Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Anak sebagai alat


__ADS_3

Suasana semakin terasa sejuk, saat hujan turun mengguyur kota kecil yang menjadi tempat ternyaman bagi Lyra, untuk meneruskan hidupnya sebagai wanita karir sekaligus single parents demi putri kesayangan, Kesy.


Sudah lebih dari dua minggu Lyra menetap di kediaman pemberian orang tuanya, ditemani Mama dan Papa yang sengaja datang dari seberang untuk memberi kekuatan pada sang putri dalam menghadapi perceraian dengan Dony.


Dua minggu juga Dony tidak lagi mencari keberadaan Lyra atau menerornya.


Lyra keluar dari kamar yang terletak berhadapan dengan ruang keluarga, dan mini bar. Dia menuju ruang makan, melihat sang Mama tengah mempersiapkan makan malam mereka.


Lince, wanita paruh baya berusia 60 tahun pensiunan Aparatur Sipil Negara di seberang.


Sementara Papa Lyra, memiliki nama lengkap Boy Carles tampak lebih tegas setelah mengakhiri masa dinasnya sebagai Pegawai BUMN di seberang setelah melewati masa dinas selama 32 tahun.


Ya, masa dinas Boy sebagai pegawai cukup lama di bandingkan sang istri, yang memiliki jarak usia cukup jauh antara Lince dan Boy.


Boy tengah sibuk bermain gitar bersama Kesy, karena semenjak pensiun music lah dunia terbaiknya.


Kesy tampak lebih bahagia, karena mendapatkan perhatian lebih dari Opa dan Oma, yang selalu menjemputnya di sekolahnya yang baru, demi meringankan beban Lyra saat ini.


Lyra duduk di meja makan, dengan handuk masih menutup kepalanya, setelah melakukan ritualnya saat tiba di rumah.


Lyra mencicipi udang rica-rica masakan Lince yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


Watak keras kedua orang tuanya dalam mendidik kedua putra putri mereka yang tampak lebih mandiri setelah memilih menikah dengan pilihan hati mereka.


Lince mengambilkan nasi putih kedalam satu wadah, untuk makan malam mereka, sembari bercerita dengan putrinya, "Tadi ada surat dari Pengadilan Agama yang menyatakan untuk mediasi. Apa kamu dan Dony sudah pernah melakukan mediasi dalam memperbaiki hubungan kalian?" tanyanya.


Lyra menarik nafas dalam, "Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan dengan Dony. Apapun itu aku tetap akan bercerai. Tidak ada mediasi atau apapun. Aku juga sudah minta tolong dengan teman ku untuk mewakili mediasi besok!" ucapnya menegaskan.


Lince duduk dihadapan Lyra, menatap wajah cantik putrinya yang terlihat sangat pucat setelah memutuskan berpisah dengan Dony. Bahkan terlihat tampak tua karena menghadapi permasalahan yang sangat menggangu pikirannya selama ini.


"Dengar Lyra, Mama sudah bicara dengan Kesy. Bagaimanapun dia sangat menyayangi Dony selaku Papa. Kasihan dia, sudah cukup dia menderita karena kalian. Mengalah tidak ada salahnya. Jangan terlalu egois sebagai orang tua. Pikirkan anak juga, kalian bisa pindah dari sana. Tinggal disini, yang penting Kesy memiliki orang tua yang utuh!" ucap Lince penuh perasaan dan kelembutan.


Lyra menatap lekat mata Lince yang juga menatapnya, kembali bertanya, "Mama kemaren selalu mensupport aku untuk berpisah dari Dony. Kenapa sekarang justru aku harus balik lagi sama dia?"


Lince menghela nafas panjang, dia memijat pelipis, menggelengkan kepalanya pelan, "Mama melihat Kesy, Nak! Kamu tumbuh dari keluarga hebat seperti kami. Sementara Dony, kamu harus menarik Dony dari keluarganya demi Kesy! Lihat dia sangat bahagia bermain dengan Papa. Mama yakin, kalian ini masih sama-sama egois. Cobalah, datang ke Pengadilan. Hadiri mediasi, setelah itu terserah kamu. Pikirkan Kesy, Nak! Masa depan Kesy dan kebahagiaan putri kalian. Dony juga sangat menyayangi putrinya."


