
Lyra menggelengkan kepalanya, sedikit menunduk, tanpa dia sadari memberikan pemandangan yang sangat indah dan mengejutkan bagi Zul, saat pertama kali melihat gundukan besar ada di hadapannya.
["Sayang.... mau kah kamu memberikan yang ada dihadapan ku malam ini...!?"]
Lyra menautkan kedua alisnya, tampak bingung karena dia tidak mengerti apa yang di maksud oleh, Zul.
["Hmmm.... Apapun yang kamu minta, aku mencoba untuk memberikannya. Tapi apa??"]
Zul tertawa terbahak-bahak, hingga wajahnya terlihat memerah.
Tanpa disadari Lyra, buah kenyal yang terlihat kencang itu memperlihatkan sesuatu yang membuat pria di seberang sana semakin penasaran.
["Sayang..... boleh aku meminta malam ini?"]
Pertanyaan Zul sedikit membuat pikiran Lyra merasa aneh.
["Hmm.... kan tadi aku sudah bilang, kamu minta apa saja akan aku berikan, asal.... mulai besok kamu harus rajin menghubungi aku, dimana saja kapan saja."]
Lyra menjawab asal tanpa memikirkan yang ada di dalam benak Zul.
Tentu mendengar penuturan yang mudah dari bibir Lyra, Zul meng-iyakan permintaan sang kekasih.
["Kamu mau apa saja, aku akan memberi. Termasuk rumah, mobil, apapun yang kamu mau! Aku ingin mencobanya, sayang! Seumur hidup aku belum pernah merasakan hal itu, saat ini kamu membuat aku penasaran. Apa kamu mau?"]
Lyra yang tengah membersihkan piring bekas makannya, berbalik menatap wajah pria diseberang sana. Mengartikan setiap ucapan dari bibir, Zul.
["Kamu mau apa, Zul? Apakah ada sesuatu hal yang kamu inginkan dari aku? Sebentar, tadi kamu bilang mobil. Oke, aku minta besok kamu memberikan ku city car terbaru. Karena kamu tahu? Mobil ku dibawa Papa, jadi aku nggak bisa hang out malam ini! Sebel....!"]
Zul menautkan kedua alisnya, "Rendah sekali keinginan mu, sayang?" pikirnya. Justru pria diseberang sana mengangguk setuju jika permintaan Lyra hanya sebatas city car.
["Iya, palingan besok pagi mereka akan mengantarkan untuk mu. Tapi inget, itu hanya buat kamu! Ada lagi, sayang?"]
Lyra tertawa kecil, tidak percaya. Dia hanya menganggap bahwa Zul seorang anak muda yang selalu menangis meminta apapun pada Mama dan Papanya, sama seperti Lyra kala itu.
__ADS_1
["Aaagh.... jangan omong saja brondong muda ku, jika kamu memang benar-benar mencintai aku, besok pagi jam 10, aku ingin melihat pemberian mu!"]
Goda Lyra membuat Zul tertawa dan tertantang.
Belum pernah seumur hidupnya, di tantang oleh wanita seperti Lyra yang berani meminta dengan lantang, walau bercanda namun ini sebuah hal baru untuk, Zul.
["Baik, tapi apapun yang aku mau malam ini akan kamu berikan? Janji...?"]
Lyra menautkan kedua alisnya.
["Hmm.... ya, aku akan memberikan semua padamu."]
Zul, tersenyum sumringah.
["Bisakah aku melihat sesuatu yang indah yang sejak tadi mampu membius anuku? Sekarang anunya sudah mengeras dan semakin sesak di bawah sini!"]
Lyra terdiam, wajah cantiknya memerah, menelan ludah berulang kali seakan-akan dirinya sedang menjual jasa yang sangat memalukan. Dia sebagai wanita yang tidak pernah melakukan hal itu melalui telepon menjadi mengerti.
["Zul, apakah hal ini sering kamu lakukan? Atau kamu seorang dokter yang hmm.... suka berpikir aneh? Enggak, Zul! Tidak semudah itu, ternyata kamu sama dengan pria hidung belang lainnya. Berpikir mesum pada wanita janda seperti aku!"]
["Sayang, aku hanya meminta. Jujur aku tidak pernah melakukannya. Tapi sejak tadi aku melihat dadamu begitu kencang dan menggoda. Aku belum pernah melakukan hal itu dengan wanita mana pun. Tapi, jangan salahkan aku jika tergoda dengan tubuh mu yang sangat seksi dan menggairahkan. Aku terpesona dengan janda seperti mu, Lyra! Sungguh aku tergoda. Apapun yang kamu minta akan aku berikan. Kita hanya by phone. Saat bertemu nantinya pun, belum tentu aku berani melakukannya jika tidak ada ikatan. Aku seorang perjaka yang jatuh hati pada janda! Apa itu salah?"]
