
Di ruangan yang sejuk disalah satu ruangan khusus, duduk Iqbal dan Aryo dengan salah seorang tim mediasi. Mereka menceritakan semua permasalahan rumah tangga Dony dan Lyra.
Bagi Iqbal, keputusan hari ini merupakan pengucapan talak dari mulut Dony dihadapan majelis hakim, dan memberikan hak asuh sepenuhnya pada Lyra karena Dony tidak memiliki penghasilan yang cukup.
Pengacara seperti Iqbal yang enggan menangani kasus perceraian, menjadikan kasus Lyra seperti kejadian Kakak kandungnya sendiri. Harus mengalami perceraian karena suami tidak mampu untuk melayani hasrat istri seperti biasa. Jadi dengan mudah Iqbal menemukan beberapa solusi terbaik, agar tidak ada korban selanjutnya.
Iqbal melirik kearah Aryo....."Apa yang kamu inginkan memperlambat proses perceraian Lyra? Ini hanya masalah sepele, bahkan kecil. Tapi kamu seolah-olah membuat Lyra tidak memiliki kuasa untuk melawan. Aku akan mengawasi sidang akhir. Lakukan tugas mu!"
Aryo mendengus dingin, rahangnya masih terasa sakit setelah mendapatkan pukulan dari Zul, "Aku hanya membutuhkan uang, Bal! Kamu tahu, saat ini aku harus memprioritaskan kepentingan pribadi dari pada orang lain!"
Iqbal menggeram, wajah manisnya semakin tampak seperti hendak memakan sahabatnya sendiri, "Yo, kita ini mengenal keluarga Lyra, Papa Boy dan Mama Lince. Apa kata mereka kita begini pada anaknya....!? Mereka bisa menganggap kita hanya sebagai teman yang tidak memiliki perasaan...! Kamu panggil hakim ketua yang akan mengetuk palu diakhir, aku akan bicara tentang pengucapan talak yang dilakukan oleh mantan suami Lyra."
Mendengar penegasan dari Iqbal, wajah Aryo hanya menunduk pasrah. Bagaimana jika semua tahu dirinya ingin menggantung hubungan Lyra, agar tidak berpisah dari Dony.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, mata mereka tertuju pada Bara. Seorang hakim ketua yang akan menjadi pemutus di akhir persidangan merupakan mantan kekasih Lyra.
Iqbal menautkan kedua alisnya, dia berbicara dalam hati, "Bukankah pria ini yang merebut kekasih, Zul? Saat perselingkuhan Luna yang digrebek sendiri oleh, Zul? Apakah dia akan menjadi hakim ketua?"
Aryo memeluk Bara, karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan pria tampan yang ingin menikahi Lyra.
"Bal, ini hakim ketua untuk sidang akhir. Kenalkan Bara Ardiansyah...!" ungkap Aryo memilih duduk di kursi semula.
Iqbal menatap penuh selidik wajah Bara dan Aryo secara bergantian. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi setelah mengurus pembatalan pertunangan Zul dan Luna beberapa waktu lalu.
Keluarga Zul yang menuntut habis-habisan keluarga Luna, karena telah mencoreng nama baik keluarga mereka, yang tertutup dari media manapun. Sehingga Zul memutuskan untuk melanjutkan karirnya di negara panser agar tidak pernah bertemu dengan mantan terburuknya itu.
Namun, nasib berkata lain. Zul harus menerima laporan dari Mama Eni tentang obat-obatan yang belum tiba dari Berlin sesuai pemesanan mereka, sehingga wanita paruh baya itu salah memberi nomor telepon.
Seharusnya Mama Eni memberi nomor telepon bagian farmasi, malah memberi nomor Lyra kala itu.
__ADS_1
Zul menggunakan kesempatan tersebut untuk wanita yang ternyata ramah padanya, sehingga membuat dia selalu mengganggu Lyra walau mengetahui status wanita dewasa tersebut sebagai istri orang lain.
Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, namun saat mengetahui identitas Lyra, Zul benar-benar jatuh hati padanya. Wajah cantik nan rupawan, tubuh profesional, sehingga sangat sederhana walau sesungguhnya dia mampu membeli apa saja dengan gaji yang bisa dikatakan cukup.
Seketika Iqbal tersentak dari lamunannya, yang membayangkan cerita Zul, sehingga dia terlarut dalam situasi saat ini.
Bara menatap Iqbal dengan wajah kaku dan menunduk. Salaman keduanya seakan-akan menyiratkan dendam yang masih terasa.
