
Mereka menikmati keindahan sore yang indah disalah satu pusat perbelanjaan kota kecil tersebut. Lyra diberi izin oleh Zul yang masih di sibukkan dengan beberapa pasien yang tak bisa menemani sang istri tercinta.
Dengan demikian, tentu tidak menyulutkan niat Zul yang akan segera menyusul orang yang dicintai nya begitu pekerjaannya selesai.
Lyra dan Kenny masih di sibukkan dengan hidangan yang ada di hadapan mereka, tentu sambil bercerita panjang, sambil mengawasi Kesy tengah sibuk bermain di playground yang tersedia dipusat kota itu.
Lyra menoleh kebelakang, bertatapan mata dengan Dony yang sengaja mengikutinya sejak awal mereka meninggalkan rumah sakit.
'Dony ... Ngapain dia mengikuti aku? Pasti dia ingin melakukan sesuatu pada ku juga Kesy. Dasar laki-laki tidak tahu malu ...!" geram Lyra mengepal kuat tangannya.
Kenny yang melihat perubahan adik iparnya, ikut menoleh kearah mata Lyra tertuju.
"Dony ...! Ngapain dia kesini!?" sesal Kenny melihat keberadaan Kesy. Berjaga-jaga jikalau pria yang tengah menuju kearah mereka, mengambil paksa keponakannya.
Bergegas Kenny mencari nomor telepon suaminya, Bima. Agar segera menghampiri mereka karena kehadiran Dony yang sangat mengganggu kebersamaannya dengan adik iparnya.
Bergegas Lyra memanggil Kesy, agar tidak terjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka berdua.
Namun, saat Lyra akan berdiri tegak, Dony menahan tubuh mantan istrinya agar tetap duduk dikursi yang sama.
"Lepaskan aku, Don! Apa mau mu!?" bentak Lyra karena mendapatkan perlakuan kasar dari Dony.
Dony menatap lekat kearah Lyra, menyesiasati keberadaan putri kesayangannya, menoleh kearah Kenny yang berdiri tegak meraih Kesy yang segera keluar dari playground.
"Aku kesini ingin kembali padamu, Lyra. Aku menyesal. Tolong kembalilah pada ku. Hanya kamu yang dapat mengerti aku setelah kamu berucap masih mencintai aku," mohon Dony.
Lyra mengkerut kan keningnya, "Apa maksudmu? Aku sudah menikah, Don. Ini enggak mungkin! Bahkan, saat ini aku sudah bahagia dengan Zul. Pria yang sudah memperjuangkan cintanya untuk aku juga Kesy. Hah ... Apa-apaan permintaan kamu. Dengar Dony, kita sudah berpisah, talak tiga yang kamu ucapkan dihadapan saksi Majelis Hakim, dan semua mendengar kamu telah menceraikan aku!" tegasnya lantang.
__ADS_1
Lyra mendorong tubuh Dony, agar tidak berdiri di hadapannya, seolah-olah akan menciumnya karena jarak wajah mereka sangat dekat.
BRAAAK ...!
Dony terjerembab ke lantai mall, membuat seluruh mata pengunjung tertuju kearah mereka menyaksikan kejadian tersebut.
"Lyra! Aku juga masih mencintai mu. Kita punya Kesy, dan kita bisa pergi dari kota ini. Aku tidak sanggup harus berpisah darimu! Aku mohon, jangan tinggalkan aku, Lyra ..." tangisnya meraih kaki Lyra dihadapan banyak orang.
Seketika tubuh Lyra benar-benar mematung kaku. Kakinya terasa berat saat Dony benar-benar bergantung layaknya seorang pria yang memohon untuk di perjuangkan.
Lyra menggeram, menghela nafas panjang, menghentakkan kakinya agar cengkraman Dony yang sangat kuat itu terlepas.
"Jangan pernah berharap aku akan kembali pada mantan. Jangan kan kau, Don! Siapapun yang telah menjadi mantan ku, tidak akan ada kesempatan kedua baginya. Sudah cukup lama aku menderita hidup dengan mu! Hingga aku tidak mengetahui apa masalah rumah tangga kita, hingga teganya kau menceraikan aku. Apa salah ku selama ini padamu? Apa yang aku perbuat diluar sana? Aku berjuang untuk mu, juga Kesy. Tapi apa yang aku terima? Pernahkah kau mengucapkan terimakasih pada ku? Enggak Don, enggak pernah! Kau terlalu sibuk dengan dunia keluarga mu! Hingga kau melupakan aku, dan mencari kesalahan aku! Apa rumah tangga seperti itu yang kau bilang bahagia?"
