Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Lipstik ...


__ADS_3

Sudah lebih dari seminggu Lyra berada di paviliun yang di siapkan oleh keluarga Zul. Sudah seminggu juga pria tampan itu tidak menemani istrinya di sana.


Lyra hanya di bantu oleh dua orang perawat, juga Kesy. Iya melihat tumpukan paspor dan tiket keberangkatan mereka menuju Berlin dua hari lagi.


Tangannya meraih handphone, dan duduk di sofa kamar yang menghadap jendela. Lyra mencari nomor telepon suaminya, untuk segera menghubungi Zul, mempertanyakan keberadaan sang suami.


["Hmm ..."]


["Kamu dimana hun?"]


["Lagi di bawah. Kenapa?"]


["Sudah seminggu kamu enggak nemuin aku, atau bertanya keadaan ku. Jangan begini dong hun ..."]


Tangis Lyra kembali pecah, namun sambungan telepon kembali terputus.


Lyra menoleh ke bawah, melihat mobil Zul berada di depan pagar. Benar saja, pria kesayangan Ahmad keluar dengan semua perlengkapannya, untuk menghampiri sang istri.


Penampilan Zul yang sangat berbeda, menggunakan kemeja putih, dan celana jeans berwarna biru. Jam tangan sport sangat menyejukkan hati wanita setiap kali memandangnya.


Zul mengetuk pintu kamar, membuka pintu kaca dengan sangat pelan, setelah menekan password kamar mereka.


Saat melihat wajah cantik istrinya, Zul langsung mendekap erat tubuh ramping itu, tanpa mau banyak bicara. Dia hanya diam, membuat Lyra tampak serba salah.


"Kamu dari mana hun? Sudah seminggu kamu enggak kasih kabar sama aku," isak tangisnya kembali terdengar.


Zul menghela nafas panjang, "Sudahlah, bagaimana keadaan kamu? Udah mendingan? Ini ada obat yang di kirim sahabat ku dari Cianjur, kamu konsumsi dulu. Karena ini herbal dan sangat baik untuk kondisi kamu saat ini. Tapi minumnya tiga kali seminggu. Semoga kamu cepat pulih."


Lyra menelaah semua kalimat Zul, tidak ada kata sayang seperti beberapa waktu lalu ...


"Zul ... Kamu masih marah sama aku?" isaknya menyentuh pergelangan tangan suaminya.


Zul menatap lekat wajah cantik alami, yang tidak di poles oleh bedak ataupun lipstik.

__ADS_1


Lagi-lagi Zul hanya mengusap lembut kepala istrinya, membuka kemeja untuk segera membersihkan diri, meletakkan kemeja itu kesembarang arah.


"Aku mandi dulu, yah? Lusa kita berangkat! Minta sama pembantu saja untuk membereskan semua perlengkapan kamu! Karena aku masih ada urusan ..." jelasnya berlalu.


Mata Lyra tertuju pada kemeja Zul yang di letakkan di sofa dekat dirinya duduk. Perlahan tangan halus itu meraih kemeja putih suaminya, mencium aroma khas milik Zul yang sangat dia rindukan.


Air matanya lagi-lagi mengalir deras, namun terhenti dengan satu tanda merah yang berada di lengan kemeja putih tersebut.


Dada Lyra bergemuruh seketika perasaan cemburu menyeruak, bahkan menaruh rasa curiga yang berlebihan, membuat dia tidak sabar untuk mencerca pertanyaan demi mendapatkan jawaban yang pasti.


Lyra menatap lekat pintu kamar mandi, menunggu pria tampan itu keluar dari dalam sana.


Tak menunggu lama, Zul keluar dengan wajah segar, mengambil baju di dalam lemari dengan handuk masih terlilit di pinggang.


"Hun! Jawab aku, kamu dari mana!?" bentaknya.


Zul menoleh kearah Lyra, menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah istrinya yang sudah berani membentaknya.


"Kamu kenapa? Aku pulang, malah ngajak ribut! Lebih bagus aku berada di luar dan tidak bertemu dengan mu! Berani sekali kamu membentak aku! Mama dan Papa, tahu bagaimana sifat ku, Lyra! Lebih bagus, kamu diam tidak usah banyak bicara!" sesalnya.


