
Suasana kediaman Ahmad Maeta tengah bersitegang, Adi harus berhadapan dengan ke-tiga sosok yang sangat berpengaruh di kota kecil itu. Mereka masih meminta Adi agar mau melepaskan Kesy dari pernikahan instan yang ternyata sangat menoreh luka bagi gadis kecil itu.
Ahmad yang datang membawa pihak kepolisian berpangkat jenderal, untuk membuat anak tirinya bisa berkata jujur dan apa adanya, tanpa ada yang di tutupi lagi dari keluarganya dihadapan Eni.
Semua dilakukan Ahmad bukan untuk memojokkan Adi, melainkan membuka mata hati istrinya, agar bisa melihat siapa yang mereka besarkan selama ini.
Kejujuran Adi sontak membuat keluarga tirinya benar-benar membelalakkan mata.
Bagaimana mungkin seorang Adi memiliki rasa iri pada Zul, yang selama ini baik padanya.
Zul yang mendengar kejujuran Adi membuat kedua tangannya benar-benar mengepal kuat. Dia menoleh kearah Adi, menyunggingkan senyuman lirih pada pria yang selama ini ia anggap sebagai adik kandung ...
"Apa masalah mu padaku? Bukankah selama ini Mama dan Papa lebih sayang padamu? Bahkan kau tidak pernah dibebankan dalam berpikir untuk memilih mau sekolah dimana, berkarir, bahkan memilih pasangan? Sangat berbeda dengan aku? Ooogh damn it! Kau terlalu bodoh, Adi. Pantas dengan berani kau meniduri anak tiri ku! Binatang kau!"
Adi menjawab dengan menantang mata Zul, tanpa perasaan bersalah ataupun takut, "Mama selalu memberikan yang terbaik untuk mu! Posisi kedokteran mu di pemerintahan, bahkan istri selalu terbaik, sementara aku? Apa!?"
Zul semakin geram, bahkan ingin sekali dia memecahkan mulut Adi yang asal bicara, "Apa? Kau yang menangis ingin menjadi pilot, brengsek! Berapa banyak uang yang kau habiskan? Bahkan hidup kau seperti apa di sana!" teriaknya akan bergerak melayangkan tamparan di wajah Adi.
Eni yang sejak awal duduk di dekat Zul menahan lengan putranya, "Sudah Zul, jangan pukul dia lagi. Mama sadar kesalahan ini semua dari Mama, Mama mohon ... Biarkan Adi pergi Pa, Zul!" tangisnya pecah seketika karena perasaan iba.
Ahmad menyela permintaan istrinya, "Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskan anak ini, karena dia akan mengancam keselamatan cucuku! Bahkan akan mengancam Hana dan Hani. Dia sama saja dengan pecinta anak-anak. Bisa saja dia meminta orang untuk menyakiti ketiga cucu perempuan ku!"
"Pa ..." mohon Adi menatap penuh dengan wajah memelas.
Eni yang membayangkan semua ucapan suaminya, semakin meraung karena perasaan bercampur aduk. Dia tidak sanggup melihat apa yang terjadi pada Adi saat ini, karena harus dibawa paksa untuk mendekam di penjara.
__ADS_1
Ahmad memberi perintah pada Zul, "Serahkan semua hasil visum Kesy kepada Om Andi, beliau akan mengurus anak jahanam ini. Bagi ku sudah cukup! Tidak ada yang harus aku pertahankan untuk seorang Adi yang memiliki gangguan kejiwaan! Uang dua milyar masih ada di tangan mu, kan? Itu cukup untuk kau hidup di luar sana! Semua aset yang di Berlin akan aku ambil alih, tanpa menyisihkan untuk mu. Ternyata selama ini yang aku besarkan adalah anak harimau. Aku kasih kau kebebasan dalam memilih, apa yang kau pilih hmm?! Selain wanita pramugari yang menurut ku tidak ada etika, tapi demi kebahagiaan mu, aku tutup mata dan telinga ku! Kau tahu dia menikah dengan siapa hah? Pasti kau tidak tahu bahwa Laura lah yang menjadi selingkuhan Aldo. Dan wanita jallang itu yang kau perjuangkan demi menyakiti Kesy cucu ku?"
Eni semakin mengusap dadanya. Dia tak menyangka bahwa selama ini Ahmad menutupi semua aib calon menantu tidak jadinya tersebut. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya, sambil memeluk lengan Zul.
"Maafkan Mama, Zul. Mama akan ikut sama kamu. Mama sudah enggak sanggup ada di sini. Mama kecewa sama anak ini ..." tangisnya semakin keras.
Ahmad hanya bisa tersenyum lirih, melihat Adi yang benar-benar diam tak berkutik. Dendam kesumat yang semakin besar, membuat dia ingin menyakiti Kesy suatu hari nanti.
Zul mengambil satu kertas serta pulpen, sebagai surat pernyataan perceraian Adi untuk Kesy. Apapun yang terjadi saat ini, pria yang akan memiliki anak lagi itu harus mendapatkan surat pernyataan perceraian dari Adi yang ditandatangani langsung oleh pria laknat tersebut.
