Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Keputusan ...


__ADS_3

Saat tangan halus istrinya tengah merangkul erat di leher kekar suaminya, sejenak kenikmatan mereka dalam berciuman terhenti, karena di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari arah luar.


"Hun ..."


"Hmm ..."


Lyra melepas lummatan suaminya, menepuk dada Zul pelan, "Ada suster tuh," tunjuknya kearah pintu.


Zul teringat akan testpack yang ia pinta pada salah satu suster, kemudian membuka pintu dengan pelan agar tidak menggangu ketenangan putrinya yang tengah beristirahat.


Suster tersenyum tipis, memberikan tiga testpack pada Zul, "Ini Dok."


Zul menerima alat test kehamilan itu, hanya berkata, "Terimakasih." Kemudian menutup pintu kamar perlahan dan mengunci kembali setelah melihat suster itu berlalu meninggalkan ruangan mereka.


Zul menatap Lyra, tersenyum bahagia, mengecup lembut kening istrinya, memberikan testpack itu pada sang istri.


"Hun ..."


"Pergilah, aku yakin kamu hamil. Karena aku melihat perubahan pada mu. Kamu lebih bergairah dan sangat cantik, semoga ini menjadi anak terakhir kita. Aku mencintaimu, Lyra."


Lyra menghela nafas panjang, sejujurnya dia masih sangat bahagia dalam mengurus keempat anak mereka.


"Ooogh Tuhan, aku masih belum siap ..." rengeknya berlalu kedalam kamar mandi, namun tak diacuhkan oleh Zul yang mendengar ucapan sang istri.


Zul tersenyum lebar, merasa sempurna telah menjadi suami yang bertanggung jawab, dengan berbagai macam permasalahan yang tengah mereka hadapi.


.


Disisi lain, Adi tengah berusaha untuk kembali ke kediaman Ahmad. Tak sedikitpun ada perasaan takut ataupun malu, jika ia harus berhadapan langsung dengan Zul ataupun sang Papa.


Akan tetapi, saat Adi turun dari mobil yang telah terparkir di gerbang pintu masuk kediaman keluarganya, pria yang hanya memiliki satu kaki itu dengan kedua tongkat mengapit di ketiaknya, turun dari taksi online.


Adi dikejutkan dengan kehadiran Rey yang sejak tadi memang sengaja menunggu kehadiran pria itu di sana.


Rey menghardik Adi tanpa perasaan sungkan, "Woowh! Ternyata kau hanya pria cacat yang tidak memiliki perasaan malu, telah berani datang ke rumah ini?"


Adi menyunggingkan senyuman sinis, bahkan tanpa perasaan bersalah ataupun berdosa, dia hanya mendecih ...


"Ciih, aku tidak ada urusan dengan mu! Minggir, ini kediaman keluarga ku!" tegasnya.


Tanpa banyak basa-basi, Rey menghujamkan pukulannya tepat di wajah Adi, yang masih terlihat memar dan masih di balut plaster. Membuat pria yang masih belum dapat berdiri dengan sempurna itu tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


BHUUG ...!


BHUUG ...!


BHUUG ...!


"Aaagh, brengsek kau!"


BHUUG ...!


Rey tak memberi ruang pada Adi, untuk bernafas, membuat pihak security yang menyaksikan kejadian tersebut, berlari mendekati kedua pria itu.


Adi yang tak memiliki tenaga untuk melawan, memberi perintah agar membawa Rey keluar dari area rumah sakit keluarganya.


"Bawa anak yang tidak tahu diri ini, dari kediaman keluarga ku!" ucapnya tanpa malu.


Rey meludahi wajah Adi tanpa perasaan takut, "Ciiih! Kau yang harus keluar dari kediaman keluarga ini, karena tidak ada seorangpun yang ingin menerima mu, termasuk Opa dan Oma! Laki-laki pengecut kau! Kau tahu, siapa Kesy? Dia sepupu dekat ku! Jika kau tidak mencintai dia, kembalikan dia pada keluarganya, jangan kau siksa dia! Brengsek!"


Pihak security yang mendengar penuturan mereka berdua, hanya saling menatap, meminta salah satu dari mereka untuk menghubungi Zul yang berada dilantai tiga.


Sementara security membantu Adi untuk berdiri dan membawanya ke sebuah ruangan, begitu juga dengan Rey.


"Hun ... Adi ada dibawah!" bisik Lyra pelan.


Lyra meletakkan telepon yang tersedia dikamar pada posisi semula yang berada dinakas, yang ia terima dari pos security, memberikan informasi kehadiran Adi pada wanita dewasa yang tengah berbahagia tersebut.