Bara menoleh angkuh pada Aryo, sembari bertanya, "Siapa dia, Pak Aryo? Apakah dia pengacara Lyra yang baru?"
Iqbal tersenyum tipis, "Ya.... Saya pengacara Lyra yang baru, akan mengawasi persidangan akhir klien saya untuk mendengarkan ucapan talak terakhir dari mantan suaminya atas nama Dony. Saya harap, Anda tidak akan bertele-tele dalam memproses sidang akhir rekan sekaligus sahabat terbaik, saya."
Mendengar penuturan Iqbal yang tegas, membuat Bara dan Aryo saling menatap satu sama lainnya.
Bukankah Lyra tidak memiliki kerabat disini? Dari mana wanita itu mendapatkan bantuan dari pengacara keluarga rumah sakit ini? Beberapa kali aku mendengar tentang Iqbal...! Apakah dia juga yang telah memproses perbuatan tidak menyenangkan kala itu?
Tubuh Bara seketika mengeluarkan keringat dingin. Wajah tampannya tampak memerah seperti kepiting rebus, berkali-kali dia mengusap wajah dan menunduk malu.
Bara hanya bisa membesarkan kedua bola matanya, memohon pada hakim ketua, untuk melakukan sesuai permintaan tergugat.
Tentu menjadi kejutan luar biasa bagi hakim ketua yang bernama Sadi. Dia menahan Bara agar tidak segera meninggalkan pengadilan agama, "Ada apa? Kamu selaku pemutus sidang akhir harus melakukannya, Bara....!" tegasnya.
"Aku enggak bisa, karena tidak ingin berurusan dengan pengacara Lyra yang berada didalam. Aku akan menjemput istriku ke bandara. Mungkin 40 menit lagi dia mendarat disini. Maaf, aku harus segera pergi....!" ucap Bara memilih berlalu meninggalkan ruangan.
Jujur ini satu kesempatan untuk Sadi, dalam mengambil keputusan, setelah mendengar semua penjelasan dari Lyra selaku penggugat, dan Dony selaku tergugat.
Perceraian yang rumit hanya karena perebutan hak asuh anak, dan rumah yang seharusnya menjadi milik Lyra. Namun, dikuasai oleh Dony selaku kepala keluarga.
Hari sudah menunjukkan pukul 13.45 waktu setempat. Masih ada waktu 15 menit lagi untuk mereka mempersiapkan semua kebutuhan sidang.
__ADS_1
Iqbal selaku orang kepercayaan keluarga ternama di kota kecil tersebut, tersenyum angkuh menatap Aryo.
"Aku tidak pernah menunjukkan siapa aku padamu. Bagiku, aku melakukan hal yang baik, walaupun tidak menguntungkan namun sangat berkesan bagi klien. Aku tidak pernah berharap akan dibayar mahal untuk menangani sebuah kasus. Tapi aku selalu menjadi pemenang!" Sombong Iqbal menatap Aryo penuh cemooh.
Aryo hanya diam tak menjawab, dia memilih meninggalkan Iqbal, mencari keberadaan Dony yang sejak tadi telah menunggunya di luar ruangan.
Aryo terdiam, saat merebahkan tubuhnya diatas kursi yang ada diluar ruang sidang, menarik nafas panjang. Wajahnya tampak tak berseri bahkan semakin kusut seperti pita kaset jaman dahulu yang terlilit saat di rewind.
Apa yang sudah aku lakukan? Justru karena hal ini akan menjadi petaka baru untuk ku.... Bagaimana jika, pria muda itu benar-benar mengirimkan aku ke pelosok negeri ini? Apa yang harus aku katakan pada istri dan keluarga ku? Aryo berfikir keras untuk mengajukan permohonan maaf pada Lyra selaku sahabatnya secara resmi.
"Maafkan aku Lyra....!!" batin Aryo mengusap wajahnya kasar.
_____
Hai hai hai.....
Selamat hari Senin.....
Pesan Author Pemes untuk para reader.
Terimakasih atas kunjungannya....
Kali ini saya sebagai author akan memberikan give pada pecinta Perjaka untuk Janda...
Silahkan untuk meninggalkan vote dan hadiah terbaik mu.
Dua minggu lagi author akan mengirimkan paket internet untuk para reader yang selalu setia, berdasarkan top fans... 1, 2 dan 3.
Berlaku dari tanggal 5 Agustus 2022 sampai dengan 30 Agustus 2022. Cemungut....🎉👍💪🌹
__ADS_1
Salam Author Pemes
Tya Calysta...