
Zul melihat bayangan gadis kecil yang tengah menguping di balik pintu kama sang Mama, "Kesy ..." sapanya pelan.
Kesy memperlihatkan wajahnya, dengan mimik wajah yang tengah bersedih.
Sementara Eni terlihat sedang berfikir, "Apa maksud Zul, bahwa anak mereka yang jadi korban? Bukankah Lyra hanya mengalami stress ringan dan mengalami pendarahan ...?"
Kesy mendekati Zul, sementara Eni masih mengusap kepala dua orang yang sangat dekat dengannya di atas ranjang.
"Kita lihat kondisi Mama, yuk?" ajak Zul pada Kesy.
Kesy menatap Zul, mengusap lembut wajah Papi sambungnya, "Jangan tinggalin Mama yah, Pi. Kesy mau di sini saja. Mama emang begitu. Dia lebih memilih memikirkan dirinya sendiri, di banding perasaan aku sama almarhum Papa ..."
Zul mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak, maksud dari ucapan Kesy di hadapan Mama Eni.
"Maksud kamu? Apakah Mama tidak pernah memikirkan perasaan kalian? Bukankah Mama selalu ada untuk kamu?" tanya Zul penasaran.
Kesy menarik nafas dalam, "Papi sudah berapa lama mengenal Mama? Setahun? Dua tahun? Atau baru kenal? Hmm, ternyata Papi harus banyak belajar dari Kesy!"
Zul semakin tidak mengerti. Dia membawa Kesy agar duduk berhadapan dengannya. Di hadapan Eni yang ingin mendengarkan penuturan sikap asli sang Mama.
Zul bertanya penasaran, "Emang Mama egois?"
Kesy mengangguk meng'iya'kan, "Mama itu tidak bisa di tekan. Papa dulu sering banget tekan Mama, daripada pusing yah kasih saja. Mama egonya lebih tinggi di bandingkan Papa. Dia lebih sering membentak Papa di hadapan Kesy. Makanya kalau Mama marah lebih baik diam, karena itu sudah watak Mama. Mama tidak pernah menuntut pelajaran agar Kesy juara. Tapi dia selalu berpesan, jangan bodoh saat berhadapan dengan teman-teman seusia aku ..."
Zul semakin bersemangat untuk bertanya sifat asli istrinya yang belum kelihatan selama menikah dengannya.
"Terus? Apakah Mama sering marah sama kamu?"
Kesy menggelengkan kepalanya, "Mama itu sama seperti Opa Boy, terlalu santai, tapi egois. Mama tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, dan memang keras kalau kata Papa. Mama tidak pernah mau di pusingkan oleh orang-orang yang menekannya masalah uang. Makanya Papa sekeluarga menyerang Mama seperti itu," jelasnya.
Zul mengangguk mengerti, menatap wajah Eni yang tersenyum tipis pada cucu wanita yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Mama itu bukan egois nak, tapi itu cara dia melindungi diri dari tekanan. Kamu tahu kenapa? Mama selalu mendapatkan perilaku yang tidak baik dari keluarga almarhum Papa kamu, mungkin. Tapi saat ini, Mama sudah berubah menjadi lebih baik, kan? Dia lebih tenang, dan yang ada di kepalanya hanya masa depan kamu. Bukan masa depan dirinya," jelas Eni di hadapan Zul juga Kesy.
Zul mendengus dingin, "Tapi dia tetap wanita keras kepala, Ma! Sehingga mengorbankan dirinya sendiri!" sesalnya.
Eni menghela nafas panjang, "Apapun yang terjadi pada Lyra saat ini, kalian harus tetap menyayangi dia. Dia wanita pintar, biasanya orang pintar memang memiliki watak keras. Karena dia terlalu idealis dalam berpikir. Baginya, bekerja, membesarkan anak dan membahagiakan keluarga itu nomor satu. Mungkin dulu Mama terlalu mandiri. Jadi dia merasa kaget saat menikah dengan Papi Zul. Percayalah, Mama pasti berubah menjadi Ibu yang baik, apalagi jika adik Kesy lahir," kecupnya di puncak kepala Kesy.
Zul hanya terdiam, dia menunduk berperang dengan batinnya sendiri. Baginya kali ini Lyra sudah mengecewakannya.
Bergegas Zul menuju rumah sakit kembali. Bagaimanapun, dia sebagai suami harus mengetahui keadaan Lyra walau hatinya masih merasa sakit dan kecewa.
Zul berpapasan dengan Ahmad yang baru keluar dari ruang operasi, bergegas dia mengejar sang Papa untuk menanyakan kondisi istrinya.
