Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Ancaman


__ADS_3

Mereka saling bersahutan bahkan tertawa manja, sehingga memberikan rasa yang luar biasa bagi kedua-nya. Kepuasan yang berbeda dengan cara yang aneh, namun bisa memberikan sensasi yang sangat menyenangkan untuk kedua insan yang merasa nyaman setelahnya.


Zul, semakin tidak ingin Lyra kembali bersedih. Baginya wanita dewasa yang sempurna di matanya itu harus selalu tersenyum, apapun permasalahan yang mendera. Berkali-kali pria muda tersebut meyakinkan wanita dewasa tersebut, agar mau menunggu kehadirannya suatu hari nanti untuk bersama.


Lyra menangis, entah apa yang dia tangisi kali ini. Dia hanya merasakan apa yang tidak pernah dia dapatkan dari Dony, dia dapat rasakan dari Zul walau dengan jarak berjauhan.


["Dengar sayang, aku tidak mau kamu bandingkan dengan mantan suami mu! Aku pasti berbeda darinya. Satu hal lagi, berdamai lah dengan masa lalu mu. Jangan pernah membencinya. Bagaimana pun kalian memiliki Kesy, dia sudah menceraikan mu, agar kamu tidak tersiksa. Menurut ku itu sudah cukup gentle bagi seorang pria. Banyak orang di luar sana ingin melihat istrinya menderita bahkan tidak menceraikan karena tidak ingin melihat pasangannya menikah lagi. Tapi tidak untuk mantan suamimu. Lebih baik, kamu bersyukur.... bisa menata hidup menjadi lebih baik, kita bertemu dan pasti ada tujuan. Aku yakin kamu tulang rusuk ku yang hilang, sayang."]


Lyra tertawa geli mendengar rayuan gombal dari Zul, yang sangat menenangkan kesepian hati yang kosong. "Aaaagh.... terserah lah Zul, walau kamu mempermainkan aku, aku merasa senang dan nyaman saat ini," pikirnya.


["Iya Zul. Terserah kamu deh, mau gombalin aku kayak apa, yang penting aku nyaman saat ini sama kamu."]


Tentu Zul sedikit kesal mendengar penuturan Lyra seperti itu.


["Kenapa kamu nggak pernah percaya sama aku? Apa tampang ku seperti pria hidung belang? Sayang, aku akan membuktikan padamu bahwa aku tidak main-main. Trust me....!"]


Lyra tersenyum bahagia, menatap wajah Zul yang sangat tampan di seberang sana melalui layar handphone miliknya dengan tatapan penuh harap.


["Sampai kapan? Sampai kapan aku akan menunggu? Kamu jauh disana.... sementara aku disini, dan rasanya enggak mungkin kita akan bertemu apalagi menikah!"]


Lyra menangis', hidung mungil yang mancung memerah, membuat Zul semakin salah tingkah.


["Gini sayang, minggu depan Mama kesini? Kamu mau ikut? Kalau mau, aku sampaikan sama Mama, kamu bisa mengurus semua keperluan mu, dan bawa putri kesayangan kita Kesy. Aku serius. Mama akan membantu mu!"]


Lyra menggelengkan kepalanya, kedua bola mata indahnya membulat, menatap tidak percaya. Bagaimana mungkin dia akan pergi ke Berlin dengan cara seperti ini?


["Aku serius sayang! Besok pagi karyawan keluarga ku akan menjemput mu! Bersiaplah....! Kamu istirahat, kita akan bertemu, sayang! Percaya lah."]

__ADS_1


Lyra mengangguk, wajah cantiknya terlihat lelah, bahkan sangat cerah kali ini. Matanya meredup masuk kedalam mimpi dengan sejuta harapan membayangkan permintaan Zul menjadi nyata dalam dekapannya.


**


Disisi lain.... Kesy tengah menangis sesenggukan di sudut kamarnya yang kecil, kaki mungil itu terlihat menggigil, karena telah mendapatkan hinaan bertubi-tubi dari Nela.


Ya.... Nela alias nenek lampir tetangga sebelah, yang telah tega mengusir gadis kecil itu dihadapan Dony disaat semua orang tengah terlelap.


"Usir dia, Don....!! Aku tidak sudi anak kamu ada di rumah ini! Rumah ini akan menjadi milik kita, ingat.... kamu milik ku, Dony....!!" teriak Nela lantang.


Dony mencoba meredam amarah Nela yang berapi-api bahkan semakin garang untuk mengejar anak kandung mantan istrinya, untuk segera menyeret Kesy keluar dari kediaman tersebut.


"Kesy.....! Kesy....! Keluar kau....!" teriak Nela kembali terdengar menggelegar.


