Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Gadis kecil yang jatuh hati


__ADS_3

Zul menutup sambungan telepon seluler yang ada dalam genggaman, berlari kecil ke kamar putri kesayangannya.


Perlahan Zul mengetuk pintu kamar Kesy, melihat dengan matanya sendiri, gadis itu tengah memeluk Adi erat.


Zul mengurungkan niatnya, enggan untuk menggangu kebersamaan dua insan yang saling menenangkan kejiwaan Kesy.


Namun, pikiran Zul sedikit terganggu dengan kedekatan Kesy dan Adi, dia tampak seperti memikirkan sesuatu, merasa khawatir bahwa putri kesayangannya akan jatuh hati pada Adi.


"Aaaagh, tidak-tidak-tidak ... Tidak mungkin Kesy menaruh rasa pada Adi. Apalagi usianya masih kecil. Kita ini keluarga, tidak mungkin Adi akan senekat itu ..."


Zul mengalihkan pikirannya, agar tidak menjadi beban dalam benaknya. Dia bergegas menuju kamarnya, melihat Lyra yang masih terlelap, setelah meminum vitamin yang iya berikan.


Perlahan Zul mendekati, mengusap lembut kepala istrinya dengan duduk di pinggir ranjang, "Sayang ... Bangunlah, kita sarapan dulu, yuk. Sebentar lagi Dokter Teddy akan tiba," bisiknya pelan.


Lyra mengangguk, namun enggan membuka mata, "Kepala ku masih terasa pusing jika membuka mata, hun ... Peningnya aneh, ada mual-mual gitu," rengeknya meringkuk di pelukan hangat Zul.


Zul mengambil minyak angin aromatherapy, mengusap lembut di kening, dan memijat pelan.


Tak lama mereka saling bercerita, Kesy dan Adi sudah rapi dan ingin menghabiskan waktu di sebuah pusat kota, yang menjual makanan, atau jajanan dari berbagai macam manca negara.


Tentu ini merupakan satu kesempatan bagi Kesy, agar kembali dekat dengan pria yang dia anggap Abang selama ini.


Kesy mengecup lembut kening juga bibir Lyra, agar memberikan izin dia pergi berdua Adi tentu atas izin Zul.


Zul hanya mengangguk setuju, memberikan uang jajan pada putri kesayangannya, agar tidak menyusahkan Adi, walau dia menganggap Adi adik kandungnya.


Zul sedikit berpesan dengan nada tegas pada Adi, agar tidak terjadi sesuatu hal yang dapat mengganggu pikiran Lyra juga dirinya.


"Abang harap kamu bisa menjaga sikap mu, Adi!" tegasnya.


Tentu saja, Adi dan Lyra sedikit terkejut mendengar pernyataan Zul barusan.

__ADS_1


Adi mendekati Zul, menepuk pundak sang Abang, "Tenang saja, aku akan selalu menjadi pria yang baik ..." tawanya bahagia.


Zul menggelengkan kepalanya, dia lebih baik tidak bertemu Adi, jika Kesy masih seperti gadis kecil yang tengah jatuh hati.


Namun, sama sekali Zul tidak pernah membahas tentang ini selama mereka berada di Berlin, karena sangat memahami bagaimana cara berpikir Lyra yang sedikit keras dan ambigu dalam mendidik Kesy.


Adi menggandeng tangan Kesy, meninggalkan pasangan suami istri itu, menikmati kebahagiaan mereka berdua.


.


Di tempat yang berbeda, kota kecil itu Rey menekuni pekerjaannya sebagai sopir pribadi Ahmad dan Eni, juga mengelola toko yang di tinggalkan Lyra padanya.


Akan tetapi, hari ini menjadi hari terberat bagi Rey. Dia yang telah menyimpan uang toko selama enam bulan, untuk segera mengirimkan pada Lyra, raib dari balik baju yang sengaja dia selipkan dalam lemari.


Rey sibuk mengacak-acak isi lemarinya, bergumam sendiri, 'Aaagh, di mana aku taruh yah? Apa hilang atau bagaimana ...?'


Berkali-kali dia membolak-balikkan bajunya, dan Rey yakin meletakkan uang yang nominalnya 12 juta itu di sana.


Rey keluar dari kamar, melihat Riche tengah sibuk bermain handphone dengan earphone berada di telinga.


Riche menoleh kearah Rey, pura-pura tidak mendengar dari awal keponakan nya itu memanggil sejak tadi.


