
Kepanikan Lyra kembali memuncak saat melihat kondisi putri kesayangannya.
"Kesy....!!!" peluk Lyra.
Tubuh Kesy kaku bahkan seperti orang kedinginan. Lyra tampak panik, mencari keberadaan handphone miliknya yang sejak tadi dia cari.
Lyra menggendong tubuh Kesy segera membawanya ke kamar.
Kesy memeluk tubuh Lyra sangat erat, wajah cantik alami terlihat pucat, bahkan tampak masih mematung.
Lyra menangis, mencari keberadaan handphone kesana kemari, meraih tas miliknya yang berada sangat jauh dari ranjang.
"Aaaagh.....!" geramnya tanpa melepas dekapan dari putri kesayangan.
Lyra mengangkat kakinya meraih tas yang berada di atas meja rias, rok span panjang yang dia kenakan seketika robek, "Sial....!!" geramnya.
Lyra tidak peduli, saat ini yang dia butuhkan memenangkan perasaan Kesy yang ternyata mendengar suara keributan dari Rita Kakak kandung Dony.
"Zul.... Zul.... aku harus menghubungi Zul!" bisik Lyra masih tampak panik.
Lyra, menghubungi Zul karena dia adalah seorang dokter. Dokter muda yang sangat mengetahui bagaimana kondisi pasien.
["Ya Lyra...!"]
Terdengar suara Zul dari seberang sana.
["Zul-Zul, Zulfikar atau Zulkifli? Anak ku Kesy.... Kesy, Zul!!!" tangis Lyra.]
["Ya-ya-ya, kenapa dengan Kesy? Ada apa? Apa kalian kecelakaan?"]
Lyra masih terisak di balik telpon melihat kondisi putrinya masih tampak kaku.
["Kesy shock, Zul! Dia mendengar keributan ku dengan keluarga Dony. Kesy sepertinya trauma!"]
Lyra menangis melihat kondisi putrinya Kesy.
Zul sangat memahami bagaimana perasaan Lyra yang panik saat ini.
["Lyra-Lyra-Lyra.... kamu cukup membalurkan minyak angin, beri dia air putih. Kamu jangan panik. Kesy hanya ketakutan karena keributan. Putrimu pernah mengalami trauma?"]
Pertanyaan Zul dari seberang sana, membuat Lyra mematung.
__ADS_1
Lyra teringat bahwa Kesy pernah di bentak oleh Rita sang Kakak ipar, saat Dony membawa Kesy kerumah keluarganya.
Kesy menceritakan semua kejadian itu pada Lyra, namun dia tidak mengindahkan, hanya saja menasehati putri kesayangan agar tetap patuh jika berada di kediaman keluarga mereka yang terasa asing saat berada di sana.
["Ya, Kesy pernah menceritakan pada ku. Tapi dia tidak cerita secara detail. Aku yakin dia pernah mendapat perlakuan kasar dari mereka," ceritanya.]
Zul menjelaskan beberapa poin penting dalam menghadapi Kesy agar kembali tenang, dan ceria seperti sebelumnya.
["Bagaimana jika kamu pindahkan Kesy ke sekolah yang lain? Jika kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk bicara denganku."]
Lyra menautkan kedua alisnya, dia berfikir sejenak, bagaimana mungkin aku akan menyusahkan pria muda yang belum memiliki penghasilan apapun. Dia pasti hanya memberi suport, karena tidak memiliki biaya untuk membantuku.
["Lyra.... apa kamu masih mendengarkan aku?"]
Lyra tersadar.
["Hmm, aku sempat berpikir saja. Bahwa aku nggak mungkin bisa memindahkan Kesy kesekolah yang baru, Zul. Baru kemaren aku membayar uang SPP-nya. Kamu tahu sendiri sekolah swasta bagaimana biayanya."]
Zul tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Lyra yang sangat lucu di telinganya.
["Makanya aku bilang kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa ngomong sama aku."]
Lyra menautkan kedua alisnya.
Zul kembali tertawa, merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia rasakan saat berbincang dengan seorang wanita.
["Bagaimana keadaan Kesy, dear?"]
["Hmm, sudah aku kasih minyak angin punggungnya, sekarang dia tertidur. Tapi belum ganti baju tidur. Zul, 30 menit lagi kita call lagi yah? Aku bersih-bersih dulu, sekaligus mengunci pintu!"]
["Ooogh, ya Lyra. Aku tunggu yah sayang!?"]
Mereka menutup telfon.
Bergegas Lyra keluar dari kamar, mencari semua barang yang dia beli barusan. Matanya mengintip kearah luar melalui jendela, terlihat Dony tengah berdiri di luar pagar tenga berbincang-bincang dengan salah seorang pemuda yang dia pikir merupakan salah satu warga di perumahan mereka.
