
Suasana kediaman Ahmad Maeta terlihat sepi. Lyra telah kembali ke kediaman Zul membawa Kesy bersama mereka.
Sementara Adi pergi bersama Eni untuk mencairkan cek senilai dua milyar tanpa sepengetahuan Ahmad juga Zul.
Pikiran Eni dibuat pusing oleh permintaan Kesy pada Adi, sesuai yang di ceritakan putra tirinya pada wanita paruh baya tersebut, hanya karena ingin melihat anaknya bahagia. Eni menelan bulat-bulat semua yang di sampaikan Adi padanya, tanpa mencari tahu apa sebenarnya maksud dan tujuan anak tirinya itu.
Sepanjang jalan, Eni menasehati Adi ... Agar tegas pada Kesy, dan jangan mengikuti semua keinginan istrinya.
"Setahu Mama, Kesy itu tidak banyak belanja. Dia selalu meminta yang biasa saja sama Zul juga Lyra. Kenapa dia jadi meminta yang aneh-aneh sama kamu? Ingat Di, kamu sebagai suami harus tegas kayak Abang. Lihat Bang Zul, Kak Lyra tidak pernah membantah apapun! Karena apa? Karena Bang Zul bisa mengendalikan istrinya. Nah ... Kesy yang masih seumur jagung sudah minta barang-barang mewah? Tidak masuk akal! Tapi ya sudah, biar kamu menjadi suami yang bisa dihargai, Mama ikutkan semua keinginan kamu. Tapi jangan sampai Papa dan Abang tahu! Kamu mengerti?!" tegasnya.
Adi mengangguk, dia mengusap lembut punggung sang Mama, yang benar-benar sangat menyayangi nya sama halnya Zul.
Sepanjang perjalanan, Adi tersenyum sumringah, wajahnya berseri-seri karena melihat saldo tabungannya sudah bertambah.
"Hmm ... Setelah aku mencukupi semua kebutuhan Kesy, aku bisa menikahi Laura, dan tinggal bersamanya di Munich. Aku yakin, setelah menikah dengan Laura, hidup ku akan menjadi lebih sempurna ..." senyumnya menyeringai lebar, fokus pada badan jalan menuju kediamannya.
Setibanya dikediaman Keluarga Ahmad, Adi mencari keberadaan Kesy dan bertanya pada bibi yang masih berkemas-kemas di dapur.
"Kesy mana, bi? Kok barang-barangnya pada enggak ada didalam kamar?"
Bibi yang mendengar pertanyaan anak majikannya, menoleh kearah Adi, menatap wajah pilot tampan tersebut.
"Kan di bawa Abang ke Nirvana. Emang Kesy enggak ngomong sama Bang Adi?"
Adi yang mendengar jawaban bibi, sedikit kesal membuat dia berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Bener kata Mama, aku harus tegas pada Kesy. Aku akan menjemput nya, dan membujuk dia untuk kembali kesini. Tapi bagaimana jika dia tidak mau? Aaagh ... Biar saja dia di rumah Abang, aku bisa telponan sama Laura malam ini ..."
Benar saja, Adi menghubungi wanita cantik yang berprofesi sebagai pramugari itu, untuk saling bercerita melepas kerinduan.
["Ya sayang ..."]
__ADS_1
["Hmm ... Kamu belum tidur honey?"]
["Belum. Mana istri kamu? Apakah dia tidak ada di rumah? Sehingga kamu berani menghubungi aku malam-malam begini?"]
["Kesy sedang menginap di rumah Abang. Oya, kamu jadi kembali ke Berlin minggu depan? Aku rindu banget Honey, pengen melakukan hal yang pernah kita lakukan dulu ... Benar-benar merindukan mu. Aku ingin menikahi kamu, honey. Sebagai pria yang bertanggung jawab! Kamu harus patuh, dan aku akan adil pada kamu juga Kesy. Karena kamu tahu sendiri, Kesy tidak bisa aku ceraikan!"]
Laura hening di seberang sana. Entah mengapa hatinya seketika merasa ragu untuk menerima pinangan dari Adi.
["Sayang ... Lebih baik kita tidak usah menikah. Kita tinggal bersama saja di apartemen keluarga kamu. Emang Mama Eni sudah ngomong sama Bang Zul agar segera pindah dari sana?"]
Adi berfikir sejenak ...
["Bagaimana kita tinggal di Munich? Karena tidak mungkin aku membawa kamu ke apartemen keluarga ku. Karena akan berdampak pada hubungan ku dengan Kesy!"]
Laura hanya mendengus dingin, mendengar penuturan Adi di seberang sana.
