
Setelah persidangan akhir .... Lyra enggan membuka diri dari para sahabat, begitu juga dengan Zul. Dia lebih memilih menghabiskan waktu didalam kamar, enggan bertemu dengan Zul, bahkan tidak ingin bercerita dengan Lela saat berada di kantor.
Tubuh Lyra semakin terlihat ramping, bahkan lebih ramping dari sebelumnya. Keriput di wajah cantiknya semakin terlihat, bisa dikatakan dia semakin rapuh. Senyum indahnya sangat jarang menghiasi wajah cantik yang alami itu.
Lyra yang dulu sudah berubah, dengan seorang Lyra yang sensitif seperti sekarang.
Malam itu, Kesy tengah asik bermain game di handphone milik Mamanya. Dia tengah menemani Lyra yang semakin tidak mau bercerita juga menemani makan malam, bahkan tidak memberitahu tentang kondisi tubuhnya yang tidak begitu fit.
Ya .... Lyra jatuh sakit karena himpitan beban pikiran yang berdampak pada kesehatannya. Dia memutuskan untuk tidak melakukan komunikasi dengan Zul. Walau .... terkadang pria berwajah tampan itu masih menggangu pikirannya saat berada di kantor dengan membawa makan siang dan menjemput Kesy pulang sekolah.
Ini merupakan bulan kedua Lyra menyandang status resmi sebagai janda muda. Janda yang semakin terdepan menurut para rekan kerjanya, yang marak berseliweran di sosial media sebagai bahan candaan.
Lyra .... bukan bersedih karena kehilangan suami, namun dia menangisi aset yang dia kumpulkan setiap bulannya, kini harus beralih pada pria yang berstatus mantan itu.
Saat Kesy menyentuh kening sang Mama, betapa terkejutnya dia merasakan kulit kepala Lyra sangat panas. Bahkan, membuat dia kembali panik memanggil Lince yang tengah menonton televisi di ruang keluarga.
"Oma .... Mama sakit ....! Badan Mama panas banget. Kesy call Papi Zul, yah ....!?" ungkap Kesy saat membuka pintu kamar, dan beradu tatap dengan Lince.
Lince yang asik mengusap lembut rambut Boy suaminya, seketika berdiri .... berlari menuju kamar putrinya.
Benar saja, tubuh Lyra menggigil sehingga giginya bergetar membuat Boy semakin panik.
"Ya .... Tuhan! Kamu kenapa Lyra ....? Ini pasti karena anak setan keparat itu ....! Udah enggak bisa kasih harta, malah menyusahkan saja. Ma, kita bawa Lyra ke klinik depan ....! Papa, takut dia step ....!!" ucap Boy seperti Lyra seumuran dengan Kesy cucunya.
Lyra merengut saat Boy berusaha menggendong tubuhnya. Namun wanita cantik itu, memberikan beban dengan menegangkan tubuhnya.
"Pa ....! Lyra enggak apa-apa ....! Cuma sakit kepala, hidung mampet saja. Karena beberapa hari ini selalu makan terlambat," ucap Lyra terbatuk-batuk.
Bergegas Lince mengambil satu baskom kecil air dingin ke dapur, kemudian kembali untuk mengompres kening putrinya, "Papa geser sana dulu .... dia ini sakit karena mikirin Dony. Anak jahanam itu ....! Enggak dikasih rumah itu, bagaimana ....!! Dikasih, kita yang sakit hati." Celoteh Lince saat meremas dan meletakkan handuk kecil dikepala putrinya.
"Kamu itu terlalu baik sama Dony, Lyra ....! Kadang Mama gemes, kamu bego' atau memang masih cinta sama laki-laki begitu ....? Mending tu, yah ....! Kamu terima Zul, dia sangat perhatian sama kamu dan Kesy. Sangat berbeda dari Dony. Baru pendekatan saja mobil sudah terparkir di carport depan. Gimana menikah ....! Bisa-bisa jet pribadi ada diatas atap rumah kita ....!" Lince melanjutkan celotehannya.
__ADS_1
Lyra yang mengetahui bagaimana sang Mama, hanya diam tersenyum sumringah, melirik kearah Kesy dan Boy yang duduk disampingnya.
Kesy mengusap lembut lengan Lyra, sementara Boy memijat kaki kiri putrinya.
Keluarga yang hangat dan perhatian, walau ngomelnya melebihi standar, namun Mama Lince sangat baik.
Begitu juga Boy, wajah cuek, walau hanya sebagai musisi kacangan, namun dia memiliki jiwa humor yang tinggi. Jiwa yang tak kalah mudanya dari Opa-opa seusianya.
