
Zul menatap lekat wajah Adi yang mencoba menyembunyikan sesuatu dari nya. Pria itu tahu persis nama obat yang tertera, bahkan sangat memahami jenis obat apa yang ada dalam genggamannya saat ini.
Dengan mata menutup pelan, di berusaha menyimpan semua agar Lyra tidak semakin tersulut emosi yang tampak panik, bahkan akan mencampakkan Adi dari gedung apartemen keluarga mereka.
Zul memasukkan botol obat tersebut ka dalam saku kemejanya, bergegas menggendong tubuh putrinya untuk di bawa kerumah sakit.
'Sial! Kenapa berani sekali Adi memberikan obat-obatan itu pada Kesy ...? Apakah Adi sama sekali tidak tahu kondisi putri ku, bahwa tubuh nya tidak bisa mengkonsumsi obat keras seperti ini ...' geramnya.
Lyra mengikuti langkah Zul, sementara Adi mengikuti langkah abang dan kakak iparnya dari belakang.
Ambulans yang telah menunggu mereka di bawah. Pihak rumah sakit bergegas membawa tubuh lemah Kesy, yang dengan sigap telah terpasang selang infus dan oksigen agar gadis belia itu dapat bernafas seperti biasa, tidak merasa sesak dari pengaruh obat-obatan dia konsumsi beberapa menit lalu.
Lyra terus mengusap lembut punggung tangan Kesy, sesekali mencium tangan halus yang masih berada dalam genggamannya.
"Maafkan Mama sayang. Mama janji, ini yang terakhir kalinya Mama melakukan kesalahan pada mu! Bertahanlah nak! Mama sangat menyayangi mu ..."
Lyra terus menatap wajah yang masih terlihat pucat, dengan mata tertutup, namun buliran bening itu jatuh dari sudut mata gadis kecil tersebut.
Adi yang tampak ketakutan karena telah melakukan kesalahan, demi menyelamatkan dirinya sendiri dia hanya bisa diam tanpa banyak bicara. Matanya melirik kearah Zul yang memberikan jenis obat pada pihak perawat untuk memberikan pertolongan pertama agar dapat menetralkan tubuh putrinya.
Ada penyesalan dalam hati Adi. Andai saja malam itu dia tidak terlalu terburu-buru, karena pertengkaran nya dengan Laura malam naas tersebut, mungkin tidak akan terjadi seperti ini.
Sudah lebih dari dua minggu Adi tidak pernah bertemu dengan Laura untuk menyelesaikan semua masalah mereka, yang telah memutuskan pertunangan secara terang-terangan di hadapan Zidan sang selingkuhan Laura.
Walau masih menjadi bahan pertimbangan oleh kedua keluarga, namun Adi belum dapat menjelaskan secara gamblang, karena belum ada kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya, juga Keluarga Laura yang berada di Singapura.
Adi termenung di koridor rumah sakit, begitu juga dengan Lyra yang sejak tadi mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan dokter untuk Kesy, putri belia kesayangan mereka.
Zul yang masih berada di unit gawat darurat, ikut andil menyaksikan tindakan medis yang di lakukan pada Kesy yang masih terbaring belum sadarkan diri.
Dokter Heru menghampiri Zul, menepuk pundak pria yang tampak khawatir melihat kondisi Kesy ...
"Tenanglah, dia hanya meminum pil penunda kehamilan, dan itu tidak cocok pada tubuhnya. Aku rasa gadis seusianya, tidak tahu akan dampak pil tersebut. Mudah-mudahan tidak menggangu alat reproduksinya suatu saat nanti," jelasnya.
Zul menatap mata Dokter Heru, memastikan bahwa putrinya tidak akan seberani ini. Memberikan jawaban melalui tatapan mata.
__ADS_1
"Apakah akan berdampak pada kondisi dia jika sudah menikah?"
Zul tahu persis, jenis obat yang di berikan Adi pada Kesy, merupakan obat khusus wanita dewasa, dan hanya di berikan untuk wanita yang sudah menikah dan bekerja dalam kontrak kerja seperti Laura sebagai pramugari.
'Sialan anak itu! Dia mau melakukannya, tapi menunda untuk bertanggung jawab atas kelakuan bejatnya ..."
Zul menggeram, meremas kuat kedua tangannya, namun lagi-lagi matanya tertuju pada wanita di balik kaca yang melihat dengan wajah yang penuh rasa khawatir dan cemas.
"Dok, saya panggil Lyra dulu. Kebetulan dia berada di sini ..."
Dokter Heru mengangguk, namun saat Zul akan beranjak mendekati Lyra, ia di tabrak oleh seorang dokter wanita spesialis yang pernah menaruh rasa pada pria empat orang anak tersebut ...
BRAAAK ...!