Bibir Lyra bergetar, air mata akan jatuh tak tertahankan. Jika di tanyakan pada lubuk hati terdalam, mungkin dia akan memilih kembali mempertahankan rumah tangganya demi Kesy.
"Aku yang salah Lyra! Aku yang salah! Aku mohon, kembali padaku. Berpisah lah dari pria itu. Aku tak bisa hidup tanpa mu. Hanya kamu yang ada dalam benak ku, Lyra. Aku mohon!!!" tangis Dony menggema, tanpa ada perasaan malu pada semua mata yang menyaksikan kejadian tersebut.
Lyra menarik nafas dalam-dalam, mengambil tas yang berada dimeja, dia tak ingin larut dalam suasana hati yang merasa kasihan, hingga melupakan Zul yang sangat sabar selama beberapa bulan menenangkan hati dan pikirannya.
Sekali lagi Lyra kembali menoleh kearah Dony, menatap lekat wajah pria yang pernah mengisi hari-harinya selama delapan tahun dengan tatapan penuh arti.
"Jangan pernah berharap pada ku. Karena aku pernah mengharapkan mu untuk kembali, namun kau terlalu angkuh karena keegoisan mu. Pergilah dengan wanita mu, dosa mu, juga keluarga mu yang mungkin dapat membuat mu bahagia. Saat ini hidup kita sudah berbeda. Selamat malam!"
Lyra berusaha menahan air mata yang akan mengalir deras dari mata indahnya, namun harus dia lakukan agar terlihat tegar walau harus berperang melawan perasaannya yang seketika berkecamuk karena rayuan maut Dony.
Lyra berjalan menghampiri Kesy dan Kenny, tanpa menoleh pada pria yang selama ini telah menorehkan luka yang teramat dalam bagi kehidupannya.
__ADS_1
Air matanya mengalir deras membasahi wajahnya, saat Lyra berjalan dengan tergesa-gesa, tanpa sadar dia menabrak dada bidang pria yang sejak tadi mendengar ucapannya.
BHUUUUG ...!
Lyra menghindari dada pria tersebut, bergegas meninggalkan food street yang ada di sana, menuju toilet.
Namun tangan pria itu menariknya kembali membawa tubuh ramping itu dalam dekapan.
"Menangis lah sayang ... Jika kamu mau menangis. Aku selalu ada untuk mu saat ini," usap Zul pada kepala istrinya.
Lyra yang baru menyadari bahwa pria yang dia tabrak merupakan suaminya tercinta.
Tangan yang awal menggeram, kini meremas kuat punggung Zul. Lyra menumpahkan seluruh perasaan kecewanya. Dia menangis sejadi-jadinya, dalam pelukan Zul, dilihat oleh Dony yang masih meringkuk dilantai mall.
Zul memberi kode pada Kenny agar meninggalkan mereka disana, membawa Kesy yang masih memeluk Kenny karena tak kuasa membendung air mata melihat kedua orang tuanya seperti saat ini.
Kenny membawa keponakannya untuk melindungi jiwa Kesy menuju parkiran mobil yang berada di basemen, meninggalkan Zul juga adik iparnya untuk menyelesaikan permasalahan mereka dengan Dony.
Zul menghela nafas berat, jujur saat ini dia ingin mencekik laki-laki pengecut yang masih meringkuk dilantai mall tersebut.
Namun, Zul sebagai suami tidak ingin melakukan hal yang akan menyakiti orang lain hanya karena dia merupakan orang terpandang di kota kecil tersebut.
Zul merenggangkan pelukannya, mengusap lembut wajah sembab istrinya itu, sedikit mengecup bibir basah Lyra agar kembali tenang.
"Apakah permasalahan kalian sudah selesai? Jika belum aku akan mendampingi mu untuk menyelesaikan semua uneg-uneg yang menjadi beban pikiran mu selama ini. Apa kamu mau, sayang?" tanya Zul masih melirik kearah Dony.
Lyra menggelengkan kepalanya, "Semua permasalahan ku sudah selesai, hun ... Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan ini, karena tidak akan pernah ada solusi."
__ADS_1
"Oke ... Kali ini, biarkan aku yang melakukannya!"