Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Sama-sama belajar


__ADS_3

Adi terus memeluk Kesy saat berada di ruang keluarga, sambil menikmati semangkuk mie instan yang di buat gadis kecil itu untuk cemilan mereka berdua.


Sementara Betris masih mengawasi dua insan yang saling menggoda selayaknya anak abege tengah jatuh hati.


Entahlah, kini perasaan Adi sangat berbeda, semenjak memutuskan untuk menikah dengan Kesy. Jika di tanyakan cinta, mungkin belum sepenuhnya rasa itu sempurna kepada gadis belia itu. Namun membuat dia nyaman lebih baik, daripada terus menerus mendapatkan tekanan dari sang Mama.


Kesy mencium lembut bibir Adi yang kini mulai menjadi candunya, meletakkan kaki kanannya di atas paha sang pujaan hati.


Adi menautkan kedua alisnya, melirik penuh hasrat pada Kesy, beberapa kali ia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.


"Abang kenapa?"


Adi hanya bisa menggelengkan kepalanya, mengusap lembut kaki hingga paha yang menggunakan celana jeans ketat panjang, karena cuaca memang dingin.


Perlahan dia menyandarkan punggungnya disofa, agar gadis kecil itu bisa lebih nyaman mengecupnya.


"Gemes, kangen sama kamu, pengen ... Tapi ada helder!" tawanya menyeringai kecil.


Kesy menyandarkan kepalanya di bahu Adi, dengan mangkuk mie masih berada dalam pangkuannya.


"Tadi Kesy dengar Abang lagi nelpon, emang menghubungi siapa, yah?"


Kening Adi mengerenyit, mau jujur tidak akan mungkin, tapi jika tidak jujur suatu hari nanti pasti Kesy akan tahu.


"Hmm ... Laura. Dia menghubungi Abang ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kita yang akan dilakukan beberapa hari lagi. Dia menanyakan tanggalnya, tapi tidak bisa hadir, karena memang tidak memungkinkan ..."


Kesy terdiam, bibirnya hanya bisa tersenyum tipis, mendengar ucapan Adi.


"Abang masih cinta sama dia?"

__ADS_1


Adi memutar tubuhnya, agar dapat berhadap-hadapan dengan Kesy. Dia tidak ingin gadis itu memikirkan hal-hal aneh yang akan membuat beban pikirannya.


Perlahan Adi mendekatkan wajahnya, menatap mata Kesy dengan sangat lekat, hanya mampu berkata, "Hilangkan semua kegundahan hati kamu tentang Laura. Sama sekali Abang tidak pernah berpikir untuk mengenang dia. Wanita itu hanya masa lalu Abang! Kesy masa depan Abang! Kamu mengerti sayang. Kita akan menikah dan hidup bersama di sini, dan dimana saja. Justru Abang berniat akan membawa kamu setiap penerbangan nanti. Mungkin setelah menikah, kamu akan Abang bawa ke Hawaii. Kita bulan madu di sana, selama seminggu. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan dua minggu tanpa henti."


Kesy memajukan bibirnya, menyunggingkan senyuman, "Terus aku kuliah bagaimana? Mama pasti enggak bolehin aku pergi jauh-jauh, Bang! Apalagi sampe berminggu-minggu. Nanti aku di omelin Mama."


Adi tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sang calon istri.


"Bagaimana mungkin Mama mau melarang kita pergi! Kita suami istri, enggak ada yang bisa melarang. Mungkin kita harus memikirkan cara kamu di pesawat, karena Abang harus profesional dan menjaga penumpang, termasuk kamu, kan? Yang akan menjadi penumpang Abang ..." godanya pada puncak hidung Kesy.


Kesy memeluk tubuh Adi erat, setelah meletakkan mangkok mienya diatas meja yang berada dihadapan mereka.


Saat mereka tengah berdua-duaan seperti pasangan kekasih yang tengah jatuh hati, Betris mengejutkan mereka berdua.


Betris hanya tersenyum tipis, menatap wajah dua insan yang tengah berbahagia tersebut, dia hanya ingin menyampaikan perintah Zul pada Adi. 


