra mengangguk, melirik kearah Boy yang terus memeluk cucu kesayangannya, Kesy.


"Zul ... Jangan kecewakan Kesy! Aku mohon katakan itu pada Adi ..."


Zul hanya mengecup lembut kening istrinya ...

__ADS_1


__ADS_2