
Dony mendorong pintu rumah Lyra dengan kuat.
BRAAAK....!!
Pintu rumah terbuka lebar, saat semua tengah terlelap. Dony benar-benar ingin menyiksa mantan istrinya, dia ingin menyakiti Lyra secara lahir dan batin.
Lyra sedikit tersentak saat Dony telah berdiri di hadapannya.
"Keluar, Don....!! Keluar....!! Aku tidak ingin Kesy mendengar pertikaian kita. Sudah cukup dia depresi hingga saat ini. Apa yang kamu mau dari aku? Bukankah kamu sudah menceraikan aku? Kenapa kamu masih menyiksaku seperti ini?" teriak Lyra yang tengah menantang Dony.
Dony tak bergeming, matanya melirik kearah kamar Kesy, "Dimana Kesy? Aku akan membawanya!"
Mendengar ucapan Dony yang akan membawa Kesy, sontak jiwa Lyra sebagai seorang wanita yang bergelar Ibu berontak mendorong tubuh mantan suaminya.
"Keluar....! Keluar....!" teriak Lyra sambil mendorong tubuh Dony dengan sangat kuat.
Dony yang tak bisa menahan diri, benar-benar mundur karena Lyra mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Lyra menutup teralis besi dengan cepat, sebelum Dony berbalik arah untuk menerobos masuk kedalam rumah.
Dony berteriak keras, tanpa memperdulikan masih dini hari, "Kau wanita murahan Lyra! Kau tidak pantas merawat Kesy. Dia anak ku! Dan kau tidak berhak mendapatkan hak asuh atas Kesy!"
Lyra yang tak kuasa membendung amarahnya, menjawab dengan lantang, "Kau yang murahan, Don! Apa salah ku padamu? Hingga tega kau memperlakukan aku seperti ini! Apa yang telah kau beri selama delapan tahun pernikahan kita? Apa...!? Jujur, aku menyesal telah menikah dengan pria bodoh seperti mu! Yang tidak memiliki perasaan dan masa depan! Kau nikmati dosa mu, dengan wanita jallang itu! Aku sudah tidak peduli, bahkan sudah jijik!"
BRAAAK....!!
Lyra membanting pintu sangat keras, darahnya seperti mendidih. Pria yang dia anggap suami yang tidak pernah memiliki raport buruk di matanya, kini tercium seperti bangkai busuk yang telah mencair saat keluar dari lemari pendingin.
Laki-laki seperti apa yang aku nikahi? Kenapa dia sangat menjijikkan? Bahkan semakin tampak seperti sampah, batinnya.
Lyra menangis sejadi-jadinya, dia tidak ingin berada di rumah yang seperti neraka memperlakukannya. Rumah yang dia tata agar nyaman, namun seperti di teror habis-habisan oleh Dony dan keluarganya.
"Aku harus pergi dari sini! Harus!"
Tubuh Lyra bergetar kala kakinya melangkah menuju kamar tidur. Saat Lyra tenga membuka pintu, dia melihat Kesy meringkuk ketakutan diatas ranjang miliknya.
Dengan sigap Lyra memeluk tubuh mungil putrinya, "Sayang, kamu bangun? Kenapa Nak? Jangan takut, Mama disini untuk Kesy. Kesy tenang yah," bisiknya mengusap tubuh Kesy yang menggigil seperti orang kedinginan.
__ADS_1
Kesy hanya mendekap erat tubuh Lyra dan menangis sekencang-kencangnya.
Lyra semakin larut, air matanya kembali mengalir deras membasahi pipi dan jatuh dikepala putri kesayangan.
"Aku harus kuat, aku harus kuat, aku harus membawa Kesy untuk pindah ke rumah pemberian Papa," batin Lyra.
Lyra memilih meninggalkan semua fasilitas yang di berikan orang tuanya, karena pertikaiannya beberapa waktu lalu, demi membela Dony sang suami yang sangat dia hargai.
Namun, apa yang Lyra dapat? Hinaan dan cacian bahkan pemerasan yang dilakukan keluarga Dony padanya. Kali ini dia harus meninggalkan rumah yang dia beli sendiri, demi ketenangan diri sendiri dan putri kesayangannya.
Mereka berdua kembali terlelap, saling mendekap. Setelah Lyra mengusap punggung Kesy menggunakan minyak telon, juga mengenakan kaos kaki untuk menutupi kaki mungil putrinya, agar tidak kedinginan.
Cuaca yang sangat dingin, ditambah air conditioner yang menyala tanpa di stel ulang oleh Lyra karena permasalahan perceraian yang sangat menggangu pikirannya.
Ke-duanya benar-benar terlelap hingga pukul 08.30 waktu dimana Lyra kini tinggal dan meniti karir. Matanya masih enggan terbuka, karena tangan kanannya masih memeluk tubuh Kesy yang masih tertidur pulas.