Dony menarik tangan Nela, berusaha menenangkannya dengan memeluk tubuh sintal tersebut, "Tenanglah sayang! Aku akan membawa dia pulang, tapi hari minggu! Tidak sekarang. Jika aku mengantar nya pulang tengah malam begini, akan menjadi masalah baru bagi aku dan Lyra. Pasti aku tidak akan mendapatkan apapun. Please.... mengertilah...!!" mohon nya pada Nela.


Nela tetap menerobos masuk kedalam kamar gadis kecil itu, melihat Kesy menggigil ketakutan saat matanya mereka saling menatap.


"Dengar anak bodoh....! Aku akan membuatmu sengsara jika kau masih berada di sini. Ini adalah rumah ku dan Papa mu! Kami akan segera menikah dan mencampakkan mu ke panti asuhan jika kau masih tetap berada disini!" Ancam Nela menatap tajam.


Kesy yang mendongak semakin ketakutan, bahkan tumbuhnya bergetar hebat, dia tak habis pikir, malam ini harus mendapatkan perlakuan kasar seperti ini, dan berpikir pergi menyelamatkan dirinya sendiri dari ancaman wanita dewasa tersebut, karena sang Papa tidak kunjung membela nya.


Kesy masih terisak, dan menahan rasa sakit di kepalanya karena remasan tangan Nela yang dengan tega menjambak kasar rambut halus tersebut.


Dony yang melihat kejadian itu, malah memarahi Kesy, agar segera keluar dari rumah, dari pada ribut dengan Nela sang kekasih gelap.


"Cepat pergi tinggalkan rumah ini, Papa juga tidak ingin melihat kamu lagi!!" teriak Dony seperti orang kesetanan menatap marah kearah putri kecilnya yang masih berusia tujuh tahun tersebut.

__ADS_1


Kesy semakin menangis, wajahnya tampak pucat pasi. Seumur hidupnya baru kali ini dia diperlakukan seperti ini oleh sang Papa. Air matanya mengalir deras, dengan sigap dia berdiri, mencari tas sekolah dan berlari keluar rumah mencari pertolongan warga setempat.


Kesy menangis sejadi-jadinya, saat berpapasan dengan seorang security yang melihat anak kesayangan Lyra keluar rumah tepat pukul 01.00 dini hari.


Security bertanya heran pada Kesy yang masih menangis keras memeluk tas ransel miliknya, "Kamu mau kemana? Mana Mama mu, Nak?"


Kesy hanya menangis', air matanya tidak kunjung mengering, karena tidak menyangka kebahagiaan yang baru dia rasakan bersama sang Papa akan berakhir seperti ini. Padahal, mereka baru menghabiskan malam yang sangat bahagia. Namun semua berubah saat Dony membawa Nela masuk ke dalam rumah Lyra.


Kesy yang tidak melupakan pesan sang Mama, hanya menyampaikan pada Dony bahwa tidak ada orang lain yang boleh masuk kekediaman mereka tanpa izinnya.


Pernyataan itu yang membuat emosi Nela meledak-ledak, bahkan sangat menakutkan bagi gadis kecil cantik tersebut.


Security, menghubungi Lyra berkali-kali, "Kemana Bu Lyra ini? Anaknya di larikan Bapaknya atau bagaimana ini? Aaaagh....!!" pikirnya mencari keberadaan Pak ketua perumahan.


Kesy masih menangis' memanggil sang Mama. Wajahnya semakin tampak ketakutan bahkan terlihat pucat karena mengingat ancaman Nela padanya.


"Mama.....!!" tangis Kesy semakin keras.


Namun, Dony masih enggan keluar dari rumah yang tampak lebih tenang setelah mengusir anak kandung sendiri dari rumah milik mantan istrinya, Lyra. Demi wanita berwajah monster seperti Nela.


Setelah berhasil menemukan Pak ketua, mereka bergegas menghubungi Lyra untuk memberi kabar bahwa putrinya mendapatkan perlakuan kasar dari Dony, namun mereka belum mendapatkan jawaban dari calon janda cantik tersebut.


Pak ketua berusaha menenangkan Kesy, "Kamu tinggal dimana sekarang, Nak? Mama kamu tahu, kalau kamu pergi sama Papa?"


Kesy mengangguk, kembali menangis memanggil nama Lyra dengan panggilan 'Mama...'


Pak ketua mencoba menenangkan putri kesayangan Lyra, sambil menghampiri kediaman Mama Kesy, untuk memberi tahu pada Dony bahwa anaknya berada di luar rumah.

__ADS_1


Namum, mereka tidak kunjung mendapatkan apapun dari dalam rumah.


"Pak Dony...! Pak Dony....!!"


__ADS_2