Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Botol obat


__ADS_3

Cukup lama kedua-nya saling berdiam, setelah mendengar permintaan Lyra yang ingin bercerai darinya.


Kini Zul tak bisa berkata apa-apa, sejak awal selalu dia yang menjadi korban. Korban dari keegoisan Lyra yang selalu dia anggap sebagai istri paling sempurna walau berstatus janda kala itu.


Zul menarik nafas dalam-dalam, dia tidak ingin mempertahankan rumah tangga ini, jika pasangan nya sudah tak nyaman ...


"Baik ... Aku kasih waktu dua bulan untuk dirimu berfikir. Pesan ku, jangan pernah menghadirkan pihak ketiga, atau apapun yang akan memperkeruh keadaan kita. Aku tunggu kamu di kota pertama kita bertemu. Tapi satu, aku akan tetap mempertahankan Kesy ikut dengan ku! Pergilah kamu sendiri ... Anak-anak tetap dengan ku! Aku tidak akan menghalangi semua permintaan mu kali ini! Mungkin aku juga butuh waktu agar kita dapat berpikir jernih, untuk memutuskan kebahagiaan kita selanjutnya setelah ini ..."


Zul mengambil tangan kanan istrinya, mengecup dalam punggung tangan yang tak pernah lelah mempersiapkan semua kebutuhannya, juga anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang.


Perlahan Zul menatap wajah cantik Lyra, mengelus lembut pipi mulus yang masih tampak terawat ...


"Hati-hati, jaga dirimu ..."


Zul beranjak dari kamar, tak ingin melihat Lyra yang masih menangis tersedu-sedu.


Entah ini keputusan yang tepat bagi Lyra, namun dia harus berpikir ulang untuk masa depan keempat buah hati dan dirinya sendiri.


Sementara Zul hanya bisa menangis dalam kesendiriannya, tanpa menghiraukan Adi. Dia duduk di ruang kerjanya, meremas kuat semua berkas yang ada di atas meja.


"Apa salah ku pada mu, Lyra! Begitu keras hati mu, sehingga rela mengorbankan perasaan aku sebagai seorang suami. Jika memang kamu tidak mengizinkan Kesy dan Adi menikah, kita bisa mencari jalan yang lain. Tapi ini enggak adil buat aku! Kenapa kamu begitu egois bahkan rela mengorbankan perasaan mu terhadap ku ...!" geramnya kembali menangis sejadi-jadinya.


Sementara Kesy masih menunggu kehadiran Zul di dalam kamar. Dengan perasaan penasaran, dia mengintip keluar kamar, mencari keberadaan orang-orang yang ada di apartemen keluarganya.


Wajahnya tampak kebingungan, tak seorangpun dia lihat ada di ruang tamu ataupun ruang makan, "Kemana mereka? Apakah Mama dan Papi ada di kamar ...?"


Kesy membuka pintu kamar Mama-nya, tanpa dia sadari beradu tatap dengan sang Mama.


Lyra menatap kearah pintu, melihat Kesy yang sudah tertangkap basah, karena tidak bisa kabur lagi.


Sang Mama yang masih sibuk membereskan semua pakaiannya di dalam travel bag yang di letakkan di atas sofa ...


"Ma, Mama mau kemana? Mana Papi?"


Kesy mencari keberadaan Zul.

__ADS_1


"Mama sudah mengetahui semuanya, lebih baik Mama yang mengalah untuk kebahagiaan kamu! Karena bagi Mama, kamu berhak bahagia bersama pria pilihan mu!" tegasnya tanpa melihat Kesy yang masih tertegun.


Kesy hanya bisa terdiam, tanpa mau menjawab ...


Lyra menoleh kearah Kesy, "Mama kampungan, Mama memang norak! Mama egois bahkan Mama terlalu mengekang kebebasan kamu! Karena apa? Karena Mama takut kamu akan terjerumus di dunia seperti ini! Mama bukan orang tua yang tahu akan kebutuhan putrinya, tapi Mama selalu berjuang untuk kebahagiaan dan kesembuhan kamu! Kamu mengecewakan Mama dengan tidur sama laki-laki yang bukan suami mu? Wanita seperti apa kamu? Kamu biarkan Adi merebut kehormatan mu! Apa yang dia janjikan padamu? Pernikahan? Uang? Atau apa hah?"


"Kebahagiaan!" jawab Kesy spontan dengan mata berkaca-kaca ...


