
Tubuh kedua wanita itu bergetar hebat saat Zul menyampaikan kabar duka tersebut. Dia berusaha tenang, walau di lubuk hati terdalamnya tersimpan kesedihan. Namun, dia harus tetap tegar agar kedua wanita yang menjadi belahan jiwanya saat ini kuat dalam menghadapi sebuah takdir yang telah tertulis.
Zul memacu kecepatan mobilnya menuju rumah sakit, setelah menghubungi keluarga yang benar-benar kaget menerima berita tersebut.
Baru beberapa bulan lalu pertikaian mereka, kini semua berubah menjadi sebuah duka yang menorehkan penyesalan.
Lyra tak kuasa menopang tubuhnya, saat akan berjalan menuju ruang pemulihan pasca operasi, sesuai yang di perintahkan Zul pada suster yang memberi kabar padanya.
Sementara Kesy berada dalam gendongan Zul untuk membawanya melihat Dony untuk terakhir kali.
Suasana rumah sakit umum tampak sendu, hujan gerimis menambah kesedihan dalam hati mereka yang telah di pisahkan oleh kematian.
Saat pintu kamar terbuka lebar, kala itu juga tangis Lyra dan Kesy saling bersahutan.
Teriakan Kesy menyebut nama Papa Dony semakin lantang terdengar. Isak tangis tak terbendung memecah keheningan.
"Papaaa! Papa! Papa! Papa, bangun Pa! Bangun!" pekik Kesy saat melihat tubuh Dony terbujur kaku, dengan tangan dan wajah telah terlilit kasa putih.
"Papa, jangan tinggalin Kesy. Papa janji mau kasih Kesy uang! Jangan pergi Pa! Kesy sayang Papa! Kesy sudah balas surat buat Papa! Bangun Pa ... Bangun!" isak Kesy masih memeluk tubuh Dony yang dingin tak bergerak.
Lyra hanya mampu menatap wajah Dony yang sudah terlelap dalam tidur panjangnya. Kesedihan terdalam saat kehilangan orang yang pernah mengisi hari juga hati dalam sebuah ikatan janji suci pernikahan.
"Maafkan aku, Don! Maafkan aku ..." hanya itu yang mampu Lyra ucapkan dalam dekapan Zul yang langsung memeluknya.
Zul menghela nafas panjang, sulit baginya untuk melihat dua wanita yang semakin larut dalam kedukaan. Bagaimana selayaknya dialah pengganti Dony yang sudah di gariskan dalam sebuah suratan takdir Tuhan.
Zul mengecup lembut kepala istrinya yang menangisi mantan suaminya. Wajah sembab itu masih meremas punggung kekar suaminya dalam penyesalan.
Keluarga Zul dan Lyra tiba diruangan itu, untuk memberi kekuatan pada Kesy yang masih memeluk jenazah sang Papa.
Boy mengusap lembut punggung putrinya, sementara Lince berdiri tegak sambil menangis dibelakang Kesy yang enggan beranjak dari tubuh kurus yang sudah tak bernyawa.
Saat mereka tengah diambang kesedihan, keluarga Dony tiba-tiba muncul di hadapan mereka, berteriak keras menyerukan nama saudara laki-lakinya.
Rita yang masih dalam pengawasan pihak kepolisian mendekap erat tubuh adik kandungnya dengan deraian air mata dan teriakan penyesalan.
Begitu juga Riche, dia berdiri mematung melihat jasad sang Abang yang tidak akan pernah bersama lagi dengan-nya, untuk mencari pria mapan yang baik menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
Tangis menggema saling bersahutan, suster yang mengetahui Zul lah yang menjadi penjamin Dony sejak awal, meminta tanda tangan agar jenazah Dony di bersihkan di ruang jenazah.
Dengan sigap Zul menandatangani semua berkas, dan meminta pihak rumah sakit membawanya ke kediaman Lyra yang lama.
Rumah terakhir dua insan yang pernah menjadi rebutan, kini beralih ketangan istrinya tanpa ada perebutan paksa dari pihak manapun.
Lyra duduk di pelukan Zul, menunggu jenazah Dony segera di bawa ke kamar jenazah, sementara Kesy duduk dalam dekapan Boy dan Lince dengan suara parau hingga terlelap sesaat.
Semua team medis bergerak cepat, setelah melihat jam yang berdetak.
Zul kembali bersuara pada suster, "Jam berapa kritis pasien, suster?"
Suster melihat jam dinding, "Jam 18.45 Pasien Dony menghembuskan nafas terakhirnya, Dok," jelasnya.
Zul mengangguk, "Beri waktu 30 menit, baru dibawa ke ruang jenazah!" perintahnya.
