Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Tidak ingin terlalu dekat ...


__ADS_3

Claire menatap Kesy yang juga menatapnya, tersenyum sumringah, kemudian memasuki ruangan dengan penuh perasaan khawatir, menyambut tubuh Kesy yang langsung memeluknya erat, kemudian menangis sejadi-jadinya.


"Ha-ha-hai ... Ada apa dengan kamu? Apakah ada orang lain yang mengganggu mu?" usapnya pelan pada punggung Kesy.


"Di-di-dia ada di sini. Aku harus berhenti bekerja dari sini, aku tidak ingin melanjutkan karir ku ..." tangisnya semakin keras, membuat Claire semakin bingung karenanya.


Kesy masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan Claire. Membuat pria yang masih dalam pelukan gadis cantik itu hanya bisa merenggangkan pelukannya, agar bisa mendengar penjelasan dari wanitanya.


"Bisa jelaskan siapa DIA itu, Kes? Aku tidak mengerti apa maksud mu," jelasnya.


Kesy menyeka wajahnya, dengan dada yang masih terisak-isak, dia menuju sofa kembali kemudian duduk atas arahan Claire.


Wajah cantik itu menunduk dengan kedua jemari tangan mengatup erat, "I-i-itu aku tadi melihat mata man-man-mantan eee hmm ... Mantan suami ku," tunduknya.


Seketika kedua alis Claire menaut, dia tidak menyangka bahwa gadis muda yang duduk disampingnya ini pernah menikah sebelumnya. 


"A-a-apakah pria yang kamu maksud itu Adi?"


Kesy menganggukkan kepalanya dua kali, dia meringkuk di dada bidang Claire kembali menangis sejadi-jadinya.


"Please ... Bawa aku pergi meninggalkan gedung ini. Aku tidak ingin bekerja lagi di sini. Aku akan meminta pada keluarga ku, untuk mengirim aku entah kemana, aku tidak mau bertemu dengan dia lagi ..." tangisnya pelan.


Claire hanya bisa menepuk-nepuk pundak Kesy dengan perasaan iba. Dia tidak menyangka, bahwa sahabatnya itu menorehkan luka yang sangat dalam pada wanita yang ia ketahui masih sendiri.


Claire menarik nafas dalam-dalam, dia memberikan pilihan pada Kesy, "Bagaimana jika kamu menjadi secretaris ku? Aku akan melindungi mu. Tenanglah, aku akan selalu menjaga mu. Tidak akan ku biarkan dia mengganti pikiran mu lagi."


Kesy menggelengkan kepalanya, seumur hidupnya, Papi-nya selalu melarang untuk menjadi seorang secretaris, karena akan berpengaruh buruk terhadap karir, dan kebanyakan menjalin cinta terlarang dengan bos sendiri.


"Aku tidak di izinkan untuk menjadi seorang secretaris, aku bisa menjadi akuntan di perusahaan mu, jika kamu mau. Agar tidak, ke kantor setiap hari, seperti Mama ku," ucapnya lembut sebagai bahan pertimbangan bagi Claire.


Claire berpikir sejenak, sejujurnya dia tidak ingin jauh dari Kesy, karena dia benar-benar jatuh hati pada wanita yang masih berada dalam pelukannya saat ini.

__ADS_1


"Tapi kita bisa propesional, Kes! Aku sangat membutuhkan wanita seperti mu, untuk menjadi partner ku. Aku lihat kamu bisa melakukannya," pujuknya.


Kesy tetap pada pendiriannya, dia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya kali ini. Pernikahannya dengan Adi sudah sangat menorehkan luka yang dalam bagi keluarganya, ditambah jika dia bekerja sebagai secretaris. Tentu Zul dan Lyra tidak akan mengizinkannya.


Claire tersenyum sumringah, bergumam dalam hati, "Ternyata dia wanita yang sangat patuh, bahkan penurut. Bodoh sekali Adi mencampakkan wanita sebaik ini. Aku harus mengenalkan diri pada keluarganya, dan secepatnya melamar Kesy. Sebelum Clive ataupun Adi merebutnya ..."


Mata Claire tertuju pada bekal yang belum habis tersentuh oleh Kesy, dia merenggangkan pelukannya, kembali bertanya, "Kamu mau makan lagi? Atau kita mau pulang ke rumah mu?" 


Kesy mengangguk, kali ini dia tidak ingin menghabiskan waktunya di kantor, karena tidak mau dihantui oleh Adi.


Claire bergegas membantu Kesy untuk membereskan semua box lunch makan siangnya, kemudian membawa semua berkas pekerjaannya, untuk segera meninggalkan ruangan Clive.


Akan tetapi, saat mereka akan meninggalkan ruangan Clive, kembarannya itu tiba-tiba masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk atau memberitahu pada Claire.