"Aaauugh ..."
Refleks Zul menyambut tubuh Kanza agar tidak terjerembab di lantai ruangan unit gawat darurat. Dengan merangkul erat tubuh wanita itu.
"Kanza ...?"
Kanza melepaskan tubuhnya dari dekapan pria yang pernah dia kagumi.
Seketika Zul tersadar, bahwa ada istrinya yang masih melihat dari balik pintu ruang unit gawat darurat dalam kecemasan seorang Ibu menanti kabar putri kesayangan mereka.
"Ya, aku masih di sini. Mungkin lusa aku akan kembali ke Indo, bersama anak-anak ku. Maaf, istri ku menunggu di luar ..."
Kanza tampak kebingungan, dia melihat kearah pintu yang akan di buka Zul, kembali melihat Dokter Heru, dari balik tirai yang hanya terbuka sedikit.
Dengan santai Kanza tersenyum tipis, melihat dari kejauhan wajah gadis yang terbaring lemah menggunakan alat bantu pernafasan.
Lyra memeluk Zul saat melihat suaminya keluar dari pintu mendekatinya. Tubuh ringkih itu seketika menangis lagi dan lagi.
Zul hanya mengusap lembut punggung istrinya, menghela nafas panjang, kemudian bertanya, "Kamu mau masuk ke dalam menemani Kesy? Kebetulan aku masih ada urusan dengan Adi. Setelah Kesy siuman, kita akan kembali ke Indo. Aku ingin menjelaskan semua pada Mama dan Papa. Aku tidak ingin melihat Kesy jatuh lebih dalam lagi. Saat ini, tolong dengarkan aku. Please ..."
Lyra yang masih menangis tersedu-sedu, hanya mengangguk setuju, mencoba berdamai dengan keadaan yang sesungguhnya ia pun tidak menyukainya. Sangat bertolak belakang dari yang dia tanamkan pada dirinya sendiri hingga anak-anaknya.
__ADS_1
Zul menarik tangan Lyra untuk masuk ke ruang unit gawat darurat, yang harus mengenakan pakaian steril, tanpa alas kaki, dan sarung tangan yang di sediakan di sana.
Perlahan Zul menyapa Dokter Heru, sesekali melirik kearah Kanza yang ternyata tengah berada di sekitar mereka.
Tampak Kanza menunduk hormat pada Lyra, namun tak di acuhkan oleh wanita dewasa tersebut, karena kondisinya masih bersedih melihat putrinya yang masih terbaring lemah.
Zul berbisik pada Dokter Heru, "Saya keluar dulu, dok! Karena ada sesuatu hal yang harus saya selesaikan. Jika ada apa-apa, bisa langsung bicara pada Mamanya Kesy," jelasnya.
Dokter Heru mengangguk, tapi apapun yang telah ia sampaikan pada Zul, tidak akan dia sampaikan pada Lyra. Menjaga perasaan seorang Ibu jika mendengar anak-anak gadis mereka mengkonsumsi obat yang tidak di perjual-belikan secara bebas.
Dengan langkah cepat, Zul keluar dari ruangan perawatan, mencari sosok Adi. Dia melihat adiknya masih menunduk di kursi seorang diri tanpa ada yang menemaninya.
Zul mendekati Adi. Ada kegetiran yang sangat menyakitkan bagi seorang Papi yang mengetahui bahwa anak gadisnya di rusak oleh pria yang enggan bertanggung jawab atas diri Kesy.
Zul memilih duduk disamping Adi, menatap dinding yang sama, dengan tatapan kosong dan hampa.
Zul bertanya seakan-akan tidak memiliki hubungan keluarga dengan Adi, "Apa maksudnya kamu memberikan kedua obat itu pada Kesy? Apakah kamu ingin melakukannya lagi dan lagi, terus tidak ingin menikahi putri ku?"
Adi menoleh kearah Zul, tatapan mata yang menyiratkan penyesalan semakin dalam ...
"Bang, bukan begitu! Aku-aku-aku ..."
Zul tersenyum tipis, mendengar suara gugup dari samping kanannya, meremas kuat tangan sendiri yang sedari tadi menggeram.
"Bukan begitu apa? Jelaskan pada ku, sebelum aku hancurkan karir mu!"
"Bang!"
Adi tidak menyangka bahwa Zul akan melakukan hal yang lebih mengancam karir yang selama ini ia rintis ...
"Aku akan menikahi Kesy. Itu janji ku, tapi tolong beri aku waktu untuk menemui Keluarga Laura juga Mama dan Papa ...!"
"Bagaimana jika Laura tidak ingin memutuskan pertunangan kalian, dan meminta kamu menikahinya?"
Pertanyaan Zul, seketika membuat kepala Adi kembali berpikir ulang akan hatinya ...
__ADS_1