"Jawab aku! Kamu dari mana? Kenapa ada lipstik wanita di lengan baju kamu! Aku nungguin kamu seminggu di sini hanya di temani perawat, kamu enak-enakan di luar sana! Aku benci sama kamu, Zul! Benci!" teriak Lyra lantang kembali menangis.


Zul sedikit bingung, dia mengingat hari ini bertemu dengan siapa. Karena seingat dia secara pribadi, dirinya tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Hanya saja dia baru bertemu dengan Kanza, untuk memberikan obat-obatan herbal itu.


'Apakah Kanza yang sengaja dekat-dekat dengan ku ...?'


Zul mendekati Lyra, dia tak ingin menyakiti hati istrinya. Baginya wanita dewasa itu, walau pemikirannya terlalu sensitif dan egois, namun masih baik di matanya.


"Lyra, aku hanya beristirahat di apartemen. Kamu tahu aku di sibukkan dengan beberapa pekerjaan di rumah sakit umum, rumah sakit kita. Mungkin ini tidak sengaja, aku berpapasan dengan seorang wanita. Kenapa kamu jadi insecure begini? Aku baik-baik saja di luar sana!" tegasnya.


Lyra masih tidak percaya, dia menangis tersedu-sedu, "Aku sudah minta maaf pada mu. Aku tahu salah, tapi satu hal, jangan khianati aku, Zul! Aku sudah tidak sanggup menghadapi pihak ketiga lagi!" ungkapnya dengan bahu bergetar.


Zul merasa bersalah, dengan kerendahan hatinya, dia memeluk tubuh Lyra yang masih terlihat lemah.

__ADS_1


"Aku masih mencintaimu, sayang. Sampai kapanpun. Aku tidak akan sebejat itu di luar sana. Mungkin wanita itu tak sengaja menyentuh lengan ku. Tenanglah sayang ..." kecupnya di puncak kepala Lyra.


Lyra menangis, dia menyesali semua perbuatannya. "Aku berharap kamu menemani aku di sini. Aku terasa asing di sini karena Mama dan Papa sangat sibuk, dan tidak memperdulikan aku. Cukup satu minggu aku di diamkan, Zul!" isaknya.


Zul menghela nafas berat, "Kebetulan Mama ada seminar sayang. Dengan beberapa notaris. Begitu juga Papa. Kesibukan keluarga ku sangat menyita waktu mereka untuk bersama kami selaku anak. Hingga Adi juga hanya menghabiskan waktu dengan beberapa temannya juga Kesy. Kamu seharusnya memahami keluarga ku, sayang. Jika kami memiliki banyak waktu, kami akan bersama walau hanya satu jam. Itulah keluarga ku, Lyra. Tolong pahami ...!"


Lyra mendekap tubuh gagah suaminya, mencium aroma wangi yang sangat dia rindukan.


Perlahan Zul menggendong tubuh istrinya agar beristirahat di ranjang peraduan mereka. Ranjang yang sangat dia rindukan selama seminggu jauh dari Lyra.


"Bagaimana jahitan mu? Sudah membaik?" tanyanya, menyibak bagian perut yang terlihat masih sangat ramping dan kencang.


Lyra mengusap kepala Zul saat melihat bekas jahitan yang tampak tidak berbekas. Hanya saja terlihat ruam merah akibat pengaruh obat-obatan yang di konsumsi istrinya beberapa waktu lalu.


"Hmm, sebentar lagi kamu sembuh. Aku berharap kamu bisa hamil lagi, sayang. Please, jangan lakukan hal bodoh lagi Lyra ..." ucapnya pelan.


Lyra mengangguk manja, dia memeluk Zul yang sangat dia rindukan.


"Kiss me, hun ..." pintanya manja.


Zul menaikkan kedua alisnya, "Bagaimana jika aku menginginkan nya, sayang?"


Lyra tersenyum nakal, "Aku akan membantu mu hingga selesai. Aku ingin sekali memanjakan mu!" kecupnya pada leher sang suami.


Zul hanya bisa pasrah, dia mewujudkan permintaan istrinya, "Jika terjadi sesuatu, atau kamu merasa sakit bilang sama aku. Kalau aku sampai, kamu bagaimana sayang?"


Lyra hanya tersenyum nakal, melakukan semua seperti wanita yang kehausan akan hal itu ...


"Hmmfh ..."


____


Menjelang update, mampir' yuuk ke karya Author Pemes yang masih sepi banget ... Update setiap hari yah reader ...

__ADS_1



__ADS_2