Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Hanya formalitas


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari bersinar sangat terang. Tidak seperti pagi kemaren karena hujan mengguyur kota kecil tersebut, sehingga membuat Lyra sedikit terlambat karena harus mengantarkan Kesy terlebih dahulu. Ditambah kemacetan dimana-mana karena banjir di tiap-tiap sudut jalan utama.


Berbeda dengan hari ini, Lyra diantar Boy untuk menghadiri sidang perdana sang putri dalam menghadapi perceraiannya dengan Dony. 


Lince duduk di bangku belakang, memeluk erat sang cucu tersayang mengantarkan ke sekolah dengan perasaan bahagia.


Sementara Lyra tampak seperti kemarin. Walau berpenampilan rapi, namun wajahnya tampak tua karena beban pikiran yang terus menerus berkutat pada permasalahannya. Jika benar mediasi dapat menyatukan nya kembali dengan Dony, demi Kesy. Dia hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati. Untuk bisa menerima kenyataan memperjuangkan suaminya kembali. 


Lyra menoleh kearah handphone miliknya yang berdering, sambil bergumam dalam hati, "Maafkan aku, Zul! Kamu tidak pantas untuk ku."


Boy melirik putrinya dari sisi kiri kemudi, merasa kasihan karena melihat putri kesayangannya tidak seceria dulu.


Boy bertanya pelan, "Apa yang mengganggu pikiranmu, Lyra? Jika kamu tidak ingin mempertahankan rumah tangga mu, lebih baik kamu melepaskan Dony. Jangan terlalu memikirkan laki-laki seperti dia. Masih banyak pria lebih baik dari anak setan itu!" ucapnya lantang.


Lince menggeram kesal, menatap dari spion tengah membesarkan kedua bola matanya, memberi isyarat agar memikirkan perasaan Kesy yang mendengar obrolan orang dewasa.


Boy menghela nafas panjang, baginya jika anaknya tidak bahagia bersama laki-laki bernama Dony tersebut, lebih baik berpisah. Sangat berbeda dengan istrinya, lebih sering berubah-ubah karena memikirkan perasaan Kesy cucunya.


Mobil Lyra terparkir di pekarangan sekolah Kesy yang baru. Sekolah bertaraf internasional, bahkan lebih baik dari sekolah Kesy sebelumnya, yang di penuhi anak-anak Chinese atas saran salah seorang sahabat Lyra.


Security menanti kehadiran Kesy di pintu mobil, sementara Lyra memilih turun lebih dahulu untuk melepas putri kesayangannya.


Kesy tampak sangat ceria, lebih menikmati karena memiliki teman baru yang tidak pernah bertanya tentang keluarga atau apapun masalah pribadi kedua orang tuanya. Sangat berbeda dengan sekolah sebelumnya, yang selalu ingin tahu bagaimana gadis kecil itu sehari-hari, apa yang dilakukannya, hingga masalah pekerjaan kedua orang tua.


Kesy merupakan anak yang sangat tertutup, lebih insecure dalam membahas tentang kedua orang tuanya, atau dia akan mengalihkan pembicaraan jika temannya menanyakan keluarga.


Kesy memeluk tubuh Lyra, menyalami tangan kanan sang Mama, melangkah masuk ke gerbang sekolah.

__ADS_1


Lyra tersenyum bahagia, melihat perubahan putrinya sedikit membaik semenjak pindah ke sekolah yang baru. Dia memasuki mobil, menuju kantor Pengadilan Agama bersama kedua orang tuanya.


Sepanjang perjalanan, Boy lebih sering berdebat dengan Lince istrinya karena perasaan kecewa terhadap Dony. Membuat kepala Lyra sedikit berdenyut karena mendengar perdebatan kedua orang tuanya.


Lyra hanya bisa menahan diri, agar tetap waras mendengar celotehan sang Mama pada Boy yang sangat tidak menyukai Dony sejak awal.


"Bagus dulu kamu nikah nya sama siapa tuh, Ma? Bara yah? Bara apa, Ma? Bara Api Asmara kata Mama," tawa Boy melirik kearah Lyra hanya sekedar menghibur.


"Bara Andriansyah Papa....jangan suka ngerubah nama anak orang, deh," Lyra menjawab dengan malas.


Boy tertawa, "Nah, iya.... Bara Andri. Anaknya baik, bahkan taat beribadah. Kalau ke rumah kita kan selalu bawa martabak telor, martabak keju, martabak kacang kesukaan Mama. Sama-sama orang Manado, sama seperti Papa."