"Hmm ... Ada yang di tunggu lagi, Dok?" tanya suster sedikit berbisik.
Zul mengangguk, "Ya ..." jawabnya.
"Baik Dok ..."
Saat tangis masih terdengar, seketika muncul Luna yang di bawa Aldo masuk ke ruangan tersebut.
Luna yang tidak menyangka secepat ini mendengar kematian pria yang pernah menghabiskan waktu bersamanya, walau sesaat dihadapan semua keluarga.
Tentu atas perintah Zul, melalu Aldo sahabat karibnya.
Tak selang berapa lama, muncul kehadiran Bara berserta Rusti tanpa kedua putri mereka.
Wajah sembab Lyra hanya mengulas senyuman tipis, tak kuasa untuk berucap sepatah katapun.
Jika dapat merubah takdir, mungkin Lyra meminta pada Tuhan bahwa Rita lah yang harus mati lebih dulu. Karena wanita laknat itu lebih pantas di jemput lebih dulu di bandingkan Papa dari Kesy.
Eni dan Ahmad hanya berdiri disamping Lince dan Boy untuk memberi kekuatan pada Kesy yang masih mengigau dalam alam bawah sadarnya.
Zul melirik kearah Lyra, "Sayang ... Kita bawa jenazah Dony ke rumah kamu yang lama saja yah? Semua biaya untuk pemakaman aku selesaikan. Kamu yang kuat yah sayang, demi Kesy," bisiknya mengecup lembut kepala sang istri.
__ADS_1
Lyra mengangguk, memberikan handphone miliknya agar menghubungi pihak perumahan untuk segera mengurus pemakaman Dony.
Berita duka itu, menggemparkan kota kecil tersebut, karena handai taulan mengenal yang banyak mengenal Dony sebagai suami Lyra.
Rekan kerja Lyra seketika menghubungi wanita cantik itu saat mendengar berita duka yang cukup mengejutkan bagi mereka.
Suara serine ambulans terdengar sepanjang perjalanan saat jenazah Dony akan dibawa ke rumah duka, di kediaman Lyra malam itu. Lyra berada di mobil Zul bersama Kesy, atas permintaan Lince dan Boy.
Sedikit perdebatan yang terjadi saat Lyra yang akan menaiki ambulans, di halangi oleh Lince karena tidak ingin melihat anak perempuannya kembali dekat dengan kedua wanita gila itu.
Tentu di angguki setuju oleh Lyra, mengangguk patuh karena Zul langsung mendekap bahu istrinya.
Sepanjang perjalanan Lyra terfikir sejenak, "Kenapa kamu enggak kasih tahu sama aku kondisi Dony sejak awal, Zul? Bahwa Dony masuk rumah sakit? Kenapa kamu baru kasih tahu setelah dia menghembuskan nafas terakhirnya?" tanyanya seolah-olah menyalahkan Zul.
Kesy yang masih berada dalam dekapan Lince dan Eni seketika terduduk mendekat pada Lyra yang duduk di depan, bersandar pada pundak sang Mama.
Tanpa disadari hari itu merupakan duka yang mendalam, disaat Kesy menyadari bahwa baju yang iya kenakan berwarna hitam sebagai pemberian Dony beberapa waktu lalu.
Zul perlahan menggenggam erat jemari istrinya, menjelaskan perlahan.
"Aku sengaja tidak memberitahu mu, karena aku tidak ingin kamu khawatir. Awalnya suster belum melakukan tindakan terhadap Dony. Tapi karena aku kebetulan lewat, dan melihat dia tak sadarkan diri, aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan dia. Tapi takdir berkata lain, Lyra. Please, jangan saling menyalahkan dalam kondisi berduka saat ini. Jika bukan aku? Siapa lagi? Apa ada keluarganya yang peduli sama dia? Aku juga meminta pada pihak kepolisian untuk mencari penyebab kecelakaan dan dimana itu terjadi. Tenanglah sayang ..." jelas Zul panjang lebar sepanjang perjalanan.
Lince mendengus dingin karena sikap putrinya. Sementara Eni hanya mengusap lembut bahu Zul dari belakang agar tidak memperkeruh suasana hati Lyra yang tengah dirundung duka.
______
Pesan Author Pemes untuk para reader.
Terimakasih atas kunjungannya....
Kali ini saya sebagai author akan memberikan give pada pecinta Perjaka untuk Janda...
Silahkan untuk meninggalkan vote dan hadiah terbaik mu.
Putaran kedua sedang berlangsung, author akan mengirimkan paket internet untuk para reader yang selalu setia, berdasarkan top fans... 1, 2 dan 3.
Berlaku sampai dengan 31 Agustus 2022. Cemungut....🎉👍💪🌹
__ADS_1
Salam Author Pemes
Tya Calysta...