"Hmm, apaan?"


Rey tak mau berbasa-basi langsung bertanya pada Riche, "Tante ada ngambil uang dalam amplop coklat enggak? Uang itu mau aku kirim hari ini ke account Tante Lyra. Karena aku sudah janji sama dia," jelasnya.


Riche menaikkan kedua bahunya, tanpa mau menjawab pertanyaan Rey.


"Emang buat apa kamu mengirimkan uang sebanyak itu pada wanita yang seperti kacang lupa kulitnya! Mentang-mentang sudah kaya, memiliki banyak uang sampe lupa sama keluarga. Mantan ipar seperti apa dia! Sudahlah, mending kamu fokus sama pekerjaan kamu saja. Jangan pikirin toko itu. Kamu jadi babu, dia berleha-leha di sana. Lihat tuh foto profilnya di whatsApp kayak wanita hebat! Padahal sampah!" rungutnya.


Rey mendengus kesal, dia menarik earphone yang akan menempel di telinga Riche, membuangnya sedikit jauh ...

__ADS_1


PRAAAAK ...!


"Rey!" bentak Riche.


Rey menantang Tantenya itu dengan tatapan matanya yang sangat garang.


"Tante kan yang ngambil uang aku itu? Jangan bohong! Mana uangnya, balikin sekarang!" tegas Rey tanpa mau berdebat.


Riche berdiri, berkacak pinggang di hadapan keponakan nya. Kembali menantang tanpa ada rasa malu ataupun bersalah.


"Apa? Kamu menuduh Tante? Kamu pikir, Mami mu di dalam penjara tidak butuh makan haah? Seharusnya, kamu membantu keluarga sendiri! Bukan malah membantu wanita itu! Enak sekali dia, mendapatkan keuntungan 12 juta tapi kamu yang tunggang langgang! Pikir pakai otak!!" bentaknya.


Rey meremas kuat lengan Riche, "Ini kepercayaan Tante Lyra sama aku! Sekarang kembalikan uang ku! Itu hak mereka! Aku tidak mau Tante Lyra berpikir negatif pada aku! Karena selama ini aku mengirimkan tepat waktu!" geramnya.


Riche meringis kesakitan, dia tidak menyangka bahwa keponakannya lebih membela Lyra di bandingkan keluarga sendiri.


"Lepas!" teriaknya kesakitan.


"Aku enggak mau! Kembalikan uang ku! Atau aku akan mengusir mu dari rumah ini! Sudah aku tunggang langgang, Tante seenaknya menjadi parasit di kediaman ku!" sesalnya.


"Aaaagh!" Riche menghentakkan tangannya yang semakin di cengkram kuat oleh Rey.


"Dasar Tante tidak tahu diri! Pantas saja Om Daniel tidak mau sama Tante! Aku enggak mau tahu, ganti duit ku! Atau nanti malam, semua baju mu ada di luar sana!"


Rey pergi dari hadapan Riche, meninggalkan wanita jahanam itu di ruang tamu.


Saat ini Rey tinggal di rumah yang di berikan oleh Eni, karena di usir dari rumah keluarga Papi kandungnya semenjak tidak mampu membayar sewa ruko semenjak Rita berada di penjara.


Riche berteriak lantang, "Eeeh bilang sama Tante kesayangan mu itu, aku tidak akan mengirim uang pada nya! Karena uang itu sudah aku habiskan untuk foya-foya sehari kemaren. Separuh aku kasih pada Mami mu yang seperti mayat hidup di dalam sana! Anak durhaka, tidak tahu balas Budi kamu!"


Mendengar penuturan Riche seperti itu, membuat Rey semakin berang. Dadanya terasa sangat sesak, jika di katakan durhaka. Dia tidak terima jika kepercayaan yang Lyra berikan, malah terjadi seperti ini.

__ADS_1


"Hei, wanita tidak tahu di untung! Yang durhaka siapa? Apa yang sudah kamu lakukan untuk keluarga? Kerja nggak mau! Semua nggak mau! Kamu pikir uang itu turun dari langit, tanpa bekerja! Dasar orang aneh! Pantas saja hidup mu seperti ini! Tidak berguna, bagus mati dari pada hidup mesti menyusahkan orang lain! Buat malu ...!"


Rey pergi meninggalkan rumah, menuju rumah sakit Keluarga Ahmad dengan perasaan was-was.


__ADS_2