Sontak pertemuan yang telah diatur Clive untuk Adi dan Kesy, mendapatkan penolakan dari wanita muda itu.


Kesy bersembunyi di balik tubuh Claire, saat melihat wajah Adi berada dihadapannya. Tubuhnya kembali menggigil ketakutan, ketika Adi perlahan menghampiri Kesy yang masih berlindung di belakang pria yang berstatuskan bosnya.


"Please, jangan mendekati aku! Aku tidak ingin melihat wajahmu! Kau laki-laki brengsek!!" teriak Kesy memeluk erat tubuh Claire yang masih melindungi wanita itu.


Claire yang tidak menyukai cara Clive membawa Adi tanpa persetujuannya, membuat pria itu menatap garang padanya mereka berdua.


"Adi, please! Jangan paksa dia, aku tidak akan membiarkan Kesy ketakutan seperti ini!" hardik Claire pada Adi dihadapan Clive.


Matanya menatap nanar kearah Clive, mengisyaratkan bahwa tidak menyukai tindakan saudara kembarnya.


Clive berusaha untuk menenangkan Kesy yang tengah panik dan terus menerus meronta, agar Adi menjauh darinya.


Claire yang tidak menyukai pemaksaan, membentak Clive, "Jangan paksa kekasih ku!" tegasnya dengan wajah garang.


Clive dan Adi terdiam. Dia tidak ingin memperkeruh suasana, dan membiarkan Kesy dan Claire berlalu begitu saja, meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Dada Adi terasa sangat sesak seketika, saat menyaksikan sahabatnya membawa mantan istrinya pergi begitu saja. Kesal, cemburu, itulah yang ada dalam benak Adi saat ini. Bagaimana mungkin, kedua mantannya, Kesy juga Laura kini tidak mau menjalin komunikasi dengannya.


"Ooogh damn it! Apa yang harus aku lakukan! Dia pergi Clive! Dia pergi bersama Claire! Sama sekali Kesy tidak memberi aku ruang untuk meminta maaf. Please Clive, bantu aku!" mohon nya dengan wajah semakin frustasi.


Clive yang tidak tahu, apa yang harus ia perbuat hanya menengadahkan tangannya, "Aku sudah mencoba ... Namun tidak bisa! Aku minta maaf, setidaknya tidak ada harapan mu untuk merebut hati wanita itu kembali. Jadi lebih baik, kamu cari wanita lain saja. Karena jika Claire melindunginya, tidak akan ada harapan untuk kita. Aku sangat mengetahui bagaimana Claire."


Adi menghempaskan tubuhnya ke sofa, mengusap lembut wajahnya. Perasaannya seperti di peras, dan terasa sangat perih. Bagaimana mungkin wanita yang sangat mengidolakan kala itu, tidak ingin melihat wajahnya lagi.


"Apakah aku harus menculik Kesy?" bisiknya dalam hati. "Hanya untuk sekedar meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal itu. Tapi jika keluarga mengetahui tentang keberadaan ku, pasti mereka akan membenamkan aku di jeruji besi, atau bahkan masuk liang lahat. Aaagh ..." geramnya.


Sementara Kesy sudah berada di perjalanan bersama Claire yang akan mengantarkan ia kembali kekediaman nya. Benar saja, setiba di kediaman Zul, Claire mendapat pertanyaan yang sangat mengejutkan ...


"Apakah kau sudah memiliki istri?"


"Sejak kapan kau mengenal putri ku?"


"Dimana rumah mu, dan siapa keluarga mu?"


Pertanyaan-pertanyaan itu, membuat Claire tampak tidak bernyali untuk menguraikan satu-persatu silsilah keluarganya.


"Maaf Tuan Dokter, saya disini bersama Ibu saya, yang tinggal di apartemen dekat persimpangan lampu merah, yang tidak jauh dari kediaman Anda. Kebetulan Papa saya sudah menikah lagi, dan saat ini stay di Manila Filipina," jelasnya jujur.


Zul menoleh kearah Lyra, memijat pelipisnya, kali ini dia benar-benar tidak ingin tertipu dengan sosok pemilik perusahaan, karena akan berdampak buruk bagi Kesy. Tatapan keduanya mengisyaratkan bahwa tidak ingin putrinya terlalu dekat dengan Claire.


"Maaf, bisa bawa Ibu mu ke kediaman ku?" pinta Zul tegas.


"Ba-ba-baik Tuan, kapan kira-kira kalian ada waktu untuk aku datang kesini?"


"Nanti Kesy yang akan memberi informasi padamu. Hari ini rasanya sudah cukup!"


Claire terdiam, hanya bisa mengerti apa yang dimaksud Zul. Dia berdiri, memohon izin pada kedua orang tua Kesy.

__ADS_1


"Oooogh my God! Ini Berlin, bukan Indo, ternyata mereka sangat strange!" geramnya.


__ADS_2