Ahmad Maeta, yang sejak awal sangat senang pada petikan gitar Boy, membuat mereka merencanakan sesuatu untuk kedua buah hati mereka. Walau entah kapan akan terwujud, namun semua rencana indah telah di persiapkan oleh kedua pria paruh baya yang ternyata memiliki jiwa romantis teramat sangat untuk membahagiakan belahan jiwa.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, handphone milik Lyra berdering, setelah Kesy menghubungi Papi Zul.
["Papi ....! Mama sakit,"]
Kesy langsung berteriak tanpa mendengar ucapan salam dari Zul diseberang sana.
["Apa ....? Sakit apa, sayang ....? Maaf, Papi baru saja melakukan tindakan. Papi kesana sekarang, yah ....? Tanya Mama mau makanan apa?"]
Kesy menoleh kearah Lyra, kemudian bertanya sesuai perintah Zul, "Mama mau pesan makanan apa ....?"
Kesy mengangguk.
["Pi .... Mama bilang satu jus alpukat, cream soup, dan ayam kentacky tiga, yah? Minumnya avocado float. Papi pasti tahu kesukaan, Kesy ....!"]
Tawanya terbahak-bahak, membuat Lyra mencubit pipi putri kesayangannya.
["Ada lagi, sayang ....? Yang sakit kayaknya minta dikit, malah yang jaga mintanya banyak ...."]
Zul membalas candaan Kesy dengan tawanya terbahak-bahak diseberang sana.
["Aaaagh .... Papi ....!!"]
__ADS_1
Mereka mengakhiri panggilan telepon dengan tawa canda sesuai perintah, Zul.
Lince memberi obat parasetamol pada Lyra, untuk meredakan panas tinggi yang dialami putrinya.
Lyra terlelap, setelah mendapatkan perhatian khusus dari lembutnya sentuhan tangan mereka yang mencintainya tanpa pamrih.
Lince menghela nafas panjang, "Kita tunggu Papi kamu di luar saja. Biar Mama istirahat dulu. Mama kamu terlalu capek bekerja, sehingga melupakan kesehatannya. Besok kamu sekolah diantar Opa, yah ....? Jangan nyusahin Papi, beliau orang sibuk. Tapi sudah hampir dua minggu Oma enggak lihat Papi Zul. Apa Mama dan Papi punya masalah ....!?"
Kesy hanya menggeleng. Melanjutkan memeluk erat tubuh Opa Boy, walau tidak segagah dulu .....
Lince sedikit penasaran, berniat untuk mencari tahu dari Kesy yang selalu menceritakan kemesraan sang Mama dan calon Papi barunya.
Zul, sangat sopan dan baik. Walau lebih sering menggoda Lyra, namun semua itu dia ciptakan untuk memberi kekuatan pada wanita yang selalu dia anggap sebagai kekasih hatinya.
Lyra sendiri, masih belum bisa memutuskan hubungan mereka mau dibawa kemana dan akan seperti apa. Luka dan trauma yang masih terasa sangat sakit, membuat Zul lebih memilih hingga wanitanya benar-benar siap untuk menjadi pendamping hidup.
Lyra hanya membutuhkan seorang partner dalam segala hal, yang bisa saling support dalam mendidik anak, pekerjaan dan matang secara finansial.
Semua ada didalam diri Zul, namun ada satu hal yang membuat Lyra sedikit ragu dan berfikir ulang.
Usia .... Ya, usia yang terpaut jauh. Menjadi bahan pertimbangan bagi Lyra untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang lebih serius. Trauma akan pernikahan, bahkan rasa tidak percayanya pada pria membuat dia tidak ingin berpikir terlalu banyak.
Zul, sosok pria tegas dan dewasa. Dia sangat memahami bagaimana perasaan Lyra saat ini. Sebagai pria yang setia, dia hanya mampu menunggu waktu yang tepat untuk membahagiakan seorang Lyra.
"Selamat malam, Tuan Zulmaeta ....! Apakah kamu masih mengenal saya ....!?" tanya seseorang saat Zul akan memasuki mobil yang terparkir disalah satu kawasan makanan siap saji.
Zul menaikkan kedua alisnya, mengingat siapa pria yang ada di hadapannya.
"Maaf .... apa kita pernah saling mengenal sebelumnya ....? Saya tidak ada waktu untuk melayani Anda, Tuan ....!!" ucap Zul, memilih masuk kedalam mobil.
Namun, saat Zul akan menutup pintu mobil seketika kap depannya dipukul oleh orang yang tidak di kenal.
__ADS_1
BRAAAK ....!
BRAAAK .....!