
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.05.... Lyra sudah berada diparkiran membawa Kesy bersama mereka. Kebahagiaan yang tampak sempurna saat Zul mencium puncak kepala Kesy dengan penuh perasaan sayang sebagai seorang Papi baru.
Lyra bergegas mengganti sendal santainya dengan sepatu pantofel yang biasa dia kenakan saat bekerja, turun dengan wajah tenang bahkan sangat ceria.
Zul menyusul Lyra sambil menggandeng tangan Kesy, tanpa harus melepas genggaman gadis kecilnya.
Kesy melihat mobil Dony yang terparkir tidak begitu jauh dari kendaraan milik Zul. Membuat dia bertanya kepada pria yang tengah melihat Lyra yang mulai menjauh mendekati pintu utama kantor pengadilan agama.
"Pi.... itu mobil Papa, kan? Apakah Mama dan Papa mau hidup bersama? Atau mungkin aku akan kehilangan Papa?" tanya Kesy saat mendekati pintu kaca pengadilan.
Zul tersenyum sumringah, "Oke.... disini Papi hanya ingin menyampaikan pada Kesy. Bahwa kita akan menjadi keluarga suatu saat nanti. Jika Mama sudah siap, dan Papa juga sudah bisa menerima, bahwa Kesy tetap sama Mama." jelasnya lembut.
Kesy mengangguk namun bingung, "Jujur Kesy masih sayang sama Papa. Tapi Kesy juga enggak mau meninggalkan, Mama. Karena Mama sering sedih jika jauh dari Kesy. Lagian Kesy juga tidak suka sama Keluarga Papa yang selalu marah-marah sama, Kesy. Mereka suka menyembunyikan makanan. Padahal, waktu dulu.... kalau mereka kerumah Mama, selalu memakan makanan Kesy....!" rungutnya.
Tentu Zul sedikit kaget, mendengar celotehan gadis kecil yang jujur itu. Namun, Zul memilih tertawa agar tidak menjadi beban pikiran bagi Kesy. Apapun yang mereka berdua hadapi masa lalu, semoga tidak akan pernah terjadi lagi setelah hidup bersama suatu saat nanti.
Zul memasuki kantor pengadilan, menggandeng tangan Kesy disaksikan dengan Dony yang menoleh kearah mereka berdua.
Lyra yang lebih dulu masuk keruangan untuk bertemu Iqbal tanpa mau menyapa Dony dan Aryo, saat melewati mereka yang duduk di sisi pintu masuk ruang sidang.
Sementara Kesy berlindung dibalik tubuh Zul, saat Dony juga menatap gadis kecil yang sangat dia rindukan.
Namun, Dony sama sekali tidak mendekati Kesy, karena dia tidak ingin terlarut dalam suasana yang akan memilukan bahkan menampar perasaan terdalamnya.
Kesy masih duduk meringkuk di lengan Zul, saat nama Lyra dan Dony kembali disuarakan menggema di pengadilan agama, tanda memulai keputusan sidang akhir.
Sidang dimulai dengan menyayat hati para rekan yang turut menyaksikan. Hakim ketua yang dipimpin oleh Sadi membuat Aryo dan Dony hanya bisa menjadi pendengar yang baik tanpa membantah.
Lyra..... menunjukkan semua bukti perlakuan Dony, selama perselisihan mereka, sehingga rekaman ancaman yang pernah dilakukan mantan suaminya tersebut.
Perselingkuhan sehingga berdampak pada psikologis Kesy yang menjadi korban karena perceraian kedua orang tuanya, sehingga mengalami kekerasan pada putri kesayangan, membuat Kesy mengalami goncangan dan koma selama seminggu lebih.
Sontak pernyataan Lyra tersebut, membuat majelis hakim selaku ketua menitikkan air mata. Bagaimana kekerasan yang disebabkan oleh pihak ketiga dari Dony, bisa lepas dari jeratan hukum.
Perdebatan semakin alot antara Dony dan majelis yang berada di ruangan tersebut, memberikan hak asuh sepenuhnya pada Lyra.
Dony menangis, dia tidak menyangka bahwa perlakuan Nela kala itu sangat mengguncang jiwa buah hatinya.
__ADS_1
"Saya tidak melihat wanita itu membenturkan kepala putri saya! Karena saya berusaha melerai pertikaian antara mereka. Saya benar-benar tidak menyangka, bahwa wanita itu melakukan kekerasan pada Kesy," ucap Dony dengan penuh penyesalan.
Dony yang sangat menyayangi Kesy, tidak mampu membela sang putri, sehingga terjadi sesuatu hal yang sangat mengancam keselamatan putrinya.
Mendengar pengakuan Dony, hakim ketua memberi perintah pada Dony agar menjatuhkan talak tiga pada Lyra, demi kebahagiaan mantan istrinya dan Kesy putri mereka yang telah menjadi korban selama ini.
Dony ternganga saat mendengar permintaan talak tiga dari hakim ketua. Ini menandakan dia tidak akan pernah bisa kembali bahkan membawa Kesy dalam pelukannya.
Namun, harus Dony lakukan demi menyelamatkan dirinya yang akan dikirim ke penjara jika tidak melakukan semua itu. Ibarat makan buah simalakama, jika tidak dimakan akan membunuh dirinya sendiri.
Dony menoleh kearah Lyra, dengan tatapan penuh kesedihan, dia berucap dalam keadaan sadar, "Lyra binti Boy Charles.... a-a-a-aku ceraikan ka-ka-kamu talak tiga saat ini juga....!!!"
