
Keheningan di dalam kamar hotel bintang lima itu, membuat Lyra tampak gelisah, karena mengkhawatirkan keadaan putrinya.
Ahmad yang melihat kegelisahan sang menantu, memberikan kunci mobil BMW X7-nya kepada Lyra, agar meninggalkan nya di kamar itu berdua dengan Adi sambil menunggu pihak kepolisian.
Tanpa berpikir panjang, Lyra meraih kunci dari sang Papa mertua, menatap geram kearah Adi yang hanya menggunakan baju kaos dan boxer bak tahanan kelas berat.
Lyra mendekati menantunya, menatap jijik bak seorang wanita yang benar-benar tidak akan memberi maaf pada sang menantu barunya itu, seketika tangan kanannya meraih rambut Adi dengan mata merah dan suara bergetar hebat ...
Tangan halus itu mendongakkan kepala Adi dengan kasar, yang tak mampu melawan lagi mendapatkan perlawanan dari menantu dua minggunya, dengan perasaan takut, hanya bisa pasrah tak berani menatap Lyra sang Mama mertua.
"Ceraikan putri ku! Aku menunggu ucapan talak dari mu untuk Kesy! Aku yang meminta kau menceraikan anak ku, karena kau sudah menorehkan luka yang teramat dalam pada putri ku! Jika anak ku hamil, aku tidak akan pernah meminta kau bertanggung jawab atas dia! Kau laki-laki pengecut yang pernah aku kenal, bahkan sangat menjijikkan! Aku rasa kau hanya anak haram, yang tidak di inginkan keluarga mu, namun memaksa lahir ke dunia ini!"
Lyra melepas cengkraman tangannya di kepala Adi, menyunggingkan senyuman sinis, bahkan penuh dengan dendam.
Ahmad yang mendengar ucapan sang menantu, hanya diam. Dia tidak pernah melerai apa yang ingin di lakukan Zul atau Lyra pada Adi jika tidak membahayakan, karena kali ini pria paruh baya itu memiliki cara yang berbeda untuk membenamkan putra tirinya yang tidak tahu diri tersebut.
Lyra hanya menoleh kearah Ahmad menundukkan kepalanya penuh rasa hormat, tapi tidak ingin mengeluarkan suaranya.
Melihat menantunya berlalu meninggalkan kamar hotel, security masih menunggu di luar kamar agar Adi tidak lari dari kamar tersebut.
Membuat Ahmad melakukan caranya. Tanpa banyak bicara, pria paruh baya itu mengeluarkan sempi kecil yang menjadi senjata utama untuk melindungi dirinya dan keluarga jika berpergian, tanpa perasaan iba sedikitpun.
Adi yang mengetahui bagaimana kegilaan sang Papa, bersujud di kaki Ahmad memohon ampun agar tidak menghukum nya seperti ini.
"Ampun Pa! Jangan lakukan ini pada Adi! Tolong Pa!"
Ahmad tak bergeming, kali ini dia tidak peduli dengan permohonan maaf, seorang Adi.
"Maaf? Jika hanya dengan maaf bisa menyelesaikan masalah, mungkin aku tidak akan jadi dokter saat ini!"
Ahmad mengarahkan senjatanya di kaki bagian betis dari jarak dekat, menekan switch on, seketika ...
Dor ...
__ADS_1
Adi meraung keras memohon pada Ahmad, dan menggigil kesakitan.
Namun Ahmad membiarkan kaki anak angkatnya tersebut pecah, terluka, sehingga mengeluarkan banyak darah.
"Aaagh Papa! Ampun Pa, ampun. Maafkan Adi, Pa!"
"Aku sudah memaafkan mu! Seharusnya sejak dulu nyawamu ku habisi, sebelum kau menghabisi istri mu dan mengecewakan keluarga mu!"
"Papa! Ampun Pa! Bagaimana Adi akan bekerja kalau begini, Pa!?"
Ahmad tak mengindahkan raungan palsu anak tirinya, ia menyelipkan sempi miliknya dicelana bagian belakang agar tidak ada yang mengetahuinya. Dia hanya mendengus dingin, dan berlalu meninggalkan kamar hotel dengan langkah cepat.
Saat pintu kamar terbuka lebar, security yang sejak tadi menunggu luar, menunduk hormat pada Ahmad Maeta.
Bagaimana tidak, suara tembakan yang sangat jelas, dan raungan tangis penyesalan membuat bulu kuduknya berdiri ketakutan.
"Ternyata orang ini walau sudah berumur, dia lebih mengerikan dari yang aku bayangkan ..."