"Yah, Bang Adi mampu memberikan aku perhatikan, kebahagiaan, dan keceriaan! Apa pernah Mama memberikan itu pada ku dari kecil? Mama terlalu sibuk sama pekerjaan, sama masalah Mama dan Papa! Sehingga Mama lupa akan aku! Lupa sama kebahagiaan ku! Aku seperti hidup yang di atur seperti robot, bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian dari Mama. Mama terlalu sibuk, Mama terlalu fokus pada pekerjaan! Sehingga Mama melupakan aku!!" sesalnya.


Lyra ternganga mendengar penuturan putrinya ...


"Hah! Semua yang Mama lakukan buat kamu! Buat kita, buat kesehatan kamu! Tapi kamu enggak bahagia sama Mama! Apa maksud mu, Kesy! Sembilan bulan Mama mengandung mu! Merawat mu ... Aaagh Tuhan! Apa salah aku telah melahirkan anak yang tidak pernah berterima kasih pada orang tua! Jika Papa mu masih hidup, mungkin dia akan melakukan hal yang sama seperti Mama!" tegas Lyra.


"Yah! Makanya aku ingin menyusul Papa biar aku ikut dengan dia, tanpa menggangu Mama. Jadi Mama bebas melakukan apapun demi kebahagiaan Mama!!"


Lyra yang tak kuat mendengar ucapan Kesy, tersulut emosi. Dia tak kuasa menahan rasa sakitnya kali ini. Jarak mereka berdua hanya satu meter, membuatnya semakin berang ...


PLAAAAK ...!


Lyra benar-benar melayangkan satu tamparan keras tepat di pipi putrinya.


"Apa pernah aku menampar mu dari kecil? Mama selalu berjuang untuk mu! Sekarang silahkan kamu mencari kebahagiaan mu sendiri! Karena Mama dan Papi juga akan berce-- ..."


Seketika Zul membuka pintu kamar, kemudian masuk ke kamar untuk mendekati putrinya yang dia cari. Melihat istrinya dan Kesy yang tengah berdedat panas.


Menyaksikan Kesy masih menyentuh pipinya, karena tamparan Lyra, dan hanya menahan tangis karena sakitnya tangan sang Mama.


"Kesy ..."


Zul memeluk Kesy, menatap Lyra penuh emosi ...


"Jika kamu mau pergi, silahkan! Jangan pernah main tangan kepada anak-anak. Aku tidak akan pernah memaafkan mu, jika terjadi seperti ini! Cukup Lyra, jangan buat aku masalah semakin besar!" sesalnya.


Lyra yang semakin merasa terpojok hanya bisa menangis meraung-raung, tanpa ada seorangpun yang membelanya.   

__ADS_1


Lyra memilih duduk di ranjang peraduannya, mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Berlin. Dia tidak ingin keluarga besarnya mengetahui semua permasalahan nya saat ini.


Sementara di kamar yang berbeda, Zul menenangkan Kesy agar tidak berdebat dengan Lyra.


"Tapi Mama sudah keterlaluan Pi! Kesy berhak menentukan kebahagiaan sendiri. Kesy yakin Bang Adi sangat mencintai Kesy!" isaknya meremas kuat baju kaos yang di kenakan Zul.


Namun, lagi-lagi Kesy shock, dia terus meremas kuat, bahkan tidak melepaskan tangannya dari baju Zul.


"Kesy, Kesy, Kesy!"


"Adi! Adi!"


Zul berteriak keras memanggil nama Adi karena sedikit panik melihat tubuh Kesy bergetar seperti orang epilepsi, bahkan bola matanya memutih.


Adi secepat kilat berlari ke kamar Kesy, melihat gadis belia itu menggigil sehingga menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah.


Zul membaringkan tubuh Kesy, merogoh koceknya, menghubungi Dokter Heru, agar mengirimkan ambulans ke apartemen mereka.


Sementara Lyra yang mendengar kericuhan dari arah luar, membuka pintu kamar, mencari suara Zul yang terdengar panik, berlari cepat menuju kamar Kesy.


Lyra melihat tubuh Kesy kaku dan dingin.


"Kenapa Kesy, Di?"


Adi menggeleng, karena dia tidak tahu apa yang terjadi.


Namun, dia melihat beberapa botol obat yang masih tergeletak di atas meja belajarnya, menghampiri meja, melihat obat-obatan yang di konsumsi putrinya, tidak seperti biasa.


Lyra menoleh kearah Zul, yang masih tampak panik ...


Lyra bertanya, "O-o-obat apa ini, hun?"


Zul mengerenyit keningnya, menoleh kearah Adi dengan tatapan penuh tanda tanya besar ...


 

__ADS_1


__ADS_2