
Sudah lebih dua minggu kepergian Dony meninggalkan dunia yang fana ini. Hanya menyisakan semua kenangan terindah di hati wanita bernama Lyra, tanpa mau melepaskan semua kenangan mereka.
Lyra mengambil kunci mobilnya dari dalam laci meja kantor, bergegas melangkah meninggalkan ruangannya. Kali ini dia ingin mencari tahu tentang kandasnya hubungan Dony dan Luna.
Langkah kakinya terhenti seketika, karena melihat kehadiran pimpinan pusat tiba di kantor mereka. Tentu saja Lyra mundur perlahan, segera memasuki ruangan Lela sahabatnya.
"Hei ... Pak Luqman datang dari pusat! Siap-siap kita bakal rapat dan kembali di audit. Mati aku, kerjaan ku belum selesai!" cerita Lyra di ruangan Lela dengan suara pelan.
Lela yang mendengar penuturan sahabatnya mengintip sedikit kearah luar, melihat beberapa team audit, dan Pak Luqman yang di sambut hormat oleh semua rekan kantor mereka.
"Kenapa tidak ada pemberitahuan beliau datang, Lyra? Kok mendadak? Mampus kita ...!" tepuk Lela pada keningnya yang mengkilap.
Kedua wanita itu hanya bisa mengintip dari dalam ruangan, berharap tidak akan ada rapat siang itu.
"Ck ... Bisa-bisa kena semprot kita!" bisik Lyra di telinga Lela.
"Ho oh ... Cepat, balik ke ruangan kamu. Jangan sampai saat panggilan rapat semua berkas belum rampung!" perintah Lela mengingatkan sahabatnya.
Akan tetapi, saat Lyra akan berhamburan keluar ruangan, kedua wanita yang sengaja mengendap-endap di ruangan Lela tersebut, di labrak oleh Pak Sardi dengan wajah tersenyum sumringah.
"Lela, pesankan makan siang! Kita makan siang bersama, restoran biasa saja!" perintah Pak Sardi.
Lela menunduk hormat, hanya menjawab, "Baik Pak ..."
Namun, Pak Sardi masih enggan beranjak dari ruangan itu, melirik kearah Lyra yang pura-pura tidak melihat kehadiran sang pimpinan.
"Kamu, Lyra ...! Pak Luqman manggil!" ucap Pak Sardi menutup pintu ruangan itu kembali.
Lyra menarik nafas panjang, mengusap lembut kepalanya, "Laporan aku belum beres semua. Karena kematian Dony juga aku belum memindahkan uang ku! Jangan-jangan aku kenal audit nih!" rungutnya.
Lela hanya menaikkan kedua bahunya, memesan beberapa pack makanan untuk makan siang mereka bersama pimpinan.
Tentu Lyra meninggalkan ruangan Lela, mengambil semua berkas pekerjaannya untuk mempertanggungjawabkan semua laporan pekerjaan seperti biasa.
__ADS_1
Lyra berjalan menaiki anak tangga, sesekali melihat layar handphone yang berdering karena Zul menghubunginya.
["Ya hun ... Sebentar yah? Aku mau rapat!"]
["Oooogh ... Oke!"]
Mereka menutup sambungan telepon seluler, kembali tangan halus itu memasukkan handphone ke dalam saku bajunya.
Lyra mengetuk pintu ruangan Pak Sardi, di sambut secretaris cantik pimpinannya, yang telah menunggu kehadiran wanita cantik itu sejak tadi.
Pak Luqman menyambut kedatangan Lyra, menyalami wanita cantik itu untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat Bu Lyra, akhirnya Anda lulus ujian untuk berbakti kepada pemerintahan negara tercinta ini," tawa Pak Luqman memberi sebuah amplop pada Lyra.
Lyra yang tampak kebingungan, sedikit sungkan. Karena merasa amplop yang dia terima sangat besar dan tebal.
'Apakah ini segepok uang untuk berangkat?' tanya Lyra dalam hati.
Namun, dia hanya menerima dan duduk di hadapan Pak Sardi. Lyra sedikit penasaran, siapa pengganti dirinya jika dia meninggalkan kota kecil tersebut.
Pak Sardi menjawab cepat, "Saya mengajukan Lela atau Sisi. Karena Sisi, sudah terlalu lama di kota lain dan mesti kembali dua minggu sekali. Kan, kasihan juga dengan keluarga mereka."