"Mr. Adi ... Gerade eben Herr Zul per Sprechanlage kontaktiert ... Derjenige, der Mama und Papa abgeholt hat, nur Herr Zul. Also gehe ich zuerst einkaufen, okay? Weil Schwester Lyra darum bat, asiatische Gerichte zuzubereiten."


Mulut Adi menganga, dia melirik kearah Kesy yang masih meringkuk di dadanya dengan manja seperti biasa.


"Ooogh ya. Hmm, wir sind immer noch alleine hier? Pass auf, dass du nicht an die Schlafzimmertür hämmerst, okay!" sesalnya.


(Ooogh ya. hmm terus kami di tinggal berdua nih? awas kamu gedor-gedor pintu kamar, yah?)


Betris melayangkan tangannya di udara. Baginya kali ini, dia tidak ingin menjadi pengawal bagi kedua insan yang sudah dapat berpikir jernih, dengan status mendapatkan restu dari Lyra juga Zul.


Betris berlalu, meninggalkan kedua insan yang saling bertatapan, dengan wajah kebingungan.


"Bang ... Aku enggak mau di sini berduaan aja. Pasti Mama akan berpikir negatif tentang Kesy yang tinggal berduaan sama Abang ..." rengeknya meringkuk di pelukan Adi.

__ADS_1


Adi tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan adik kecil yang sangat manja dengannya sejak kecil. Dia mengusap lembut punggung Kesy, tanpa mau menggoda lagi.


"Kali ini aku harus kuat menahan sampai saat itu tiba ..."


Hanya pikiran itu yang ada dalam benak Adi, namun berbeda yang ada dalam kepala gadis belia itu. Dalam perasaan khawatirnya tersirat sebuah hasrat yang menginginkan hal itu, dari gerakan tubuh dan kecupan kecilnya.


Membuat Adi bersusah payah untuk menahan diri, agar tidak melakukan hal di luar batas sebelum waktunya tiba.


.


Sangat berbeda dengan suasana Lyra juga Zul, yang tengah memikirkan bagaimana caranya menghadapi kedua orang tua mereka.


Perasaan yang berkecamuk membuat mereka tampak khawatir, karena Eni dan Lince berencana untuk membawa Kesy kembali ke tanah air.


"Hun ... Ini enggak bisa kita lakukan. Aku mohon jangan pisahkan Adi dari Kesy. Karena kamu tahu sendiri, hanya Adi yang bisa membuat anak kita bahagia. Aku enggak mau pikirannya semakin berkecamuk, akhirnya meninggalkan aku. Apa kata keluarga Dony ..."


Zul yang mendengar ucapan Lyra selalu memikirkan keluarga almarhum suaminya, membuat hatinya semakin kesal.


"Please sayang! Stop bicara tentang keluarga mantan suami kamu! Mereka itu enggak ada di sini! Kita masih bisa menyelesaikan semua tanggung jawab untuk Kesy. Jika kamu terus membawa keluarga almarhum Dony, lebih baik mereka saja yang mengurus Kesy serta membiayai semua kebutuhannya! Aku bukan cemburu, tapi ini tentang keluarga kita. Tidak ada hubungannya dengan Dony atau siapapun yang menyangkut dengan masa lalu kamu! Are you understand!"


Lyra terdiam, wajahnya seketika berubah cemberut. Rasa khawatir yang terlalu berlebihan, membuat Zul meradang karena istrinya selalu membawa keluarga yang sama sekali tidak pernah mau tahu tentang Kesy. 


"Iya maaf! Aku hanya ingin memberitahu kamu, bahwa aku sedikit khawatir dengan omongan mereka nantinya, hun ... Bukan apa-apa," rungutnya pelan.


Zul tersenyum, melirik sedikit, kembali mengarahkan pandangannya dengan stir kemudi.


"Aku hanya ingin kita sama-sama belajar menghadapi semua ini, sayang! Bagi aku, mereka itu tidak ada gunanya untuk terlibat dalam situasi ini. Cukup, jika mereka bertanya ... Kita hanya menjawab dengan senyuman. Aku tidak ingin kamu terlalu memikirkan apa kata mereka!" tegasnya.


 

__ADS_1


  


__ADS_2