Dony mendongakkan kepalanya, menatap lekat langit-langit ruang pengadilan yang tampak hening saat semua itu terucap dari bibirnya dalam keadaan sadar.
'Tiang aras tengah bergetar diatas langit ketujuh', seperti pepatah orang tua dahulu.
Dony menangis, menyesali atas apa yang dia lakukan pada Lyra dan Kesy selama ini sebagai suami sekaligus Papa yang tidak sempurna. Dia benar-benar meraung keras dalam kesedihan.
Lyra yang mendengar suara Dony, turut terlarut dalam kesedihannya. Sungguh ini pernikahan terburuk yang pernah dia rasakan selama menikah dengan pria yang tidak pernah memberikan apa-apa padanya.
Haknya sebagai istri direnggut oleh keluarga dan selingkuhan Dony, sehingga mengorbankan putri kesayangan mereka.
Sehingga dia melakukan kesalahan yang melibatkan Nela untuk menjadikan wanita berumur itu ratu didalam hatinya.
Dony menatap lekat wajah Lyra, "Maafkan aku, Lyra....! Aku minta maaf padamu. Tapi jangan pernah batasi aku untuk bertemu Kesy. Dan aku mohon padamu, berikan aku tempat tinggal, karena hanya itu yang menjadikan aku tidak terombang-ambing diluar sana. Aku tidak akan menjual rumah itu, karena semua itu adalah pemberian mu! Berbahagialah kamu bersama pria yang tepat."
Lyra terisak, merasakan kepiluan hati seorang Dony. Laki-laki yang ada di hadapannya kali ini sosok penyayang, namun harus patuh pada keluarga sehingga mengorbankan rumah tangganya sendiri.
Lyra mengangguk setuju, "Tinggallah disana, Don....! Aku ikhlas.... karena kamu merupakan Papa dari Kesy. Tapi jangan pernah hadir dihadapan aku juga Kesy. Datanglah jika kamu merindukannya ke rumah Mama. Mungkin kami akan pergi dari kota ini. Aku mohon, ubah lah hidupmu, dan temukan kebahagiaan mu! Aku menyayangimu, Don....!"
Tangis Lyra memeluk Dony erat. Entah apa yang ada dalam benak ke-duanya saat ini. Mereka memutuskan berpisah agar mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang berbeda.
Kemungkinan, inilah jalan terbaik bagi mereka berdua namun tidak untuk Kesy.
Iqbal tersenyum sumringah, walau perasaannya terlarut dalam suasana kesedihan, tanpa terasa bisa bernafas lega.
Keputusan Lyra memberikan rumah itu pada Dony, setelah wanita itu meminta pendapat, Zul. 'Jika kamu mencintai seseorang yang terus menyakiti mu, ubah lah mindset mu untuk memberikan sesuatu yang tak mampu dia lupakan suatu saat nanti. Aku akan bangga dengan keputusan kamu, karena kamu akan mendapatkan lebih dari rumah itu'.
__ADS_1
Hanya pesan itu yang terngiang di telinga Lyra, saat menjalani sidang akhir pengucapan talak resmi dari mulut Dony.
Ruangan sidang masih terdengar isak tangis yang menyaksikan perceraian sepasang suami istri tersebut, membuat hakim ketua memutuskan secara hukum dan agama.
"Lyra binti Boy Charles, kamu sudah tidak menjadi istri sah dari Dony bin Almarhum Sukarlan. Dan membayar uang, karena permohonan Anda telah dipenuhi oleh Dony bin Sukarlan," tegas hakim ketua mengetuk palu tiga kali sebagai tanda sidang telah ditutup.
Aryo yang mendengar penuturan dari pihak majelis hakim, hanya menunduk malu dan hormat pada Lyra. Sungguh hal yang luar biasa dilakukan sahabatnya, sehingga dengan tega dia khianati hanya karena uang.
Mereka saling bersalaman. Menunduk hormat, sementara Lyra memilih meninggalkan ruangan sidang karena enggan berkomentar banyak setelah memberikan asetnya pada Dony.
Lyra menatap Zul dan Kesy, saat keluar dari ruang sidang.... berlari memeluk Kesy yang tampak tenang walau tampak kebingungan karena mendengar tangisan sang Mama.
"Maafin Mama yah, Nak....! Kita akan pergi dari sini....!" ucap Lyra lirih.
Kesy menangkup wajah Lyra, "Makasih Mama mau memperjuangkan Kesy," dia memeluk tubuh Lyra dengan deraian air mata.
Dony hanya bisa melihat kedua orang yang pernah hidup bersamanya dari balik pintu, enggan untuk keluar dari ruang sidang, karena merasa malu saat ini.
Dengan penuh keyakinan Kesy melepaskan pelukannya dari Lyra, untuk menghampiri sang Papa yang tengah bersembunyi dibalik pintu.
Dony mendekap erat tubuh putrinya, meminta maaf atas semua sikap dan perlakuannya, namun penyesalan selalu datang terlambat, disaat 'nasi sudah menjadi bubur'.
"Kesy, selalu ada dihati Papa.... bahagiakan Mama yah, Nak....!" hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Dony.
..... Jika memang harus berpisah.....
Aku akan tetap setia....
..... Jika memang ini ujungnya....
Ku kan tetap ada didalam jiwa....
______
Hai hai hai.....
Author pemes mau bagi-bagi judul baru, dari seorang othor fantasi bisa menulis romans genre teen...
__ADS_1
Hayuuuk.... mampir... sama-sama memberi suport dan saling mendoakan Author di Group Dunia Lain yang sangat berbeda...