Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Tertekan


__ADS_3

Lyra tersentak, wajahnya memerah saat mendengar namanya di sebut oleh pria muda nan tampan diseberang sana.


["Kamu kenapa, Lyra? Ada yang mau kamu tanya kan?"]


Lyra kembali tersenyum tipis, menggigit bibir bawahnya, membuat Zul semakin menggodanya diseberang sana.


["Zul, aku mengingat nama seorang keluarga dokter spesialis kandungan di kota ku. Apakah kamu anak Bapak Abdul Maeta yang ternama itu? Istrinya seorang Notaris, dan aku pernah bertemu dengan wanita paruh baya yang lembut juga ramah tersebut. Namanya Ibu Eni! Jawab aku, apakah kamu adalah putra mereka? Karena yang aku ingat dia memiliki anak yang tenga kuliah di Jerman, di Assen dan Berlin. Assen adalah Adi, dia baru lulus SMA kemaren. Berarti kamu adalah ooogh.... Zulmaeta putra pertama Dokter Ahmad Maeta?"]


Lyra semakin shock, tak menyangka saat ini dia di goda oleh anak orang nomor satu di kotanya. Rumah sakit ibu dan anak tempat dia melahirkan Kesy, juga sering bertemu beberapa Dokter anak, dan istri dokter kandungan tersebut.


Ini enggak mungkin? Enggak akan mungkin seorang anak dari keluarga terpandang akan terus-menerus menggodanya, sementara Lyra sangat mengetahui bagaimana kebaikan kedua orang tua, Zul.


Zul menautkan kedua alisnya. Berkali-kali dia memanggil nama Lyra, merasa tidak nyaman karena wanitanya menjadi tampak aneh setelah mengetahui identitas pria muda di seberang sana.


["Ya Lyra, aku memang putra mereka. Apa ada yang salah? Jika aku menjadi kekasihmu?"]


Lyra menggelengkan kepala, menautkan kedua alisnya.


["Maaf Zul, lebih baik kita hanya sebatas teman saja. Karena aku tidak ingin sakit hati lagi. Jujur aku tidak ingin menikah lagi, karena tidak percaya dengan nama pernikahan. Silahkan kamu mencari wanita yang seumuran denganmu, dan sepadan dengan keluarga kamu. Aku hanya wanita biasa yang tidak memiliki apa-apa. Kita akhiri saja telepon ini. Maaf, jika aku salah. Terimakasih Zul atas waktunya."]


Lyra menutup telfon, meletakkan handphone di atas meja kecil yang berada di pangkuannya. Pelan dia memijat pelipis, bagaimana mungkin seorang anak pengusaha ternama yang memiliki harta berlimpah, bahkan kemewahan luar biasa mau menjalin hubungan serius dengannya?


Tidak-tidak-tidak Lyra, jangan mimpi kamu akan di nikahi seorang perjaka kaya. Apa kata dunia?? Apa kata Bu Eni....yang merupakan Mama Zul, sementara dia yang mengurus semua surat-surat rumahmu.


Hanya karena salah sambung, dan pura-pura bertanya keberadaan Lyra. Meminta mengirimkan kartu identitas, yang tanpa sengaja Lyra penuhi permintaannya, ternyata identitas sengaja di simpan oleh Zul dalam memory handphone miliknya.

__ADS_1


Salah sambung yang membuat Zul melihat kepolosan wajah wanita cantik seorang Lyra, yang merupakan salah satu orang terpandang di instansi pemerintahan didaerah mereka. Mereka berdua hanya saling mengagumi dalam hati.


Jika ditanya mereka saling mengenal sebelumnya? Tentu jawabannya tidak sama sekali. Namun, Lyra dekat dengan keluarga mereka hanya karena ada urusan pekerjaan, dan pernah bertemu dengan kedua orang ternama tersebut dalam proses kelahiran Kesy melalu operasi caesar, dan juga saat membeli rumah lumayan mewah di area seputaran sekolah Kesy yang berada ditengah kota.


Lyra terdiam, wajahnya seketika memerah, tersipu malu saat membayangkan wajah Zul yang dia lihat barusan. Tubuh yang terlihat sehat dan tegap, bulu halus di seputar wajah yang menghiasi dagunya. Leher mulus dan menggunakan kalung inisial L.


"Apakah inisial L itu adalah Lyra? Atau L mantan kekasihnya?" gumam Lyra saat merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah meletakkan meja kecil di lantai kamar yang dingin.


Lyra tidak ingin banyak berharap, apalagi membayangkan akan menjadi seorang menantu orang terpandang di kotanya. Pasti keluarga Dony akan terus menghinanya, apalagi saat mengetahui dia menjalin hubungan dengan pria jauh lebih kaya dari pada Dony.