Ahmad melangkah dengan kekecewaan yang mendalam. Entahlah, baru kali ini dia setega itu dengan anak yang ia besarkan dalam suka duka bersama istri tercinta. Namun harus merasakan malu seperti saat ini.
Ahmad berpapasan dengan pihak kepolisian yang mengenalnya di loby hotel. Kali ini dia tidak akan mengurus atau mengasihani anak laknat seperti itu. Beliau menyerahkan Adi pada pihak berwajib, tanpa banyak bicara, tanpa banyak basa-basi.
"Lakukan tugas kalian! Aku tidak ingin melihat dia berkeliaran di luar sana. Antar semua barang-barang berharganya, kekediaman ku! Beri dia pelajaran, dan jangan pernah lepaskan. Jika ada yang menembus anak itu, hubungi aku!"
Dua kepolisian yang mendengar penuturan Ahmad seperti itu, menelan ludahnya asal. Hanya bisa tersenyum tipis, dan menunduk hormat, melakukan sesuai perintah Ahmad.
Apapun keputusan yang diambil Ahmad kali ini, semua demi menyelamatkan wanita yang telah Adi sakiti. Kebohongan yang dia ciptakan selama ini sangat keterlaluan. Hingga mengakibatkan hubungannya dengan sang istri seperti kehilangan kepercayaan.
.
Sementara di rumah sakit ibu dan anak, Zul selaku dokter spesialis kandungan, berhasil membuat Kesy siuman setelah menghentikan pendarahan yang di alami putri kesayangannya.
Paha halus nan mulus itu masih menggigil ketika Zul memeriksa bagian dalam inti putrinya sendiri, tanpa perasaan takut.
__ADS_1
"Berikan antibiotik pada infusnya, dan jika Kesy sadar, tolong berikan dia bubur. Karena tubuhnya mengalami dehidrasi, dan penurunan dalam kesadaran saat saya menemukannya!"
Suster yang menemani Zul di ruang perawatan intensif mengangguk mengerti.
Semua pihak rumah sakit hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, "Apakah cucu Ahmad Maeta mengalami pemerkosaan, atau bahkan kekerasan saat melakukan hubungan suami-istri ..."
Zul melepaskan sarung tangannya, meminta pada suster untuk segera membawa Kesy ke ruangan VVIP, dan tidak boleh bertemu dengan siapapun kecuali Lyra dan dirinya.
"Jika keluarga mertua Anda, Dok?" jawab suster tersebut.
Zul menghela nafas berat, hanya menjawab singkat, "Saya dan Lyra saja! Siapapun, tidak boleh ada yang masuk tanpa izin saya. Kamu mengerti!"
"Ba-ba-baik Dok!"
Zul keluar dari ruang tindakan, melihat Lyra yang tengah menggigil di kursi ruang tunggu yang berhadapan dengan kediaman keluarganya, membuat dia merasa bersalah.
"Sayang ..." sapanya saat mendekati sang istri.
Lyra yang mendengar suara sang suami, berhamburan memeluk erat tubuh Zul.
"Hun ..."
Lyra menangis sejadi-jadinya di pelukan suaminya, dia tak menyangka bahwa putri kesayangan mereka berdua akan mengalami hal seperti ini.
Di tambah Kesy bukanlah gadis yang suka bermacam-macam, karena masih baru menikah. Mendapatkan hal seperti itu justru akan menimbulkan rasa trauma baru bagi anak mereka.
"Sebentar lagi Kesy akan di bawa ke lantai tiga. Kita tunggu saja di ruangan. Bagian intinya mengalami lebam, bahkan pendarahan timbul karena mendapatkan hantaman yang tidak berhenti, sehingga membuat sekelilingnya terluka. Tapi tadi sudah aku kasih antibiotik, dan obat penenang dosis ringan. Sebentar lagi dia akan siuman, mungkin hanya sedikit fly. Kamu suap kan makannya!"
Lyra mengangguk patuh, kembali bertanya, "Kamu enggak makan, hun?"
Zul hanya menggelengkan kepalanya.
Saat mereka masih menunggu di depan ruang tindakan, mobil yang di gunakan Adi saat menjemput Kesy lewat memasuki parkiran kediaman keluarganya.
__ADS_1
Zul tersenyum tipis, bergumam sendiri, "Aku yakin Papa pasti sudah tidak peduli dengan anak jahanam itu ...!"
Lyra justru berpikir, bahwa Ahmad telah membawa putra tirinya kembali ke kediaman mereka, "Ternyata Papa sama dengan Mama, selalu membela Adi ...!"