Lyra tersenyum tipis menatap wajah Lince, "Bukan aku tidak sayang dengan Kesy atau Dony, Ma. Tapi selain keluarganya, Dony juga menjalin hubungan dengan tetangga sebelah rumah. Itu yang membuat aku tidak ingin bersamanya. Pria jika sekali makan bangkai, dia akan selalu memilih bangkai, dan tidak akan pernah setia. Itu yang sulit untuk aku maafkan. Mungkin jika untuk Kesy, aku bisa memikirkan nya. Tapi karena Dony telah mengkhianati aku, jujur sudah bulat tekat ku untuk berpisah," jelasnya.


Lince menutup bibirnya, dia tidak menyangka bahwa menantu laknat tersebut, juga tega berselingkuh dari putrinya.


Menurut cerita Rita, yang disampaikan pada wanita paruh baya tersebut melalui panggilan telepon, masalah sebenarnya karena Lyra yang tidak pernah mengurus Kesy, dan jarang pulang tepat waktu karena kesibukan dengan karir yang semakin menuntut waktu Lyra lebih banyak di habiskan di kantor melainkan di rumah. Sehingga perhatian Lyra tidak fokus pada keluarga. Dan keluarga Dony, tidak terima karena Lyra tidak pernah mengurus makan dan minum suaminya sendiri.


Lyra terdiam saat Lince menyampaikan semua yang di ucapkan Rita padanya. Wajah cantik itu seketika memanas, bahkan kembali tersulut emosi karena merasa terpojokkan.

__ADS_1


Lyra menarik nafas panjang, mengusap kasar wajahnya, seketika rasa lapar yang dia rasakan berubah kenyang seketika. Air mata yang sudah lama tidak terasa hangat di kelopak matanya, kembali terasa tergenang dan akan mengalir deras.


Lyra berdiri, "Hmm, Mama terlalu percaya apa saja yang disampaikan oleh wanita bermuka dua itu. Dia bisa ngomong seenaknya! Aku tetap akan bercerai dari Dony. Aku tidak peduli dengan semua yang dia bicarakan pada semua orang. Bagiku, Kesy adalah nafasku. Semua aku lakukan untuk dia, dan Mama bisa lihat bagaimana keseharian aku dalam mengurus anak dan rumah! Aku memang jarang memasak, tapi aku selalu memikirkan apa yang akan mereka santap jika sudah berada di rumah. Jika Mama lebih percaya dengan Rita, silahkan....! Aku juga sudah tidak ingin menjalin komunikasi dengan mereka!"


Lyra berlalu meninggalkan Lince, karena perasaan kecewanya menuju kamar. Kekesalan semakin memuncak karena sang Mama berusaha meminta nya untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Dony.


Dony merupakan suami jahat, yang sudah tega menyiksanya secara lahir dan batin. Lyra tidak ingin menceritakan semua apa kekurangan suaminya, karena itu merupakan aib yang harus dia tutupi dari keluarga sendiri dan keluarga mantan suaminya.


Namun, kenapa mereka berkoar seakan-akan Lyra lah yang tidak pernah memperhatikan Dony selama ini? Mengapa mereka tidak pernah mendengar dia untuk berbicara, membuka siapa suaminya selama delapan tahun pernikahan, batinnya.


Lyra kembali menangis dalam hati, kembali meratapi kehidupan setelah menikah yang tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti beberapa rekan kerja, yang senantiasa tampak sempurna, apalagi setelah kehadiran seorang anak.


Saat Lyra masih berlarut dalam kesedihannya, dia mendengar suara pintu kamar terbuka lebar.


Kesy membawa satu piring nasi, dan segelas air putih untuk sang Mama, "Ma, makan dulu. Kesy suapin yah? Kayak dulu, waktu Mama sakit Kesy yang selalu merhatiin," ajaknya dengan wajah tersenyum.


Lyra duduk di pinggir ranjang, memeluk tubuh mungil Kesy, mengecup lembut kening putrinya, "Makasih yah sayang! Oya, bagaimana sekolah mu hari ini? Apa kamu betah di sekolah baru?" tanyanya mengalihkan kepiluan hati yang kembali bersedih.


Kesy mengangguk, kembali bertanya, "Mama janji nggak akan marah sama Kesy?"


Lyra memandang wajah cantik putri kesayangan, "Hmm, cerita saja! Kita kan soulmate," ucapnya pelan.

__ADS_1


Kesy kembali menutup wajahnya, "Papa menemui Kesy tadi di sekolah. Dia ingin membawa Kesy kerumah Mami Rita Sabtu Minggu. Karena Rey, merayakan ulang tahunnya."


Lyra menghela nafas panjang, wajahnya mematung kaku, bahkan tampak seperti wanita yang berwajah garang, "Sial.... kenapa dia selalu menjadikan anak ku sebagai alat untuk menyakiti aku!?"


__ADS_2