Paka Luqman mengangguk-angguk, sambil memikirkan nama kedua wanita yang di sebutkan oleh Pak Sardi.
"Saya cek dulu prestasi mereka, kita adakan ujian saja dulu, kandidatnya mereka berdua. Karena ini menyangkut keuangan dan harus teliti," jelas Pak Luqman.
Lyra hanya bisa diam, enggan untuk menjelaskan. Karena sejak awal dia berada di kota itu hanya untuk meneruskan kariernya, dan sewaktu-waktu bisa pergi dari sana, agar bisa berkumpul dengan Lince dan Boy suatu hari nanti bersama keluarga kecilnya kala itu.
Mereka berbincang-bincang selayaknya pimpinan dan bawahan, sehingga makan siang tiba dihadapan para pemimpin tersebut.
Setelah menikmati makan siang yang lezat bersama para pimpinan pusat yang datang secara mendadak untuk melakukan audit keseluruhan di bagian keuangan pemerintahan daerah tersebut ...
Tentu Lyra merasa sakit kepala karena pekerjaan itu harus rampung sebelum keberangkatannya ke Berlin beberapa minggu lagi. Sementara harus menghadapi perencanaan pesta besar yang akan di adakan seminggu lagi.
__ADS_1
Kuduk Lyra serasa pegal, karena harus di hadapkan dengan berbagai pekerjaan yang akan menyita waktu dan perhatiannya.
Lyra menuruni anak tangga dengan langkah gontai, menuju ruangannya. Menarik nafas dalam-dalam, memberi semangat pada diri sendiri.
Sekali lagi handphone miliknya kembali berdering, menunjukkan waktu pulang kerja karena menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat.
["Ya hun ..."]
["Kamu dimana? Masih rapat? Aku sudah di ruangan kamu, orangnya tidak ada, sayang ..."]
["Sudah di bawah hun, nih udah di belakang kamu ..."]
Zul membalikkan tubuhnya, melihat wajah istrinya yang tampak lelah. Wajah tampan itu tampak menyiratkan rona bahagia melihat sang istri dengan menunjukkan beberapa undangan resepsi pernikahan yang akan di berikan kepada rekan kantor Lyra.
Lyra menarik nafas dalam, memeluk tubuh gagah suaminya yang terlihat sangat bahagia dan tampan dengan balutan baju kaos pria muda yang modis.
"Aku siap-siap, Kesy sudah di jemput, hun? Tadinya aku mau kabur dari kantor, tapi malah kedatangan team audit dari pusat. Semoga minggu depan pas resepsi pekerjaan aku sudah selesai," celoteh Lyra saat memasuki ruangannya.
"Tadi Mama yang jemput, karena mau fitting baju anak perempuan. Kamu kapan mau fitting? Bisa hari ini, atau besok pagi ...!" kecup Zul pada bahu istrinya yang masih mempersiapkan semua berkas pekerjaan yang akan di bawa ke rumah.
"Besok saja ..."
Lyra menghentikan aktifitasnya sesaat, saat Zul masih agresif untuk memberikan ketenangan padanya selaku istri seorang dokter.
"Hun ... Bisa berhenti dulu nggak ciumin aku!" rengek Lyra membalikkan tubuhnya.
Zul memeluk tubuh ramping istrinya, "Aku bahagia bisa menjadi pendamping mu. Setidaknya, walau kamu tidak bercerai dari almarhum Dony, kamu tetap akan menjadi istri seorang perjaka seperti ku! Apa kamu tidak menyadari takdir itu nyata, sayang? Kamu memang di ciptakan untuk menjadi wanita terbaik ku. Oya ... Aku lihat, sudah dua bulan kamu tidak datang bulan, apa kamu tidak menyadarinya?"
Lyra terdiam, sekaligus mengingat kapan terakhir kali dia periode.
"Hmm ... Aku belum cek, tapi tubuh ku seperti tidak sehat beberapa hari ini, hun ... Mungkin karena aku pengen di manja sama kamu," goda Lyra manja, memberikan bibirnya agar di kecup oleh sang suami.
Zul yang tak kuasa menahan hasratnya sore itu, hanya bisa memberikan kesejukan lewat kecupan-kecupan kecil pada sang istri.
__ADS_1
"Hun ... Stop, ini masih di kantor ..."