
Mendengar suara isak tangis seorang Kesy yang ketakutan, membuat Rey bergegas membantu sepupu dekatnya itu, dengan memberikan segelas air putih, saat ia terjaga dan menangis di pelukan Lyra.
"Ma ... Kita pulang ke Berlin, Kesy enggak mau di sini. Kesy takut, Ma. Kesy mau pisah dari Bang Adi, Kesy mau pulang ke Berlin!" tangisnya, membuat Lyra mendekap erat tubuh Kesy hanya untuk memberikan ketenangan dan kekuatan pada sang putri.
Rey yang melihat pertama kali goncangan Kesy sangat memprihatinkan, dia memberanikan untuk bertanya pada Lyra. Walau melalui kode tatapan mata.
Rey yang seumuran dengan Adi, justru tidak terpikirkan akan melakukan hal segila itu pada pasangan halalnya, setelah tanpa sengaja melihat bekas cambukan yang masih menorehkan memar di bagian perut Kesy yang terbuka sedikit tanpa sengaja oleh Lyra.
Kedua tangan Rey mengepal kuat, rahangnya mengeras, bahkan semakin kesal membayangkan kejahatan Adi terhadap Kesy.
Rey berbisik-bisik dengan Lyra, hanya untuk menanyakan keberadaan Adi, setelah melihat Kesy tertidur di dekapan sang Mama.
"Dimana laki-laki jahanam itu, Tan ...?"
Lyra menautkan kedua alisnya, berbicara tanpa suara, "Tante enggak tahu dimana anak brengsek itu berada saat ini. Jangan macam-macam, Rey! Ingat kamu baru punya baby ..."
Lyra yang mengetahui bagaimana sikap Rey, jika bertindak sejak sekolah, hanya bisa meredakan amarah Rey agar tidak terpancing.
Rey mengangguk meyakinkan Lyra. Dia mengusap lembut kepala Kesy, dan memohon izin untuk berpamitan meninggalkan kamar tersebut, agar Kesy dapat beristirahat dengan tenang.
Lyra yang melihat Rey telah keluar dari kamar perawatan, bergegas mengunci pintu ruangan, sesuai yang di perintahkan suaminya jika dia tidak ada di ruangan.
.
Di ruangan yang berbeda, Zul justru berdebat dengan sang Mama, karena kelakuan Eni yang benar-benar tampak mengecewakan Zul selaku anak kandung.
Apalagi Eni tidak terima atas perlakuan Zul juga Ahmad yang menyakiti Adi, tanpa mau mendengarkan penjelasan kondisi Kesy saat ini.
"Apa? Mama bilang Kesy yang meminta? Siapa yang bilang!? Tidak mungkin seorang anak usia 18 tahun akan mau di rusak seperti itu dibagian intinya hanya untuk sebuah hubungan aaaaagh!"
"Adi yang ngomong, Zul! Adi ..."
Zul menyunggingkan senyuman tipis karena perasaan kecewa, ternyata sang Mama lebih percaya ucapan Adi, daripada anak dan suaminya sendiri.
"Terserah Mama deh! Mau Mama enggak percaya dengan Zul, Papa, malah Mama bilang Papa yang telah menembak kaki Adi! Zul rasa yang dia terima itu sudah sangat setimpal dengan yang Kesy rasakan! Dengan catatan, tolong ceraikan anak Zul! Jika tidak, Zul yang akan menyelesaikan semua ini sendiri dengan cara, Zul!"
Zul berlalu meninggalkan kamar sang Mama, dengan membanting pintu kamar dengan sangat keras.
Membuat pembantu yang berada di dapur terlonjak kaget.
"Astaghfirullah ... Bang Zul ribut besar sama Ibu ..."
__ADS_1
Bergegas bibi menghampiri Zul yang akan berlalu meninggalkan rumah, melalui pintu samping, dia memanggil anak majikannya dengan tergopoh-gopoh.
"Bang! Bang Zul!"
Zul menoleh kearah bibi yang terengah saat mendekatinya.
"Ya Bi, ada apa?"
"Abang mau kemana? Bapak sama Ibu kayaknya mau pisah. Tadi Bibi dengar Bapak mau hmm," ungkapan yang menyiratkan sebuah kebingungan dan keraguan.
Zul menggelengkan kepalanya, dia menepuk pelan bahu asisten rumah tangga keluarganya, yang sudah dianggap keluarga sejak dulu.
"Biarkan saja dulu Bi. Semua lagi panik, mungkin besok Zul akan membawa semua keluarga pulang ke Berlin. Bibi jaga Mama, yah? Jika Adi kembali, tolong sampaikan padanya, ceraikan Kesy. Jangan jadi pengecut sebagai laki-laki, karena dia sudah sangat keterlaluan. Dan satu lagi, Zul mohon ... Jangan pernah bicara pada siapapun tentang masalah keluarga ini. Siapapun!"
Bibi mengangguk mengerti, "Sabar yah Bang! Kirim salam buat Kesy. Semoga dia sabar dalam menghadapi semua ujian yang sudah menjadi takdir dalam hidupnya. Bibi sayang sama kalian semua ..."
Zul hanya bisa tersenyum lirih, dia memilih berlalu meninggalkan kediaman keluarganya, agar tidak berlarut-larut menghadapi perdebatan yang tak ada solusi dan sangat menyesakkan dada.
