Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Mengangguk malu


__ADS_3

Malam yang sejuk, angin berhembus sepoi-sepoi ... Kesy memilih meninggalkan kediaman Jack setelah perdebatan panjang dengan pria muda tersebut, untuk segera kembali ke hotel, karena tidak ingin melihat suaminya sendirian di kamar dan khawatir.


Gadis itu berjalan sendiri, menuju hotel, terlihat di loby sudah sangat ramai pihak kepolisian juga Adi, dengan wajah penuh kecemasan.


Bagaimana tidak, Adi tengah sibuk mencari keberadaan istrinya yang dilarikan oleh orang asing, kemudian mendapatkan ancaman dari Zul yang berada di Dusseldorf. Sungguh ini merupakan pengalaman pertama baginya selama menjalani perjalanan ke negara lain.


Adi menoleh kearah Kesy yang tampak kebingungan, tengah mencari keberadaan suaminya.


"Itu istri ku!" teriak Adi, menunjuk kemudian berlari mendekati Kesy.


Kesy hanya termangu, dia tampak sangat lelah, dan tak bergairah saat kembali ke hotel tersebut.


Adi mengusap lembut wajah Kesy, menatap wajah gadis yang tampak pucat, dan sedikit ketakutan saat matanya beradu tatap dengan suaminya sendiri.


"Kamu dari mana? Apakah pria itu melakukan hal tidak senonoh pada mu?" tanya Adi lagi tampak khawatir.


Kesy menggelengkan kepalanya, dia memeluk tubuh Adi erat ... Kemudian menangis sejadi-jadinya, membuat tubuhnya melemah dan jatuh pingsan.


Bergegas Adi menggendong tubuh ramping istrinya, untuk membawa kekamar mereka, namun di halangi pihak kepolisian.


"Maaf Tuan, Anda yang melaporkan kehilangan istri, tapi setelah bertemu, Anda malah meninggalkan kami begitu saja," ucap salah satu pihak kepolisian Hawaii dengan nada tegas.


Adi menoleh kearah polisi yang menghalanginya, hanya bisa menjawab, "Sebentar Pak, saya menyelamatkan istri saya dulu. Pihak hotel yang akan mengurus semuanya. Saya permisi ..."


Bergegas Adi membawa Kesy, meminta bantuan pada pihak hotel, untuk membawa beberapa obat-obatan atau minyak angin, agar istrinya kembali sadar dari pingsannya.


Adi membaringkan tubuh Kesy diatas ranjang, mengusap lembut kepala gadis itu. Mengecup pelan punggung tangan istrinya dengan penuh perasaan bersalah.


"Maafkan Abang, sayang! Please ... Jangan pergi lagi. Abang janji enggak akan membuat kamu bersedih, bangun sayang ..." bisiknya ketelinga Kesy.


Tak selang berapa lama, pihak hotel yang mengurus masalah Adi, dapat mengatasi semua laporan demi kenyamanan pengunjung, kembali ke kamar pasangan pengantin baru tersebut.


Setelah mengurus semuanya, dengan memberikan sejumlah uang, Adi kembali menutup pintu kamar, dan kembali mendekati gadis kecil itu.


Dengan sigap ia membantu menyadarkan Kesy, karena takut terjadi sesuatu pada istrinya sendiri.

__ADS_1


Setelah mengusapkan minyak angin yang diberikan pihak hotel pada Adi, perlahan Kesy membuka matanya.


Adi tersenyum sumringah, "Syukurlah kamu sudah bangun, sayang. Abang minta maaf yah? Jangan pergi lagi tinggalkan Abang, jujur Abang sangat menyesal telah menyakiti perasaan kamu. Abang minta maaf. Kita besok bisa jalan-jalan, atau apa yang kamu inginkan dari Abang hmm? Abang benar-benar menyesal sayang, maafkan Abang ..."


Berkali-kali Adi menciumi wajah cantik istrinya yang tampak lebih tenang, setelah mendapatkan perlakuan baik dari pria yang dia cintai.


Kesy tersenyum tipis, bertanya selayaknya dia ingin mendengar langsung jawaban dari bibir Adi, "Benar ... Abang akan melakukan apapun demi Kesy?"


Adi mengangguk membenarkan, ucapannya, "Abang janji ..."


"Lupakan Laura, atau kita pisah ...!"


Adi terdiam, bibirnya terkunci rapat. Mulutnya yang mengucapkan sebuah janji itu hanya bisa ternganga mendengar permintaan istrinya. Susah payah dia menelan ludahnya, hanya untuk meyakinkan seorang Kesy.