Perlahan Lyra membuka kedua bola matanya, melirik kearah jam dinding di kamar, sedikit mengusap lembut wajahnya. Dia terlonjak kaget, saat melihat jam di dinding, meraih handphone yang ternyata bergetar sejak dua jam lalu.
Lyra menyipitkan matanya, melihat nama yang tenga menghubungi.
"Ck.... ngapain juga Lela menghubungi aku pagi-pagi!?" tanyanya dalam hati.
["Kamu dimana Lyra? Kami sudah dua kali bolak-balik ke rumah kamu, kayaknya rumah sepi banget."]
["Hmm, aku kayaknya izin dulu hari ini. Kalau mau ambil berkas, silahkan saja. Mungkin siang aku akan mencari sekolah baru untuk Kesy. Tolong sampaikan saja pada Pak Sardi, aku kurang enak badan."]
["Ya sudah. Nanti rencana makan siang dimana? Kalau makan siang, kita bareng saja. Aku cuma mau ngasih tahu, tadi ada orang suruhan dari Notaris antar berkas pajak. Tapi sudah di letakkan diatas meja kerja kamu."]
["Hmm, belum tahu mau makan dimana. Yang penting aku mau mengurus Kesy dulu. Sekalian menghubungi Papa dan Mama ku diseberang."]
["Oke, kamu hati-hati. Salam buat Kesy. I love you, dear!"]
["Ya, you too. Love you."]
Mereka saling menutup telfon.
Lyra masih enggan untuk mengganggu Kesy yang masih nyenyak dalam tidurnya.
__ADS_1
Lyra mencari nomor telepon sang Mama, wanita yang telah melahirkannya, namun sudah lama tidak dia hubungi karena pertikaian mereka kala itu.
Lyra masih mendengar nada panggilan yang tersambung, dengan posisi telpon terletak ditelinga kanannya. Dia juga menyalakan televisi sambil mengusap lembut kepala Kesy dengan penuh kasih sayang.
["Ya Lyra."]
["Mama apa kabar?"]
["Baik. Kamu bagaimana? Kesy apa kabar?"]
["Kesy masih tidur, Ma. Lagi enggak enak badan."]
["Ooogh, cucu Oma sakit? Mana cucu Mama itu?"]
["Hmm, masih tidur Ma! Ma, aku sudah di ceraikan Dony."]
["Ya, Mama sudah tahu. Rita yang menghubungi Mama. Mungkin sore ini Papa dan Mama akan berangkat kesana. Kamu baik-baik saja kan? Nanti malam kamu jemput Mama ke bandara."]
Lyra tertegun, dia tak mampu menahan beban berat yang menjadi pikirannya saat ini. Dia benar-benar menangis, membuat Mama Lyra diseberang sana hanya bisa menguatkan putrinya.
["Pasti kamu tidak menyangka kan? Seberani itu mereka pada kita. Seakan-akan kamu tidak memiliki keluarga disana. Pria seperti itu kamu bela? Lyra, kamu anak Mama perempuan satu-satunya. Apa yang sudah menjadi takdir, kamu harus menerima dengan lapang dada. Mendengar perkataan Rita, membuat darah Mama mendidih. Kesal Mama karena kamu memilih menikah dengan Dony, sehingga kamu melawan Papa hanya untuk seorang pria yang tidak bisa memberikan mu apa-apa. Jangankan harta, membahagiakan kamu saja dia tidak mampu!"]
Ucapan Mama Lyra yang berapi-api, semakin membuat Lyra menangis dalam perasaan bersalahnya pada kedua orang tua beberapa waktu lalu.
["Iya Ma. Lyra tunggu Mama di bandara. Kita nginap di rumah saja yah."]
["Ya, iyalah. Kami mana mau menginap dirumah kamu, yang kata Rita sudah menjadi milik Dony. Pria itu akan di potong-potong oleh Papa, karena terlalu bodoh sebagai seorang suami. Mereka akan menyesal telah mencampakkan mu dengan cara seperti ini. Mama bukan marah sama kamu, tapi kesal sama sikap kamu, yang selalu membela Dony."]
["Hmm please Ma....! Lyra tidur lagi yah?"]
Lyra menutup telfonnya, menghela nafas panjang, karena merasa bersalah jika berdebat dengan sang Mama melalui telepon.
"Hmm, jika Rita sudah menghubungi Mama, berarti benar Dony sudah tidak ingin bersama ku lagi." Kenangnya kembali menangis.
_______
Salam hangat Author,
__ADS_1
Ini merupakan cerita ringan rumah tangga. Silahkan tinggalkan komentar anda pada kolom komentar. Terimakasih....❤️🥰😘