"Bagaimana Pa?" tanyanya penuh kecemasan.
Ahmad tersenyum sumringah, "Syukurlah infeksi hanya sebagai dari dinding rahim yang menipis. Tapi bayi kembar kalian tidak dapat di selamatkan. Papa harap setelah Lyra sembuh, dengan jeda beberapa bulan, kalian bisa berbulan madu keliling Eropa atau Hawaii. Jangan berangkat dulu yah? Lyra masih di ruang pemulihan, dia terus menyebut nama kamu, 'Hun maafkan aku' ..."
Ahmad menepuk pundak putra kesayangannya, yang menangis mendengar penuturan sang Papa.
Ahmad mengangguk, "Semua hanya karena kalian kurang terbuka. Jangan sampai Mama tahu yah? Nanti Papa yang akan bicara sama Mama. Bilang ini keguguran, bukan di gugurkan. Kamu mengerti?"
Zul mengangguk mengerti, bagaimanapun dia harus menjaga perasaan sang Mama karena tidak ingin Eni bersedih karena kebodohan sang menantu.
Zul melangkah menuju ke ruang pemulihan pasca operasi, setelah melihat Ahmad berlalu.
Darahnya mendesir saat melihat Lyra di temani dua orang suster yang tengah melakukan transfusi darah terakhir kalinya. Darah kental yang di masukkan melalui selang di bantu pemompa darah, sebelum pasien siuman dari pengaruh bius total yang di lakukan anastesi.
"Bagaimana kondisi Ibu Lyra?" tanya Zul menoleh pada suster yang sibuk memijat tangan sang istri.
Suster menoleh, "Sudah mendingan, Dok! Setelah transfusi terakhir bisa di bawa ke ruangan," jelasnya.
Zul tersenyum, dia duduk di samping istrinya, mengusap lembut tangan yang masih terkulai lemah.
__ADS_1
Tusukan jarum infus dan jarum besar yang menembus kulitnya, sangat memilukan.
"Kenapa kamu begitu bodoh sayang? Kita kehilangannya, Lyra! Kehilangan anak kembar kita ..." tangisnya menunduk, meletakkan kepalanya di bangkar rumah sakit.
Suster menoleh kearah rekannya, menyaksikan kegalauan dokter muda yang sedang menangis.
Suster yang keibuan itu, menepuk lembut punggung Zul, "Tenang Dok, Dokter Ahmad sudah melakukan tindakan yang tepat. Rahim Bu Lyra tidak di buang, tapi mungkin butuh waktu untuk memiliki buah hati lagi. Semoga setelah Ibu pulih, dia bisa lebih hati-hati dalam bertindak ..."
Zul mengangguk. Bagaimanapun, Mama dan Papanya berpesan untuk tetap berada di sana mendampingi Lyra. Dia lagi-lagi mengalah demi menyelamatkan psikologis Lyra yang terguncang karena kebodohannya.
.
Sudah lebih dari tiga hari Zul menemani Lyra di rumah sakit. Dengan sangat telaten dia merawat dan menyuapkan makanan pada istrinya tanpa mau banyak bicara. Kali ini dia memperhatikan hanya untuk sebuah tanggung jawab sebagai suami.
Lyra menoleh kearah Zul, memperhatikan kulitnya yang masih ada ruam merah di tangan dan wajahnya.
"Hun ..." panggilnya pelan.
"Hmm ..."
"Kamu kenapa enggak mau bicara sama aku sih? Aku kan sudah minta maaf, hun ...!?"
Zul menautkan kedua alisnya, menoleh kearah istrinya yang ternyata masih belum peka akan kekecewaannya sebagai suami.
"Istirahatlah ... Hari ini perawat akan membawa mu ke paviliun kita," jelasnya.
"Hun, aku sudah minta maaf! Jangan begini sama aku! Jangan buat aku seperti wanita yang salah saat ini. Aku memikirkan Kesy. Aku tidak mau dia terguncang karena aku tidak memperhatikan kejiwaannya!" ungkapnya.
Zul menunduk, memejamkan matanya. Ingin sekali dia menampar wajah Lyra saat ini juga, tangannya menggeram kaku.
"Dengar, jika Kesy yang kamu jadikan alasan dengan meminum obat-obatan itu, kamu merupakan Ibu yang sakit jiwa dan sangat egois Lyra! Jadi biarkan aku diam, sebelum aku memuntahkan semua isi hati ku padamu!!" tegasnya.
__ADS_1
"Zul! Apa maksud mu? Kenapa kamu kasar sekali padaku!?"