Bergegas Zul berlari kencang kebawah, meninggalkan Lyra dan Kesy, tidak lupa meminta istrinya agar mengunci pintu kamar ruangan mereka.


Lyra sedikit khawatir, hanya bisa tersenyum lirih, memilih beringsut mendekap tubuh Kesy yang masih terlelap, agar memberikan kenyamanan pada putrinya.


Sementara dilantai bawah, kehadiran Adi membuat Zul naik pitam yang duduk dihadapan Rey dan dua orang security menyaksikan perkelahian tersebut.


Rahang Zul mengeras saat matanya tertuju pada Adi yang kembali babak belur, karena hantaman dari tangan Rey. Tanpa berbasa-basi, Zul mendobrak meja, membuat yang ada didalam ruangan tersebut terlonjak kaget.


BRAAK ...!


"Berani sekali kau kembali ke kediaman keluarga ku! Pergi kau! Jangan pernah kau datangi Ibu ku, karena kau hanya anak angkat, bukan anak kandung!" bentak Zul saat memasuki pos security.


Pernyataan Zul, membuat mata Adi memerah, tak mampu menatap lagi kearah Abang tirinya tersebut.


Rey yang mendengar ucapan Zul menendang kursi tempat duduk Adi, tanpa perasaan kasihan ataupun sungkan.

__ADS_1


Sementara security hanya terdiam semakin menutup pintu pos dengan rapat agar tidak terdengar oleh orang lain yang tampak penasaran dengan pertengkaran Rey dan Adi.


Tanpa menunggu lama, Zul menyeret tubuh Adi, agar ikut bersamanya untuk menemui sang Mama ...


"Pak, bantu anak ini berjalan! Aku tidak ingin anak ini kembali ke kediaman ku, dan akan menggerogoti keuangan keluarga ku!" perintahnya.


Kedua security itu hanya mengangguk, dan mengikuti semua perintah Zul, sebagai komisaris di rumah sakit ibu dan anak keluarganya tersebut.


Namun Adi menolak, "Bang ... Tolong jangan seperti ini pada ku! Kasihanilah aku. Jika aku di usir Mama dari rumah, apa yang harus aku lakukan? Sementara aku ..."


Belum selesai Adi berucap, Zul kembali melayangkan satu tamparan keras pada pria yang sudah tidak berarti apa-apa baginya.


PLAAK ...!


"Aaagh ... Am-am-ampun Banghh ..."


Zul mendekatkan wajahnya, menggeram kesal menatap dengan tatapan tajam yang memerah ...


"Jangan harap kau akan aman saat ini! Karena perbuatan mu, putri ku mengalami demam tinggi, dan intinya mengalami robek bahkan pendarahan. Kau bisa keluar dari pihak berwajib, tapi kau tidak akan bisa lepas dari tangan ku, binatang!"


Adi menelan ludahnya susah payah. Sejujurnya, dia sangat ketakutan jika Zul akan memaksanya untuk menceraikan Kesy istrinya.


Zul menoleh kearah security, "Bawa dia!"


"Baik Dok!"


Bergegas Zul meninggalkan pos security, dengan membawa Adi yang di papah dua security tersebut, tanpa ada perlawanan yang berarti.


Rey tersenyum lega, kali ini dia berhasil membuat Adi babak belur untuk membalaskan rasa sakit hatinya, yang telah melukai Kesy sepupu terbaiknya.


Pintu rumah terbuka lebar, Zul mencari keberadaan Eni yang ternyata tengah melakukan kewajibannya sebagai umat muslim. Dia hanya menunggu sang Mama, yang masih menangis tersedu-sedu dalam berdoa.


Zul kembali ke ruang keluarga, memberi perintah agar kedua security itu meninggalkan kediamannya. Tentu kembali berpesan agar tidak bercerita pada siapapun tentang kejadian ini.


Bergegas Zul menghubungi Ahmad, agar kembali ke rumah, karena dia ingin menyelesaikan semua permasalahan keluarganya, tanpa menunggu lama.


Tentu saja ini menjadi satu keputusan yang harus diambil Ahmad Maeta selaku orang tua. Dia harus melepaskan Adi, tanpa mau mendengar apapun alasan anak tirinya yang tidak tahu diri tersebut.


Kini keputusan itu ada ditangan kedua orang tua Zul. Perbuatan yang sangat memalukan ini, takkan pernah bisa dimaafkan atas semua perbuatan Adi selama ini.


'Janda' ... Status itu yang akan menjadi beban terberat bagi putri kesayangan Zul juga Lyra mereka Kesy, yang baru di persunting dua minggu lalu.

__ADS_1


__ADS_2