Apa yang dia bicarakan? Kenapa dia malah meminta pemuda setempat menjaga rumah nenek lampir itu? Apa yang ada di kepala Dony? Laki-laki aneh, jika anak dan mantan istrinya kenapa-kenapa mungkin dia tidak akan peduli. Pria bodoh! Batinnya.
Lyra mengambil piyama Kesy, mengumpulkan semua baju kotornya dan meletakkan kedalam mesin cuci, menekan semua tombol dan menyala secara otomatis. Semua akan selesai dalam hitungan menit, dan besok pagi bisa di jemur olehnya di luar rumah sebelum berangkat bekerja. Itulah kegiatannya saat tiba di rumah, tanpa mau mengeluh pada Dony.
Lyra kembali ke kamar, melihat Kesy sudah sangat nyenyak. Dia mengambil tisu basah, menyeka tubuh putrinya, agar tetap nyaman dalam dunia mimpinya.
__ADS_1
Setelah membersihkan Kesy, Lyra masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya.
Hanya itu yang menjadi aktivitas sehari-hari Lyra saat berada di rumah, sehingga dia kembali teringat untuk memindahkan Kesy kesekolah yang baru. Tapi dimana? Pikirnya dalam hati.
Lyra membungkus rambutnya yang basah, menggunakan handuk kecil, melihat jam dinding yang berdetak.
"Hmm, masih jam 22.00!! Sepertinya aku bisa mengerjakan pekerjaan ku, sambil ngobrol dengan, Zul. Apa aku harus mencari sekolah yang biasa saja? Tidak semahal sekarang buat Kesy? Kalau yang sekarang tidak begitu mahal, tapi buku paketnya terlalu besar," batinnya.
Lyra, menggunakan daster tipis berbahan katun nan sejuk, bertali satu tanpa menggunakan underwear yang biasa melindungi bagian dalamnya.
Pikiran Lyra, saat ini dia lebih bebas dalam melakukan apa saja di rumah sendiri tanpa suami.
Lyra mengeluarkan laptop miliknya dari dalam tas, meletakkan di atas meja kecil, yang dia letakkan di ranjang yang empuk.
Sengaja Lyra memasang headset bluetooth di telinganya, agar tidak menggangu tidur putri kesayangannya, Kesy.
Lyra menghubungi Zul, sambil membuka pekerjaan yang sudah ada di hadapannya.
["Hai...!"]
["Hmm, kita video call yuk!" pinta Zul sopan.]
["Ya...!"]
Lyra menekan tombol video untuk melakukan panggilan video call bersama Zul.
Kedua mata Lyra membesar seketika, melihat pria yang berada di seberang sana, tenga berada di sebuah apartemen yang mewah, bahkan terlihat bukan di negaranya +62.
["Zul.... sebenarnya kamu berada dimana? Apakah kamu sedang membohongi aku?" tanya Lyra penuh selidik karena melihat kondisi disana masih cerah dan sangat tenang.]
Zul, tertawa....
["Aku saat ini masih berada di suatu negara yang memiliki tekhnologi canggih untuk mengambil spesialis. Coba tebak, negara apa?"]
Pertanyaan Zul, membuat Lyra berfikir dan menatap kesal pada pria yang masih saja menggodanya. Wajah pria yang muda dan sangat tampan, jauh dari Dony bila dibandingkan.
["Hmm, aku nggak tahu. Karena bukan jurusan ku! Emang kamu ambil spesialis apa, Zul? Oya, siapa nama lengkap mu? Nama keluarga? Dan status kamu di keluarga!!" tawa Lyra.]
Zul menarik nafas dalam, dia menatap mata Lyra yang teduh.
["Hmm, aku jurusan apa yah? Namaku jika di sebutkan kamu akan bertanya-tanya apa artinya, nama keluarga itu hanya 'Maeta' kamu bisa tebak nama aku siapa. Aku masih single, usiaku genap 23 tahun hari ini Lyra dan masih single belum memiliki kekasih ataupun calon istri."]
__ADS_1
Lyra tertegun sejenak, jika dia calon dokter spesialis yang menyelesaikan di negara lain? Berarti Zul bukan orang sembarangan. Dia pasti akan memilih wanita terbaik untuk menjadi istrinya, bukan wanita seperti aku. Kenapa aku seperti tidak percaya diri untuk dekat dengan pria seperti dia? Dia terlalu sempurna, batinnya.
["Lyra.... Lyra....!! Apa kamu masih mendengarkan aku?"]