Lyra menarik nafas panjang, hanya mengalihkan pandangannya kearah lain, malas membahas pria yang disebut kan oleh Boy.


Lyra sedikit mengingatkan pada Boy kenapa mereka berpisah, "Papa lupa kenapa aku berpisah dari Bara? Pertama, karena Kak Bima mencintai Kenny kakaknya Bara. Aku mengalah, karena Mama bilang enggak mungkin anak Mama semua ke keluarga mereka. Papa lupa? Aku lebih memilih mundur demi Kak Bima?"


"Bagaimana, kalau kamu sudah resmi menyandang status janda kita jalan-jalan ke Bali. Bawa Kesy liburan sekalian. Bener nggak Pa?" bujuk Lince untuk mengobati hati Lyra yang pernah hancur karena keputusan kedua orang tuanya.


Lyra hanya bisa tersenyum lirih, dia tidak pernah bertemu dengan Bima semenjak memutuskan menikahi Kenny kakak Bara. Baginya, lebih baik dia menjauh dari keluarga demi hidup bahagia di seberang demi seorang Dony yang dia temui saat perjalanan dinasnya pertama kali di kota itu.


Mobil terhenti di parkiran Pengadilan Agama, terlihat mobil pemberian Lyra untuk Dony yang telah dia tebus beberapa waktu lalu, telah terparkir disana.


Bodoh, mungkin itu yang ada dipikiran orang-orang untuk wanita seperti Lyra. Tidak, tentu tidak, baginya jika sudah memberikan apapun kepada orang lain tidak pernah ingin mengambilnya kembali, karena dia percaya, suatu saat nanti dia akan mendapatkan hadiah lebih mewah dari saat ini.


Lyra turun dari mobil, menggunakan sepatu pantofel wanita berwarna hitam, senada dengan warna baju dinas yang dia kenakan, kemeja hitam, dipadu dengan rok span selutut berwarna hitam. Tas kecil yang biasa dia letakkan di tangan kiri, memberi kesan berwibawa terlihat santai namun elegan.


Dony melihat Lyra dari kejauhan, sedikit terkejut karena matan istrinya di dampingi oleh mertuanya.

__ADS_1


Dony mendengus kesal, karena dia akan gagal meminta uang belanja pada Lyra, untuk mengajak Kesy putri kesayangan jalan-jalan liburan weekend tiga hari lagi.


Lyra tidak memandang pada Dony. Dia disambut oleh Aryo sahabatnya yang sudah menunggu sejak tadi, di kantin belakang.


Ramah tamah yang Aryo lakukan pada kedua orang tua Lyra, karena sangat mengenal dekat Om Boy yang biasa dia sebut.


Nama Papa Lyra yang gaul, membuat semua teman-teman Lyra sangat menyukai gadis cantik tersebut karena memiliki hoby yang sama yaitu music.


Sifat tegas dan bersahaja, namun kejam, tampak terlihat saat mata Boy tertuju pada Dony menantu laknatnya.


Dony menunduk hormat pada Boy dan Lince, berusaha mengambil tangan kanan kedua orang tua Lyra dihadapan mantan istri yang tidak menoleh sedikitpun padanya.


Dony menyapa dengan ramah, "Ma-ma-mama sama P-pa-papa apa kabar?" tanyanya gugup.


"Hmm....!!" Lince menarik tangannya dari genggaman Dony tanpa mau berbasa-basi.


Sangat berbeda dengan Boy, dia justru tak mengacuhkan tangan Dony lebih memilih meninggalkan mereka di ruang tunggu.


Lyra memilih menjauh dari Dony, dia duduk di bangku yang tersedia bersama Aryo sambil berbisik-bisik, enggan untuk bersahabat pada pria yang tampak bodoh tersebut.


"Aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini. Dari awal aku tidak ingin hadir di sini. Please, Yo.... aku sudah malas melihat wajah Dony," jelas Lyra berbisik.


Aryo mengangguk, "Tenang saja, semua sudah diatur oleh Pak Kasan yang mengurus mediasi. Ini hanya formalitas saja, dua hari lagi kamu resmi jadi janda, dan aku akan mengantarkan suratnya ke kantor mu."


Kedua bola mata Lyra membulat, "Apa...??? Dua hari lagi....!? Ngapain aku ada disini kalau kamu bisa ngurusin!!" kesal Lyra.


Aryo tertawa, "Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu!"

__ADS_1


Lyra menautkan kedua alisnya, kembali bertanya, "Siapa...!?"


__ADS_2