Bagi Zul, keluarga nomor satu. Terutama rumah tangganya. Begitu juga dengan kedua orangtuanya. Tapi kali ini, lagi-lagi dia harus mengalah demi menyelamatkan anak dan istrinya, daripada harus menjadi bulan-bulanan sang Mama yang sangat mengecewakan hanya karena ingin membela Adi.
Ya ... Eni telah menebus semua tentang Adi di kepolisian. Demi nama baik keluarganya. Tentu semua keputusan yang diambil Eni menjadi bumerang bagi keluarga Zul putranya sendiri, serta Ahmad yang lebih dulu mengetahui dari rekannya yang berada di Polda.
Bagaimana keluarga tidak berang dan kecewa, saat mengetahui semua itu dari bibir Eni. Tanpa Eni ketahui mengeluarkan Adi dari tahanan, akan mengancam keselamatan Kesy selaku anak dari Lyra juga Zul.
Saat Zul tengah berjalan seorang diri, dia melihat sosok mantan kekasihnya terdahulu.
Luna, yah Luna yang tengah belajar berjalan di dampingi suster yang memegang tangan istri Rey tersebut.
Luna yang melihat Zul semakin mendekat, karena kamar putrinya bersebelahan, memberanikan diri untuk menyapa pria yang pernah hadir mengisi harinya pada masa lalu.
"Hai Zul ..."
Suster membantu Luna untuk duduk di kursi yang terletak di depan pintu kamarnya.
Zul tersenyum tipis, menyapa tanpa mau bersalaman.
"Hai ... Bagaimana keadaan mu? Selamat yah? Aku pikir kamu telah menikah dengan Aldo, ternyata hmm ..."
Luna tertawa kecil, dan sungguh sangat menyenangkan melihat kepolosan, bahkan wanita yang dulu tampak jahat seperti monster, kini berubah 180 derajat semenjak menjadi istri Rey keponakan Lyra dari almarhum mantan suaminya, Dony.
"Aldo lebih memilih wanita muda daripada aku, Zul. Tapi eee Rey lebih baik, syukurnya saat ini kehidupan kami berubah, walau menjalani proses panjang," ceritanya.
__ADS_1
Zul mengangguk mengerti, dia sangat memahami bagaimana sisi baik Luna. Tapi bagaimanapun Luna merupakan masa lalunya, yang telah bahagia.
Luna menoleh kearah kamar sebelah, "Si-siap-a yang sakit, Zul? Apakah Rey masih di dalam kamar?"
Zul menaikkan kedua bahunya, "Aku belum tahu, karena baru kembali dari bawah. Mungkin masih. Oya ... Terimakasih uangnya, kalian memang partner luar biasa dalam menjalani sebuah bisnis. Dan aku merasa bangga, karena kamu memang pantas menjadi orang hebat, walau harus menikahi pria lebih muda," tawanya.
Luna membalas dengan tertawa, membalikkan ucapan Zul, "Bukannya kamu juga sukses dengan Lyra? Bahkan aku dengar kalian di berikan anak kembar tiga. Aku sangat bahagia, semoga bisa nambah satu lagi, dan kembar ..."
Zul terdiam sejenak, kembali mengingat jadwal periode terakhir sang istri yang sudah lewat dari tanggalnya. Dia memilih untuk berlalu, dan menarik lengan suster yang masih berdiri di samping Luna untuk membisikkan sesuatu ...
"Ya Dok ..."
"Tolong kamu ke bagian keuangan, bilang semua administrasi untuk biaya persalinan istri Rey, saya yang tanggung. Satu lagi, antarkan testpack ke kamar Kesy segera! Saya mau memastikan istri saya. Jangan-jangan dia hamil," senyumnya menyeringai lebar.
"Baik Dok. Saya bantu Ibu Luna dulu, nanti testpack untuk Ibu Lyra, saya antar ke ruangan Nona Kesy."
Suster berlalu, mendekati Luna kembali membantu untuk segera membawa wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Zul memilih mendekati kamar Kesy, mengetuk pintu dengan pelan. Melihat dari kaca kecil, istrinya berjalan kearah pintu, pria itu tertawa kecil, melihat wajah cantik istrinya yang tampak kelelahan.
Saat pintu terbuka, Zul menerobos masuk, sengaja mengunci pintu dan mendekap tubuh Lyra kemudian menyenderkan tubuh ramping itu ke dinding kamar, hanya untuk melihat wajah cantik itu dari jarak dekat, kemudian berkata ...
"Kamu belum periode bulan ini, kan sayang?"
Lyra menautkan kedua alisnya, berpikir sejenak, membayangkan pembalut yang sama sekali tidak pernah ia sentuh selama dua bulan.
"Sepertinya, kenap--?"
Zul langsung melahap, mellumat bibir Lyra dengan bibirnya, tanpa harus menjelaskan, 'Kenapa' ...
____
Hai hai hai ...
Menyapa sebentar, hanya untuk memberikan give pada pembaca setia Perjaka untuk Janda, sesi ketiga ...
Bulan lalu, pulsa ... Bulan ini, othor mau bagi jilbab atau daster kesukaan kaum emak atau istri dan pacar ... Hayuuuk, perbanyak hadiah dan komentar dong ... Siapa yang banyak komentar dan kasih vote akan menjadi the winner ...
Dua pemenang saja ... Hingga 29 Oktober 2022 ...
Ingat yah, diantara dua pilihan, Jilbab atau daster ... 😘😍
__ADS_1
Happy reading ...🌹🌹