["Enak sekali gadis kecil itu! Tinggal di apartemen mewah sama kamu. Terus aku dikasih apartemen yang kecil. Aku pikir-pikir lagi deh, lebih baik hubungan kita begini saja. Jika kangen baru ketemu!"]
Adi yang mendengar ucapan dari Laura di seberang sana, menjadi kelabakan. Bagaimana mungkin, dia sudah mengorbankan perasaan Kesy, tapi harus kehilangan Laura hanya karena sebuah apartemen.
["Hmm ... Tapi kamu pasti pisah ranjang dari gadis kecil itu, kan? Satu lagi, gaji kamu siapa yang pegang?"]
["Yah Kesy, honey! Dia tahu semua tentang gaji aku, dan perusahaan kan memang akan mengirimkan buktinya setiap bulan. Kamu tahu bagaimana Lutfhansa memberikan tunjangan dan gaji jika sudah menikah!"]
Terdengar suara kesal Laura dari seberang sana yang mendecih.
["Apa yang aku dapat dari kamu jika menikah dengan sama kamu? Terus apa untungnya jika aku menjadi simpanan kamu? Enggak ada, kan? Semua gadis kecil itu yang berkuasa. Ya sudah, sama dia saja. Bye ..."]
["Laura ... Laura!"]
Adi membanting handphone pipih nya dengan sangat keras. Bagaimana tidak, semua sudah berikan pada istrinya, sesuai permintaan Kesy agar mendapatkan izin menikah dengan Laura.
__ADS_1
Akan tetapi, tuntutan Laura sama halnya dengan seorang istri pertama.
"Aaaagh ... Bagaimana aku harus mengatakan pada Kesy agar dia tinggal di Munich? Sementara uang yang di kasih Mama, hanya cukup untuk membelikannya rumah agar tidak menjadi bulan-bulanan bagi Papa juga Bang Zul. Hmm ... Kalau Bang Zul dan Kak Lyra membeli rumah baru di Berlin, aku bisa memberikan tempat tinggal yang layak untuk Laura dari uang pemberian Mama!"
Adi merebahkan tubuhnya di ranjang kamar, berkhayal tentang indahnya hidup bersama Laura. Pengkhianatan yang dulu pernah terjadi, itu hanyalah kekhilafan belaka. Karena Adi baru menyadari, kurang memberikan perhatian pada Laura kala mereka bersama.
"Tapi kalau aku beliin rumah untuk Laura, dan Mama mengetahui Kesy tinggal di apartemen keluarga, waduh ... Bisa berabe nih. Aku bisa di campakkan dari kartu keluarga, dan tidak mendapatkan harta satu sen pun dari keluarga ini. Bagaimanapun, Mama sangat menyayangi aku, begitu juga Papa ..."
Memang benar, jika di lihat dari silsilah keluarga Adi yang sesungguhnya. Orang yang melahirkan Adi merupakan keluarga yang kurang beruntung secara finansial.
Namun apa yang ia dapatkan kali ini merupakan hal yang luar biasa karena tumbuh dari keluarga terpandang, dan dapat mengangkat derajatnya selama hidup di dunia yang fana ini.
Adi melirik kearah jam dinding yang berdetak, dia meragu untuk menjemput sang istri ke kediaman Zul, karena pasti akan mendapatkan perlakuan kasar dari pria berwatak keras itu, jika keluarga kecilnya terancam.
"Aaaagh ... Bang Zul! Kalau Abang mau mencoba untuk membuka hati memiliki istri lebih dari satu, pasti hidup Abang akan bahagia. Tapi Papa saja tidak pernah selingkuh, apalagi Abang. Bodoh sekali kalian, memiliki uang banyak tapi tidak menikmati indahnya hidup di dunia ini. Maafkan Abang Kesy, Abang akan tetap pada pendirian diawal menikah dengan Laura ..."
Lagi-lagi Adi tersenyum, menatap foto kebersamaannya dengan Laura yang lebih intens.
"Honey ... I love you ..."
_____
Hai hai hai reader ...
Salam Oktober ceria, mumpung author bulan ini kembali bersemangat ... author akan bagi-bagi give away sesuai yang diacak berdasarkan top fans ...
Untuk give-nya othor pemes akan memberikan 'Jilbab ataupun Daster' agar mempermudah para reader mencari posisi terindahnya membaca karya Tya Calysta.
Periode ketiga ini berakhir pada tanggal 28 Oktober 2022 ...
Oya, jangan lupa juga untuk mampir di karya othor Gairah Janda Rebutan' dan Merebut Hati Suami Mayor ...
__ADS_1
Dua cerita itu juga ada give yang sama, semoga bermanfaat dan salam sehat ...
Terimakasih ...😘😍🌹