Aaagh.... jangan menghayal Lyra. Dia hanya ingin menikah dengan wanita terpandang dan terhormat. Lagian usia kalian sangat berbeda jauh. Ini akan menjadi tantangan terbesar untuk nya, jika semua itu terjadi.


Lyra terlelap, setidaknya menjalani kehidupan di dunia nyata seperti saat ini, lebih baik. Di bandingkan harus berhalusinasi dengan hal-hal yang tidak masuk akal.


Lyra masuk ke dunia mimpinya, tanpa dia sadari seorang pemuda tengah sibuk membuka pintu pagar kediaman wanita cantik itu.


Jantung Lyra berdegup kencang, ada perasaan takut, bahkan kembali berfikir negatif karena takut akan terjadi pembunuhan di kediamannya. Dia mengintip dari balik gorden kamar, melihat dengan sangat jelas, tiga pria yang menggunakan kupluk hitam, tengah sibuk berdiri didepan pagar.


"Mau apa mereka?" batinnya, berfikir mencari handphone miliknya.


Lyra mencari nomor Iqbal sahabatnya, yang masih berada di kota tersebut, agar dapat mengirimkan satu orang atau apapun untuk menghentikan tiga pemuda tersebut.


Lyra kembali mengintip dari balik gorden, sengaja dia membuka pintu kamar, dan kembali membantingnya.


"Kalian pikir aku takut?"

__ADS_1


Lyra kembali melihat kearah luar, memastikan apa yang menjadi target mereka berdua. Perlahan dia mengambil kunci mobil, dan memainkan remote control dari dalam rumah.


Tanpa perasaan takut Lyra membuka pintu yang masih tertutup teralis, berteriak keras meminta pertolongan pada tetangga.


Lyra sangat ketakutan, namun memberanikan diri untuk menyelamatkan diri sendiri juga putri kesayangannya, Kesy.


Tentu teriakan Lyra dapat di dengar oleh dua orang security yang tenga berjaga-jaga saat malam. Dengan cepat mereka berlari kencang menuju kediaman Lyra.


Lyra tidak peduli apapun yang akan terjadi jika sesuatu hal yang buruk menimpanya. Dari teror keluarga, cemoohan tetangga, bahkan kembali menerima ancaman orang luar yang dia yakini adalah perbuatan Dony.


Lyra menelan ludah sendiri, membuka pintu teralis saat security mendekat di kediamannya, memberikan beberapa keterangan dari apa yang dia lihat sebelum tidur barusan. Sesekali matanya tertuju pada wanita yang tenga mengintip dari balik gorden di rumah tetangga.


"Pak, saya yakin. Yang meminta tiga preman itu menakut-nakuti saya itu merupakan orang bayaran, Dony. Silahkan kalian grebeg saja rumah tetangga sebelah ini!" ucap Lyra berbisik pada dua security.


Dua security tersebut mengangguk setuju, "Tapi kami harus meminta izin dulu, Bu! Sama Pak ketua. Kan rumah sebelah itu milik seorang Panglima Jenderal. Dia sedang pendidikan keluar kota. Makanya kami enggak berani grebek. Karena setiap hari, pasti ada yang datang kesini, untuk mengawasi Ibu Nela," jawabnya juga berbisik.


Lyra ternganga, setelah mengetahui identitas tetangga sebelah. Bisa-bisa di belah kepala Dony oleh mereka jika mengetahui hubungan terlarang istrinya itu. Pantas saja saat ini mereka aman dan tenang tanpa ada perasaan bersalah ataupun takut, batinnya.


"Ya sudah, Pak. Yang pasti saya percayakan pada Bapak, untuk mengawasi rumah saya. Karena saya sudah berdua saja sama Kesy tanpa Dony, Pak!" ucap Lyra pelan.


Dua security tersebut mengangguk, "Tenang, Bu. Yang penting kalau ada apa-apa ibu hubungi kami."


Lyra mengangguk, memasuki rumah. Namun, saat dia akan menutup pintu utama, Dony menahan pintu masuk dengan tubuhnya.


"Biarkan aku masuk, Lyra!! Aku ingin bertemu dengan, Kesy," teriaknya menggeram.

__ADS_1


Lyra yang terkejut dengan kehadiran mantan suaminya hanya bisa menekan pintu agar tertutup rapat, "Pergi kamu Dony. Jangan pernah mengganggu kehidupan aku lagi! Pergii....! Kesy sudah cukup tertekan dengan kelakuan keluarga mu...!"


__ADS_2