"Cepat kau buat dan tandatangani surat cerai mu! Aku akan mengurus semua!" geramnya.
Dengan tangan bergetar Adi harus menuliskan surat pernyataan perceraian untuk Kesy. Ada rasa iba dan penyesalan saat dia menulis surat tersebut. Air matanya akhirnya jatuh menetes, membasahi kertas putih yang ada dihadapannya.
Barang-barang mewah yang selalu ia berikan untuk Kesy, ternyata uangnya dari Eni. Gaji yang besar menurut keluarga, namun tak sedikitpun pihak keluarga mencicipinya karena gaya hidup hedon yang selama ini ia ciptakan bersama Laura.
Pernikahan tersembunyi Laura dan Aldo, tiga tahun lalu membuat Luna harus mengalami kekerasan dalam hubungan yang sudah hampir di bawa ke jenjang pernikahan.
Zul hanya tersenyum tipis, melirik kearah Adi saat dia menandatangani surat yang sudah ia buat sendiri.
"Bagus, ternyata anak yang di kandung Laura berarti anak Aldo suaminya. Sungguh drama yang sangat menyakitkan, bahkan lebih sakit dari cerita di televisi, membuat aku ingin menertawakan kebodohan mu! Selamat mendekam di penjara seumur hidup mu, Adi!" sesalnya menarik surat yang berada dihadapan adik tirinya.
Ahmad tertawa kecil, saat dia mendengar isak tangis dari Adi anak tirinya.
"Bawa anak ini. Aku akan menyelesaikan semua dengan istri ku! Jika media meliput tentang anak jahanam ini, silahkan bakar semua media yang beredar. Aku rasa, tak seorangpun berani memberitakan tentang semua hal ini. Karena aku akan membawa istri dan keluarga ku jauh dari sini!" tegasnya pada Andi yang berdiri disamping Adi.
__ADS_1
Andi mengangguk mengerti, kali ini tidak ada yang bisa menebus Adi, bahkan semua yang menyangkut dengan namanya di Keluarga Ahmad, akan dihapuskan melalui pengacara keluarga mereka.
Tentu saja Adi bersujud di kaki Ahmad, membuat Zul dan Eni tidak memiliki rasa iba lagi.
Eni hanya menangis karena kebodohannya. Selama 28 tahun mereka hanya membesarkan seorang anak yang tidak tahu balas budi. Anak yang hanya memanfaatkan kebaikan keluarganya.
Mereka melihat Adi diangkat paksa oleh pihak berwajib, dihadapan keluarga, membuat Eni benar-benar menyesal telah menyakiti perasaan Lyra dan Kesy.
Eni memeluk erat tubuh kekar putranya, "Maafkan Mama Zul. Mama mau bertemu dengan Kesy, nak ..." pintanya.
Zul mencium puncak kepala sang Mama, "Nanti saja Mama ketemu Kesy. Saat ini Zul harus menemui Lyra, karena dia hamil lagi. Dan Zul belum sempat mengucapkan terimakasih padanya. Ketiga anak Zul juga masih di rumah nirvana, dan sudah lebih seminggu kami belum bertemu. Mama bicara dulu sama Papa. Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Urusan Laura biarlah menjadi urusan mereka, yang pasti kita sudah lega. Mama dan Papa sudah bisa meninggalkan kota ini untuk sementara waktu. Mungkin juga, tinggal di Berlin menemani kami. Karena mungkin kami akan membeli rumah di sana," jelasnya panjang lebar.
Eni menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan tidak setuju Zul pindah dari apartemen mereka, "Zul, Mama minta maaf ..."
"Kami mau mandiri, Ma. Hidup bersama anak-anak, dan Mama bisa bermain-main dengan mereka. Kebetulan Lyra hamil, jadi Mama bisa menemani ketiga buah hati Zul. Sudah masanya Mama beristirahat, rumah ini kita jadikan tempat berlibur, karena rumah sakit sudah diatur dalam sistem. Zul juga berencana menjadikan Lyra sebagai konsultan manajemen keuangan kita. Karena dia memiliki otak yang pintar dalam mengaudit semuanya," usapnya pada lengan Eni.
Eni mengangguk setuju, "Mama ngobrol dulu sama Papa, sekalian suruh Iqbal untuk mengurus semua legalitas Adi dan Kesy, sekaligus mengeluarkan dia dari kartu keluarga kita, kemudian membuat berita acara."
Zul tersenyum, menatap wajah sang Mama, "Zul ke kamar Kesy dulu yah, Ma? Zul tunggu keluarga di sana. Mungkin Zul akan membawa Papa Boy dan Mama Lince juga, untuk ikut kembali ke Berlin."
Eni berlari kencang mendekati sang suami tercinta, berhamburan memeluk tubuh yang masih kuat dalam melakukan apa saja selama ini, hanya bisa berkata, "Maafkan Mama, Pa ..."
Ahmad hanya diam membisu, seumur pernikahan mereka, tidak pernah sekecewa ini pada sang istri. Tangan bersih itu hanya mengusap lembut punggung Eni, tersenyum tipis ...
"Maaf itu gampang, mengobatinya sulit. Tapi Papa harus memaafkan Mama, demi Zulmaeta ..."
__ADS_1