Perlahan Adi mendekatkan wajahnya pada wajah mulus Kesy, "Abang janji akan melupakan Laura. Tapi ada satu hal yang menjadi beban pikiran Abang ... Abang mohon, mengertilah untuk saat ini. Jangan pernah mengucapkan pisah, karena Abang tidak akan pernah melepaskan kamu, sayang ..."


Air mata Kesy kembali jatuh, mendengar kejujuran dari Adi yang sama sekali tidak bisa melupakan wanita bernama Laura.


"Benar ternyata, Aunty Caroline mengatakan bahwa pria yang sudah menikah, jika tengah menghadapi satu masalah yang tidak bisa dia ungkapkan, akan menjadi arogan pada pasangannya ..."


Adi mendekap kuat tubuh mungil itu, baginya cinta Kesy memang sangat besar, bahkan membuat dia semakin luluh. Namun, kali ini keadaan Laura menjadi beban pikirannya sendiri, karena takut akan menyakiti wanita yang selama tujuh tahun menghabiskan waktu bersama.


Adi mengusap lembut punggung Kesy, ikut larut dalam tangis seorang istri yang telah dia zholimi selama seminggu ini.


"Besok pagi Mama dan Papi sudah berada di sini. Please ... Jangan ucapkan pisah, karena Abang tidak ingin berpisah dari kamu ..."


Kesy semakin menangis sejadi-jadinya, tangan halus itu tidak ingin melepaskan dekapannya pada sang suami. Baginya menikah dengan Adi merupakan hal yang paling bahagia dalam hidupnya.


"Abang janji akan melupakan Laura? Dan tidak akan pernah menyebut nama wanita itu dihadapan Kesy?"


Adi mengangguk pelan, baginya membahagiakan Kesy saat ini lebih baik, dibandingkan harus menerima kata-kata kasar dari Abang dan Lyra selaku kakak ipar sekaligus ibu mertuanya.


"Abang janji demi Kesy, demi kita dan demi keluarga kita. Kamu jangan pergi lagi, yah? Jangan tinggalkan Abang lagi ..."


Kesy mengangguk, "Tapi Abang jangan pernah kasar lagi sama Kesy ..." isaknya manja.

__ADS_1


Adi mengangguk lagi, melepas pelukannya, mencium wajah cantik itu berkali-kali.


"Besok kita jalan-jalan, sambil menunggu Mama dan Papi. Sekali lagi Abang minta maaf. Kamu boleh meminta apapun, asal kamu jangan pergi-pergi lagi," kecupnya pada kening Kesy.


Kesy mengangguk patuh, dia tak ingin melepaskan dirinya dari Adi. Bahkan saat ini hanya Adi yang mampu menggantikan sosok cinta pertamanya, Dony.


Mereka terlelap, saling berpelukan mesra, tanpa mau saling melepaskan. Tubuh yang hanya berbalut sehelai kain pantai itu kini masih tetap sama. Bikini yang Kesy gunakan masih menjadi pemandangan indah di tubuh gadis belia tersebut.


Kini apapun yang terjadi, inilah pernikahan ... Yang memiliki lika-liku perjalanan dalam menguji kesabaran dan kesiapan masing-masing pasangan.


.


Pagi menjelang, kedua insan itu masih saling mendekap erat. Adi yang terjaga lebih dulu karena suara bel berbunyi di kamar kedua insan tersebut, bergegas menuju pintu, untuk melihat siapa yang telah mengganggu pasangan ini.


Setelah mengintip dari balik pintu, Adi bergegas mengusap wajahnya yang masih setengah sadar.


Bagaimana tidak panik, diluar tengah berdiri Zul dan Lyra yang tiba lebih pagi, dari jadwal penerbangan mereka berdua.


Perlahan Adi membuka pintu kamar, meletakkan telunjuknya dibibir, agar tidak bersuara karena akan mengganggu kenyamanan Kesy.


Zul mengerjabkan matanya, sedikit menggeram karena Adi tidak memberi kabar, bahwa Kesy telah kembali.


Wajah Zul tampak garang, saat Adi benar-benar telah membuatnya panik.


"Bisa enggak, kalau ada masalah, hadapi berdua? Jangan buat panik!" sesal Zul menahan suara garangnya.


"Ssssht ... Please! Abang tunggu kami di kamar lain saja yah? Jangan ganggu Kesy. Dia masih tidur ..."


Lyra menatap kearah Zul, mendongakkan kepalanya hanya untuk melihat kondisi putri kesayangannya.


"Ya sudah, kami tunggu di bawah ..."


Adi mengangguk malu, perlahan dia menutup pintu kamar, mengehela nafas dalam-dalam ...


"Iiighs ... Siapa yang ngadu!" geramnya dalam hati ...

__ADS_1


__ADS_2