Lyra terdiam, wajahnya menunduk malu, berkali-kali dia menyentuh dadanya, seakan-akan permintaan Zul sangat tidak masuk akal menurutnya.
["Hmm.... benarkah? Kamu tidak pernah melakukannya? Apa benar seorang pria yang sudah berada di Eropa tidak pernah bercinta dengan bule disana? Aku tidak percaya! Jangan pernah membohongi aku!"]
Zul menatap lekat mata Lyra lewat layar handphone miliknya. Wajah tampan itu tampak seperti tidak berbohong. Tatapan teduh, sangat tampan dan segar membuat wanita dewasa yang sudah merasakan lembab di bagian bawah sana, semakin terbuai.
Lyra berfikir, Zul tidak ada di dekatnya. Mereka hanya melakukan melalui video call, dan ini hal biasa bagi pasangan yang masih belum paham akan hal itu.
Tanpa berfikir panjang, Lyra menatap Zul sambil membawa telponnya ke kamar. Kamar yang terang, bahkan sangat sejuk, semakin membuat dirinya terbuai oleh rayuan Zul.
Lyra memenuhi semua ingin Zul, yang memintanya untuk melepaskan daster merah muda yang sangat tipis membalut tubuh ramping dan sangat mempesona.
__ADS_1
["Sayang, itu sangat indah.... apa kamu pernah menyusui Kesy?"]
Zul benar-benar menatap layar handphone miliknya dengan penuh perasaan. Tubuhnya semakin memanas, merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat bagian kenyal itu di sentuh oleh pemiliknya dengan lembut.
["Aku memberi asi eksklusif pada Kesy hanya satu minggu, honeyhhh.... tidak sampai enam bulan. Karena sesuatu hal yang sulit aku ungkapkan."]
Lyra semakin mendessah, saat tubuhnya merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuh indah itu meliuk-liuk bak penari balet dan mampu membangkitkan gairah pria muda nan tampan di seberang sana.
["Zul, aku ingin sekali mencium bibir mu! Aku ingin merasakan bagaimana rasanya berciuman. Sudah lebih dari dua tahun tubuh ini tidak di sentuh, tapi saat ini aku jadi menginginkan mu!"]
Kejujuran Lyra membuat Zul semakin tak berdaya. Dia memperlihatkan tubuhnya sendiri diseberang sana.
Sungguh menakjubkan, Zul memiliki kulit yang bersih, dada bidang dan perut sispack seperti roti sobek, membuat Lyra semakin terhanyut oleh rayuan pemuda berusia 23 tahun yang mampu membius sekaligus nyaman untuk seorang janda sepertinya.
Mereka saling bersahutan dengan dessahan yang sudah lama tidak dirasakan, bermain dalam fantasi yang bergairah. Permintaan Zul, sungguh sederhana, begitu juga Lyra.
Mereka hanya saling mempertontonkan keseksian tubuh masing-masing, sehingga membuat mulut Lyra ternganga setelah melihat milik Zul yang besar menantang. Berwarna kemerahan, bahkan sangat menggiurkan bagi janda seperti Lyra.
["Honeyhh..... punya kamu besar sekali? Apa itu terong import atau timun khas Netherland? Pasti saat kamu menikah akan menjadi bulan-bulanan bagi istrimu!"]
Zul yang tengah berada di puncak himalaya, hanya tertawa geli sambil memijat miliknya sendiri.
["Semua ini milikmu sayang! Berjanjilah padaku, kamu akan menunggu aku sampai kita benar-benar hidup bersama, aku siap untuk menjadi bulan-bulanan mu."]
Lyra sungguh terbuai oleh suara Zul yang terdengar sangat lembut, hembusan nafas seorang perjaka muda yang mau menjalin komitmen dengan seorang janda sepertinya.
["Honeyhh.... hmm... ak-ak-aku hmmfh....!"]
Lyra memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang telah lama dia pendam, saat ini terlepas dengan semua kelegaan yang dapat dia rasakan.
Namun, Lyra kembali menatap kearah handphone yang masih berada di dekatnya, mata sayu, wajah memohon pada seorang pemuda diseberang sana agar menyentuh secara nyata.
["Honeyhh.... again....!!"]
__ADS_1